
"Aku masuk dulu ya, Om!" Pamit Kiana. Lalu kemudian dia segera membuka seatbeltnya.
Jovian mengangguk seraya tersenyum samar, dengan pandangan yang terus dia tujukan kepada Kiana.
"Saya harus kembali, ada beberapa hal yang harus saya bicarakan dengan Papamu. Apa tidak apa-apa? Maksud saya bagaimana dengan keadaanmu jika saya tidak ada disini?" Dia menatap gadis cantik yang duduk di kursi sampingnya lekat-lekat.
Rambut pendek kecoklatan yang dilengkapi dua jepit di antara sisinya, make up tipis, kaos putih oversize, yang gadis itu padukan dengan skinny jeans berwarna hitam, tak lupa dengan Tote bag berisikan beberapa buku di dalamnya, yang Kiana bawa di pundak sebelah kiri.
Gadis cantik itu membuka pintu mobilnya, lalu keluar.
"Memangnya bagaimana? Aku bahkan baik-baik saja jauh sebelum Om ngawasin aku." Kiana membungkuk, menatap pria yang saat ini duduk di kursi kemudi.
"Apa kamu tidak takut dengan kejadian terakhir?" Jovian memperpanjang obrolan.
"Maksudnya aku takut sama teman-teman? Lalu cara pandang mereka ke aku?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri, lalu tertawa.
"Aku baik-baik saja. Jika ada sesuatu nanti aku telepon Om, … jadi berangkat saja, kan mau ngobrolin hal penting." Katanya lagi sambil terus tersenyum penuh arti.
Jovian mengangguk.
"Baik kalau begitu saya berangkat sekarang."
Kiana menjawab dengan anggukan, dia menutup pintu mobil miliknya, kemudian melambai-lambaikan tangan ke arah Jovian yang sudah mulai beranjak pergi.
Dan sebuah klakson menjadi sebuah penanda, jika mobil sedan putih itu akan segera melesat di jalanan utama.
Setelah dia tak lagi dapat melihat mobilnya, Kiana segera berbalik badan, berjalan memasuki sebuah universitas tempatnya menimba ilmu selama beberapa tahun terakhir.
***
Mobil Kiana yang Jovian kendalikan kini sudah kembali memasuki sebuah garasi luas sebuah rumah. Dengan segera pria di dalamnya turun, lalu melangkahkan kaki setengah berlari mendekati sebuah pintu utama yang terbuka lebar.
"Pak?" Seorang asisten rumah menyapanya ketika keduanya berpapasan.
Jovian hanya mengangguk, dia terus berjalan masuk melangkahkan kaki ke arah taman belakang rumah dimana Danu dan Herlin sudah menunggunya.
Disanalah dua orang tua Kiana. Berada di sebuah gazebo, duduk di sofa besar dengan berbagai macam minuman, dan kue kering di atas meja.
"Jo, kemarilah." Danu langsung memanggil ketika dia mendapati Jovian di area belakang rumahnya.
Jovian mengulum senyum, dia terus mendekat, lalu duduk di hadapan Herlin juga Danu.
"Bagaimana Kiana? Dia sudah benar-benar masuk?" Tanya Danu sambil terkekeh.
"Saya pastikan, iya." Kata Jovian dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Ah kami masih belum percaya jika Kiana sekarang menjadi sangat penurut. Bahkan dia menaati beberapa peraturan yang awalnya selalu dia langgar." Dengan perasaan bahagia Herlin berujar.
Lagi-lagi Jovian hanya tersenyum.
"Baiklah, seperti biasa. Saya bukan tipikal orang yang suka berbasa-basi, jadi langsung saja ke intinya." Ucap Danu.
"Bagaimana? Apa orang tuamu menyukai Kiana?" Danu menatap calon menantunya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata.
"Tentu saja, Pak. Siapa yang tidak akan menyukai gadis cantik seperti putri anda." Jovian menimpali dengan sedikit candaan.
Membuat dua orang di hadapannya saling memandang, lalu tersenyum.
"Syukurlah. Tapi apa dia berulah? Atau melakukan sesuatu yang membuat orang tuamu berpikir jika Kiana bukanlah gadis yang baik untuk kamu jadikan seorang istri?" Kini Herlin yang bertanya.
"Tidak. Dia bahkan mudah berbaur, cepat akrab terutama dengan ayah saya."
Danu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, lalu tersenyum lega.
"Bagus sekali. Jadi, … bagaimana?" Pria paruh baya itu langsung pada intinya.
"Apa Kiana tidak menyampaikan sesuatu?"
"Oh, … tadi pagi dia bilang. Katanya keluarga besarnya akan segera datang minggu-minggu ini."
Jovian menjawab dengan anggukan.
Jovian mengusulkan.
Danu mendengarkan, sambil mengangguk-angguk kepala, juga memikirkan usulan yang baru saja Jovian ucapkan.
"Sepertinya itu lebih baik. Ada waktu banyak untuk memikirkan semuanya secara matang. Entah itu dari dekorasi, atau riasan seperti apa yang Kiana inginkan. Dan jangan lupakan, setiap wanita memiliki gaun dan pernikahan impiannya masing-masing, … mungkin Kiana juga seperti itu, dan akan bagus jika kita memberinya sedikit ruang untuk mereka mempersiapkan segalanya." Helin kepada suaminya.
Jovian mengangguk setuju, sementara Danu masih terlihat berpikir. Tidak tahu kenapa perasaannya begitu bersemangat, apalagi untuk pernikahan putri satu-satunya, seperti ada sesuatu yang benar-benar tidak bisa Danu kendalikan, sampai dia terlihat sangat menggebu-gebu.
Ada rasa bahagia yang sangat besar, namun yang lebih mendominasi adalah sebuah rasa tenang, karena dia tidak perlu mengkhawatirkan Kiana kembali melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya. Jovian memiliki andil besar atas perubahan sikap Kiana, dan dia sangat berterima kasih.
"Apa menurutmu bagusnya seperti itu?" Danu menatap calon menantunya lekat-lekat.
Jovian mengangguk.
"Mungkin sekarang saya harus segera mempersiapkan semuanya. Fitting baju untuk acara lamaran, dan mencari cincin bersama Kiana."
"Itu ide yang bagus, memang seharusnya sejak dari sekarang kalian mencari sesuatu yang mungkin akan sangat dibutuhkan. Entah urusan gedung, mencari perhiasan atau merencanakan dekorasi." Herlin terlihat begitu antusias.
"Hemmm, … dan jangan lupa catat, siapa saja yang akan kamu undang."
__ADS_1
"Oh untuk acara tunangan. Mungkin hanya keluarga inti saja. Jika menikah, maka saya akan mengundang semua keluarga, yang dari Pangalengan ataupun sepupu-sepupu dari Belanda."
Penjelasan itu membuat Helin membelalakan matanya.
"Belanda. Kamu ada keturunan sana?" Tanya Herlin.
Jovian menjawab dengan anggukan.
"Papi saya dari Belanda."
"Astaga pantas saja." Wanita itu berseru dengan raut wajah tidak menyangka.
Sementara Jovian terlihat menundukan kepala, lalu tersenyum ketika dia kembali mengingat reaksi Kiana waktu pertama kali mengetahui jika dirinya memiliki campuran darah dari negara lain.
"Reaksi keduanya sama." Batin Jovian berbicara.
"Mungkin saya memberikan gajimu sampai bulan depan yah. Karena selanjutnya kamu bersama Kiana bukan lagi antara Bodyguard dan gadis yang kamu awasi. Melainkan sepasang calon suami istri!" Jelas Danu.
"Baik, gimana enaknya Pak Danu saja." Sahut Jovian.
Danu mengangguk-anggukan kepala.
"Setelah itu kamu bisa langsung menjalankan bisnis batubara bersama saya. Jika sekarang saya masih mengcover semua milik Kiana, maka setelah ini semuanya jatuh ke tanganmu. Persetujuan kerjasama, meeting dan lain-lainnya sudah harus kamu yang menjalankan." Pinta Danu.
"Dan anda harus repot-repot mengubah beberapa dokumen bukan? Semua pengalihan harus dengan surat kuasa. Tidak mungkin tiba-tiba saya masuk dan membuat semua orang bingung."
Danu tersenyum.
"Tentu saja. Kamu akan saya kenalkan dengan segera, Jo. Sebagai pemegang saham milik Kiana, dan menantu saya."
"Baik. Tapi sebenarnya saya takut untuk menjalankan itu, selain hal baru, saya juga harus mulai mengambil alih mata pencaharian keluarga saya."
Danu menatapnya dalam diam.
"Orang tua saya petani. Ibu saya seorang petani sayur, dan ayah saya pemilik sebuah perkebunan teh. Jadi sebenarnya saya bingung harus menjalankan yang mana, … atau kalau tidak, bisnis ini Kiana saja yang menjalankan, jika 20% itu di bagi dua. Maka setelah menikah maka itu akan menjadi milik Kiana semuanya, saya kembali memberikan apa yang anda berikan kepada Kiana, sebagai bentuk cinta kasih saya." Lanjut Jovian.
Herlin cukup terharu mendengar ucapan pria 37 tahun di hadapannya.
"Keluarga saya mungkin tidak seperti anda, Pak Danu. Tapi percayalah saya bisa menghidupi Kiana. Bukan berniat menolak, tapi …"
Belum selesai Jovian berbicara, Danu segera memotong ucapan Jovian.
"Jika kamu belum siap, tidak apa-apa. Saya akan menunggu kalian benar-benar bisa menjalankan bisnis ini dengan baik. Kamu tahu Jo? Konsumen dari perusahaan tambang keluarga saya dari berbagai macam negara, dan butuh mental yang matang untuk menghadapi itu."
Jovian mengangguk.
__ADS_1
"Terutama untuk mengatasi para pesaing bisnis yang akan menghalalkan segala cara." Jovian berujar, yang langsung Danu jawab dengan anggukan.
"Syukurlah kamu mengerti. Dunia bisnis tidak se halus yang kita bayangkan, … jadi kita harus waspada." Katanya, dan obrolan itu berlangsung cukup lama.