
Tepat pukul 19.00 WIB.
Pintu studio Bioskop sudah benar-benar dibuka, hampir semua orang berjalan berhamburan mendekati pintu keluar, sementara Kiana dan Jovian memilih duduk lebih dulu, menunggu suasana sedikit lengang.
"Ayo Om!" Kiana bangkit ketika orang-orang sudah hampir keluar semua, dan hanya menyisakan mereka berdua yang masih betah duduk di kursi sana.
"Astaga tiga jam yang sangat sia-sia!" Jovian bergumam. Pria itu segera bangkit, kemudian berjalan lebih dulu, menuruni setiap anak tangga, menyusuri lorong, sampai keduanya benar-benar berada di area Bioskop yang sudah kembali ramai, bahkan bisa dibilang lebih ramai dibandingkan saat Kiana masuk 3 jam yang lalu.
Dengan langkah lebarnya Jovian keluar, menentang barang-barang bawaan Kiana setelah gadis itu membawanya terlebih dulu. Sementara Kiana sedikit berlari, berusaha menyusul Jovian yang seperti berniat meninggalkan diring.
Tap!!
Lagi-lagi Kiana meraih ujung jas sang Bodyguard, membuat pria itu sedikit melirik lalu mendengus kencang.
"Jas saya kusut!"
"Masa? Nanti aku omongin Papa, kalau Om butuh setelan jas baru. Nanti aku pilihin warna biar agak berpariasi, masa hitam terus! Nggak bosen apa."
Mereka melangkah menaiki sebuah tangga berjalan untuk menuruni lantai satu-persatu.
"Tidak usah. Uang saya masih cukup kalau hanya membeli setelan jas. Lagi pula tidak usah menjadi berwarna untuk saya yang hanya menyukai warna hitam."
"Hemmm, … sombong!"
"Memangnya kamu saja yang bisa sombong? Saya juga bisa. Saya memang tidak terlahir dari keluarga serba berkecukupan seperti kamu. Tapi karena kegigihan saya untuk bekerja, … lalu menabungkan hasil jerih payah saya, maka jadilah saya yang seperti ini, mampu membeli apapun yang saya inginkan tanpa harus mengemis kepada orang lain."
Pandangan Kiana mendongak, menatap tubuh bagian belakang Jovian, saat tidak pernah menyangka jika Jovian akan banyak berbicara, dan itu cukup bagus, karena akan banyak interaksi antar Jovian dengan dirinya.
Keduanya langsung terdiam. Jovian berjalan cepat di depan, sementara Kiana berusaha mengimbangi langkah Bodyguard nya dengan cara memegangi ujung jas Jovian agar tidak tertinggal, tanpa obrolan seperti sebelumnya sampai suasana tiba-tiba terasa cukup canggung.
"Untuk apa juga saya mengatakan itu semua!" Ucap Jovian dalam hati.
Jovian merutuki dirinya sendiri.
Setelah turun dari lantai Mall teratas yang sedikit menguras waktu dan tenaga. Akhirnya mereka sampai di sebuah parkiran yang sangat luas, berjalan mencari mobilnya yang Jovian parkirkan sejak siang tadi, di antara mobil-mobil mewah yang juga terparkir di sana.
"Baru kali ini saya masuk Mall, dan menghabiskan uang 90 ribu hanya untuk membayar parkir."
Dia menggerutu, seraya membukakan pintu untuk Kiana.
"Kok 90 ribu?" Kiana membungkuk, masuk dan segera duduk di kursi samping kemudi, tak lupa meraik seatbelt dan memasangkannya dengan baik dan benar.
"Hitung saja berapa lama kita disini! Di kali 10rb/ 1 jam."
Kiana tampak berpikir.
Sementara Jovian langsung menutup pintu mobilnya, membuka pintu bagian belakang dan menyimpan belanjaan Kiana disana.
"Ah belum 100 ribu!" Celetuk Kiana ketika Jovian memasuki mobilnya.
Jovian melirik dengan sorot mata tajam.
"Terserah kamu dan diamlah. Saya sedang tidak mau ada keributan!" Sergah Jovian.
Dia segera memutar kunci mobilnya, menginjak pedal gas perlahan-lahan, kemudian memutar setir sampai kendaraan roda empat itu melaju ke arah pintu keluar.
***
Mobil yang berada di bawah kendali Jovian melaju dengan kecepatan rendah. Menyusuri jalanan kota yang tampak indah pada malam hari ini.
Kiana menekan salah satu tombol yang berada di pintu mobil sana. Membuat kaca sedikit-demi sedikit turun, dan membiarkan angin masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Rambut Kiana bergerak-gerak tak tentu arah saat di terpa angin malam yang cukup kencang. Sementara pria di sampingnya hanya diam, tanpa banyak berbicara, membiarkan Kiana menikmati perjalanan pulangnya.
Pandangannya menengadah, ketika mobil yang di tumpangi melewati sebuah gedung berbentuk oval. Dengan cahaya ungu yang memenuhi area sana, membuat Kiana berdecak kagum dengan mata yang berbinar.
"Tangerang kalau malam nggak pernah salah, Om. Indahnya nggak main-main!" Ucap Kiana tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Jovian tidak merespon ucapan Kiana. Sementara gadis itu terus meracau, memuji kota kelahirannya yang menurut dia sangat cantik nan indah terlebih jika di malam hari.
Namun, setelah 15 menit berlalu, tanpa aba-aba pria itu menutup kaca di saling Kiana, membuat raut wajah gadis itu seketika berubah.
Kiana menoleh, hampir membuka mulutnya untuk berbicara, tapi dia urungkan karena Jovian meliriknya dengan tatapan mengintimidasi.
"Angin!" Dan hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
"Iya, tapi aku suka. Feel nya beda tau Om! Apa lagi kalau aku keliling pakai motor, kita kaya lagi ada dimana gitu, … terkadang aku juga merasa lega, beban rasanya tidak ada lagi saat aku menikmati angin malam. Jangan tanya kenapa, karena aku tidak tahu penyebabnya apa, aku hanya mengutarakan perasaan yang aku rasakan." Kiana tersenyum.
Jovian menoleh lagi, menatap Kiana dalam waktu beberapa detik.
"Apa, … orang tuamu bicara?"
Kiana tergelak mendengar itu.
"Ya bicaralah, Om! Mama sama Papa kan normal, nggak bisu." Dia terus tertawa.
"Maksud saya bukan itu!" Suara Jovian terdengar rendah.
Kiana bergerak-gerak mengubah posisi duduknya sampai dapat menghadap kepada kepada Bodyguard pribadinya. Pun dengan Jovian yang juga ikut mengarahkan pandangan ke arah Kiana, saat dia mendekati lampu lalu lintas yang berwarna kuning, kemudian berubah menjadi merah, membuat mobil yang mereka tumpangi berhenti.
"Apa?" Kiana menatap wajah tampan itu lekat-lekat.
"Entah. Mungkin orang tuanya sudah membicarakan sesuatu yang serius?"
"Apa yah! Kayaknya nggak deh. Apa maksud Om soal asrama? Om ngadu yah sama Papa kalau aku pergi mabuk lagi, sama datang ke tempat drift mobil?"
Jovian menghela nafasnya, kemudian menggerakan lengan ke arah belakang kepala, dengan pandangan yang terus terlihat lurus kedepan.
"Saya tidak melakukan apapun."
"Lalu maksud Om Apa?"
Jovian diam.
"Om?" Kiana mencondongkan tubuhnya, membuat dia dapat melihat raut wajah Jovian dengan sangat jelas.
"Dih! Om lagi galau yah? Kenapa? Kangen mantan istri yah!?" Dia berusaha melontarkan candaan.
Namun anehnya justru membuat hati Kiana terasa sedikit ngilu.
"Hemmm, … melupakan seseorang yang sempat hadir di dalam hidup kita memang sedikit tidak mudah." Gumam Jovian.
Kiana yang mendengar itu mengangguk.
"Terus kenapa nggak Om cari? Kejar cintanya kalau Om benar-benar mau." Dia melanjutkan obrolan konyolnya. Walaupun sesuatu yang terkurung di dalam tulang rusuk sana terasa di remas dengan sangat hebat.
Jovian menoleh, dan pandangan keduanya saling beradu satu sama lain.
"Dia yang pergi. Bukan saya, lalu untuk apa saya mencarinya?"
"Terus Om maunya bagaimana?"
"Tidak bagaimana-bagaimana." Jovian kembali mengalihkan pandangan ke arah depan, menggenggam setir dengan erat, dan mulai melakukan mobilnya.
__ADS_1
Kiana menatap dalam diam.
"Ini privasi lho Om. Om nggak sadar yah kalau Om lagi ngasih tau sesuatu yang lebih pribadi ke aku? Padahal kemarin Om bilang Om …"
"Saya juga manusia biasa. Terkadang butuh mengatakan sesuatu agar tidak terus terpendam di dalam hati, efeknya tidak baik untuk tubuh, apalagi saat pikiran terus tertuju pada seseorang yang sudah sangat menyakiti kita."
"Maka dari itu carilah yang baru. Aku pernah baca kata-kata di internet. Jika kita patah hati, maka obatnya adalah jatuh cinta lagi, … mungkin Om juga harus begitu."
"Kamu pernah jatuh cinta?" Jovian menoleh.
"Mmmm, … pernah … ah apa belum ya?' Kiana kebingungan sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi rasa sukanya lagi berlangsung sih, tapi kayaknya dia nggak suka sama aku, jadi aku mundur sajalah dari pada sakit hati." Gadis itu terkekeh kencang.
Jovian melirik spion di hadapannya, menatap Kiana yang terus tertawa dengan mata yang terpejam.
"Anak tengil itu? Kenapa kau tidak menjalaninya saja? Mungkin kamu keliru, saya lihat dia menyukai kamu, Kiana. Lakukan apa yang kamu mau, hanya saja jangan ceroboh dan melakukannya di luar batas, atau saya akan menghukum kalian karena sudah melakukan hal buruk!" Katanya.
Namun Kiana segera menggelengkan kepalanya, menyangkal ucapan Jovian yang tertuju kepada salah satu temannya, Kevin.
"Aku bukan suka sama dia Om. Kevin itu sahabat aku, … eh masih bisa di bilang sahabat nggak yah? Soalnya sekarang mereka benar-benar meninggalkan aku sendiri. Tapi nggak apa-apa, toh sebentar lagi kan wisuda, nggak masalah kalau mereka menjauh, toh nanti mereka juga bakalan lupa, kita bakalan punya hidup masing-masing."
Jovian tampak tersenyum tipis, dan Kiana tentu saja menyadari itu.
"Yakin tidak akan menyesal? Waktu tidak banyak? Sementara kamu lebih memilih mundur daripada mendapatkan cintamu?"
Kiana tidak menjawab.
"Kenapa dia tidak mengerti yah!" Batin Kiana berbicara dengan perasaan sedikit kesal.
"Kepada saya kamu bisa bilang begitu. Kamu meminta saya mencari cinta saya, memperjuangkan cinta saya."
Kiana memejamkan matanya untuk beberapa saat, menghirup udara sebanyak mungkin, lalu menghembuskannya melalui mulut dengan sangat perlahan.
"Karena yang aku sukai bukan Kevin, Om." Tegas Kiana dengan suara rendahnya, namun terdengar frustasi.
Jovian menoleh.
"Lalu siapa? Yang satunya lagi? Serius? Kamu suka pria yang lembut seperti itu sampai jalan pun hampir menyerupai perempuan."
"Bukaaannn, Hilmi juga!" Pekik Kiana.
"Lalu?"
"Om."
"Hah? Maksudnya? Saya tidak mengerti. Ini sebenarnya kita bahas apa sih!" Pria itu terkekeh, dia masih belum menyadari apa yang Kaiana ucapkan.
"Om!" Kata Kiana lagi.
"Yang aku suka bukan Kevin, tapi Om."
Kening Jovian menjengit. Tidak ada reaksi apapun dari Jovian, entah itu terkejut atau hal lainnya, dia bahkan hanya memperlihatkan raut wajah datar seperti biasanya, membuat Kiana yakin jika dirinya harus benar-benar berhenti.
"Tapi sudah aku bilang. Aku mundur, seseorang mengatakan jangan pernah mencintai siapapun yang belum selesai dengan masa lalunya, atau aku akan terluka!"
"Lucu yah Om. Ada manusia yang berhenti sebelum memulainya sama sekali." Kian terus tersenyum.
Sementara Jovian tidak merespon apapun lagi.
Setelah itu keadaan menjadi sangat hening, dan keduanya berkendara dalam keadaan diam tanpa berniat bersuara lagi seperti beberapa menit yang lalu.
__ADS_1