Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Berita sore


__ADS_3

[Komisi pemberantasan korupsi, atau KPK periksa sejumlah saksi atas kasus penyalahgunaan anggaran pembangunan Hotel yang dilakukan oleh Erik. Bahkan beberapa korban lain segera muncul, dan mengadukan kasus lain, yaitu penipuan juga penggelapan uang dengan nilai yang tidak sedikit. Nahas, beberapa pekerja bengunan tidak dapat menerima upah mereka, hingga berbulan-bulan bahkan sampai saat ini!]


Jovian meletakan remot televisinya di samping tempat duduk, dengan pandangan yang terus tertuju pada layar tv di depannya. Wajah sang mantan mertua segera mendominasi, pria itu terlihat menghindar ketika awak media terus mengejar, dan mencerca dengan banyak pertanyaan menjebak.


Ekspresi Jovian terlihat sangat terkejut.


“Pak Erik bagaimana pendapat anda, saat netizen memenuhi kolom komentar sosial istri anda tentang hidup mewah dengan memakan hak orang lain?”


“Lalu bagaimana dengan istri anda? Dia mendapatkan banyak hujatan, atas apa yang anda lakukan?”


Orang yang di maksud tampak menundukan kepala, dan berusaha menyembunyikan wajah dari sorot kamera yang terus mengejarnya.


“Pak komentar Bapak tentang putri anda yang tersandung kasus kepemilikan barang terlarang bagaimana, Pak? Bahkan hakim sudah menyatakan jika Eva juga ikut andil dalam menyebarkannya?”


Suasana semakin tidak kondusif. Erik yang terus berusaha menghindar, didampingi beberapa kuasa hukumnya, sementara media tak tinggal diam, mereka terus mendesak agar mampu membuat Arik membuka suara.


“Gaji para pekerja bangunan gimana, Pak? Mau langsung diberikan atau menunggu kasusnya selesai?”


“Kasih jalan, ya. Kasih jalan! Kita no komen dulu sekarang, … jadi kasih jalan dulu yah!” Sang pengacara beraksi.


Jovian menatap layar televisi dengan raut wajah muram. Betapa tidak percayanya dia dengan semua yang sudah terjadi. Kasus yang menjerat mantan istrinya saja sudah membuat pria itu syok. Dan sekarang ditambah mantan ayah mertuanya yang tersandung kasus korupsi, hingga membuat beberapa pekerja tidak dapat menerima haknya.


“Oh astaga!” Dia menyapu wajahnya dengan kasar.


Tidak dapat Jovian bayangkan, jika saja kini hidupnya masih bersama mereka. Mungkin dirinya akan ikut terseret, meskipun tidak melakukan apapun, karena sudah pasti pihak berwajib akan meminta kesaksian untuk beberapa kejadian.


Tayangan berita sore sudah beralih. Membahas kasus dan topik hangat lainnya. Namun, masih membuat Jovian diam karena merasa sangat terkejut.


Suara langkah tertatih-tatih terdengar menuruni tangga. Dan setelah itu munculah perempuan dengan mengenakan dress rumahan bertali kecil yang melingkar di kedua sisi bahunya sehingga kulit putih mulus dan sehatnya dapat terekspos sempurna. Dia berjalan penuh hati-hati, seraya terus memegangi perut yang sudah lebih besar dari usia seharusnya.


“Sayang? Kamu disini? Aku kira kamu pergi!” Ucap Kiana.


Yang segera membuat lamunan Jovian buyar. Pria itu menoleh ke arah Kiana yang tampak susah payah berjalan menuruni anak tangga.


“Dari tadi aku disini, kalau butuh sesuatu kenapa tidak panggil?” Katanya, lalu bangkit dan berjalan mendekati Kiana.


“Aku panggil-panggil dari tadi. Bibi, kamu! Nggak ada yang nyaut, aku laper!” Kiana berujar, sambil melenggang ke arah dapur berada.


Suasana rumah masih terasa sangat sepi, berbanding jauh dengan keadaan rumah kedua orang tuanya yang selalu ramai, dan terdapat banyak kegiatan dari ketiga asisten rumah. Namun, itu tidak mengurangi kenyamanan yang ada di dalamnya, Kiana merasa bahagia, rumah yang bagus dan terletak di area cluster elite, belum lagi keberadaan suaminya disana, itu seperti menjadi sebuah pelengkap yang tidak dapat Kiana temukan dimana pun.


“Bibi sedang pergi berbelanja, sayang. Belum ada makanan apa-apa!”


Jovian mendekati Kiana yang sudah membuka lemari pendingin.


“Ah kita baru semalam disini yah!” Kiana dengan raut penuh penyesalan.


Lalu Kiana menutup pintu kulkasnya kembali, dan menyandarkan punggung pada ujung meja marmer hitam mengkilat yang ada di area sana.


Jovian tersenyum.

__ADS_1


“Mau makan apa? Aku order online saja.”


Pria itu berdiri tepat di hadapan istri mungilnya, menggerakan kedua tangan, untuk memegangi kedua sisi perut bulan Kiana. Dan tiba-tiba saja pergerakan muncul di dalam sana, membuat mata Jovian berbinar, sementara Kiana tampak meringis.


“Duh aku mau pipis!”


Jovian terkekeh.


“Ish malah ketawa, … ayo antar dulu biar jalannya cepat!” kiana menepuk pundak suaminya cukup kencang.


Namun, itu tidak membuat Jovian berhenti berharap. Kepalanya bahkan mendongak ke atas, dengan suara tawa yang semakin kencang, sebelum akhirnya mengangkat tubuh Kiana dengan mudah, dan membawanya mendatangi toilet yang di khususkan untuk asisten rumah mereka.


Jovian menurunkan Kiana, dan membopongnya sampai perempuan itu berdiri di dekat kloset.


“Apa bisa sendiri? Atau harus aku pegangin?”


Kiana menatap suaminya, lalu mengangguk.


“Aku bisa.” Katanya.


Jovian berdiri di ambang pintu, menatap Kiana yang mulai menyingkap gaun rumahan yang dia pakaia. Dan terlihatlah perut besar itu, bulat dengan pusar yang mulai menonjol ke luar, sementara kulitnya terlihat mulus, karena Kiana rutin mengoleskan lotion khusus untuk mencegah terjadinya stretch mark.


Pria itu tersenyum. Rasanya tidak sabar menyambut putri dan pangeran kecilnya, yang akan lahir beberapa bulan kedepan.


“Sudah?”


Jovian kembali mendekat, kemudian membantu Kiana untuk berdiri.


“Apa sakitnya sudah semakin parah? Kalau iya nanti kita periksa lagi ke Dokter. Takutnya bahaya!”


“Kalau parah sih nggak, masih kayak kemarin. Tapi sedikit kurang nyaman saja.” Dia menatap wajah suaminya dari jarak yang sangat dekat.


Dan desiran selalu terasa, apalagi setelah hamil Kiana merasa jika Jovian tampak semakin tampan, sehingga mampu membuatnya jatuh cinta setiap hari. Mata tegas, hidung mancung, garis alis yang sempurna, membuat siapapun tidak akan percaya jika usianya kini hampir memasuki kepala empat.


“Mau aku ambilkan bantal?” Tanya Jovian saat meletakan tubuh Kiana di atas sofa.


Dia menegakan tubuh, berdiri memegangi pinggang, lalu menghembuskan nafasnya cukup kencang, saat jantungnya berpacu hebat. Rasanya luar biasa ketika dapat mengangkat tubuh mungil dengan dua bayi di dalamnya sekaligus.


“Om lelah?” Kiana tertawa melihat reaksi dari suaminya.


“Hmm, … aku sudah jarang pergi ke gym. Dan sepertinya aku mulai lemah, … aku harus rutin olahraga lagi setelah ini!”


Kiana mengangguk.


“Jadi mau aku ambilkan bantal atau tidak?”


“Tidak usah, duduk saja disini.” Kiana menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.


Jovian menurut, dia segera duduk di samping Kiana. Dan membiarkan istrinya itu menyandarkan diri.

__ADS_1


Dia meraih ponselnya yang terletak di atas meja. Kemudian mulai mengetik sesuatu, dan mencari-cari makanan untuk di pesan.


“Mau pesan apa?”


“Mau dimsum aja sayang, … yang ayam wortel, ayam jamur, sama daging asap, itu saja! Porsinya banyakin, aku makannya bertiga soalnya.”


Jovian mencium puncak kepala Kiana.


“Baiklah sayang, apapun untuk kalian.” Katanya sambil mengusap perut Kiana.


Kiana melingkarkan tangan di perut Jovian, lalu menyandarkan wajah di dada bidang sana, sehingga rasa nyaman dapat Kiana rasakan.


“Ah Papa, … aku mencintaimu.” Kiana berbisik, kemudian mencium dada suaminya, dan menghirup aroma tubuh yang sangat dia senangi.


Jovian menundukan pandangan, mengusap kepala Kiana, dengan kedua sudut bibir yang tertarik berlawanan membuat sebuah senyuman manis.


“Aku lebih mencintaimu, Baby! Kamu harus tahu itu!”


Jovian meletakan handphone miliknya setelah selesai memesan. Lalu membalas pelukan Kiana.


“Aku tidak akan menyesali keterlambatan kita untuk bertemu. Tapi aku akan sangat menyesal ketika tidak pernah menemukanmu sama sekali. Jika saja aku menolak tawaran Denis, maka aku tidak akan bertemu denganmu, … dan tidak akan merasakan kebahagiaan seperti sekarang. Istri yang cantik, penurut, baik …”


Kiana mendongak, membuat Jovian berhenti berbicara.


“Kamu ini bicara apa?”


Jovian tersenyum.


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin memberi tahu jika aku ini sangat mencintaimu.”


“Ya, aku tahu.”


Jovian memindai wajah istrinya, mengusap lembut pipi Kiana dengan ibu jari, lalu kemudian memberikan ciuman singkat di bibir perempuan itu.


“Terimakasih karena sudah mencintai pria 38 tahun ini.”


“Gaya bicara kamu kaya orang yang lagi galau. Kenapa? Kangen Mami sama Papi? Atau Ka Javier, Ka Adline sama Axel?”


Jovian hanya tersenyum, dan semakin mengeratkan pelukannya.


“Sore ini kamu aneh!”


“Cinta memang aneh, membuat pria hampir tua ini bertingkah laku seperti anak muda pada umumnya yang baru saja merasakan indahnya jatuh cinta.” Jovian menjawab asal.


“Memangnya kamu hampir tua?”


“Ya, usiaku 38 tahun sekarang. Sementara beberapa bulan kedepan kamu baru saja berusia 21 tahun.”


“Oh ya? Kamu 38 tahun? Masa sih? Kamu masih ganteng banget, tidak layak kalau umur kamu setua itu!”

__ADS_1


Lalu mereka tertawa bersama.


__ADS_2