
"Ya ampun!"
Dia berteriak, lalu meletakan keranjangnya begitu saja. Membuat semua orang yang tengah asyik dengan dunianya masing-masing terkejut.
"Non!"
Jovian yang sedang asik merakit Lego bersama Kakak dan keponakannya pun bangkit, lalu berlari ke arah dimana dapur berada.
"Kenapa?" Ingeu bangkit, kemudian berlari untuk memeriksakan keadaan.
Danu, Herlin, Jonathan dan Leni saling memandang, dan tidak lama setelah itu mereka bangkit untuk melihat kegaduhan yang baru saja terdengar, setelah baru saja menyadari jika sudah cukup lama Kiana tidak ada bersama mereka.
"What happened?" Axel menatap Adline dan Javier bergantikan dengan raut wajah bingung.
"Tunggu disini!" Tegas Javier, lalu dia pergi bersama Adline yang berjalan mengikuti dari arah belakang.
Suara-suara kepanikan semakin jelas terdengar. Apalagi ketika melihat wajah Eva sudah memerah, dan terbatuk-batuk akibat cengkraman tangan Kiana yang semakin kencang.
"Baby, stop! Kendalikan dirimu!" Jovian mengguncang tubuh istrinya, berusaha membuat Kiana sadar.
Namun, itu tidak berhasil.
"Jika kau datang hanya untuk menindas, kau salah sasaran!" Perempuan itu menggeram kencang.
"Kiana?" Danu berusaha menarik putrinya.
Ketika melihat Jovian tidak berhasil setelah berkali-kali menarik perempuan yang tampak sedang gelap mata itu.
"Jika kamu tidak bisa berhenti berbicara, maka aku akan membuat kamu tidak bisa bicara lagi untuk selamanya!" Kiana semakin mengencangkan cengkraman tangannya di leher Eva.
"Kiana sudah!" Jovian masih berusaha.
Namun perempuan itu tidak menggubris.
"Papa!" Herlin panik.
Begitu pula dengan sang tuan rumah, juga kedua orang tua Jovian.
"Kenapa? Kenapa mereka seperti ini? Bagaimana awalnya?" Adline menatap dua asisten rumahnya.
Mereka menggelengkan kepala.
"Kiana?" Panggil Danu.
Dia berusaha melepaskan tangan Kiana dari leher Eva. Yang saat ini terlihat sudah tidak berdaya.
"Kiana cukup, kamu akan mempermalukan Papa!" Danu sedikit meninggikan suaranya.
"Baby, stop kamu akan membunuh Eva!"
"Biarkan saja, agar dia berhenti berbicara dan mengatakan …."
__ADS_1
Plakk!!
Danu menampar Kiana cukup kencang, membuat suasana menjadi hening, dengan Kiana yang sedikit tersungkur ke arah samping.
Perempuan itu melepaskan Eva, memegangi pipinya yang terasa panas, lalu menatap Danu dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
"Bisakah kamu menghilangkan sikap brutal seperti ini? Berhenti membuat Papa malu, Kiana!" Tegasnya dengan suara menggelegar.
Danu menarik Kiana untuk menjauh dari wanita yang terlihat sudah benar-benar tidak berdaya.
Semua orang diam. Namun tidak dengan kedua asisten rumah yang mulai melihat keadaan Eva, salah satunya membuat wanita itu berbaring di atas pangkuannya, sementara satunya lagi membawakan air.
Kiana menatap orang-orang di sana satu-persatu. Dan pandanganya berhenti pada Jovian yang diam menatapnya kecewa.
"Papa?" Axel memanggil, lalu dia berusaha melihat apa yang ada di hadapan sana.
"Tidak sayang. Ayo Papa temani ke kamar!" Javier menggiring putranya menjauh dari sana.
"Ambilkan Kiana minum, dan berikan waktu untuk dia menjelaskan semuanya." Ucap Ilyas. "Ayo bawa Eva ke kamar tamu lebih dulu!" Kata Ilyas lagi.
Adline bergegas untuk mengambil air minum, sementara dua orang asisten rumah sedang berusaha membopong tubuh Eva yang terlihat begitu tidak berdaya. Membuat Jovian refleks, mendekati dan membawa wanita itu dengan segera.
Hati Kiana mencelos. Dadanya bergemuruh, dengan api amarah yang semakin berkobar, apalagi saat melihat Jovian mengangkat tubuh Eva tanpa merasa ragu sedikitpun. Kiana kembali mengingat setiap ucapan yang sempat Eva lontarkan, berputar-putar memenuhi isi kepala dengan sangat jelas, dan itu membuat dirinya semakin ragu atas apa yang sudah dia yakini sebelumnya.
"Kau ini kenapa? Masih tidak puas membuat Papa pusing? Masih belum puas juga membuat Papa malu?" Danu menggeram.
Kiana bungkam.
"Tidak usah, Pak."
Danu bangkit, lalu meraih Kiana cukup kasar. Membuat semua orang yang ada disana bereaksi. Terutama Adline yang hendak memberikan minum kepada adik iparnya.
"Pak, biarkan Kiana minum lebih dulu!" Ujar Adline.
Namun, Danu tidak mau mendengar. Dia tetap membawa putrinya menjauh dari area dapur sana.
"Pak Danu!" Tukas Leni. "Mungkin kita bisa dengar dulu penjelasan Kiana, lalu setelah itu kita bisa tanya Eva agar kita tahu kejadian sebenarnya itu apa." Katanya lagi.
Namun, Danu menggelengkan kepala.
"Tidak ada gunanya bersikap lembut kepada Kiana. Dia akan semakin menjadi-jadi!"
Danu mencengkram pergelangan tangan Kiana, lalu menyeretnya dengan kencang menjauh dari semua orang. Membuat Herlin terus berteriak, begitupun dengan Ingeu, Leni, Jonathan dan Aldine.
"Pak? Tunggu dulu!" Jonathan berusaha melerai Danu, yang petang hari ini terlihat begitu marah.
"Pak Danu, alangkah lebih baik kita duduk dulu, dan memberi kesempatan Kiana untuk menjelaskan!" Ilyas ikut bicara.
"Entah harus bagaimana, kenapa dia selalu berpikir pendek. Bagaimana kalau Eva meninggal karena kehabisan nafas? Sejak kapan kamu mau jadi pembunuh seperti ini?" Pria itu berbicara dengan nada kecewa.
"Kita cari tahu dulu Pak, apa pemicu Kiana dan Eva berselisih paham seperti tadi."
__ADS_1
"Yang bermasalah buka Eva, tapi putri saya Pak!" Dia menyapu wajahnya.
"Jangan mengambil keputusan sendiri, Pak." Ilyas terus berusaha menenangkan.
Dan setelah itu Danu mulai melunak, dia melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Kiana.
Perempuan itu diam. Peperangan batin mulai dia rasakan, di satu sisi dirinya harus membela diri, tapi disisi lain Kiana tahu betul, citranya di masa lalu tidak akan membuat Danu percaya begitu saja. Karena apa yang akan Kiana katakan nanti, akan Danu nilai sebagai bentuk pembelaan diri.
Herlin segera mendekat, lalu memeluk Kiana seperti biasa, dan mengatakan jika semua yang terjadi akan baik-baik saja.
Suasana malam ini terasa begitu canggung. Hampir semua orang diam dengan pikiran masing-masing, tak terkecuali Kiana yang masih enggan membuka mulutnya, apalagi saat cercaan bertubi-tubi Danu lontarkan. Pria itu terus menerka-nerka sampai membuat Kiana merasa bahwa membela diri pun tidak ada lagi gunanya.
"Apa yang harus Papa katakan kepada orang tuanya Eva?" Danu menghela nafasnya. "Putri saya mencekik putri anda karena merasa cemburu dengan apa yang sudah dia lalui dulu? Seperti itu? Apa itu logis Kiana?" Sebisa mungkin Danu menahan amarahnya, walaupun sudah jelas dia tampak tidak bersahabat pada malam hari ini.
Meskipun di hadapan besan, dan juga yang lainnya. Danu benar-benar tidak peduli, isi pikirannya malam ini hanyalah bagaimana membuat Kiana tidak bersikap buruk kembali, entah itu kepada Eva atau siapapun.
Kiana memejamkan mata, menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali. Perempuan itu berusaha tenang, walau sesungguhnya dia pun merasa sangat marah.
"Dia yang mulai, Pah!"
Akhirnya, setelah terus terdiam Kiana mulai membuka suara.
"Eva yang terus mengatakan hal buruk! Tentang Aku, Jovian dan Papa! Apa aku harus diam? Ketika …"
"Baby!"
Jovian yang saat dia berdiri, menyandarkan punggung pada dinding dengan kedua tangan yang terlipat di atas dada mulai membuka suara, dengan sorot mata yang juga tertuju kepada istrinya.
"Bisakah kamu sedikit tenang?" Jovian bertanya dengan raut wajah yang sedikit berbeda. "Kami hanya sedang bertanya, dan jawaban dengan suara pelan saja kami akan berusaha memahami!" Ujar Jovian.
Yang seketika membuat Kiana mengerutkan dahi, dengan pandangan mata sendu.
"Orang tua Eva sedang dalam perjalanan kesini. Beruntung tidak ada hal serius, … seperti apa yang kamu lakukan kepada temanmu dulu, jadi mungkin Papa dan Mamamu akan sedikit terselamatkan dari cacian." Lanjut Jovian.
"Kalian meminta aku berbicara pelan, tapi tatapan kalian menunjukan ketidak percayaan." Kiana menunjuk dirinya sendiri.
"Papi percaya, Nak!" Jonathan tersenyum.
"Aku tidak akan berbuat apapun selama tidak ada orang yang mengusikku lebih dulu!" Jelas Kiana dengan suara bergetar.
Dia menatap Jonathan, berharap pria tua itu akan menjadi satu-satunya manusia yang akan membelanya malam ini.
Rasanya sangat sulit, membela diri sendiri di tengah-tengah terkaan buruk orang-orang.
"Apa tidak bisa beradu argumen saja? Tanpa harus melakukan kekerasan fisik? Ya ampun Kiana, berapa kali Papa bilang berhentilah bersikap buruk!"
Kiana hampir membuka mulutnya untuk menjawab. Namun suara keributan dari arah luar membuatnya diam, dengan semua pandangan orang-orang yang seketika tertuju ke arah pintu masuk.
......................
Jangan lupa seperti biasa guys!!
__ADS_1
Like, komen sama tabur-tabur 🥳 Nanti othor up lagiiii