
Tepat pukul 18.00 sore hari.
Jovian dan Kiana segera kembali, berjalan kaki dari area pantai menuju dimana villa keluarga istrinya berada. Dengan tangan yang tak hentinya saling menggenggam, seolah takut salah satunya menghilang dari pandangan jika mereka tidak melakukan itu , mengingat tempat yang mereka datangi benar-benar terlihat begitu ramai, terutama saat waktu matahari terbenam. Seluruh orang seperti berlomba-lomba untuk melihat keindahannya.
"Sayang, kamu masuk duluan. Aku mau kesana dulu!" Kiana menunjuk salah satu bangunan yang terletak di bagian belakang villa.
"Mau apa?"
"Hanya memberitahu. Takutnya mereka masak untuk makan malam, sementara kamu mau membawa aku dinner romantis." Perempuan itu tersenyum sumringah.
Jovian pun menganggukan kepalanya, melepaskan genggaman tangan, dan membiarkan Kiana berjalan menjauh, mendekati sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, sementara dirinya kembali melanjutkan langkah kaki, untuk kemudian mendekati pintu utama dan masuk.
Lampu-lampu ruangan sudah menyala, begitu juga jendela dan pintu yang sempat terbuka kini tampak tertutup dengan rapat. Dia berjalan mendekati pintu kamarnya, membuka benda itu, masuk dan meraih rokok dan korek yang di letakan di atas nakas tidak jauh dari tempat tidur.
Setelah itu Jovian menyingkap tirai tipis yang sudah membentang, membuka salah satu pintu yang terletak di sudut kamarnya, lalu ke luar. Beberapa kursi malas dan sofa berada disana, menghadap tepat ke arah kolam renang, yang langsung mengarah pada larutan yang sangat luas.
"Apa aku juga harus membuat tempat tinggal di Pangalengan? Sepertinya bagus kalau aku membuatkan satu tempat yang indah untuk Kiana." Jovian bermonolog.
Sekilas dia menoleh ke arah belakang, lalu duduk di atas sofa, membuka penutup bungkusan rokok, dan membawanya satu batang, yang langsung Jovian letakan di antara dua celah bibirnya. Dengan segera Jovian menghidupkan korek, mengarahkan api pada ujung rokok, lalu menghisapnya dalam-dalam, hingga mengepulkan asap yang langsung mengalun, dan menghilang di terpa angin.
Dia merogoh saku celana, mengeluarkan sesuatu berbentuk pipih dan meletakan handphone di atas meja sana, bersisian dengan rokok dan korek miliknya.
Suara pintu terbuka jelas terdengar dari arah lain. Diselingi suara-suara obrolan, hingga akhirnya kembali hening, dan Kiana masuk ke dalam kamarnya membawa dua mug besar.
"Ish, kamu merokok terus!" Cicit Kiana sedikit kesal.
Dia membungkuk, lalu meletakkan nampan berisikan dua mug itu di atas meja kaca yang terletak di samping sofa.
"Dikurangi. Selain bau bapak-bapak, itu juga tidak sehat!" Katanya lagi.
Kiana meraih mug miliknya, lalu beralih duduk tepat di samping Jovian. Sementara orang yang perempuan itu maksud hanya diam sambil tersenyum, menikmati rokoknya pada petang hari ini. Dengan langit magenta yang terlihat begitu mempesona.
"Apa yang kamu buat?" Jovian mengalihkan topik pembicaraan.
"Teh tawar hangat." Sahut Kiana.
"Padahal aku mau kopi!" Jovian menoleh ke arah samping dimana istrinya berada.
"Sekarang teh hangat dulu lah. Tadi kita sudah minum yang manis-manis, … niatnya kan nanti malam kita makan dan minum di luar. Jadi sekarang minum yang ini dulu."
Jovian menghembuskannya.
"Biar sehat tahu! Memangnya kamu tidak mau yah? Menemani anak-anak kamu nanti? Itu salah satu alasan aku melarangmu merokok tahu!"
"Baiklah, baiklah!"
__ADS_1
Jovian kembali menghisap sisa rokoknya yang terlihat semakin pendek, lalu meniupkan asapnya ke arah lain. Dan setelah itu dia melemparkan bekas rokok ke atas lantai, lalu menginjaknya.
"Apa yang mau kamu lakukan setelah ini? Waktu makan malam kita masih tersisa beberapa jam?" Dia meraih mug miliknya, dan meminumnya dengan perlahan-lahan.
Terlebih dulu Kiana meletakan mug teh hangat kembali ke atas meja. Mengubah posisi duduknya sedikit miring, membuat dia dapat menatap suaminya dengan sangat jelas.
"Iya, apa yah? Masa sehari sudah jenuh." Kiana terkekeh. "Eh bukan jenuh, … tapi akunya masih lelah, sampai merasa malas padahal ada banyak tempat yang bisa dikunjungi." Sambung Kiana.
Jovian tersenyum.
"Bulan depan kamu wisuda? Hadiah apa yang mau kamu minta? Katakan saja, aku senang melakukan itu, apalagi jika kamu terlihat senang." Tiba-tiba saja Jovian bertanya demikian.
Kiana tampak berpikir, sorot matanya tertuju ke segala arah, dengan jari telunjuk yang terus bergerak mengetuk-ngetuk kening.
"Apa yah!?" Katanya.
"Apa saja, nanti aku coba penuhi." Pria itu terlihat sangat antusias.
"Berapa permintaan yang aku boleh minta?"
Kiana beringsut, bergerak lebih mendekat, lalu meraih lengan Jovian, memeluknya, dan menyandarkan kepala di bahu kekar milik pria itu.
"Ah aku senang sekali dengan wangi parfumnya." Kiana mengendik dada Jovian.
"Berapapun. Tapi jika permintaannya lebih dari satu, dan yang kamu minta sedikit sulit, sudah di pastikan aku tidak dapat memberikannya sekaligus, … mungkin satu persatu. Kita mulai dari yang paling mudah." Kata Jovian.
"Apa aku keterlaluan kalau meminta rumah?"
Kiana sedikit memberi jarak, kemudian menengadahkan pandangan, menatap Jovian sembari tersenyum tipis.
"Aku pikir kita butuh rumah."
Namun tiba-tiba Jovian tertawa kencang.
"Rumah? Apa kamu mulai alergi dengan apartemenku juga, Baby?"
Mata Jovian mulai terpejam, dengan kepada mendongak ke arah belakang, dan suara tawa yang terus menggelegar memenuhi area sekitar.
"Kamu mulai posesif yah! Tidak mengizinkan apapun dari masa laluku tetap tinggal." Lanjut Jovian. "Lagi pula Apartemen itu hanya aku singgahi saat ada waktu luang karena libur bekerja. Eva menginap hanya beberapa kali saja, … itupun sambil menggerutu karena aku lebih memilih pulang ke apartemen daripada ke rumahnya." Jelas Jovian.
Dan itu membuat Kiana dapat bernafas lega. Nyatanya tempat itu bukan salah satu kenangan indah dari suaminya. Bahkan saat Eva berkunjung keduanya selalu berselisih paham. Tidak peduli kisah itu benar atau Jovian hanya mengarangnya untuk membuat perasaan Kiana sedikit lebih membaik. Setidaknya sebuah pengalihan pikiran sudah Kiana dapatkan.
"Biar aku jelaskan. Tapi sebelumnya kamu harus tahu, aku membicarakannya bukan untuk membuat mood mu menjadi buruk oke?"
Kiana mengangguk.
__ADS_1
"Apartemen itu hasil kerja kerasku selama bekerja menjadi ajudan pribadi. Dan setelah menikah, kami tinggal di rumah Eva, yang aku jadikan mahar seperti apa yang sebelumnya aku ceritakan. Aku pulang ke apartemen Jika memang ada waktu luang, atau saat bertengkar dengan dia. Kau tahu? Setiap kali kami bertengkar, dia selalu mengucapkan kata-kata perpisahan, dia selalu mengancamku dengan itu! Semakin lama aku semakin jenuh, dan aku memilih pergi ke apartemen untuk menghindari Eva." Dia menceritakan kisah kepada istrinya.
Dan Kiana hanya diam mendengarkan, dengan sangat antusias.
"Sepertinya aku harus menjelaskan banyak hal yah? Akhir-akhir ini aku lihat kamu selalu bertingkah aneh saat sesuatu tertuju ke arah sana."
Mereka saling menatap satu sama lain. Dan kali ini ekspresi wajah Kiana maupun Jovian terlihat begitu serius.
"Kamu mulai menjadi seorang yang cemburuan. Tapi aku senang. Karena itu salah satu bukti jika kamu sangat mencintai aku bukan? Sampai kamu tidak rela aku dimiliki orang lain, meskipun itu hanya dalam bayangan saja?"
Kiana menimpali ucapan suaminya dengan anggukan pelan.
"Baby? Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah aku jalani dan dapatkan di masa lalu. Tapi bolehkan untuk saat ini kita fokus pada hubungan kita? Tanpa ada orang lain di dalamnya? Entah Eva, Kevin atau siapapun."
Dahi Kiana menjengit.
"Kenapa Kevin? Aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan dia, … dia yang suka aku, tapi akunya tidak suka."
"Tapi itulah cemburu. Tidak pernah melihat siapapun, meskipun itu kepada pria yang bahkan tidak pernah menjalin hubungan apapun denganmu. Aku juga merasakan hal yang sama, aku tidak suka saat mengingat jika kamu dipuji dengan sedemikian rupa oleh pria lain!" Jovian tersenyum tipis.
Kiana diam untuk waktu yang sangat lama. Menatap wajah Jovian dengan raut wajah serius. Namun tiba-tiba saja dia menggerakkan jari telunjuknya kembali pada Jovian, lalu tertawa pelan.
"Cie kamu cemburu!"
Jovian menahan senyumannya, sampai wajah pria itu sedikit terlihat merona, dan menggemaskan tentunya.
"Cie ada yang cemburu!" Kiana terus menggoda.
"Memangnya tidak boleh, huh? Memangnya hanya kamu yang boleh cemburu? Sementara aku tidak?"
Tawa Kiana semakin terdengar kencang.
"Berhentilah!"
Namun Kiana tidak mendengar, dia hanya terus tertawa, dan itu dia tujukan kepada sikap suaminya, yang menurut Kiana sedikit konyol, karena cemburu kepada seseorang yang bahkan tidak pernah ada dalam hidupnya.
"Hey!?"
"Ah kamu lucu sekali. Masa cemburu kepada Kevin!"
"Lalu aku harus cemburu kepada siapa? Aku tidak tahu siapa pria yang kamu sukai dulu?"
Kiana menggelengkan kepala, dan suara tawanya mulai memudar, bergantikan suara nafas yang sedikit tersengal-sengal.
"Tidak ada. Karena pria yang aku sukai, dan aku cintai itu kamu. Mengerti tidak? Cinta pertama seorang anak perempuan memang ayahnya, … tapi aku sangat mencintai kamu lebih dari rasa cinta aku sama Papa." Kiana menjelaskan. "Kamu cinta pertama aku, pria pertama untukku yang mengambil segala hal paling berharga di dalam diriku. Aku harap kamu mengerti sampai sini, itu alasan kenapa aku merasa terus cemburu kepada Tante Eva! Karena aku merasa adalah sosok wanita pengganti setelah cinta pertamamu pergi."
__ADS_1
Jovian segera menarik Kiana untuk semakin mendekatkan diri. Untuk kemudian dia peluk, dan menghujani puncak kepala perempuan itu dengan banyak kecupan.