
“Terimakasih es krimnya ya, Om.” Kiana meraih handle pintu mobil untuk segera keluar, tidak lama setela Jovian memberhentikan mobilnya di garasi rumah seperti Biasa.
Namun, Jovian segera meraih pergelangan tangannya, membuat Kiana mengurungkan niat untuk segera turun, dan kembali duduk seperti semula.
“Hari ini saya tidak pulang seperti biasa.” Jovian berujar.
Kening Kiana mengkerut.
“Saya langsung pulang, … tidak apa-apa kan?” Pria itu menatapnya lekat-lekat dengan senyuman yang terlihat menghiasi wajah tampan itu.
“Ada sesuatau?” Tanya Kiana.
Jovian pun mengangguk, dan meremat tangan Kiana semakin erat.
“Hanya akan ada obrolan keluarga saja, sebelum nanti Mami dan Papi berkunjung kesini.” Jovian terus tersenyum.
Awalnya Kiana diam, matanya bergerak-gerak menatap Jovian sambil berpikir, lalu kemudin menganggukan kepalanya, dan tersenyum samar membalas Jovian.
“Papa dan Mama sudah tahu?” Kiana bertanya lagi.
Jovian mengangguk.
“Sebenarnya masih ingin disini. Tapi jika tidak di mulai dari sekarang mau kapan? Saya ingin semuanya bisa di siapkan dengan matang.”
“Baiklah, kalau begitu selamat beristirahat.” Katanya, dan wajah cantik itu terus memperlihatkan senyumannya.
“Saya bukan mau istirahat, tapi mulai mengurus untuk acara kita, tidak ingat?” Jovian tampak tidak terima.
Dan itu membuat Kiana tertawa, apalagi Ketika melihat ekspresi wajah Jovian yang sedikit merengut karena gemas dengak penuturan calon istrinya.
“Baiklah. Om pasti akan sagat sibuk setelah ini.”
Jovian mengulum senyum, dan kembali menganggukan kepala.
“Mungkin nanti kamu juga akan sangat sibuk. Karena kita akan mempersiapkan segalanya bersama-sama.”
Dan senyuman Kiana semakin merekah kala mendengar ucapan pria yang saat ini berada duduk di sampingnya.
“Kalau begitu masuklah. Dan tidak boleh keluyuran,ingat!”
Jovian melepaskan genggaman tangannya pada tangan Kiana, kemudian keduanya keluar dari dalam sana secara bersamaan. Kiana yang langsung berjalan menuju pintu masuk, sementara Jovian mendekati dimana mobilnya terparkir.
Kiana menoleh saat gadis itu berdiri tepat di ambang pintu, dan melambaikan tangannya Ketika Jovian juga mengarahkan pandangan ke arahnya.
“Jangan jauhkan handphonemu. Bawa kemanapun benda itu agar saya tidak kesulitan saat ingin menghubungimu.” Kata Jovian.
Dia berdiri di ambang pintu mobil yang sudah terbuka, menatap Kiana dengan raut berbinar dan senyum tertahan yang begitu terlihat menawan.
Kiana mengangguk.
Setelah itu Jovina segera masuk kedalam mobil, menyalakan mesin roda empat itu, lalu melajukannya dengan sangat perlahan, menatap lambaian tangan Kiana ke arahnya dengan senyuman mempesona yang terus gadis itu perlihatkan.
Dan bunyi klakson mobil itu menandakan jika Jovian benar-benar akan pergi meninggalkan kediamanya.
__ADS_1
“Iya!” Kiana membalas suara itu dengan teriakannya.
Dia segera berbalik badan, kemudian melanjutkan langkah kakinya memasuki sebuah rumah besar yang berdiri kokoh milik kedua orang tuanya.
“Hey sayang, sudah pulang?” Tanya Danu, kala gadis itu menapakan kakinya di sebuah ruangan luas, yang terdapat beberapa sofa, meja kaca dan televisi berukuran besar.
Kiana tampak memperlihatkan senyumannya, menganggukan kepala dan berjalan mendekati tangga untuk segera menjangkau kamarnya yang berada di lantai 2 rumah itu.
Sementara Danu menatap kepergian putrinya dengan sudut bibir yang tertarik diantar keduanya, membuat sebuah senyuman samar di bibir pria paruh baya itu.
“Jatuh cinta membuat moodnya benar-benar bagus.” Danu berbisik sambil terkekeh pelan.
“Tidak boleh senyum-senyum sediri, sebentar lagi putrimu akan menikah. Jadi jangan sakit dulu!”
Herlin datang dari arah dapur, membawa sebuah cangkir dengan sebuah tatakan piring kecing, berisikan teh hangat yang sempat Danu minta beberapa waktu lalu.
“Sembarangan!” Ucap Danu, seraya meraih pemberian istrinya.
“Habisnya Papa senyum-senyum sendiri!”
Danu meneguk teh hangatnya perlahan-lahan, dan meletakan cangkirnya di atas meja.
“Ada yang lucu?” Herlin dengan rasa penarasannya.
“Tidak ada.”
“Lalu kenapa Papa senyum-senyum?”
Danu memanglingkan pandangannya dari arah televisi, lalu menatap istrinya dan kembali tersenyum.
Herlin diam untuk beberapa detik, lalu kemudian Wanita itu memicingkan mata kepada suaminya.
“Papa ngintip nih pasti!”
“Hanya memperhatikan interaksi keduanya. Dan sejauh ini hubungan mereka mempunyai kemajuan yang sangat bagus.” Ujar Danu dengan raut wajah berbinar.
Di sisi lain Kota Tangerang.
Jovian berjalan dengan langkah cepatnya ke arah di mana beberapa pintu lilft berjejer. Menekan salah satu tombol, lalu menunggu pintu besi itu terbuka.
Ting!!
Dentingan itu terdengar, dan terbukalah pintu lift dengan sangat perlahan. Tanpa menunggu lebih lama lagi Jovian segera masuk, menekan tombol dan membiarkan benda itu terutup dengan sendirinya.
Sementara pintu lift lainnya kembali terbuka. Dan munculah seorang Wanita cantik berpenampilan elegan dan sedikit terbuka, berjalan angguan ke arah pintu lobby.
“Selamat sore Pak.” Dia menyapa seorang petugas keamanan yang berdiri di bibir pintu kaca sana.
“Selamat sore Bu Mayden.” Pria itu menjawab dengan senyuman ramahnya seperti biasa.
“Saya baru 30 tahun, Pak!” Mayden protes seperti biasa.
Dan security itu hanya mengangguk.
__ADS_1
Klek!!
Jovian mendorong pintu apartemen setelah menempelkan ibu jarinya di alat sensor seperti biasa. Dan terdengarlah teriakan seorang anak kecil dari dalam.
“Uncle, Jo!” Anak laki-laki dengan kisaran usia 6 tahun itu berlari, dan menghambur ke dalam pelukan pamannya.
Jovian sedikit membungkukan tubuhnya, membalas pelukan pria kecil itu sambil mengusap-usap punggungnya.
“How are you, Axel?” Tanya Jovian kepada putra dari saudaranya.
“I’m good. How about you?”
“Om baik, seperti yang kamu ketahui.” Balas Jovian.
Axel mengurai lilitan tangan di pinggang Jovian, lalu menengadahkan pandangan, menatap Jovian dengan senyuman riang yang dia perlihatkan.
“I miss you, uncle Jo.”
“Yeah, I miss you too.” Dia memberikan senyuman terbaiknya.
Sementara empat orang yang sedang duduk di sofa ruang tengah hanya diam memperhatikan, dengan seulas senyuman samar saat melihat interaksi keduanya.
“Wajahmu berseri-seri sekarang.” Ucap Javier dengan nada sedikit mengejek.
Jovian terkekeh. Dan dia segera menggiring Axel ke arah keluarganya berkumpul.
“Apa kabar kalian? Aku kira tahun ini akan datang bersama adiknya Axel. Ternyata belum yah! Dia maih asik sendirian.” Jovian menatap Javier dan Adline bergantian.
Wanita cantik berambut pirang sebahu itu hanya tertawa, sementara Javier memutar kedua bola matanya.
“Dia masih saja menolak, padahal Axel sudah sangat kesepian.” Javier menggerutu, seolah sedang meluapkan isi hatinya.
“Kamu tidak tahu rasanya mual muntah di setiap saat bagaimana, jadi diam saja.”
“Astaga, hampir tujuh tahun!” Cicit Javier.
Mendengar perdebatan itu, Jovian hanya tertawa.
“Sudah. Pertengkaran kalian memang selalu di mulai oleh Jovian, … jangan dengarkan dia. Sekarang giliran dia memberikan adik untuk Axel!” Kata Leni.
“Ya, tentu saja. Sekarang giliran Jovian.” Adline menimpali.
“Bersama Eva saja dia santai, apalagi dengan yang sekarang. Dia gadis 17 tahun lebih muda darinya! Asal kamu tahu.” Javier berseru.
“Siapa Namanya? Aku lupa padahal Mami sudah memberi tahu waktu itu.”
Adline menatap adik iparnya lekat-lekat.
“Jasmine Kiana Danuarta.” Kata Jovian.
“Tapi panggil saja Kiana.” Sambung Jovian lagi, yang seketika mendapat anggukan dari Adline.
Obrolan para orang dewasa terus berlanjut. Berbincang dan membahas segala hal, sementara Axel hanya diam memperhatikan, sembari duduk di atas pangkuan Jovian.
__ADS_1
Sebagaimana yang seluruh keluarga tahu, pria kecil itu memang sangat dekat dengan Jovian, bahkan Axel tidak pernah terlihat sungkan kepadanya meski sudah sangat lama tidak bertemu, karena Javier yang memilih tinggal di Belanda bersama sang istri, untuk menjalankan usaha di negara kincir angin itu, tempat dimana ayahnya, Jonathan lahir di sana.