
Denis menggenggam setir mobil yang sedang ada di bawah kendalinya dengan erat. Kala kendaraan roda empat itu melesat membelah jalanan kota Tangerang pada hampir tengah hari setelah mendapatkan tugas dari Danu untuk mendatangi beberapa pertemuan.
Pandanganya menatap lurus kedepan, memfokuskan diri untuk berkendara sembari mendengarkan musik yang mengalun pelan di dalam sana. Namun, perhatiannya segera buyar, kala suara dering notifikasi handphone terdengar nyaring.
Dengan segera Denis menekan tombol pada earphone yang menempel di telingan sebelah kanan, dan terhubunglah sambungan telepon tersebut.
"Ya, halo?" Dia menyapa lebih dulu, dengan pandangan yang terus lurus kedepan.
Seseorang di seberang sana tidak langsung menjawab. Membuat Denis sedikit mengkerutkan dahi, dengan ekspresi wajah kebingungan.
"Halo?" Denis kembali menyapa.
Namun, seseorang yang saat ini menghubunginya masih belum bersuara. Hanya terdengar suara tangisan pelan, sampai membuat pria itu meraih ponsel yang tersimpan di saku jas yang dia kenakan, hanya untuk memastikan siapa orang yang saat ini melakukan sambungan telepon kepada dirinya.
"Halo? Degan siapa saya berbicara?"
Denis semakin terheran-heran ketika melihat nomor kontak yang tidak tersimpan di dalam ponselnya.
"Om!?"
Dan akhirnya, setelah terus terdiam suara seseorang di seberang sana mulai terdengar, dengan isak tangis yang terdengar begitu memilukan hati.
"Kia?" Ucap Denis yang langsung mengenali suara putri dari atasannya, meskipun perempuan itu sedang menangis.
Bukannya mereda, tetapi suara tangisan itu terdengar semakin jelas.
"Kia? Kamu baik-baik saja? Terjadi sesuatu?" Dia pura-pura bertanya, meskipun pada kenyataannya dia mengetahui permasalahan keluarga atasannya yang sedang terjadi.
Terlebih suasana di kediamannya menandakan jika memang sedang terjadi sesuatu, di tambah lagi oleh Danu yang tiba-tiba tidak mau menemui beberapa tamu dari negara lain, padahal sebelumnya sudah di jadwalkan terlebih dahulu, dan pria itu sudah jelas menyetujuinya.
"Kia? Kamu dimana? Mau Om jemput?" Tanya Denis lagi.
Dan dia dapat mendengar jika Kiana tengah berusaha menenangkan diri dengan cara menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali.
"Om tau aku pergi dari rumah?" Tanyanya di sela tangisan yang masih tersisa.
"Ya, tentu saja. Tapi tidak tahu banyak juga, karena tidak ada yang memberi tahu kenapa kamu pergi." Denis berbohong.
Kiana kembali menangis, membuat Denis melambankan laju kendaraannya, lalu menepi untuk berhenti sebentar.
"Kia?"
"Aku nggak bawa apa-apa, Om! Aku juga nggak punya uang, boleh nggak aku minjem dulu buat modal, nanti kalau udah kekunpul aku balikin lagi." Katanya sambil terus menangis.
Dan suara tangisan itu terdengar semakin pilu. Samar-samar terdengar seseorang yang sedang berusaha membuat Kiana lebih tenang, membuat Denis paham jika posisi gadis yang biasanya selalu terlihat kuat, kini sedang tidak baik-baik saja.
Ya, nyatanya cinta membuat gadis sekeras Kiana menjadi sangat lemah. Dia bahkan tidak pernah menangis jika terkena razia karena berbagai macam ulah yang dia lakukan, sampai membuat perempuan itu harus bermalam di salah satu sel tahanan karena permintaan Danu agar membuat putrinya merasa jera, walaupun pada kenyataannya Kiana terus mengulangi perbuatannya tanpa merasa ketakutan sedikitpun.
Namun, hanya karena sikap yang Jovian perlihatkan membuat dia terlihat serapuh-rapuhnya.
"Memang sulit, apa lagi yang dia hadapi adalah masa lalu dari suaminya. Sosok wanita yang hampir saja membuat Jovian gila." Denis membatin.
__ADS_1
"Kamu dimana sekarang?" Tanya Denis.
"Di Apartemen Kevin, Om. Aku nggak tau harus kemana, tapi kalo ada uang kayaknya aku bakal cari kostan saja. Lama-lama numpang di disini juga nggak enak!" Jelas Kiana.
Sementara Denis diam mendengarkan.
"Ngapain malu sih! Tinggal aja sampai kamu benar-benar merasa lebih baik."
Suara itu kembali terdengar.
"Nggak lah, nanti kalo aku numpang juga Papa pasti makin ketawa. Dia semakin tahu jika aku memang tidak bisa hidup atas apa yang aku miliki, mereka pasti berpikir aku menjadi parasit di hidup orang, aku nggak mau." Ucapan Kiana terdengar samar.
Dan Denis berusaha menajamkan pendengaran, mencari tahu setiap obrolan orang-orang disana agar dapat menggali informasi lebih banyak.
"Om?"
"Apa tidak sebaiknya kamu pulang saja, Kia? Disana kamu akan lebih baik, semua keamananmu terjamin. Ingat apa yang selalu Om katakan, kamu ini bukan seorang gadis biasa, … kamu putri dari Danuarta, dan siapapun bisa berbuat kejam hanya untuk menjatuhkan keluargamu!" Denia langsung berbicar pada intinya, karena dia mulai merasa khawatir.
Kiana menghe nafasnya.
"Untuk apa tetap berada di lingkungan yang bahkan kita tidak di hargai disana?"
"Kia? Dengar!" Denis berbicara selembut mungkin, karena dia paham yang sedang dia hadapi sekarang bukanlah Kiana, melainkan egonya.
"Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anaknya. Begitupun dengan Jovian! Tidak ada suami yang …"
"Om belain dia karena Om temennya." Sergah Kiana.
Denis memejamkan mata, seraya menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan-lahan.
"Baiklah, ayo kita bertemu. Berbicara di handphone begini sedikit sulit di mengerti." Usul Denis.
Awalnya Kiana mengelak. Dia terus menolak dengan berbagai alasan karena takut jika Denis akan mengantarkannya pada sang suami atau kedua orang tuanya. Namun, setelah semua penjelasan yang Denis katakan, akhirnya Kiana bersedia untuk menemui asisten dari ayahnya itu, yang tentunya dengan beberapa perjanjian yang keduanya setujui.
***
"Setidaknya kita tahu keadaan Kiana sekarang. Dia berada bersama teman-temannya, dan tetap memilih disana meskipun Jovian datang untuk membawa dia pulang. Sepertinya kita memang harus membiarkan dia dulu, sifat keras kepalanya terus semakin menjadi-jadi, dan semakin sulit untuk di kendalikan!" Dengan santainya Danu berbicara demikian di hadapan Herlin, Jovian juga kedua besannya.
Membuat Jonathan dan Leni tidak lagi dapat berkata-kata, sementara Herlin mulai bereaksi karena dia tetap merasa tidak terima ketika suaminya terus berbicara seolah ingin membuktikan jika sifat Kiana benar-benar buruk.
"Ada apa denganmu? Kamu terus menyalahkan Kiana tanpa berkaca diri? Dia itu kamu versi perempuan! Egois, keras kepala, tidak mau di salahkan. Itu semua berasal dari kamu, dan kenapa kamu masih belum mau melunak untuk mengerti bagaimana putrimu sekarang!" Herlin berbicara santai.
Namun, kekecewaan jelas tersirat dari raut wajahnya.
"Sebenarnya kita tahu betul Kiana tidak akan melakukan hal yang di luar batas jika tidak di mulai lebih dulu."
Jovian mulai membuka suara setelah lama menyimak percakapan kedua mertua dan orang tuanya. Perihal masalah Kiana yang mulai hilang kendali karena amarah yang saat ini menguasai diri. Kepanikan dan rasa sesal Jovian yang dia tunjukan setelah kembali mencari Kiana, membuat para orang tua mencari tahu, dan tentu saja pria itu mengatakan hal yang sebenarnya.
Dan itu membuat Jonathan kecewa atas sikap Jovian satu hari yang lalu.
"Ya, Papa tahu. Maksud Papa tidak semua perlakuan harus berakhir dengan kekerasan."
__ADS_1
"Kamu tahu? Tapi masih menyudutkan Kiana?" Herlin kembali bereaksi.
"Papa tidak menyudutkan. Papa hanya ingin memberitahukan jika apa yang Kiana lakukan itu salah. Dia mencekik anak orang sampai hampir kehabisan nafasnya, Ma! Bagaimana kalau dia mati? Nama baik siapa yang akan tercoreng?"
"Astaga! Semuanya akan berakhir pada nama baik yah!" Herlin semakin kesal.
Namun dia berusaha menahannya karena keberadaan Leni dan Jonathan yang masih ada di sana.
"Sudah-sudah. Kita tidak bisa terlalu keras kepada anak-anak jaman sekarang. Bukan bermaksud untuk menggurui Pak Danu, tapi anak seperti Kiana, di tegasin salah, nggak di tegasin makin salah. Coba kita pakai cara lembut, kita mengalah saja, siapa tau Kiana akan mengerti." Jonathan menatap Danu lekat-lekat.
"Terlebih dia sudah dalam keadaan sangat emosi dan kecewa. Setiap keputusan yang dia beri tahukan kepada Jovian menandakan jika saat ini Kiana ingin membuktikan jika dia mampu tanpa keberadaan Pak Danu dan Jovian suaminya. Kita hanya perlu mengalah, bersikap sebagaimana jika kita memang mengakui kesalahan kita. Saya harap Kiana akan segera pulang, dan ucapannya tentang membatalkan semua acara yang sudah tersusun itu tidak benar adanya. Anak kami sudah pernah gagal, dan kami harap pernikahannya yang sekarang akan bertahan lama." Leni berbicara, dia menatap semua orang bergantian.
Dan dia mengunci pandangannya pada Jovian, putra keduanya yang kali ini terlihat lebih murung dari sebelumnya. Tentu saja, laki-laki mana yang tidak akan tertekan jika istrinya memberitahukan bahwa dia akan melayangkan gugatan cerai, di saat usia pernikahan mereka belum genap setahun.
"Mami tidak akan menyalahkanmu! Tapi apa yang kamu lakukan malam itu jelas membuat Mami kecewa. Jika Mami menjadi Kiana pun Mami akan pergi, memangnya istri mana yang kuat melihat suaminya membopong wanita lain? Bahkan wanita itu sosok yang pernah ada di dalam masa lalu kamu? Jadi berusahalah untuk memperbaiki semuanya. Kamu juga seorang Bodyguard, tugasmu tidak hanya mengawasi bukan? Mami tahu kamu pasti mempunyai jalan keluarnya, … jika Eva terus bersikeras Kiana yang bersalah. Maka tugas kita mencari apa akar permasalahannya sampai membuat Kiana berbuat demikian. Sekarang bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah! Kiana hanya ingin di mengerti."
Ucapan itu seolah menjadi tamparan keras bagi Jovian.
"Papi sudah meminta Javier untuk menyelidiki ini. Kita juga harus bertanya bagaimana bisa Eva terus berada disana, padahal dia juga mempunyai kesibukan sendiri. Papi tidak mau berburuk sangka, tapi ini sudah tidak masuk akal, dia seolah terus mengikuti Kiana. Seharusnya kita sadari sejak awal, jika apa yang Eva lakukan seperti sedang terobsesi kepada Kiana, bahkan dia memotong rambutnya menjadi pendek. Eva seolah sedang terus memancing kekesalan Kiana, agar dia melakukan sesuatu dan Kiana lah yang akan di salahkan."
Jonathan menarik ingatannya pada satu hari sebelumnya, dimana penampilan Eva terlihat memiliki perubahan yang sangat banyak.
"Semacam sesuatu yang sudah di rencanakan?" Danu mulai menyadari sesuatu.
"Kurang lebih seperti itu."
"Oh astaga Tuhan! Kenapa aku tidak menyadari itu!" Jovian merapatkan punggung pada sandaran sofa, mendongakan kepala, lalu menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.
"Kita tidak tahu apa yang sudah Eva dalami. Tapi mungkin saja dia mempelajari bagaimana anda, dan Kiana. Sampai dia memperalat emosi anda, agar menjadi bumerang bagi Kiana tanpa Eva harus berbuat banyak hal. Ini tentang hati manusia, siapapun bisa menyelami dalamnya lautan, tapi hati seseorang kita tidak tahu, begitupun dengan hati Eva, kita tidak paham apa saja yang ada di dalamnya sampai dia mulai menata sesuatu dengan sangat baik." Lanjut Jonathan.
Dan itu membuat Danu terdiam, dengan pikiran yang mulai melanglang buana.
Betapa kejinya yang sudah dia lakukan kepada Kiana. Hanya karena rekam jejak perilaku putrinya, dia sampai menyama ratakan semua hal buruk yang terjadi adalah ulah dari Kiana.
"Ayah macam apa aku ini!?" Danu menghempaskan punggung pada sandaran sofa.
"Ya, kamu ayah yang buruk." Umpat Herlin. "Kembalikan putriku sekarang juga, dan jika tidak aku juga yang akan pergi dari rumah ini untuk menemani Kiana. Dia hanya marah kepadamu, tidak kepadaku! Maka Kiana akan menerima aku jika aku memutuskan untuk menemaninya."
"Jovian akan usahakan Kiana segera pulang, Ma!" Jovian merasa tidak enak hati. Bahkan dia sudah tidak berani menatap mata dari ibu mertuanya.
Karena dirinya memiliki andil besar dalam masalah ini.
"Harus! Karena Kiana sekarang tanggung jawabmu." Kata Helin.
Dia menatap sang menantu dengan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata. Rasa kecewa sudah jelas terlihat, dan kali ini Herlin tidak memikirkan perasaan dari Leni dan Jonathan, sesekali menunjukan jika dia sedang kecewa tidak ada salahnya.
Toh keduanya tampak bijaksana dalam menghadapi masalah yang membuat Kiana enggan untuk pulang ke rumah hingga saat ini.
......................
Jangan lupa seperti biasaaaaaa🤭 Like, komen, hadiah sama apapun yang kalian punya🤪
__ADS_1