Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Sesuatu yang lebih berarti.


__ADS_3

Kiana tampak berada di area cafetaria, duduk dengan satu cup minuman dingin yang sudah mengembun. Suasana terlihat begitu ramai, ketika hampir seluruh siswa berhamburan meninggalkan kampus pada saat jam pulang sudah tiba. Sementara dirinya masih asik menunggu sosok tampan yang belum juga memperlihatkan batang hidungnya.


Pandanganya segera dia alihkan, ketika beberapa temannya melintas, menatap ke arahnya cukup lama sebelum benar-benar masuk kedalam mobil Kevin lalu pergi.


"Hhheuh, kenapa mereka itu! Kemarin-kemarin berusaha menjauh, dan setelah kejadian kemarin mereka tiba-tiba datang menawarkan diri untuk mencari pelakunya." Cicit Kiana dengan suara pelan.


Dan setelah hampir 30 menit menunggu, akhirnya sebuah mobil sedan putih melaju dengan kecepatan sedang, berbelok memasuki area parkiran yang sangat luas, berhenti, kemudian keluarlah pria tinggi besar dengan setelan jas juga kacamata hitam yang dia kenakan.


Kiana tersenyum, dia tidak berniat untuk segera beranjak dari duduknya. Gadis itu hanya membiarkan Jovian untuk segera mendekat.


"Sudah lama?" Jovian menarik lepas kacamatanya, dan terlihatlah sorot mata tajam pria itu.


Pandangan Kiana menengadah, menatap Jovian untuk beberapa menit, mengangguk dan tersenyum.


"Bahkan sudah satu cup minuman aku habiskan, satu porsi kentang goreng, … sama roti bakar." Jelas Kiana.


"Sudah bayar?" 


"Memangnya aku ada uang cash? Kartunya juga kan masih Om yang pegang."


Jovian mengangguk, dia segera masuk kedalam cafe tersebut, lalu segera melakukan pembayaran.


"Ayo!" Katanya setelah selesai membayar makan dan minum yang Kiana pesan.


Kiana mengangguk, dia merapikan barang bawaannya, lalu bangkit dan segera pergi dengan Jovian yang menggandeng tangannya.


"Saya mau mengajakmu pergi. Mau pulang atau langsung saja?" Tanya Jovian seraya membukakan pintu untuk Kiana.


Gadis itu masuk, duduk lalu memasangkan tali sabuk pengaman. Sementara Jovian masih berdiri di sisi kirinya, menunpukan lengan pada pintu mobil yang masih terbuka.


Kiana mengangkat pandangan.


"Kemana?" 


"Bagusnya kemana dulu?"


Kiana terkekeh.


"Mana aku tahu, Om mau bawa aku kemana?"


Jovian tampak berpikir cukup lama, membuat Kiana ikut terdiam memperhatikan pria tinggi yang saat ini berdiri di dekatnya.


"Astaga Tuhan! Kenapa dia tampan sekali." Batinya menjerit-jerit.


"Oh sebaiknya pulang dulu, nanti malam saya jemput lagi." Kata Jovian.


Dia segera menutup pintu di samping Kiana, berjalan memutari mobil, kemudian menyusul masuk.


Suara mesin mobil kembali terdengar, dan perlahan-lahan Jovian memundurkannya, memutar setir mobil dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain dia gunakan untuk mengendalikan perseneling.


Keduanya pergi meninggalakn tempat dimana Kiana menimba ilmu, mulai menyusuri jalanan cukup padat pada siang hari ini.


Kiana melirik sekilas, lalu kembali menatap ke depan. Hal itu dia lakukan berkali-kali hingga Jovian menoleh sambil terkekeh.


"Ada apa denganmu ini? Jika mau menyampaikan sesuatu, maka katakan saja, tidak usah mencuri-curi pandang seperti itu." Jovian berujar.

__ADS_1


"Nggak, aku cuma mau tanya. Tapi yakin deh Om nggak bakalan ngasih tau." Katanya.


Jovian tidak langsung menjawab, dia hanya terus memfokuskan diri pada jalanan ramai di hadapannya. 


"Tanyakan saja, jika bisa saya pasti jawab pertanyaan kamu." Ucap Jovian tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.


Kiana mengubah posisi duduknya, sedikit merapatkan punggung ke arah sudut, sampai dia mampu menatap Jovian dengan sangat jelas.


"Kita, … mau kemana?" Tanya Kiana.


Jovian melirik, lalu tersenyum.


"Itu rahasia."


"Dih, kok malah main rahasia-rahasiaan!" Celetuk Kiana dengan raut kesalnya.


"Kejutan, Kia! Tidak mungkin saya memberitahunya sekarang." 


"Kejutan?" Kening gadis itu menjengit.


Jovian menjawab dengan sebuah anggukan.


Dan seketika debaran di dada Kiana semakin meningkat. Sesuatu yang sedang dia jalani kini terlihat semakin nyata, dan dia sangat bahagia karena mengetahui jika Jovian sudah benar-benar membuka hati untuk dirinya, mulai melupakan cinta lama yang sempat pria itu harapkan kembali hingga 2 tahun terakhir.


"Setelah aku pikir-pikir, … ternyata Om nggak sekaku yang aku kira. Nggak senyebelin yang aku lihat dulu." Katanya jujur.


Laju mobil melamban, dan benar-benar berhenti ketika lampu lalu lintas berubah menjadi warna merah, sampai menimbulkan beberapa antrian kendaraan.


Pria itu merapatkan punggunga pada sandaran kursi, merebahkan kepalanya, kemudian menoleh dan menatap Kiana lekat-lekat.


"Hemmm, … memangnya siapa yang tidak senang ketika perasaan kita sudah benar-benar di balas dengan sebagaimana mestinya." Jawab Kiana.


"Ya, kamu berhasil menggeser seseorang di masa lalu saya dengan cepat." Jovian terus menatapnya.


Kiana mengatupkan mulut, dengan iris kecoklatan yang bergerak-gerak, menelisik lebih jauh manik pria di hadapannya.


Dan sepertinya Jovian tidak berbohong.


"Om udah cinta aku dong yah!?" Kiana bertanya dengan raut dengan malu-malu.


"Memangnya kamu tidak merasakannya? Perbedaan bagaimana saya dulu dan sekarang?" Jovian balik bertanya.


Kiana menggelengkan kepala.


"Om jarang banget mengutarakan perasaan, Om. Nggak kaya aku yang selalu bilang apa yang aku rasain. Panggilan kita aja masih kaya gini, hubungannya aja yang berubah lebih maju, tapi sikapnya masih kaya aku sama Bodyguard aku." Kiana tertawa.


Dia berusaha menutupi kegugupannya.


Namun, Jovian tertawa kencang mendengar itu. Dia kembali menginjak pedal gas, sampai kendaraan roda empat yang mereka tumpangi kembali melaju dengan kecepatan rendah, saat lampu lalu lintas tiba-tiba berubah menjadi hijau.


"Mungkin jika saya seusiamu, maka saya akan mengatakan kata-kata 'aku mencintaimu' setiap detik. Menghubungi setiap jam, mengingatkan untuk makan dan lain-lain. Tapi saya Jovian, seorang duda yang pernah menikah, usia saya tidaklah muda lagi. Jadi segala sesuatu saya lebih memilih melakukannya, di bandingkan lebih banyak berucap tapi tidak pernah melakukan apapun. Kamu tahu? Aku tipikal pria dengan kerja nyata, saya mencintaimu, tapi dengan apa yang saya lakukan, tidak dengan yang saya ucapkan. Sungguh saya tidak akan memintamu untuk segera makan, tapi segera membelikan sesuatu jika kamu memberikan kabar itu." Jelas Jovian panjang lebar.


"Saya yakin sampai sini kamu mengerti bagaimana saya."


Kiana terdiam, karena apa yang Jovian katakan itu benar.

__ADS_1


"Apalah artinya kata-kata cinta, Kiana." Jovian melepaskan perseneling yang dengan dia genggam, beralih kepada tangan Kiana, dan saling menautkan jemari satu sama lain.


"Kamu masih ragu, huh?" Jovian bertanya, hanya untuk mencari tahu perasaan gadis di sampingnya yang mungkin masih merasakan kegauan yang cukup besar.


"Tidak, Bukan ragu. Lebih ke rasa takut saja, karena aku pikir Om tidak melakukan itu karena masih berusaha …"


Jovian meremat telapak tangan Kiana cukup kencang, membuat gadis itu berhenti berbicara.


"Eva dan kamu itu berbading sangat jauh. Lalu kamu pikir saya tidak tertarik kepamu? Kamu lebih dari segalanya Kia, … asal kamu tahu itu!" 


"Ya ya ya, … aku percaya." Kiana tersenyum.


"Bagus. Nanti malam dandanlah yang cantik, kita akan pergi ke suatu tempat. Tapi ingat! Tetap kenakan pakaian yang sopan." Jovian memperingati.


Dan sepertinya pria itu benar-benar serius.


"Ih, Om kenapa? Tumben-tumbenan ngomentarin penampilan aku?" Cicit Kiana.


"Karena gaya berpakaian kamu dapat memancing perhatian orang. Dulu saya tidak peduli karena kamu bukan siapa-siapa, hanya seorang gadis yang tidak boleh luput dari pengawasan saya. Tapi sekarang, ... kamu lebih dari itu!" Ucapnya dengan ekspresi wajah serius.


Kiana menggigit bibirnya cukup kencang, menahan sebuah senyuman dengan kedua pipi yang terlihat merah merona.


"Jadi sudah mengerti yah! Saya tidak suka apapun yang menjadi milik saya menjadi pusat perhatian orang-orang."


"Om lagi gombal yah? Atau lagi butuh asupan vitamin?"


"Saya tidak bisa menggobal. Itu tidak termasuk dalam ke ahlian saya."


Pria itu terus mengarahkan pandangannya lurus kedepan.


"Oh yah? Ke ahlian Om apa dong?" 


"Saya menguasai beberapa ilmu bela diri, menembak. Dan, … meluluhkan hati seorang ayah sampai dia mau memberikan putrinya tanpa saya harus bersusah payah terlebih dahulu."


Kiana tertawa terbahak-bahak. Matanya terpejam dengan telapak tangan yang menutupi mulutnya. Sementara Jovian hanya tersenyum samar.


"Kayanya beneran butuh vitamin!"


Kiana menekan tombol merah di sebelah kanan sampai seatbeltnya terlepas, mencondongkan tubuh lalu mencium pipi Jovian beberapa kali.


"Astaga Kiana jangan mulai!" Jovian terkekeh.


"Kenapa?" Tanya gadis itu dengan perasaan gemas.


"Bahaya, jangan melakukan itu saat berkendara. Nanti saya tidak fokus!"


Kiana kembali membenahi posisi duduknya.


"Kalau sedang tidak berkendara boleh?" Pertanyaan konyol itu akhirnya keluar dari mulut Kiana.


Jovian menoleh, dengan senyuman yang terus terukir, dan itu cukup untuk Kiana jadikan sebagai jawaban tanda setuju.


"Dasar nakal!" Gumam Jovian.


Namun Kiana masih dapat mendengarnya dengan jelas, hingga membuat gadis itu tertus tertawa.

__ADS_1


__ADS_2