Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Pamit.


__ADS_3

"Eva pulang dulu, … sepertinya terlalu lama disini juga tidak bagus. Apalagi Jo ternyata sudah membawa seseorang yang mungkin akan merasa tidak nyaman dengan kehadiran Eva."


Perempuan itu segera mendekati Leni, kemudian memeluknya dengan sangat erat.


"Maaf Mami tidak bisa melakukan apapun. Jovian sudah memilih, dan itu sudah jelas dia tidak akan mengubah apapun." Leni menepuk-nepuk punggung manta menantunya dengan perasaan tak menentu.


Di satu sisi dia merasa kasihan karena keadaan Eva sekarang. Namun disisi lain juga dia tidak bisa berbuat apapun, karena pilihan anaknya sudah pasti tidak bisa dia ralat. Sifatnya yang tegas, tidak mungkin dengan mudah Jovian beralih haluan kepada Eva hanya karena sebuah rasa kasihan.


"Tidak apa-apa. Aku sudah berusaha, walaupun terlambat, … tapi Eva berusaha menerima itu semua dengan lapang dada. Seperti yang selalu Mami dan Papi bilang, cinta akan pulang ke tempat dia berasal, dan Jo akan kembali jika memang cintanya hanya untuk Eva." Dengan suara bergetar Eva mengatakan itu.


Cukup kencang, sampai membuat Kiana yang berdiri di ambang pintu kamarnya terdiam, dan memilih mundur untuk kembali masuk, dengan kebimbangan yang selalu dia rasakan.


Dia duduk di tepi ranjang.


Pikirannya mulai tercemari oleh kata-kata Jovian dan Eva. Dimana keduanya masih sama-sama memiliki rasa. Dan tidak menutup kemungkinan jika pria yang dia cintai saat ini akan segera kembali kepada mantan istrinya, karena tidak ada yang bisa menjamin jika Jovian akan terus berada di sisinya, dan melanjutkan hubungan coba-coba yang sedang mereka jalani.


Pria itu yang selalu meminta untuk mendampinginya, membuat dia lupa akan masa lalu yang mungkin sangat sulit dia lupakan, tapi apakah apa yang Jovian katakan itu benar? Bagaimana jika dia hanya sedang berusaha terlihat tegar di hadapan Eva? Dan melakukan semuanya hanya karena sebuah tawaran Danu yang sempat Jovian katakan, dan jalinan itu tidak benar-benar murni.


Kiana menghirup udara sebanyak mungkin, dengan mata yang mulai terpejam, dan menghembuskannya dengan perlahan-lahan melalui mulut.


"Kenapa aku merasa ragu? Padahal jelas-jelas Om Jovian bilang pilih aku. Tapi kenapa feeling aku beda, perasaan aku nggak enak." Dia mengusap dadanya sendiri, ketika rasa tidak nyaman dia rasakan.


Tok tok tok!!


Pintu kamar itu diketuk, yang seketika membuat pandangan Kiana tertuju ke arah suara terdengar.


"Kia? Ini Mami, Nak!" Leni terdengar memanggil.


Kiana diam untuk beberapa detik, menatap pintu kayu itu lekat-lekat.


"Kamu tidur?" Suara lembut wanita itu kembali terdengar.


Kiana mengerjapkan mata, berusaha menarik kesadarannya yang sempat melayang kemana-mana, lalu berlari ke arah pintu dan segera membukanya.


"Iya, Mami?" Sahutnya dengan senyuman manis yang Kiana perlihatkan.


Leni tersenyum, lalu dia meraih lengan Kiana, dan membawanya sampai gadis itu berdiri saling berhadapan dengan mantan istri putranya.


"Tante Eva mau pulang." Jelas Leni.


Eva tampak tersenyum kepada Kiana. Begitupun sebaliknya.


"Kiana. Senang bertemu denganmu, … semoga kamu tidak berpikiran yang tidak-tidak karena saya datang kesini. Sungguh saya tidak mempunyai niat buruk, saya tidak akan merebut Jovian dari kamu."


Entah apa yang Eva pikirkan, namun di mengatakan itu kepada Kiana. Yang jelas-jelas belum mengucapkan sepatah kata apapun.

__ADS_1


"Kita hanya memutuskan untuk berteman. Tidak lebih dari itu, … semoga kamu dapat menerima ini."


Kiana mengangguk.


"Aku orangnya santai, Tante." Ujar Kiana.


Eva mengangguk, dia berjalan mendekat, lalu memeluknya tanpa aba-aba, sampai membuat Kiana terkejut bukan main.


"Maaf mungkin sedikit membuat kamu tidak nyaman karena keberadaan saya di sini. Tapi sungguh! Saya tidak tahu jika dia sudah menemukan tambatan hati."


Eva mengurai pelukannya, mundur beberapa langkah, lalu mengalihkan pandangan ke arah Jonathan yang terlihat duduk di sofa ruang tv, memperhatikan para wanita berbeda usia di hadapannya.


"Eva, pamit ya Pih. Jaga kesehatan, jangan terlalu banyak memantau kebun teh dan ladang. Ada Jovian dan Javier yang siap meneruskan usaha Papi."


Jonathan terkekeh.


"Ah mereka sangat susah diberitahu. Javier sudah sibuk dengan keluarganya. Sementara Jovian masih betah menduda dan menghabiskan hari-harinya dengan mengabdi kepada orang lain."


Jonathan menerima rentangan tangan Eva, dan merangkul wanita itu sambil menepuk-nepuk pundaknya.


"Maaf jika membuat kamu kecewa, tapi jangan patah semangat."


"Kenapa kalian terus mengatakan itu? Aku baik-baik saja, sungguh!" Eva tertawa pelan.


Dan itu membuat Kiana semakin merasa bersalah. Karena sudah benar-benar memisahkan dua manusia yang masih saling mencintai. Namun memiliki ego yang tinggi, terutama Jovian, yang terlihat berusaha menutupi itu, meski keadaan hatinya masih tetap sama.


"Mobilnya sudah siap?" Tanya Leni.


Jovian mengangguk, dia terus berjalan mendekat, lalu meraih sebuah koper berukuran kecil milik Eva begitu saja.


"Kiana? Mami meminta Jovian untuk mengantarkan Eva Samapi stasiu kereta. Apa kamu keberatan?"


"Hum!?" Kiana menatap wajah wanita tua itu dengan ekspresi wajah bingung. "T-tidak, tentu saja tidak. Kenapa aku harus keberatan?" Kiana tertawa canggung.


Dengan hati yang terasa sesak.


"Ini rumit Kiana." Hatinya seolah mempertinggi.


Leni, Jonathan, Jovian dan Eva segera berjalan ke arah luar. Sementara Kiana berjalan di barisan paling belakang, menatap punggung pria yang sangat dia cintai dengan raut sendu.


"Ah, … sebaiknya Kiana ikut. Aku tidak mau dia salah paham kepadamu, Jo!" Eva menoleh ke belakang, menatap dimana Kiana berada.


Gadis itu terdiam.


"Kamu mau ikut? Saya kira kamu masih lelah dan ingin istirahat?" Jovian menatap Kiana lekat-lekat.

__ADS_1


Kiana tidak menjawab, dia hanya menatap semua orang satu-persatu.


"Ya sudah. Biarkan Kiana ikut!" Jonathan berujar.


"Oh tidak …"


Kiana baru saja hendak menolak, namun ucapan Jovian jelas membuatnya dirinya terdiam.


"Ya sudah ayo ikut." Katanya.


"Aku …"


"Hanya sampai stasiun. Mungkin jarak tempuhnya hanya 45 menit. Tidak akan lama, … jadi ayo!"


Akhirnya Kiana menyerah, dia segera berjalan mengikuti Jovian, dengan hati yang sedang tidak baik-baik saja.


Penyebabnya apa? Dia pun tidak tahu, bahkan rasa tidak nyaman itu muncul hanya karena melihat semua orang berinteraksi dengan sangat baik kepada Eva.


"Kia? Apa saya boleh duduk di depan?"


"Emmm, …"


"Hanya untuk terakhir kali. Mungkin setelah ini keadaan kami akan sangat berbeda."


"Apa maksudnya itu?" Dia berbicara di dalam hatinya.


"Ayo cepat, agar kita sampai lebih awal dan tidak sampai kemalaman. Jalanan menuju sini sedikit menakutkan karena melewati area perkebunan yang cukup luas."


Jovian menatap keduanya.


"Baiklah." Kiana menjawab, lalu dia duduk di kursi penumpang bagian belakang.


Pria itu segera menoleh, dia menjengit ketika melihat Kiana yang justru duduk di kursi belakang.


"Sepertinya kalian duduk terbalik. Kiana seharusnya kamu disini bersama saya!"


"Emmm, … Jo! Aku yang meminta, tahu sendiri kamu aku akan merasa mual jika aku duduk di kursi belang. Kamu lupa?" Eva segera berbicara, ketika dia melihat Kiana mulai membuka mulutnya.


"Kamu tidak keberatan, Kia?"


Kiana menjawab dengan gelengan kepala, dia berusaha tersenyum, meskipun itu sangat sulit ketika keadaan hatinya yang seperti saat ini.


"Baiklah ayo berangkat."


Jovian menghidupkan mesin mobil, memutar setir, menekan klakson beberapa kali, kemudian melajukan mobil miliknya dengan kecepatan rendah.

__ADS_1


Leni dan Jonathan terlihat melambaikan tangan, mengiringi kepergian Eva di kediamannya pada sore hari ini dengan senyuman khas yang terus terlihat.


__ADS_2