
Hamparan langit luas bertabur bintang, di hiasi awan-awan putih yang bergerak perlahan karena tertiup angin. Suasana terasa sunyi dan sepi, saat malam terus merangkak semakin larut, sementara pria itu baru saja sampai di kediamannya setelah menempuh perjalan yang cukup menyita waktu.
Langit malam terlihat benar-benar cerah, sehingga terangnya bulan terlihat begitu jelas.
Lampu-lampu hampir di setiap sudut taman menyala. Namun, tidak dengan di dalam rumah sana, keadaan sudah terlihat gelap gulita, dan dia tahu jika mungkin saja saat ini Kiana sudah terlelap.
Jovian berjalan mendekati pintu utama, menekan beberapa kode, barulah ia bisa masuk setelah sensor berbunyi yang seketika membuat pintunya otomatis terbuka.
"Padahal aku berharap kamu belum tidur," Jovian bermonolog.
Tidak tahu kenapa, rasa rindunya benar-benar terasa melampaui batas.
Dia menutup pintu rumahnya perlahan-lahan, kemudian berjalan melewati tangga, mendekati pintu ruangan yang terletak di lantai satu.
Namun, sebelum sampai Jovian meraih handle pintunya, panggilan seorang perempuan membuat Jovian menoleh dengan cepat.
"Bapak pulang?" Dengan langkah cepat Ipah keluar dari dalam kamar.
Jovian membeku di dekat pintu ruangan yang sementara ini di tempatinya.
"Ipah, kamu membuat saya terkejut!"
Sang asisten rumah tidak bersuara lagi, tapi berjalan mendekati saklar lampu dan menekan beberapa di antaranya, sehingga membuat ruangan itu menyala.
"Bapak butuh sesuatu? Makan atau minum?" Tawar Ipah.
Perempuan itu terlihat sedikit gugup, sehingga terus berusaha menyembunyikan wajah sebabnya yang masih dipenuhi kantuk.
"Kalian sudah tidur?"
"Eee, … bibi sudah. Tapi saya baru mau, kebetulan denger mobil masuk jadi bangun lagi saja siapa tahu Bapak butuh sesuatu."
Jovian kembali menatap jam yang menempel di dinding ruangan itu. Yang sudah menunjukan pukul 12.30 lewat tengah malam.
"Tidak apa, istirahatlah. Jika butuh sesuatu saya akan menyiapkannya sendiri, … lagi pula ini sudah malam, sudah sepantasnya kamu mendapatkan waktu istirahatmu," kata Jovian kepada seorang asisten yang Herlin utus untuk mereka.
Perempuan yang di maksud hanya diam sambil menatap ke arahnya, dengan wajah yang terlihat sudah sangat lelah.
Tentu saja, mau tidak lelah bagaimana. Sementara mereka hanya berdua mengurus rumah besar yang saat ini Jovian tinggali bersama sang istri, Kiana. Dan membantu setiap kebutuhan ibu hamil juga tidak mudah, apalagi Kiana mengandung dua bayi, sehingga pergerakannya sudah sangat sulit.
"Sudah, kembalilah untuk istirahat!" Titah Jovian, kemudian dia menekan handle pintu kamar yang sedang mereka tempati saat ini, dan masuk.
Suasana kamar tidur tampak temaram. Tidak ada lampu di dalam sana yang menyala, hanya mengandalkan cahaya dari arah jendela yang tak tertutup gorden.
Dimana pemandangan taman samping rumah terlihat. Dan itu adalah sesuatu yang Kiana senangi semenjak mengisi kamar sementara mereka.
Lampu-lampu taman berwarna kuning, pohon-pohon bonsai yang sudah berukuran cukup besar, juga sebuah kolam kecil di area sana, menimbulkan suara samar gemericik air. Dan itu cukup menenangkan, terbukti dari terlelapnya Kiana di dalam mimpi indahnya.
Bahkan perempuan itu seperti tidak terganggu sedikitpun, dia tampak berbaring miring dengan nyaman, berbalut selimut yang akan melindunginya dari hembusan hawa dingin air conditioner.
Kaki Jovian perlahan melangkah ke arah ranjang berada, sekedar hanya untuk memastikan keadaan istrinya yang sudah beberapa hari tidak dia temui secara langsung.
Dan itu cukup membuatnya merasa rindu.
Ingin sekali Jovian memeluknya, lalu mencium perempuan itu. Namun, dia takut akan membangunkan Kiana yang mungkin saja dia mengalami kesulitan untuk tidur di awal, seperti yang ia ketahui.
Jovian mundur, kemudian berbalik badan untuk segera memasuki kamar mandi dan membersihkan diri. Dia menutup pintunya dengan hati-hati, sehingga tidak lama setelahnya terdengarlah suara air mengalir dalam jangka waktu yang cukup lama.
20 menit berlalu.
Pintu kamar mandi kembali terbuka, dan keluarlah Jovian dengan keadaan bertelanjang dada, hanya sehelai handuk yang melingkar di area pinggang sampai lutut.
__ADS_1
Wangi maskulin menguar indera penciuman, perpaduan mint dan lemon yang terasa segar, membuat seorang perempuan yang sudah terlelap kembali menarik kesadarannya.
"Papa?" Panggil Kiana pelan.
Suaranya parau, dan dia berusaha untuk bangun meskipun matanya terasa sangat berat, hanya karena mencium bau khas dari suaminya.
"Sayang?" Kiana kembali memanggil saat tak mendengar jawaban.
Dia berusaha untuk mengubah posisinya. Namun, tiba-tiba saja ranjang tidurnya bergerak, dan melingkarkan tangan kekarnya dengan sesuatu yang langsung menyerah area pipi.
"Kamu bangun? Apa aku berisik, hum?" Jovian sambil terus menciumi pipi Kiana.
Tangannya menyusup kedalam selimut, menyentuh perut besar yang tersembunyi di dalam sana.
"Tidak berisik, tapi wangi kamunya yang bikin aku bangun!" Kiana meraih pundak Jovian, kemudian melingkarkan kedua tangannya sehingga mereka semakin tidak berjarak.
"Kangen," ucap Kiana dengan suara pelan, tapi mendayu-dayu.
Jovian terkekeh pelan.
"Nyatanya setiap hari video call tidak cukup yah?"
Dia sedikit menjauhkan diri, sehingga dapat saling menatap di bawah ruangan yang temaram.
Tangan Jovian bergerak menyentuh wajah Kiana. Menyentuh kening, menyingkirkan helaian rambut yang terlihat sedikit berantakan, lalu mengusap pipi dan tak lupa menyentuh bibir merah alami milik Kiana.
Pandangan Kiana tertuju ke bawah, saat terasa sesuatu mengganjal di dekat pinggang.
Jovian tertawa saat mengerti sang istri memeriksakan apa.
"Dia cukup sensitif bukan? Ahahaha kenapa dia itu!" Jovian terus tertawa.
Kiana menatap wajah suaminya lekat-lekat. Nyatanya rasa rindu itu memang tidak hanya dirasakan oleh Jovian, akan tetapi dirinya juga.
"Jangan menatapku begitu, Baby. Aku sedang berusaha untuk tidak terhasut saat ini!"
Jovian menempelkan kening mereka berdua.
Mata Kiana perlahan terpejam, kala hembusan nafas hangat menyapu wajahnya.
Pria itu sempat berpikir untuk beberapa saat. Sedikit ragu dan takut jika harus melakukannya, sementara kandungan Kiana sudah semakin membesar. Apa akan terjadi sesuatu? Bahaya tidak jika dirinya melakukannya? Apa masih bisa? Bahkan saat dua bayi itu terus semakin membesar di dalam perut istrinya.
"Sepertinya anak-anak juga kangen Papa nya," ujar Kiana.
Membuat debaran di dalam dada Jovian semakin meningkat.
"Boleh?"
Kiana mengangguk.
"Boleh, yang tidak boleh itu terlalu sering. Takut akunya mengalami kontraksi," jelas perempuan itu.
Sambil tersenyum, Jovian menyibak selimut yang masih membalut tubuh Kiana, dan terlihat jelas lah sebuah perut yang sudah semakin membesar.
Tanktop dengan tali kecil yang bertengger di kedua bahunya, juga celana tidur super pendek yang perempuan itu kenakan, sehingga membuat perutnya dapat terekspos dengan jelas.
"Bahkan baju sudah tidak mampu menutupi perutmu ya?" Jovian terkekeh gugup.
Dia menyentuh ujung atasan yang cukup terbuka milik Kiana, kemudian menarik lepas tanktopnya perlahan-lahan dan penuh hati-hati.
"Kamu tidak memakai bra?"
__ADS_1
"Kan kalau mau tidur biasanya juga tidak," Kiana masih berusaha bersikap biasa saja.
Meskipun pada kenyataannya desiran semakin terasa intens, bak aliran listrik yang mengalir dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kulitnya semakin sensitif, sehingga setiap sentuhan dari Jovian menghadirkan rasa lain yang sungguh luar biasa.
Apalagi saat melihat handuk yang tadinya melilit di pinggang Jovian terlepas begitu saja. Membuat Kiana dapat berkata-kata lagi.
"Are you ready for this, Baby?"
Jovian membungkuk, meraih ujung atas celana tidur super pendeknya, lalu melepaskan benda itu dalam satu tarikan.
"Oh kamu nakal sekali!" Kata Jovian saat tak menemukan penghalang apapun lagi.
"Bukan nakal, … tapi emang nggak nyaman Papa! Toh mau tidur ini," tutur Kiana.
Jovian hanya tersenyum, dan segera memulai aktivitas malam yang beberapa hari terakhir tidak dia lakukan. Jelas, jarak keduanya yang sangat jauh, membuat Kiana juga Jovian melewatkan beberapa hal yang sering mereka lakukan.
Pertama Jovian mencium kening, lalu pipi, kemudian telinga sebelum akhirnya kegiatan itu membuat mereka semakin tenggelam.
Mata Kiana terpejam, dengan satu tangan yang terus meremas dan mempermainkan rambut Jovian yang masih setengah basah, sementara satu tangannya lagi mengusap punggung Jovian dengan lembut.
Hembusan nafas Jovian semakin terdengar memburu, sebuah tanda jika pria itu sudah benar-benar tak lagi mampu membendung hasratnya.
Tangannya bergerak nakal, menyentuh apa yang mau dia sendiri, menghisap apa yang mau dia hisap, sampai leguhan dan ******* keluar cukup kencang dari mulut Kiana.
"Emmm, … Papa!" Desah Kiana, seraya mengencangkan cengkramnya pada rambut Jovian.
Jovian yang tengah asik membuat tanda kemerahan di beberapa titik tersenyum. Perlahan dia bangkit, menatap wajah cantik istrinya di bawah keremangan ruang kamar.
"Baiklah, ayo kita lakukan sebelum malam semakin larut. Karena kamu harus istirahat juga!" Katanya, lalu menekuk kedua kaki Kiana.
Dia memposisikan diri, mengarahkan miliknya untuk mendekati pusat tubuh Kiana, dan membenamkan ya perlahan-lahan.
Tangan kecil dengan jari-jari lentik itu terulur, menyentuh perut Jovian dan sedikit memberi dirikan kecil.
"Ini sudah pelan-pelan, sayang!" Jovian menggeram pelan, menahan rasa tidak sabar sambil menyingkirkan tangan istrinya.
Dada Kiana naik turun dengan cepat, apalagi saat Jovian terdiam sejenak, merasakan sesuatu yang sangat indah ketika miliknya sudah terbenam semua.
Jovian mengusap perut Kiana lebih dulu, sambil memperhatikan wajah cantik perempuan itu yang juga sedang mengarahkan pandangan kepada dirinya.
"Aku rasa mereka mulai protes," bisik Kiana sambil meringis.
Dan memang, Jovian pun merasakan perut Kiana mulai bergerak-gerak.
"Oh astaga!" Keluhnya saat tendangan semakin terasa kencang.
Sementara Jovian tampak tersenyum gemas.
"Mereka bahagia sayang, jadi biarkan saja. Mungkin sedang berjingkrak karena bahagia Papa nya pulang," katanya, lalu mulai menggerakan pinggul.
Mata Kiana kembali terpejam, dengan kening mengkerut dan mulut sedikit menganga.
*******, lenguhan juga rintihan mulai terdengar intens. Keduanya seolah tidak peduli dengan keberadaan asisten rumah mereka yang ada di sana. Yang mereka inginkan hanya saling memuaskan untuk melepaskan rasa rindu yang sudah tertahan beberapa hari.
Jovian semakin menggila. Hentakan yang dia berikan semakin tidak terkendali, membuat rintihan Kiana semakin kencang terdengar memenuhi ruangan itu.
"Oh sayang!" Jovian menahan geramannya.
"Pelan-pelan Papa!"
Namun, permainan Jovian semakin menggila. Saat sesuatu sudah terasa mengalir dari ubun-ubun dan berkumpul di telapak kaki. Hingga setelah beberapa saat lolongan panjang terdengar, bersamaan dengan terlepasnya segala yang sempat tertahan.
__ADS_1
"Arrgghh!" Suara Kiana dan Jovian terdengar.