Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Menjadi egois.


__ADS_3

"Sekali lagi terima kasih jamuan makan malamnya. Ini sangat luar biasa. Padahal kami hanya membawa beberapa kue kering, … tapi kami disambut dengan sangat baik di rumah inu." Leni berpamitan.


"Tidak usah berlebihan." Kata Herlina sambil tersenyum.


Keduanya saling mencium pipi kiri dan kanan, menepuk-nepuk pundak, kemudian segera pergi setelah mengucapkan kata perpisahan.


Leni segera masuk kedalam mobil. Dimana suami, anak, menantu dan cucunya sudah berada di dalam mobil sana.


Pim pim pim!!


Klakson itu menjadi sebuah tanda perpisahan. Mobilnya mulai berjalan, sementara Herlin dan Danu tampak melambai-lambaikan tangannya.


"Kiana dan Jovian masih berbicara?" Tanya Herlin, sambil terus menatap mobil yang Javier bawa melaju melewati gerbang rumahnya yang terbuka lebar.


"Ya, di belakang. Sambil lihat ikan-ikan yang berenang." Jelas Danu, pria itu terkikik menertawakan kekonyolannya sendiri.


"Baiklah, biarkan mereka berbicara banyak hal. Mereka


cukup banyak diam tadi, termasuk Kiana karena mungkin merasa canggung."


Danu hanya mengangguk. Dan setelah mobil itu benar-benar hilang, mereka kembali masuk ke dalam rumah, lalu duduk bersantai di atas sofa ruang keluarga.


Memberikan ruang bagi Kiana dan Jovian yang saat ini berada di taman belakang rumah, semenjak keluarga pria itu berpamitan untuk pulang.


"Kamu yakin?" Jovian menatap wajah cantik Kiana di bawah lampu temaram, yang berada di dekat kolam ikan sana.


Kiana mengangguk, dia tersenyum.


"Kenapa harus mobil? Kenapa tidak rumah? Atau perhiasan. Seperti berlian atau apapun? Saya pasti akan memberikan apa saja yang kamu minta."


Gadis itu terkekeh.


"Aku sudah mempunyai semua yang Om sebutkan. Tapi aku bingung juga mau minta apa! Eh … tapi jangan berpikir aku lagi rendahin Om yah! Aku minta mobil juga ada alasannya. Tadinya malah tidak mau minta apa-apa, tapi tidak enak juga Papi terus bertanya tadi."


Jovian menatap Kiana lekat-lekat.


"Aku nggak peduli Om mau bilang apa soal aku. Tapi aku beneran nggak bisa, Om hidup dengan sesuatu yang bersangkutan dengan masa lalu. Termasuk mobil!" Ucap Kiana jujur.


"Mobil?"


Kiana menganggukan kepala.


"Sedikit banyak ada hal yang spesial di dalam mobil sana. Dan aku tidak suka pikiranku tertuju kesana. Dimana Tante Eva duduk di kursi penumpang, sementara Om duduk di kursi kemudi seperti biasa. Kalian berbincang, membicarakan banyak hal sambil tertawa, atau bahkan saling menggenggam satu sama lain, seperti yang selalu Om lakukan sama aku."


Pria itu lagi-lagi hanya mampu diam. Karena apa yang Kiana katakan benar adanya. Dia masih hidup dengan beberapa barang yang pernah dia gunakan dengan seseorang yang jelas saat ini sudah pergi, meninggalkannya begitu saja hanya sebuah alasan tidak masuk akal.


"Kamu tidak pernah protes selama ini?"


Jovian mulai memancing, dia menahan senyumannya, dan membiarkan Kiana untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan, tanpa harus terus-menerus menyembunyikannya.


"Aku tidak berani. Tapi sekarang, aku mau yang milik aku hanya milik aku, tanpa embel-embel atau sangkut paut berang yang akan membuat kamu mengingat seseorang dari masa lalu!"


Mendengar itu senyuman Jovian jelas merekah. Sesuatu di dalam dirinya menghangat, karena di penuhi rasa bahagia, atas pengakuan gadis yang saat ini duduk tepat di sampingnya.


Satu tangan Jovian terangkat, lalu dia letakan di atas punggung tangan Kiana, dan merematnya cukup erat.


"Kamu mau egois, hum!?" Jovian dengan suara rendah.


"Tentu saja. Aku memang egois, … dan yang menjadi milikku, harus tetap menjadi milikku. Bahkan aku tidak akan membiarkan kamu memikirkan orang lain, selain aku."


Jovian menyeringai.

__ADS_1


"Kamu?"


"Ya, kamu! Jovian Alton, calon suami dari Jasmine Kiana Danuarta. Dan gadis itu adalah aku!" Ucapnya penuh penekanan.


Jovian tak bersuara. Namun sorot matanya jelas mengatakan jika pria itu sedang merasa gemas saat ini.


"Om tidak suka? Apa Om mau bilang aku kurang sopan juga? Atau …"


"Berhentilah Baby! Kamu sudah membuat calon suamimu ini sangat gemas." Suara Jovian terdengar semakin rendah. "Beruntung sekarang ada di rumahmu. Jika saja sedang ada di apartemen, atau dimanapun yang hanya ada kita berdua, maka sudah saya pastika jika kamu akan habis sekarang juga!" Lanjutnya lagi.


"Oh ya? Memangnya apa yang mau Om lakukan? Menghabisi dengan cara seperti apa?"


Kiana mencondongkan tubuhnya, dengan raut menantang, meski pada kenyataan hatinya berdebar kencang karena mendapatkan tatapan penuh intimidasi dari pria tampan yang malam ini terlihat begitu mempesona.


Atasan kemeja batik hitam lengan panjang, dengan celana bahan berwarna abu-abu muda. Dan seperti biasa, rambut sedikit panjang yang tidak pernah di sisir dengan rapih.


"Mau apa kamu? Jangan macam-macam!" Pria itu memberikan peringatan, kala gadis itu terus beringsut mendekat.


Kiana menyeringai.


"Mau sun boleh?"


"Jangan!" Jovian menggeleng-gelengkan kepala, dengan raut wajah datar.


Namun Kiana tidak mendengar, dia terus mendekatkan diri. Sampai seseorang terdengar memanggilnya dari arah dalam.


"Apa kalian belum selesai?"


Kiana langsung kembali pada tempat duduknya. Dan munculah Herlin, berdiri di ambang pintu menatap ke arah mereka berdua.


"Sudah sangat larut. Sebaiknya lanjutkan obrolan kalian besok saja, sekarang waktunya istirahat."


Jovian menatap ke arah Herlin, lalu mengangguk. Sementara Kiana berusaha menetralisir perasaan yang tidak bisa dia kendalikan sebelumnya.


"Tidak ada. Hanya gatal saja!" Jawab Kiana singkat.


"Jika mau bermalam. Kamar tamu sudah di siapkan, Jo!"


"Baik, Bu Herlin."


"Masuklah, angin malam tidak baik."


Setelah itu Herlin kembali ke arah dalam. Meninggalkan dua sejoli yang saat ini sedang di mabuk cinta.


"Om mau tidur di disini?"


Jovian tersenyum.


"Boleh?"


"Boleh. Tadi Mama yang bilang kan? Kamar tamu sudah siap."


Pria itu menggelengkan kepalanya.


"Bukan di kamar tamu, tapi ikut tidur di kamarmu saja, boleh?"


Mereka berdua bangkit dari kursi masing-masing. Kiana maju beberapa langkah, untuk mendekatkan diri kepada kekasih hatinya.


"Mau bobo bareng? Boleh." Kiana berbisik.


Dia berjinjit, kemudian memberikan kecupan basah di bibir Jovian, membuat pria itu terdiam sejenak.

__ADS_1


"Tapi Papa pasti melarang. Kita belum menikah dan tidak akan semudah itu untuk masuk ke dalam kamarku." Kiana tersenyum miring.


"Oh ya? Waktu kamu mabuk saya bisa masuk!"


"Itu beda. Om nganterin aku ke dalam kamar karena aku mabuk!"


Jovian mencubit hidung Kiana, dan menariknya cukup kencang, sampai meninggalkan bekas kemerahan disana.


"Saya pulang saja. Kamu lebih berbahaya jika sedang seperti sekarang. Cinta menenggelamkan akal sehatmu, Baby."


Kiana tertawa lagi.


Tangan Jovian terulur, menarik Kiana dan membawanya ke arah dalam. Sebuah ruangan yang cukup besar mereka lewati, dimana Danu dan Herlin berada duduk disana, menyaksikan berita malam hari.


"Pak, Bu. Saya pamit pulang saja kalau begitu. Maaf masih berada disini saat keluarga yang lain sudah pulang lebih dulu."


"Tidak apa-apa. Selesaikan apa yang menurut kalian belum terselesaikan." Danu bangkit, dan mendekati Jovian.


"Tidak menginap saja? Ini sudah hampir lewat tengah malam. Kamar tamu juga sudah Ipah rapihkan!"


"Saya pulang saja." Pamit Jovian lagi.


"Kalau begitu hati-hati!" Danu menepuk-nepuk pundak calon menantunya.


Jovian tersenyum, dia beralih berpamitan kepada Herlin. Sebelum akhirnya dia berjalan ke arah luar, di antar Kiana sampai teras depan rumah.


"Saya pulang, Kia." Jovian menyentuh pipi Kiana, dan mengusapnya lembut.


Gadis itu hanya mengangguk.


"Hati-hati, oke? Jangan ngebut." Kiana berpesan.


Jovian mengulum senyum.


"Besok kamu ada kelas?"


"Tidak ada. Om bisa santai bersama Mami dan Papi. Atau bermain bersama Axel."


"Baiklah, nanti saya telepon oke?"


Jovian maju satu langkah, lalu mencium kening Kiana penuh perasaan.


"Saya pulang. Maaf belum bisa menemani kamu tidur untuk saat ini!"


"Tidak apa-apa, kapan-kapan kita bobo bareng. Di apartemen Om!" Dengan lugunya dia mengatakan itu, kemudian tertawa kencang, dan segera menutup mulutnya menggunakan tangan.


"Dasar nakal!"


Jovian kembali menahan senyumnya. Kemudian dia beranjak meninggalkan Kiana, mendekati mobilnya yang saat ini terparkir di samping mobil Kiana.


"Masuk dan tidurlah. Jika sudah sampai, nanti saya kirim pesan."


Setelah mengatakan itu Jovian masuk ke dalam mobilnya. Sorot lampu mulai terlihat, bersamaan dengan suara derum mobil yang terdengar. Perlahan-lahan mobil hitam itu melaju ke arah pintu gerbang, meninggalkan Kiana yang masih berdiri di teras sana sambil melambaikan tangan.


Jovian menekan klakson mobilnya, dan setelah itu benar-benar keluar sampai Kiana tak dapat lagi menatap mobil hitam itu, apalagi saat petugas keamanan rumah kembali menutup pintu gerbang besar rumahnya sampai rapat seperti semula.


"Bye Om. I love you, hati-hati dijalan, … aku masuk yah!" Gadis itu bermonolog, kemudian berbalik badan untuk kembali masuk ke dalam rumahnya.


Klek!!


Pintu besar itu tertutup dengan rapat. Dan terdengar kunci di putar sebanyak dua kali.

__ADS_1


......................


Ayo atuh! Like, komen, sama hadiahnya manaaaa ...


__ADS_2