
Jovian menatap dirinya dari pantulan cermin.
Celana bahan berwarna abu-abu, kemeja batik berwarna navy, dengan corak dan ukiran batik indah berwarna biru muda.
Dia terlihat sangat tampan dengan keadaan seperti itu. Dan menurutnya setelan inilah yang cocok, karena membuat dirinya lebih segar, dan tampan.
"Tentu saja." Jovian terkekeh.
Lalu dia membuka sebuah pintu ruang ganti, dan mendekati Kiana yang sedang mencoba kebaya warna senada, dengan setelan yang Jovian pakai saat ini. Kain brokat, dengan hiasan mutiara-mutiara kecil yang menimbulkan kesan gemerlap jika seseorang yang memakainya menggerakan tubuh.
"Sepertinya yang ini sangat cocok untuk kita." Ucap Jovian tiba-tiba.
Kiana mengangkat pandangannya, menatap ke arah dimana Jovian berdiri saat ini.
"Bagaimana kalau kita ambil warna yang ini saja?" Pria itu kembali mengusulkan, dengan tatapan tak teralihkan sama sekali.
Sorot mata Jovian terus tertuju kepada Kiana. Menatap dari bagian atas hingga bawah, dimana lekukan tubuh Kiana terukir dengan indah di balik kebaya yang terlihat begitu pas saat gadis itu mengenakannya
"Yakin mau yang ini? Tidak mau yang hitam tadi?" Kiana mencoba untuk meyakinkan.
Jovian tersenyum.
"Sepertinya navy bagus untuk kita." Dia maju beberapa langkah, dan berhenti tepat di belakang Kiana.
Pandangannya menunduk, menatap lekukan pinggang ramping Kiana, lalu menyentuh dengan rasa yang semakin menggebu-gebu.
"Ya, kebayanya menjadi bagus saat kamu pakai." Celetuk Jovian, tanpa menghiraukan sang pemilik toko yang saat dia sedang berada di dekat mereka.
"Om!" Suara Kiana memekik pelan, dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.
"Apa? Saya hanya berkata jujur lho!"
Mendengar itu Kiana menoleh ke arah dimana wanita itu terlihat, sedikit menganggukkan kepala, kemudian tersenyum canggung.
"Memang bisa begitu. Tidak semua pakaian cocok dengan siapa yang memakainya." Pemilik toko sekaligus desainer itu tersenyum. "Percaya tidak? Ada pakaian yang bermerek dengan harga selangit, itu terlihat murah jika memang tidak cocok, … tapi ada pakaian yang murah, hanya di beli dari toko grosir, namun terlihat mewah. Jadi mungkin itu maksud Bapak Jovian tadi." Jelasnya lagi, hingga mendapatkan anggukan dari Kiana.
Jovian mengangguk, lalu mengangkat kedua ibu jari tangannya.
"Anda pintar." Ucap Jovian.
"Baiklah, kalau begitu ambil yang ini yah!" Kiana berujar.
"Boleh."
Kiana menatap calon suaminya.
"Untuk malam ini?" Gadis itu berusaha meyakinkan.
Namun, Jovian mengulum senyum dan menggelengkan kepalanya.
"Malam ini hanya pertemuan biasa, … sebuat saja untuk mengenal satu sama lain dulu." Dia menyentuh rambut Kiana yang memang terurai seperti biasa, dan menyelipkannya ke arah belakang telinga.
"Aku kira buat malam sekarang. Makanya kesini buru-buru!"
__ADS_1
"Mungkin satu Minggu lagi dari sekarang. Baru kita akan tunangan secara resmi. Sudah saya katakan bukan? Ada banyak hal yang harus dipersiapkan, lalu setelah ini harus banyak juga yang dibicarakan, termasuk masalah mahar dan seserahan."
Kiana mengangguk.
"Sepertinya masalah ini tidak harus dibicarakan disini. Aku malu!" Tukas Kiana, dia terkekeh pelan dengan wajah yang tampak sedikit memerah.
"Baiklah. Tolong siapkan kebaya dan setelan kemeja batiknya yang lain, … besok saya dan keluarga akan kembali." Jovian berpesan.
"Akan saya siapkan."
Dan setelah itu keduanya benar-benar menyelesaikan segala urusan tentang pakaian yang mereka pesan, untuk dipakai nanti saat acara tunangan itu tiba.
***
"Kita langsung pulang?"
Tanya Kiana saat mereka sudah kembali berada di dalam mobil yang kini melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan kota Tangerang pada sore hari ini yang cukup terlihat ramai.
Jovian menoleh, tersenyum dan kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan.
"Sebenarnya saya sudah izin membawa kamu pergi. Tapi jika kamu mau pulang, ya saya antar sekarang juga." Balas Jovian.
"Aku nanya, Om! Bukan mau."
Pria itu tersenyum, tangannya terus bergerak-gerak di atas setir mobil, mengendalikan roda empat milik Kiana agar berjalan sebagaimana mestinya.
"Saya ingin membawamu ke satu tempat." Jovian berujar.
"Ke pasar lama. Bagaimana? Mau?"
Dan Kiana hanya mengangguk, dengan senyuman merekah yang dia perlihatkan. Tentu saja, memangnya gadis mana yang akan menolak ajakan dari kekasihnya, begitu juga dengan Kiana.
Dia jelas bahagia jika Jovian berinisiatif untuk melakukan hal-hal kecil, namun sangat berarti baginya.
"Saya tahu mungkin kamu jarang pergi ke tempat semacam itu, … atau bahkan tidak pernah sama sekali. Tapi percayalah tempat itu tidak semengetikan apa yang ada di dalam pikiranmu. Saya tahu, beberapa orang menganggap pasar itu adalah tempat kotor dan bau, tapi ini berbeda. Kamu akan disuguhkan dengan berbagai macam jenis jajanan disana." Jelas Jovian.
"Seperti wisata kuliner waktu malam itu?"
Pria itu mengangguk.
"Tapi ini tempatnya lebih besar lagi, dan biasanya akan ada ratusan manusia yang ikut mengantri untuk menikmati jajanan kaki lima disana."
"Om suka tempat itu? Aku sering dengar namanya. Bahkan di sosial media sempat viral karena beberapa selebgram menjajal jajanan disana. Tapi aku tidak pernah pergi, karena tidak punya teman untuk di ajak kesana, … tahu sendiri Kevin, Hilmi, Sharla, Zayna dan Starla mana mau di ajak ke tempat seperti itu. Jajanan mereka itu all you can eat, seperti Hanamasa dan banyak lagi."
"Sangat. Dan kamu tahu kenapa?" Jovian menoleh, sampai pandangan keduanya bertemu.
Kiana segera menggelengkan kepalanya. Namun entah kenapa bayang-bayang tentang Eva melintas di dalam pikiran Kiana, dan itu membuat hatinya berdebar menghadirkan rasa gelisah, takut jika pria di sampingnya akan mengatakan sesuatu yang tidak terduga tentang wanita itu.
"Sebenarnya saya juga tidak tahu. Hanya saja, selain murah, jajanan di tempat seperti itu nikmatnya tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata."
Kiana tertawa kencang, dengan perasaan yang terasa lega.
"Kenapa kamu tertawa? Saya sedang tidak bergurau."
__ADS_1
"Hhhheuh! Aku takut, kirain Om suka kesana karena punya kenangan baik sama Tante Eva. Jadi mau throwback gitu, … ahahahah!"
Mata Jovian melirik kaca spion di hadapannya, menatap Kiana yang terus tertawa, sampai wajahnya terlihat merah dan mata yang berkaca-kaca.
"Dia tidak pernah mau mendengarkan usulan saya. Jika mau keluar, … ya Eva yang menentukan dia mau kemana. Dan teman-temanmu sepertinya satu tipe dengan Eva." Sahut Jovian.
"Aku kok ngerasa nggak rela yah! Kalau dulu Om pernah sayang banget sama Tante Eva. Mana move on nya lama juga, dua tahun lho!"
"Yang penting sekarang kita sudah sama-sama. Tidak usah melihat ke belakang, biarkan itu menjadi sebuah kenangan buruk, yang saya sendiri tidak akan pernah mau kembali kemasa itu."
Tangan kiri Jovian yang sedang menggenggam perseneling pun terlepas, beralih menyentuh tangan Kiana dan menggenggamnya.
"Kita hanya mempunyai waktu sebentar. Jadi saya harap kamu bisa menikmati kebersamaan kita sore hari ini, sebelum nanti malam orang tua kita akan bertemu, dan mungkin menimbulkan suasana cukup serius."
Kiana mengangguk-anggukan kepalanya, sambil mengulum senyum.
Dan setelah puluhan menit berkendara. Akhirnya Jovian memberhentikan mobilnya di salah satu parkiran mobil yang tersedia di area sana. Suasana tempat itu sudah terlihat ramai, dengan berbagai macam stand makanan yang menjual beragam jajanan kaki lima.
"Kamu mau coba apa?"
Tanya Jovian seraya merentangkan tangannya, yang segera Kiana sambar hingga mereka kini saling menggenggam satu sama lain.
"Itu apa? Bayi kepiting? Di goreng?" Kiana tampak penasaran.
"Ya, itu rasanya enak. Gurih dan crunchy."
Kiana mengangguk.
Jovian segera membawanya untuk mendekat, memesan dan akhirnya satu porsi baby crab yang di goreng garing Kiana dapatkan, dalam waktu yang tidak lama.
Setelah itu Jovian membawa Kiana ke tempat lain. Membeli beberapa makanan, dan minuman sebelum akhirnya mereka kembali ke dalam mobil sana.
"Karena tempatnya terlalu ramai. Sebaiknya kita makan di mobil saja, lebih aman dan tidak terlalu bising." Kata Jovian saat mereka masuk.
Gadis itu hanya terus mengangguk dan tersenyum. Duduk dengan nyaman di kursi samping kemudi, lalu meletakan beberapa bungkus makanan, dan bersiap untuk menyantapnya.
Terlebih dulu Jovian membuka hampir seluruh sunroof mobilnya. Hingga semilir angin sore hari terasa masuk, menyentuh permukaan wajah dengan begitu lembut.
Pandangan Kiana menengadah. Menatap langit jingga, berhiaskan awan-awan putih bersih juga hamparan gemerlap bintang-bintang yang mulai memenuhi langit pada hampir petang.
Kiana tersenyum saat melihat cantiknya siluet kemerahan, apalagi saat dia menemukan sebuah bulan sabit, yang bersinar di atas sana.
"Ahhhh, … langit Tangerang memang tidak pernah gagal. Indah, cantik, dan mempesona."
Jovian diam memperhatikan gadis di hadapannya, yang terus mengangkat pandangan sambil tersenyum. Sampai leher gadis itu terekspos dengan sangat mudah. Kulit putih bersih, terdapat sebuah kalung dengan liontin kecil melingkar di sana.
"Tidak jangan!" Batin Jovian berbicara, kala sinyal otaknya meminta untuk segera mendekat, dan mendaratkan kecupan disana.
Nahas, lagi-lagi Jovian tidak dapat menekankan perasaan. Dia beringsut mendekat, mencondongkan tubuh, dan mengecup leher Kiana sampai membuat gadis itu tampak terkejut.
Kiana menatap lurus kedepan, dimana Jovian sedang mengulum senyum, dengan raut wajah berbinar yang pria itu perlihatkan.
"Seperti dirimu. Cantik, indah, dan mempesona!" Kata Jovian dengan suara rendahnya.
__ADS_1