Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Sarapan bersama.


__ADS_3

Mobil Lexus hitam itu melaju melewati gerbang rumah, lalu terparkir tepat di samping mobil-mobil lainnya yang berjejer rapi di garasi sana. Terlebih dulu Jovian turun, lalu berlari memutari mobil, dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Apa kamu bisa, Baby?" Jovian berbisik, seraya merentangkan satu tangannya untuk membantu Kiana.


Perempuan itu meraih tangan Jovian, sedikit menariknya, kemudian bangkit dengan bibir yang terlihat meringis. Menahan sebuah rasa sakit, yang masih belum menghilang, bahkan sampai saat ini.


Pria itu menatap keadaan Kiana yang jelas tidak terlihat baik-baik saja. Wajah yang pucat, mata sembab dengan lingkar hitam di bawah mata, dan bibir yang hati ini memang terlihat sedikit bengkak, beruntung sebelum Ipah membawakan beberapa makeup, dan itu bisa sedikit menutupi keadaan Kiana saat ini.


"Aku usahakan terlihat biasa." Kiana menjawab tak kalah berbisik.


Keadaan rumah itu seperti pada pagi hari biasanya. Beberapa asisten rumah terlihat di sibukan mengurus berbagai macam hal. Dengan tugas yang memang sudah diberikan kepada masing-masing.


Kiana mulai berjalan mendekati teras rumah. Dimana Yati berada disana, menyemprotkan air kepada tanaman bonsai berukuran kecil milik ibunya. Sementara Jovian berjalan di belakang Kiana, memperhatikan istrinya dengan seksama.


"Astaga, apa yang akan Pak Danu dan Bu Herlin katakan!" Gumam Jovian dengan perasaan was-was.


"Wajah pucat dan mata pandanya bisa ditutupi makeup, bibir bengkaknya juga bisa ditutupi lipstik. Tapi tidak dengan cara Kiana berjalan, … sepertinya aku sangat keterlaluan tadi malam!" Pria itu terus berbicara sendiri.


"Pagi, Bi." Sapa Kiana, yang langsung di jawab anggukan oleh orang bersangkutan.


Dan Jovian hanya mengangguk pelan saat wanita itu menyapanya. Dengan kaki yang terus melangkah ke arah dalam, sampai bau lezat dari masakan langsung menyapa indera penciuman keduanya.


"Morning. Mama, … Papa!" Sapa Kiana terlebih dulu saat mereka mendapat sebuah ruangan. Yang menjadi ruang kumpul keluarga dan ruang makan.


"Mbok masak buat makan siang yah! Wanginya bisa sampai ruang tamu." Ucap Kiana.


Herlin yang sedang menata beberapa hidangan di atas meja segera menoleh. Begitupun dengan Danu, dan dua orang itu tersenyum manis, menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Mama kira kalian tidak akan datang untuk sarapan bersama." Kata Herlin kepada Kiana dan Jovian.


"Datang, Ma."


Kiana segera duduk, di susul Jovian setelahnya.


"Kamu masih disini, Jo? Kapan ke Pangalengan lagi?" Danu bertanya, tampaknya pria paruh baya itu mengerti kegugupan menantunya.


Sampai dia berusaha mengajak Jovian berbasa-basi agar membuat menantunya merasa santai seperti biasa, walaupun jauh sebelumnya Jovian tidak pernah terlihat segugup saat ini, namun Danu memaklumi itu karena memang biasa terjadi di awal-awal pernikahan.


"Sekarang saya masih bisa memantaunya dari sini Pak. Kecuali Minggu depan, ada beberapa pekerjaan yang harus saya awasi secara langsung." Jelas Jovian.


Dan di jawab anggukan oleh Danu setelahnya.


Herlin meletakan dua slice roti tawar, yang hanya diolesi oleh butter. Lalu pandangannya beralih kepada Kiana yang saat ini masih diam, yang tidak langsung menyediakan sarapan untuk suaminya.


Namun, betapa terkejutnya Herlin. Saat mendapati sorot mata sayu dari putrinya.


"Astaga!" Herlin langsung mendekat. "Kamu benar-benar kelelahan? Kamu sakit? Padahal kemarin tidak terlalu banyak orang." Herlin meraup wajah putrinya, menatap wajah Kiana dengan raut wajah panik.


Jovian semakin merasa gugup.


"Kamu bisa sarapan disini? Atau mau di antar ke kamar sarapannya?"


"Mama suka lebay, aku cuma pusing aja. Kurang tidur!"


Degg!!


Dada Jovian semakin berpacu.


"Jangan sampai dia memberitahukan kejadian tadi malam." Batin Jovian berbicara.


Semua orang terdiam. Termasuk Danu yang hendak menggigit sarapannya.


"Emmm, … waktu mau akad nikahnya. Papa sama Mama kan tahu sendiri aku tidak bisa tidur. Kenapa malah menatap aku begitu!" Kiana meralat ucapannya.

__ADS_1


"Ya sudah. Pergilah ke kamar, Mama akan mengantarkan sarapannya ke atas, dan biarkan Jovian sarapan disini bersama Papa, oke?"


Kiana mengangguk.


"Aku naik ke kamar duluan boleh?" Kiana menatap suaminya.


"Aaaa, … sebaiknya Kiana bersama saya saja, Bu. Kalian bisa melanjutkan sarapannya bersama."


Jovian segera bangkit, hendak meraih tangan Kiana. Tapi dengan segera perempuan itu menariknya, dengan kedua sudut bibir yang tampak memperlihatkan senyuman samar.


"Kaki aku lemas, aku pusing juga. Minta gendong boleh nggak sih."


Tanpa banyak berpikir Jovian menjawab permintaan Kiana dengan anggukan kepala. Pria itu mengangkat tubuh mungil istrinya, dan membawa ke arah tangga tanpa terlihat kesulitan sedikit pun.


Membuat Herlin dan Danu terdiam untuk beberapa saat, memperhatikan keduanya dengan mulut yang sedikit menganga.


Lalu Danu dan Herlin saking menatap, dan senyuman tipis terbit dari bibir keduanya.


"Apa pikiranku sama denganmu, sayang?" Herlin menahan senyum.


"Sepertinya iya." Kata Danu, lalu mereka pun tertawa pelan, ketika apa yang ada di dalam isi kepala mereka nyatanya sama.


"Ah menantumu membuat putriku sakit. Lihat? Bahkan tadi dia sudah tidak sanggup berjalan." Sambung Herlin.


"Hhhheuh, … biarkan saja! Kita juga sama-sama pernah muda. Toh mereka sudah menikah, tidak perlu ada yang dikhawatirkan."


Danu membuka mulut, menggigit roti yang sudah ada dalam genggamannya, dan mengunyahnya dengan senyuman yang tak hentinya di perlihatkan.


"Aku tidak sedang khawatir. Aku hanya memikirkan sesuatu."


"Berhentilah memikirkan itu. Panggil Ipah, dan minta antarkan sarapan untuk Kiana, dan Kopi untuk Jovian.


Herlin mengangguk. Lalu kemudian dia memanggil salah satu asisten rumahnya. Memberi perintah seperti apa yang Danu katakan tadi. Dan setelah itu Herlin kembali duduk, mulai menikmati sarapan bersama suaminya.


"Apa ada yang lain, Pak? Seperti obat atau kompres air hangat?"


Jovian meraih nampan yang Ipah berikan, lalu dia menggelengkan kepalanya.


"Kiana hanya butuh istirahat saja." Kata Jovian.


"Baik kalau begitu saja pamit. Jika ada sesuatu Bapak bisa panggil saya, Mbok atau Bi Yati di dapur." Ipah kembali berujar, dan langsung dijawab anggukan oleh pria tinggi besar di hadapannya.


"Ibu dan Bapak juga meminta saya menyampaikan jika mereka akan pergi keluar hari ini."


"Baik."


Lalu setelah itu Ipah meraih pintu kamar Kiana, menariknya sampai benar-benar tertutup.


"Mau sarapan? Lihat, ada sandwich, susu hangat dan kopi hitam untukku."


"Boleh." Kiana yang sedang berbaring mengubah posisinya menjadi duduk.


Sementara Jovian meletakan nampan itu di atas meja kaca, di dekat sebuah sofa kamar yang terletak tidak jauh dari jendela kamar.


Kiana turun dari atas tempat tidur, dan berjalan pelan ke arah dimana Jovian saat ini.


"Apa sakit sekali!?" Jovian memperhatikan cara Kiana berjalan.


"Sekarang tidak terlalu. Lebih sakit itu pas tadi malam!"


Kiana duduk, lalu meraih roti lapis. Berisikan telur mata sapi, beef, keju dan dua macam sayuran seperti selada hijau dan tomat, tidak lupa dengan saus tomat juga mayonaise yang menjadi pelengkap.


Perlahan Kiana menggigit ujungnya, kemudian setelah itu Kiana menyodorkan makanan itu kepada Jovian, yang seketika pria itu sambut dengan riang.

__ADS_1


"Wajah kamu lebih berseri-seri hari ini." Ucap Kiana yang tak hentinya melihat Jovian menyunggingkan bibir.


"Hemmm, … aku bahagia. Sangat bahagia! Tapi malu karena sepertinya perubahan besar pada dirimu disadari Pak Danu dan Bu Herlin."Jovian jujur.


"Santai saja. Mereka juga pernah muda, makanya Papa sama Mama pengertian, kita disuruh masuk lagi ke kamar." Kiana tergelak, begitupun dengan Jovian.


Kiana kembali mendekatkan roti lapis kepada Jovian. Namun, kali ini Jovian menolak nya.


"Aku minum kopi saja." Katanya.


Kiana mengangguk, dan mulai menikmati sarapannya sendiri. Sampai keadaan cukup hening beberapa saat.


Perempuan itu sibuk dengan roti lapisnya, sementara Jovian menatap layar ponsel dan memeriksakan beberapa laporan dari orang yang ditunjuk Jonathan untuk membantunya. Tapi pandangan keduanya segera menoleh ke arah luar, dimana suara gerbang rumah terdengar di buka.


Denis terlihat berlari ke arah dimana mobil Pajero hitam milik Danu berada. Lalu munculah Danu dengan setelah yang sudah terlihat rapi, kemudian masuk, di susul Herlin setelahnya.


"Mereka mau pergi kemana?" Jovian menatap istrinya.


"Sepertinya mau mengunjungi Om Hendra." Jawab Kiana, yang tampaknya sudah mengetahui hal itu.


"Om Hendra?"


Kiana mengangguk-anggukan kepala. Dan kembali menyantap sarapannya, yang saat ini terlihat sudah tersisa sedikit.


"Kakaknya Papa. Tiga hari yang lalu dia datang, dan meminta sejumlah uang yang cukup besar. Awalnya Papa nggak ngasih, tapi karena selalu berujung dengan keributan, makanya kali ini Papa mau bertemu Om Hendra secara langsung."


Jovian diam mendengarkan.


"Mereka pikir usaha yang Papa jalankan itu masih milik Kakek dan Nenek. Padahal kata Papa jauh sebelum mereka meninggal semuanya sudah dibagi rata."


"Hemm, … memang di setiap keluarga ada saya orang rakus seperti itu."


"Ah aku tidak mau membahas ini. Kalau ingat rasanya aku ingin bertindak banyak, bisa-bisanya mereka selalu marah-marah kepada Papa."


Bibir Kiana mengerucut, ekspresi wajahnya juga terlihat marah. Namun itu justru membuat Jovian tersenyum lebar.


"Ish kamu. Aku lagi kesel lho, kok kamu malah senyum-senyum."


"Setidaknya aku tahu. Kalian ternyata saling menyayangi, terutama kamu, … walaupun suka membangkang, nyatanya kamu tidak rela jika ada seseorang yang menyakiti Papamu."


Kiana hanya mengangguk.


"Baby?" Panggil Jovian.


Sorot mata Kiana seketika beralih kepada suaminya.


"Papa dan Mama mertuaku sudah pergi." Jovian berbisik, dengan senyuman penuh arti.


"Lalu?" Dahi Kiana mengkerut.


"Kamu juga menghabiskan sarapannya." Lanjut Jovian, dia menggerakkan kedua alisnya.


Kiana menghela nafas, dengan kedua pipi yang terlihat merona, dia tahu betul apa yang Jovian maksud.


"Sebaiknya kamu tunggu Om Denis di luar. Kalian belum bertemu lagi, bahkan pas akad kemarin dia tidak datang. Tante Sita benar-benar tidak bisa di tinggal."


"Itu bisa nanti. Sekarang aku mau kamu dulu!"


Jovian bangkit, meraup tubuh mungil Kiana, dan membawanya ke arah ranjang tidur berukuran besar. Sementara pria itu kembali berjalan ke arah jendela yang sedikit terbuka. Dia menutupnya rapat-rapat, tak lupa menggeser tirai tipis dan gorden tebal, sampai kamar itu menjadi temaram.


......................


Like, komen, rate, hadiah dan vote ....

__ADS_1


Ayokkk mumpung lagi semangat 🤭🤭


__ADS_2