
Suara antara Jovian dan Kiana mulai samar-samar terdengar, kemudian semakin jelas kala dua orang itu berjalan memasuki rumah beriringan. Keduanya terus berbicara, diselingi canda tawa, sehingga tidak menyadari keberadaan Herlin dan Danu yang saat ini duduk di kursi meja makan. Menikmati teh hangat juga pisang goreng yang Leni sediakan.
"Kia?" Suara Herlin membuyarkan fokus perempuan itu yang memang masih asik melontarkan candaan kepada suaminya, sambil berjalan mendekati salah satu pintu ruangan.
Keduanya menoleh bersamaan ke arah suara terdengar.
"Mereka kalau sudah berdua memang begitu. Berasa dunia sediri, yang lain minjem!" Celetuk Jonathan.
Yang seketikan membuat Danu dan Herlin tertawa kencang, sementara Kiana tampak tersipu malu.
"Aku kira Mama dan Papa belum sampai. Soalnya di luar aku nggak liat Pak Yanto apalagi mobil Pajero." Kata Kiana serta merangkul kedua orang tuanya bergantian.
Jovian melakukan hal yang sama untuk menyambut kedatangan kedua mertuanya, di kediaman mereka yang berada di daerah perkampungan sana.
"Benarkah? Padahal Pak Yanto parkir mobilnya di samping mobil kamu." Ujar Danu.
"Sudah dijelaskan. Kalau mereka sudah bersama, dunia Kiana dan Jovian itu hanya tentang mereka saja. Yang lain ghoib." Celetuk Leni lagi.
Dan tawa semua orang terdengar.
"Ah nggak juga." Kiana menyangkal dengan senyuman malu-malu.
"Ya ya ya." Leni terus menggoda menantunya.
"Ya sudah, bersihkan dulu diri kalian. Setelah itu kita bicara." Titah Jonathan.
Keduanya pun mengangguk, kemudian berbalik badan hendak mendekati pintu kamar mereka yang tertutup rapat. Sebelum akhirnya suara Leni kembali membuat Kiana dan Jovian menghentikan langkahnya.
"Janinnya masih sangat kecil. Jadi jangan dulu melakukan sesuatu yah!" Wanita itu menatap putra dan menantunya bergantian.
Lalu tersenyum jahil.
"Mami ngaco!" Sergah Jovian.
Pria itu bahkan sampai mendelikkan matanya. Entah mengapa, keberadaan Herlin dan Danu membuat Jovian gugup setengah mati. Apalagi menyangkut kehamilan yang sedang Kiana jalani.
"Hhhheuh!" Jovian menghela nafasnya.
"Sudah, Mam. Kamu ini senang sekali membuat Jovian kesal." Jonathan berusaha menghentikan. "Sudah, cepat bersih-bersih, kita harus bicara serius!" Dia mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar Jovian segera membawa Kiana masuk ke dalam kamar mereka.
"Kiana hamil saja mereka pasti sudah berpikir macam-macam. Mami malah nambah-nambahin." Gumam Jovian pelan.
Membuat Kiana menengadahkan pandangan, menatap wajah sang suami dengan raut bingung.
"Kamu bilang sesuatu?"
Jovian menggelengkan kepala, lalu menutup pintu ruangan itu rapat-rapat setelah mereka masuk ke dalam kamar sana.
"Tidak!" Jovian menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Baiklah, … ayo kita mandi." Pria itu hampir saja meraih tangan Kiana.
Namun, dengan segera perempuan itu menariknya dengan cepat.
"Satu-satu. Kalau mau kamu dulu ya sana."
"Kenapa? Bersama saja agar lebih cepat selesai."
Kini Kiana yang menggelengkan kepala.
"Tidak. Kamu pasti macam-macam, dan durasinya akan lebih lama lagi."
Jovian diam.
"Kamu tidak dengar apa kata Mami?"
Kiana memutar tubuh suaminya, dan mendorong perlahan meminta Jovian untuk pergi.
"Tapi kita sudah melakukannya, dan mereka baik-baik saja bukan? Jadi ayo!"
Jovian maju, tapi membuat Kiana mundur beberapa langkah kebelakang untuk menghindar.
"Nggak. Cepatlah! Kemarin bisa selamat, belum tentu sekarang juga begitu. Jadi ayo mandilah, dan temui orang tua kita, bukankah mereka bilang ingin berbicara serius?"
Jovian menghela nafas. Namun tak urung membuat pria itu berjalan meninggalkan Kiana untuk memasuki pintu kamar mandi.
***
Satu mangkuk berisikan beberapa jenis buah Leni letakan tepat di hadapan sang menantu. Kemudian menata teko berisikan teh yang baru saja dia isi ulang di tempat semula, dan berbagai macam jenis kue kering.
"Selama disini Kiana benar-benar tidak bisa makan nasi. Dia selalu merasa mual bahkan hanya mencium uapnya saja." Jelas Leni seraya mendudukan diri.
"Benarkah? Waktu di rumah masih bisa makan." Herlin mengalihkan pandangan pada Kiana.
Dan orang yang di maksud menganggukan kepala.
"Hanya setelah disini gejala ngidamnya semakin parah, Ma. Tapi tidak apa-apa, terkadang mau makan yang lain. Selain buah Kiana juga bisa makan roti … jadi tidak usah khawatir karena masih bisa minum obat dan Vitamin yang sempat Dokter berikan." Kata Jovian.
__ADS_1
Herlin mengangguk dan terlihat sedikit bernafas lega. Sementara Kiana mulai sibuk melahap buah yang Leni berikan. Dimana mangkuk itu diisi potongan kiwi, jeruk, dan anggur hijau.
"Baiklah. Jadi bagaimana? Apa yang mau kita rundingkan?" Danu menatap Jonathan, Leni, Jovian lalu berakhir saat dia menatap Herlin dan Kiana.
Jovian mengubah sedikit posisi duduknya, kemudian berdehem seperti sedang mempersiapkan diri.
"Karena Mama dan Papa sudah disini. Jadi, … ayo kita adakan syukuran kecil-kecilan atas kehamilan Kiana. Dan mungkin bisa juga di langsungkan resepsi sederhana saja."
Kiana menghentikan kegiatannya, lalu menatap wajah sang suami dengan mulut yang masih mengunyah.
"Kalau di sekaligusin gitu, … nanti bikin repot tahu!" Kiana dengan perasaan tidak enak kepada Jovian.
Bagaimana tidak. Acara yang seharusnya rampung beberapa bulan yang lalu, harus kembali di ulang karena gagal, dan salah satu faktor yang membuat resepsi pernikahannya gagal adalah kepergian dirinya sendiri.
"Beneran deh, … kalau pun di pernikahan kita nggak ada resepsi, nggak apa-apa. Yang penting nggak ada hal yang bikin kita salah paham kaya kemarin. Semua wanita memiliki pernikahan impian mereka, termasuk aku juga begitu. Tapi itu dulu, setelah di pikir-pikir, ternyata rumah tangga yang rukun sudah lebih dari cukup." Lanjut Kiana.
Jovian menatap wajah Kiana lekat-lekat, kemudian tersenyum.
"Tidak bisa begitu. Ini momen seumur hidup! Setidaknya ada satu kenang-kenangan yang bisa kita perlihatkan kepada anak-anak kita nanti." Suaranya terdengar sangat lembut.
Lalu satu tangan Jovian terulur, menyentuh perut sang istri, dan mengusapnya pelan.
"Hemm, … seperti acara ngunduh mantu yang sempat Mami bicarakan. Mungkin sekarang waktu yang tepat." Leni terlihat semangat.
"Mumpung pekerjaan Papa di handle Denis juga. Jadi bisa lebih leluasa disini." Danu ikut bersuara.
Helin mengangguk, mendukung apa yang sedang Jovian rencana.
Tentu saja, bukankah acara pernikahan yang mewah adalah idamana setiap ibu. Dimana mereka bisa melihat anak-anak yang mereka bersarkan berbahagia.
Bukannya saat ini Kiana tidak terlihat bahagia, sudah jelas kebersamaannya dengan Jovian mengalahkan rasa bahagia yang sempat dia rasakan dulu. Akan tetapi, ada perasaan lain jika Herlin mampu menyaksikan putrinya berada di atas pelaminan.
"Acara akad nikah juga sepertinya cukup. Lagi pula Om Denis juga punya kehidupan pribadi, Pah. Nggak bisa semuanya Papa serahkan sama mereka, kasian Dendi, kasian Tante Sita juga, kan masih masa-masa penyembuhan."
"Ada Ebra."
Secara tidak sengaja Danu mengatakan itu. Membuat dirinya segera mengatupkan mulut, apalagi ketika raut wajah Kiana terlihat langsung berbeda.
"Ebra?"
Danu terlihat sedikit terkejut.
"Emmm, … ya. Mama yang menyetujui Ebra saat mereka meminta pekerjaan. Awalnya Papa memang takut kamu tidak setuju. Tapi Mama berusaha meyakinkan kalau kamu sudah tidak ada masalah lagi dengan Ebra." Herlin berusaha menjelaskan.
"Oh. Kalau dia bisa di percaya, … ya bagus! Se- enggaknya ada orang yang bisa Om Denis andalkan selain dirinya sendiri."
"Kamu tidak marah?"
"Marah?"
"Ya, karena keputusan Papa tentang Ebra."
Kiana menggelengkan kepala. Kemudian menusuk potongan kiwi dengan garpunya, lalu menjejalkan kedalam mulut.
"Enggak. Kenapa marah?" Ucap Kiana dengan mulut penuh.
Semua orang diam, termasuk Leni, Jovian dan Jonathan yang sedari tadi hanya menyimak percakapan ketiganya.
"Ya karena Papa menuruti keinginan Om Umar."
"Oh jadi Papa masukin Ebra ke kantor atas permintaan Om Umar?"
Danu mengangguk.
"Kenapa nggak ke tambang aja?"
"Om Umar mintanya di kantor."
"Ya, mereka selalu bersikap buruk, mencaci dan memfitnah sana-sini. Kirain nggak bakal butuh Papa lagi!"
"Mungkin faktor ekonomi, Kia." Danu menjawab dengan sangat hati-hati.
Kiana tidak menjawab lagi.
Herlin terkekeh gugup, dia menatap menantu dan kedua besannya bergantian.
"Bahas itunya nanti lagi. Kita bahas soal yang pertama dulu. Tentang syukuran dan resepsi." Kata Herlin.
"Sepertinya tidak udah di bicarakan lagi. Kali ini Jovian tidak mau di tolak, … jadi adakan saya syukuran dan resepsinya." Tegas Jovian.
"Tapi sayang …"
"Kamu setuju atau tidak, semuanya akan tetap di adakan." Pria itu memotong ucapan Kiana.
Membuat perempuan itu terdiam dengan ekspresi wajah datarnya. Bahkan mulut Kiana perlahan mengatup, ketika tak ada lagi alasan yang dapat dia ucapkan.
__ADS_1
***
Dan setelah berbicara banyak hal dengan suami juga keluarganya. Kiana memutuskan untuk berdiam diri di dalam kamar, duduk setengah berbaring bergulung selimut, dengan handphone di dalam genggamannya.
Suasana dingin di sana membuat Kiana tidak bisa jauh dari selimut tebalnya.
Kiana hendak membuka salah satu situs internet, berniat untuk mencari informasi seputar kehamilan. Namun, sesuatu jelas menyita perhatiannya.
Kabar teratas di dalam beranda sungguh membuat Kiana tercengang, apalagi saat melihat sosok wajah wanita yang terpampang nyata dengan keadaan yang kurang baik.
"Hah! Beneran nih!?" Cicit Kiana.
Wajah muram, rambut kusut tidak terawat seperti biasa, dengan pakaian oranye melekat di tubuhnya.
[Seorang wanita di tangkap di kediamannya, setelah melakukan perta sabu-sabu di daerah Tangerang bersama beberapa temannya.]
Kiana terlonjak.
Dia menegakan tubuhnya, menyibak selimut, lalu turun dari atas ranjang tidur, berniat menemui suaminya yang masih asik berbincang dengan ayahnya di halaman belakang rumah.
Klek!!
Pintu kamar di buka dari arah luar, membuat langkah Kiana terhenti dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata.
Kening Jovian menjengit, dia masuk, kemudian menutup pintu kamarnya seperti semula.
"Kenapa? Kamu mual?"
"Bukan." Kiana menjawab pertanyaan sang suami dengan gelengan kepala. "Ini!" Katanya lagi, lalu memberikan handphone miliknya kepada Jovian.
Dia meraih benda pipih itu. Dan betapa terkejutnya setelah Jovian menyadari sesuatu, yang mungkin juga membuat istrinya terkejut.
"Eva?"
Kiana mengangguk.
"Aku belum buka beritanya. Baru lihat judul sama covernya aja aku udah kaget. Kok tumben? Bukannya suka di blur yah?"
Jovian menatap wajah Kiana lekat-lekat, menggelengkan kepala, lalu memberikan ponsel sang istri tanpa membuka isi berita tentang mantan istrinya.
"Kamu nggak mau baca beritanya?" Kiana menatap wajah Jovian bingung.
Pria itu tidak menjawab, dia hanya meraih telapak tangan Kiana, dan menggiringnya kembali ke arah tempat tidur.
"Hari sudah malam. Matahari saja sudah mengistirahatkan diri, … sudah gantian shift sama bulan. Kenapa kamu belum mau tidur? Tapi malam mau membaca berita yang sudah jelas bukan urusan kita?"
Kiana semakin bingung.
"Tidur, Baby!"
"Kamu nggak mau tahu motif Tante Eva melakukan itu kenapa? Atau apa gitu? Pesta sabu-sabu lho, di rumahnya, … yang dulu juga rumah milik kamu!"
Perempuan itu naik ke atas ranjang, seraya membaringkan diri, dengan mata yang terus tertuju pada Jovian. Pria yang tengah menarik selimut untuk dirinya.
Jovian tersenyum samar.
"Mau dia pesta sabu-sabu, miras, atau ****. Bukan urusan kita!" Suara Jovian terdengar rendah. "Mau di rumahnya, atau di rumah Pak Erik juga aku tidak peduli. Duniaku sekarang hanya tentang kalian, dan tidak ada yang lebih penting dari itu."
Dia membungkuk, lalu mencium kening Kiana.
"Simpan handphone nya. Ayo tidur, … tapi sebelum itu aku cuci muka, tangan dan kaki dulu." Jovian mengusap kening istrinya.
Setelah itu dia beranjak pergi, melewati kamar mandi. Meninggalakn Kiana yang masih diam seribu bahasa.
"Ah tapi aku penasaran." Gumam Kiana.
Dirinya hampir mengetuk halaman berita, sebelum akhirnya teriakan Jovian kembali terdengar.
"Baby! Letakan handphone nya!"
Kiana menoleh ke arah pintu kamar mandi yang memang di biarkan terbuka. Tidak ada Jovian disana, tapi kenapa pria itu seolah tahu apa yang akan dia lakukan.
"Jasmine Kiana Danuarta!"
"Baiklah, … baiklah."
Kiana menekan tombol exit, lalu meletakan benda pipih itu di atas nakas.
......................
Othor cuma mau bilang;
Cuyung kalian, terimakasih untuk setiap dukungannya. Makasih udah sabar nungguin othor. Eps masih panjang, ekstra part juga masih ada, apalagi cerita baru. Tapi setan malesnya lagi Deket banget nih, eh nggak deng. mungkin faktor sakit sama persiapan sekolah si sulung, agak belibet dunia nyatanya🙈
Yang sabar ya nunggunya. Jangan pergi ninggalin othor lho, nanti Othor sedih kalo bikin karya baru terus kalian malah nggak ada.
__ADS_1
pokonya cuyung kalian banyak-banyak ♥️