Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Sabotase.


__ADS_3

Satu ruangan berukuran cukup besar. Dimana terdapat sebuah rak kayu menjulang tinggi, berisi puluhan buku di dalamnya yang tertata dengan sangat rapi.


Dan disanalah Jovian, duduk di hadapan sebuah komputer yang menyala, menatap serius benda itu dengan ponselnya menempel di daun telinga.


"Jadi, … kau masih belum bisa menyelidikinya?"


Kata Jovian sambil terus memperhatikan layar monitor, dimana saat ini sebuah tulisan-tulisan kecil yang terlihat bergerak sangat cepat. Kala Jovian berusaha meretas situs untuk mencari bukti atas kasus yang beberapa waktu lalu dia juga Kiana hadapi.


"Pihak kampus tidak mengerti kenapa cctv, juga data-data yang ada di dalamnya ikut hilang."


"Apa ada indikasi jika seseorang melakukan kecurangan disini?" Tanya Jovian, dia merapatkan punggung pada sandaran kursi kerjanya. "Mereka menggunakan uang untuk membuat orang-orang di sana tutup mulut?" Lanjut Jovian.


"Lebih tepatnya ada seseorang yang mengerti IT. Mungkin yang kita hadapi sekarang bukan orang sembarangan sampai dia mampu menutupi bukti-bukti yang ada dengan sangat rapat." Seseorang di seberang sana menjelaskan.


"Bahkan mereka satu langkah lebih maju."


Jovian menghela nafasnya cukup kencang, dengan pandangan yang tidak teralihkan sama sekali, terus menatap layar monitor, dah berharap bisa meretas sesuatu untuk segera mendapatkan barang bukti, dan membawa seseorang yang sudah menyebarkan foto pribadinya bersama Kiana.


Namun lagi-lagi Jovian tak dapat melakukan itu.


"Hemm, … lawan kita kali ini bukan orang sembarangan ternyata." Jovian bergumam.


Tapi tentu saja anak buahnya yang masih ada dalam sambungan telepon, dapat mendengar jelas apa yang Jovian katakan.


"Seratus persen, iya. Terbukti dari data cctv kampus yang raib secara tiba-tiba dan tanpa ada yang mengetahuinya."


"Jadi cctvnya rusak atau tidak?" Jovian menekankan kata-katanya.


"Tidak parah. Hanya tidak dapat merekam saja, mungkin mereka melakukan sabotase terlebih dahulu. Sebelum pelaku itu melakukan aksinya, bahkan rekaman yang terdeteksi pihak universitas hanya rekaman dua hari sebelum kejadian."


Jovian menghela nafasnya cukup kencang.


"Tetap dalami kasus ini, jangan lengah!" Tegas Jovian.


"Baik."


Dan setelahnya Jovian menjauhkan benda pipih itu dari daun telinganya, lalu meletakkan di atas meja, tepat di samping keyboard komputer.


Jovian melipat kedua tangannya di atas dada. Memandang layar monitor yang kini sudah berhenti mengakses sesuatu, karena memang dia tidak dapat menemukan apapun.


"Siapa dia sebenarnya? Apa yang dia inginkan dari segala sesuatu yang dia lakukan?" Pria itu berpikir keras.


Jovian terdiam cukup lama. Berusaha menghubungkan setiap jadian. Tapi suara denting notifikasi telepon berbunyi nyaring, membuat pria itu tersadar dari lamunannya.


Tanpa menunggu lebih lama, Jovian segera meraih ponselnya, lalu menatap layar handphone yang tampak menyala. Kala seseorang kembali menghubungi nya dalam sebuah panggilan Video.


Rubah kecil.


Dan nama itulah yang tertera, dimana di sampingnya terdapat sebuah emot kepala hewan berwarna oranye. Sekilas terlihat seperti kucing, hanya saja hewan itu memiliki telinga yang cukup panjang.


Kedua sudut bibir Jovian tertarik pada arah berlawanan. Membentuk sebuah senyuman tipis, dengan sorot mata yang berbinar. Dia menekan tombol berwarna hijau, lalu menggesernya.


Wajah Kiana seketika memenuhi layar itu.


"Om?"


Panggil gadis itu dengan nada manjanya.


"Ya?" Jovian tersenyum.


"Om lagi dimana? Sudah makan siang? Aku tungguin Om telepon dari tadi lho!"


Kiana mencerca dengan beberapa pertanyaan sekaligus. Namun, lagi-lagi Jovian hanya menanggapi polah tingkah laku calon istrinya dengan senyuman dan rasa gemas yang sangat menggebu. Apalagi gadis itu kini seperti sedang melayangkan protesnya karena Jovian tidak menghubungi sejak dari pagi.


Wajah polos tanpa makeup, dengan kulit wajah yang jelas terlihat begitu sehat. Dan jangan lupakan bando berbentuk telinga beruang yang kali ini kembali Kiana pakai, membuat gadis itu benar-benar terlihat seperti anak kecil.


"Ada sedikit pekerjaan. Tapi sekarang sudah selesai!" Kata Jovian. "Kamu sudah makan Baby? Kegiatan apa yang kamu lakukan hari inj?"


Mereka saling menatap satu sama lain, dari jarak yang terpaut sangat jauh.


"Makan apa? Kalau makan pagi sudah, … makan siangnya belum."


"Mau saya orderkan? Katakan, … mau makan apa?"


Namun, Kiana langsung menggelengkan kepalanya. Menolak tawaran Jovian, dengan senyuman yang tampak Kiana sembunyikan.


"Kenapa?" Jovian terkekeh.


"Aku nggak mau Om orderin. Yang antar orang lain, abang-abang ojek online, nggak seru!"

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku mau Om yang anterin. Atau kita pergi makan di luar saja! Sekalian ajak Mami, Papi, Axel, Ka Adline sama Ka Vier makan di luar. Aku yang traktir!" Jelas Kiana berujar.


Jovian diam untuk beberapa saat. Pria itu tampak berpikir, dan mempertimbangkan ajakan dari calon istrinya.


"Tapi mereka sedang pergi sekarang. Membawa Axel ke salah satu tempat bermain, … dia sudah merengek sejak dari pagi!"


"Begitu yah!"


Jovian mengangguk.


"Ya sudah. Aku tutup dulu yah teleponnya, … mau mandi dulu! Aku belum mandi dari pagi." Gadis itu jujur.


"Kamu mau mandi?"


Kiana mengangguk-anggukan kepala, lalu dirinya terlihat bergerak-gerak, meraih sesuatu, dan menyampirkan handuk di pundaknya.


"Aku tutup yah!" Pamit Kiana.


Tangannya sudah bergerak melambai-lambaikan, namun Jovian hanya diam tidak membalas apapun.


"Bye, Om!"


"Kia!?"


"Ya?"


"Saya boleh ikut?"


Dan pertanyaan konyol itu akhirnya keluar dari mulut Jovian. Yang seketika membuat Kiana diam seribu bahasa.


"Ikut kemana? Mandi?" Tanya Kiana yang paham kemana arah obrolan yang Jovian maksud.


"Hemmm, … bisa tidak bawa ponselnya tanpa harus mematikan sambungan telepon kita?"


Namun keinginan Jovian itu justru ditertawakan oleh Kiana. Membuat pria itu memperhatikan wajah cantik calon istrinya dengan perasaan yang entah bagaimana dia harus jelaskan.


Bahagia sudah pasti, gemas apa lagi. Namun ada sesuatu yang tidak pernah dia deskripsikan dengan kata-kata.


"Nanti Om mau. Jadi sebaiknya aku tutup saja yah!" Kata Kiana. "Bye, sayang … i love you!" Dan setelah itu Kiana mematikan sambungan video call, tanpa persetujuan dari Jovian terlebih dulu.


"Apa tadi? Dia memanggilku sayang?" Jovian berusaha menyadarkan dirinya. "Apa benar seperti itu? Apa pendengaran ku sedang tidak eror? Setidaknya rasa ini tidak membuat aku tuli bukan? Tidak apa jika hanya mengalami sedikit kegilaan, … karena Kiana memang membuat aku merasakan semua itu." Jovian tertawa dengan nada frustasi.


Dia mematikan komputernya terlebih dulu, merapikan beberapa barang dan memasukkannya ke dalam laci, lalu kemudian dia beranjak pergi dari ruangan kerjanya.


Suasana ruang tengah apartemennya terasa begitu sunyi. Kehebohan yang selalu di timbulkan Leni dan Jonathan seketika lenyap, kala kedua orang tua itu pergi menemani cucu pertama mereka bermain.


Jovian berjalan memasuki kamarnya, membawa jaket juga kunci mobil, lalu segera pergi untuk memenuhi keinginan hatinya, dimana dia terus berteriak meminta agar segera menemui Kiana.


***


Tok tok tok!!


Pintu kamarnya terdengar diketuk beberapa kali dari arah luar. Dan terdengarlah suara Ipah memanggil-manggil namanya.


"Kenapa Mbak?" Kiana berteriak cukup kencang, seraya mengaplikasikan moisturizer di kulit wajahnya.


"Ada Pak Jovian di bawah."


Kiana cukup terkejut saat mendengar ucapan Ipah di balik pintu kamarnya. Dia segera menutup tempat moisturizernya, membuka lilitan handuk di atas kepala, menyisirnya, lalu berlari mendekati pintu kamar yang saat ini tertutup dengan sangat rapat.


Klek!!


Dengan semangat Kiana membuka pintu kamarnya, berjalan ke arah tangga, melewati Ipah yang masih berdiri di ambang pintu kamar sana.


Ipah terlihat bingung.


Sementara Kiana terus melangkah lebar, bahkan tak jarang dia melompati beberapa anak tangga, hanya agar dirinya segera sampai di lantai bawah rumahnya, dimana Jovian sedang menunggu saat ini.


Seorang asisten rumah lainnya terlihat berjalan dari arah ruang tamu, membawa sebuah nampan di dalam pelukannya.


"Non." Wanita itu menyapa.


Namun Kiana tak menanggapinya, dia hanya terus berjalan, sampai Kiana menapakan kakinya di sebuah ruang tamu, dimana sofa-sofa besar kembali pada tempatnya masing-masing.


Jovian tersenyum saat melihat kedatangan Kiana. Wajahnya terlihat begitu segar, dengan rambut yang masih belum seluruhnya kering, dan pakaian rumahan seperti biasa.


Kaos oversize, dengan celana jeans di atas paha yang tentu saja tertutup oleh baju yang dia kenakan. Sekilas membuat Kiana terlihat tidak sedang memakai pakaian bagian bawahnya.

__ADS_1


Kaki jenjang, kulit putih mulus terawat, dengan wewangian yang langsung menyapa indra penciuman Jovian.


"Hay? Mandinya sudah selesai?" Jovian membuka suara terlebih dulu.


Kaiana hanya mengangguk, dia kembali berjalan, lalu duduk tepat di samping Jovian.


Mereka saling memperlihatkan senyuman. Dengan dada yang berdebar-debar. Entah kenapa, tapi itulah yang keduanya rasakan jika sedang berdekatan seperti sekarang.


"Sudah. Om kapan sampai? Kok nggak ngabarin kalau mau kesini?" Kiana dengan manja.


"Mungkin sudah sepuluh menit, … saya tidak menyangka kamu mandi dengan waktu selama itu. Tadi Ipah sempat memanggil, tapi katanya tidak ada jawaban." Jovian menyentuh ujung rambut Kiana, dan membawanya ke arah belakang telinga.


Kiana tersenyum malu-malu. Mengingat beberapa ritual dia lakukan secara rutin, sampai membuatnya mandi dengan waktu yang sangat lama, dan hasilnya adalah kulit tubuh yang terlihat sangat sehat dan terawat.


"Mau ajak aku keluar?" Gadis itu mengalihkan obrolan.


"Kamu mau?"


Kiana segera mengangguk, dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu antusias.


"Rumahmu sepi. Kemana Pak Danu dan Bu Herlin?"


"Pergi memenuhi undangan pernikahan dari rekan bisnisnya Papa. Tadi aku di ajak, tapi males ah … nanti di tanya-tanya!"


Jovian bungkam. Membuat Kiana juga langsung terdiam, saling menyelami netra satu sama lain, lalu tersenyum saat mendapatkan lautan api asmara yang terlihat berkobar di dalamnya.


"Gantilah pakaianmu, lalu kita berangkat." Kata Jovian dengan suara rendah.


"Seperti ini saja. Kenapa harus ganti?"


Jovian menggelengkan kepala, dia membantah usulan kekasih cantiknya.


"Kenapa? Penampilan aku tidak terlalu buruk lho, Om!" Kiana menundukan pandangan, menatap dirinya sendiri.


Jovian mengulurkan tangannya, lalu menyentuh kulit paha Kiana, mengusapnya dan memberikan sedikit cubitan kecil.


"Tidak, Baby! Saya tidak suka kamu menjadi pusat perhatian, … bahkan kamu terlihat tidak memakai celana! Entah kaosnya yang kebesaran, atau celana jeans mu yang terlalu pendek."


"Sebelumnya bahkan aku memakai rok, crop top, lalu pergi memasuki salah satu hiburan malam. Tapi Om tidak keberatan." Kiana mengulum senyum.


Alisnya bergerak naik-turun, seperti sengaja menggoda kesabaran Jovian.


"Itu beda. Kamu masih Kiana yang lain waktu itu, bukan Kiana calon istri saya!"


Kiana berdiri, dia beralih duduk di atas pangkuan Jovian. Membuat pria itu terkejut, sekaligus merasa gugup, karena Jovian sadar sedang berada dimana mereka saat ini.


Akan berbeda jika Kiana melakukan itu di dalam apartemennya, dia akan merasa sangat senang, karena hubungannya sudah memperlihatkan kemajuan yang cukup pesat.


"Baby!" Cicit Jovian dengan suara rendah dan ekspresi wajah datarnya.


"Aku tidak mau ganti pakaian. Bagaimana?" Kiana mengusap rahang tegas Jovian.


"Om mau marah?"


Lidah Jovian terasa kelu, tenggorokannya kering, sampai dia tidak dapat lagi berkata-kata.


"Sayang? Aku tidak mau ganti pakaian. Aku mau seperti


ini, … boleh?" Kiana berbisik.


Jovian mengerjapkan mata, lalu menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali.


"Baiklah. Tapi saya hanya akan membawamu ke restoran cepat saji, dan membelinya secara Drive thru!" Jovian meraih tengkuk Kiana, menariknya perlahan, dan bertemulah bibir keduanya secara singkat.


Kiana mengangguk, kemudian dia berdiri setelah Jovian melepaskan dirinya.


"Aku bawa handphone dulu!"


"Baiklah." Kata Jovian.


Kiana beranjak kembali ke arah dalam, sementara Jovian meraih cangkir kopinya, dan meneguk perlahan-lahan, membiarkan air berwarna hitam pekat itu membasahi kerongkongan yang memang sudah terasa sangat kering.


"Pertahankan kewarasanmu Jovian. Setidaknya sampai beberapa bulan kedepan, … tidak menutup kemungkinan jika Rubah cantik itu akan semakin membuatmu pusing." Jovian bermonolog dengan suara pelan.


Dan setelahnya dia terkekeh.


"Rengekannya sudah membuatmu sakit kepala, lalu apa kabar dengan suara-suara manja lainnya!"


Jovian menyapu wajahnya cukup kencang, bibirnya bahkan terus tersenyum, dengan debaran yang terus terasa semakin intens.

__ADS_1


"Astaga Tuhan! Otak, hati, dan pikiranku sudah tidak sejalan." Bisik Jovian, seraya memijat keningnya yang terasa sedikit pusing.


__ADS_2