
Klek!!
Jovian menutup pintu kamarnya rapat-rapat, lalu setelah itu berjalan mengikuti Kiana yang sudah lebih dulu memasuki ruangan yang tidak lain adalah kamar Jovian waktu pria itu masih lajang.
"Sayang? Kamu ada jaket lagi nggak? Sama kaos kaki, kalau perlu minta minyak kayu putih deh sama Mami." Kiana tampak meringis, dengan tangan yang terus mengusap-usap satu sama lain, berusaha menghilangkan rasa dingin yang menusuk meskipun dia sudah memakai pakaian serba panjang dan berbahan tebal.
Jovian mengangguk, mendekati lemari pakaian, untuk membawa apa yang Kiana minta.
Satu jaket berbahan beludru, juga sepasang kaos kaki dan sarung tangan Jovian bawa, untuk kemudian dia berikan kepada perempuan yang sangat dia cintai.
"Minyak kayu putih nya ada di laci. Lihat saja di sana, balsem juga ada kalau kamu rasa minyak itu tidak terlalu hangat untuk kamu, Baby!"
Jovian duduk di tepi ranjang, sementara Kiana membungkukan tubuh, meraih satu laci meja yang terletak tepat di samping tempat tidur.
"Kamu tidak kedinginan?" Kiana beratnya.
Jovian mengulum senyum. Tidak menyangkal ataupun mengiyakan pertanyaan dari istrinya.
"Hebat dong sampai kamu nggak kedinginan seperti aku." Lanjuta Kiana.
"Tentu saja dingin. Tapi aku harus bagaimana lagi? Memang keadaannya seperti ini. Toh nanti tidur di peluk kamu juga sudah pasti jauh lebih baik." Pria itu menjelaskan.
Sorot mata Kiana seketika tertuju pada Jovian. Menatap pria tampan yang tengah mengenakan Hoodie berwarna abu-abu, dengan jogger pants warna senada, lalu tersenyum tipis. Namun menyiratkan makna yang tentu saja sudah Jovian ketahui.
"Jangan menatapku seperti itu, Baby! Ini sudah hampir jam tiga, kita harus tidur." Kata Jovian dengan suara yang terdengar begitu rendah.
"Memangnya kenapa? Tatapanku memang seperti ini." Balas Kiana dengan senyuman yang tertahan dan pipi yang merona.
Dia berjalan mengelilingi ranjang tidur, lalu meraih apa yang sudah Jovian berikan. Satu jaket beludru dan sepasang kaos kaki dan sarung tangan. Kiana hendak mengenakannya, tapi tangan Jovian segera mencekat pergelangan tangan Kiana, membuat perempuan itu berhenti untuk sejenak dan menatap satu sama lain.
"Ih kamu mesum yah!?" Kiana memicingkan mata.
Dan Jovian hanya terus tersenyum penuh arti. Kemudian menarik tangan Kiana perlahan-lahan, sampai perempuan itu duduk mengangkang di atas pangkuan Jovian.
"Katanya kita harus tidur!" Kiana berbisik pelan.
Matanya bergerak-gerak, kedua sudut bibir tertarik saling berlawanan, membentuk senyuman samar penuh arti. Dan sepertinya mereka berdua memang menginginkan kegiatan yang menjadi salah satu rutinitas malam sebelum benar-benar pergi tidur.
"Kamu pasti lelah. Sepanjang perjalanan tidak membiarkan aku membawa mobilnya, jadi istirahatlah, nanti siang kamu harus mengemudi lagi." Kiana membingkai wajah suaminya.
Mengusap pipi dengan lembut, bergerak mengusap tulang rahang yang begitu tegas, semakin turun kebawah sampai Kiana dapat mengusap tengkuk Jovian, lalu menariknya sampai wajah mereka semakin mendekat, dan menyatukan bibir satu sama lain.
Kedua tangan Jovian melingkar erat di pinggang Kiana, dengan mata yang mulai terpejam, saat perempuan diatas pangkuannya semakin memperdalam ciuman yang dia lakukan.
"Tapi jika kita melakukannya disini, sudah jelas akan menyiksamu! Ingat? Kamarku tidak memiliki peredam suara, dan kamu yang harus meredamnya sendiri." Suara Jovian terdengar semakin rendah.
Bahkan mata pria itu sudah terlihat sayu, ketika kabur gairah mulai memenuhi penglihatannya.
__ADS_1
"Kita memang sama-sama tidak bisa menolak yah!?" Kiana terkekeh, kemudian menyatukan kening keduanya.
Jovian mengangguk. Tangannya mulai bergerak-gerak naik turun, mengusap punggung Kiana dengan hembusan nafas hangat yang menyapu wajah satu sama lain.
"Jadi, … apa kamu mau melakukannya?" Kiana ikut berbisik.
Jovian tampak berpikir.
"Kita tidur saja. Kamu pasti lelah, nanti siang juga kita harus pulang, … jadi di tunda dulu, takutnya kamu sakit kalau terus-terusan aku gempur." Jovian tertawa pelan.
Dadanya bergemuruh, sekujur tubuhnya terasa berdesir, juga sesuatu dibawah sana yang mulai bangun. Namun, Jovian tidak mau keterlaluan kepada Kiana, mengingat mereka berdua juga baru saja sampai setelah mengarungi perjalanan yang tidak memakan waktu sedikit.
Mereka diam untuk beberapa menit dengan posisi yang sama, sebelum akhirnya Jovian mendorong tubuh Kiana, meraih jaket yang dia ambil dari dalam lemari, kemudian membantu perempuan itu untuk memakainya.
"Yakin?" Kiana menatap mata suaminya lekat-lekat, yang langsung Jovian jawab dengan anggukan pelan.
"Kamu terlalu sering mandi akhir-akhir ini. Aku jahat jika masih membuatmu mandi disini, padahal aku tahu betul kamu sangat kedinginan."
Jovian meraih sarung tangan yang tepat berada di sampingnya, kemudian membantu memakaikan benda itu pada tangan Kiana. Sementara perempuan yang kini berdiri di hadapannya hanya terus menundukan pandangan, menatap ekspresi wajah Jovian yang tampak begitu serius, namun tidak tidak mengurangi kadar ketampanannya sama sekali.
"Sungguh kamu mau memakai kaos kaki lagi?" Dia menunjuk, menatap kaki Kiana yang sudah di balik sepasang kaos kaki berwarna magenta.
"Iya, ini tidak cukup." Katanya sambil tertawa.
Kepala Jovian mendongak, menatap Kiana dengan tatapan penuh tanya, seolah tengah menyakinkan karena tidak percaya perempuan itu akan memakai kaos kaki kembali meskipun sudah memakainya.
"Aku kedinginan sayang!"
"Pakai sendiri saja. Kamu boleh berbaring lebih dulu, nanti lampunya biar aku yang ganti ke lampu tidur." Jelas Kiana.
"Baiklah."
Dan setelah itu Jovian menyibak selimut, masuk ke dalam sana, dimana tempat tidur terasa begitu dingin, lalu berbaring terlentang memperhatikan Kiana yang mulai duduk dan memakai kaos kakinya.
"Padahal rasanya dulu tidak sedingin ini. Tapi entah kenapa sekarang kasur saja terasa di lapisi oleh es." Jovian berkelekar.
Tubuhnya mulai bergerak-gerak tidak nyaman, dan berusaha mencari kehangatan dengan cara melipat kedua tangannya di dada.
Kiana menoleh kala mendengar Jovian mengatakan hal tersebut.
"Kamu besar disini?" Tanya Kiana.
Kemudian perempuan itu bangkit, memutari ranjang tidur, dan segera naik untuk bergabung bersama suaminya yang sudah berbaring terlebih dahulu.
"Ya, lahir di Belanda. Dan besar di Pangalengan sini, dan menjadi pelajar di Tangerang."
Kiana mengangguk, kemudian menyurukan wajah di dada milik suaminya dan mulai memejamkan mata.
__ADS_1
"Katanya mau matiin lampu?"
"Nggak usah. Nyalain aja yah? Nanti kalo aku udah tidur kamu boleh matiin lampunya."
Kening Jovian menjengit, lalu menunudkan pandangan, beeraaha menatap wajah Kiana yang saat ini sedang dia sembunyikan.
"Kenapa? Biasanya tidur serba gelap." Jovian terheran-heran.
"Nggak tahu. Suara jangkrik nya bikin aku over think. Jari biarin saja seperti. Ini yah!?"
Jovian tertawa mendengar itu.
"Sejak kapan kamu menjadi penakut seperti sekarang?" Tanya Jovian.
"Udah ah jangan di bahas!" Katanya, seraya mempererat pelukannya.
"Baiklah, cintaku. Tidurlah, ada aku disini!" Jovian berbisik, kemudian mencium kening Kiana.
Cup!!
"Hilanglah pikiran anehnya, pejamkan matamu, ingat ada aku disini, oke?"
Kiana mengangguk pelan.
"Selamat tidur sayang, aku tidur duluan yah!" Suaranya sedikit tertahan.
"Hemmm, … mimpi indah! Jangan pikirkan yang lain, aku hanya mengizinkan kamu untuk memikirkan aku." Kata Jovian dengan suara yang terdengar begitu rendah.
Dan tanpa merasa bosan Jovian kembali mendaratkan kecupan yang begitu manis di atas kening Kiana, membuat perempuan itu tersenyum tanpa di dalam dekapan suaminya.
Kiana mulai memejamkan mata, berusaha meraih rasa kantuk yang memang sudah sedikit terasa. Tapi dirinya belum bisa benar-benar tidur, karena masih merasa Jovian terus bergerak-gerak.
"Ah pantas saja dingin sekali, suhunya mencapai sepuluh derajat celsius." suara Jovian kembali terdengar.
Kiana mendengar Jovian memainkan ponsel, tanpa melepaskan tangan yang sedari tadi mulai menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
"Terimakasih sudah mencintai aku seperti ini. Sehat-sehat yah, biar bisa nemenin aku sama anak-anak sampai nanti." Hatinya berbicara dengan perasaan penuh haru.
Kiana semakin mempererat pelukannya, membuat tepukan tangan Jovian semakin meningkat.
"Tidurlah, aku disini tidak kemana-mana."
Cup!!
"Jangan takut, aku akan memelukmu semalaman ini. Alihkan pikiranmu, dan jangan hiraukan suara jangkriknya."
......................
__ADS_1
Adududududu ...
Tabur-tabur cuyungggg 🤭🤭