
Jovian merasakan tempat tidurnya terus bergerak-gerak. Membuat dirinya yang sudah setengah terlelap kembali menarik kesadarannya.
"Baby?" Suara Jovian terdengar parau.
Dia membuka matanya, hanya untuk memastikan keadaan Kiana yang saat ini berbaring tepat di sampingnya.
"Hmmmm." Perempuan itu menjawab dengan sebuah gumaman pelan.
"Kamu baik-baik saja? Kenapa terus bergerak-gerak? Apa kamu tidak bisa tidur? Mau aku nyalakan lampunya?"
Jovian mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, lalu menurunkan kedua kakinya, dan berjalan mendekati saklar lampu, untuk kemudian menekan benda itu hingga mampu membuat ruangan itu menjadi terang benderang.
Mata Kiana memicing, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya, yang terasa sedikit mengganggu.
Perempuan itu bangkit. Mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk.
"Kenapa bangun? Tidur lagi saja!" Kata Jovian seraya kembali naik ke atas tempat tidur, dan menenggelamkan diri di balik selimut tebalnya.
"Sayang, tempat tidurnya kenapa terus terasa dingin. Aku nggak bisa, otot-otot tubuh aku rasanya sakit sekali." Kiana mengeluh.
Jovian menatap istrinya yang saat ini masih betah duduk, dengan ekspresi masam yang dia perlihatkan.
"Mau aku buatkan coklat hangat?" Tanya Jovian.
Kiana menggelengkan kepalanya.
"Aku udahngantuk. Tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk tertidur!" Kiana terus merengek.
Suaranya terdengar semakin mendayu-dayu, membuat Jovian semakin merasa gemas kepada perempuan yang saat ini memakai mantel yang sangat tebal.
"Kemarilah!" Jovian membuka kedua tangan, meminta Kiana untuk segera masuk ke dalam dekapannya.
"Tapi tempat tidurnya dingin sayang, aku nggak kuat. Dinginnya sampai menembus tulang tahu!" Perempuan itu masih mengeluh. Namun Jovian tampak menyunggingkan senyum.
Jovian beringsut mendekat, menyentuh pergelangan tangan Kiana, kemudian menarik perempuan itu sampai berbaring memunggungi, untuk kemudian Jovian dekap agar istrinya merasa sedikit lebih baik.
"Tidurlah, sudah lewat tengah malam. Dan jika kamu masih belum bisa tidur, maka rasa dingin akan semakin kamu rasakan."
Pria itu mencium puncak kepala istrinya, kemudian mulai memejamkan mata kembali, karena rasa kantuk itu masih terasa sangat berat. Namun, bukan Kiana namanya jika bisa langsung mendengarkan sesuatu yang diperintahkan. Bukannya tertidur, perempuan itu justru meraih ponselnya, dan memeriksakan suhu dingin di Pangalengan sana.
"Hhhheuh!" Kiana menghe nafanya perlahan. "Mau tidak beku bagaimana? Sepuluh derajat ternyata." Katanya sedikit berbisik.
"Tidur Kiana!" Tegas Jovian denga suara yang terdengar semakin malas.
"Baiklah baiklah." Dia menjawab, lalu meletakan ponselnya.
Kiana mencoba untuk memejamkan mata, berusaha untuk terlelap dalam lautan mimpinya. Tapi sepertinya tidak semudah itu, meskipun suasana sudah terasa lebih hangat, nyatanya perempuan itu tak mampu menjemput rasa kantuknya.
"Sayang?" Perempuan itu kembali memanggil Jovian.
Hening, pria yang sedang mendekap tubuhnya tak bereaksi sedikit pun.
"Sayang?" Panggil Kiana lagi, seraya menoleh ke arah belakang, dimana wajah Jovian langsung mendominasi.
Wajah yang begitu tampan dan sangat mempesona. Dengan hidung mancungnya, tulang rahang yang tegas, alis yang tebal, juga bulu mata yang panjang kini tampak terlihat lebih tenang.
"Sayang kamu sudah tidur?" Tak hentinya perempuan itu bertanya, meski sudah jelas-jelas hembusan nafas Jovian sudah terasa begitu teratur, dan itu membuktikan jika suaminya sudah terlelap begitu dalam.
Kiana memutar tubuhnya, hingga saat kini dia dapat menatap wajah Jovian dari jarak yang sangat dekat.
"Biasanya aku yang tidur lebih dulu, … dan kamu akan bangun lebih awal. Tapi sekarang aku melihat kamu dengan keadaan seperti ini, tenang dan sangat tampan." Dia memuji.
Tangan Kiana bergerak menyentuh pipi suaminya, dan mengusap rahang tegas milik Jovian dengan tatapan penuh kagum.
"Tahun ini usia aku dua puluh satu tahun. Dan aku bahagia sudah dapat menghabiskan waktu bersama kamu. Ini aneh bukan? Aku tidak pernah suka dengan siapapun, termasuk Kevin yang selalu menyatakan cintanya. Tapi lihat! Aku justru jatuh cinta dengan pria yang sangat dewasa seperti kamu." Ucap Kiana.
Perempuan itu diam, menatap wajah tampan Jovian lekat-lekat. Dan jantungnya selaku berdebar-debar, bahkan hanya karena memperhatikan suaminya tertidur.
__ADS_1
"Rasanya aku tidak percaya, tahun ini kamu akan berusia tiga puluh delapan tahun. Benarkah? Jika usia kita terpaut tujuh belas tahun? Sungguh kamu tidak terlihat seperti pria berusia matang." Ucapnya dengan raut wajah tidak percaya.
Kiana semakin mendekatkan diri, lalu kemudian dia mengecup bibir Jovian dengan lembut.
"Aku mencintaimu. Mungkin setelah ini aku harus berterimakasih kepada Papa. Meskipun awalnya Papa sedikit memaksa kamu agar mau menikahi aku, tapi aku bahagia karena kamu sudah menerima itu … entah cinta itu sudah tumbuh atau belum, tapi setidaknya kita bisa menjalani hari-hari indah bersama-sama, dan aku percaya cinta itu akan ada karena terbiasa. Semoga kamu mencintai aku seperti kamu mencintai Tante Eva dulu, wanita yang sempat memenuhi hati dan pikiran kamu, meskipun wanita itu sudah pergi jauh meninggalkan kamu sendirian tanpa sebuah alasan yang pasti." Kiana terus meracau.
"Mungkin memang tidak mudah menyingkirkan seseorang yang sangat spesial di dalam hati kita, lalu menggantikannya dengan orang baru. Tapi aku harap hubungan kita tidak hanya sekedar untuk coba-coba, aku harap kamu benar-benar …"
Kiana berhenti berbicara, bahkan dia mengatupkan mulutnya rapat-rapat saat tiba-tiba saja pria di hadapannya membuka mata.
"Baby? Sudah aku katakan. Aku tidak mengizinkanmu memikirkan hal-hal tidak baik, … termasuk masa lalu aku!" Jovian dengan suara paraunya.
Kiana bungkam.
"Tadinya aku hanya akan mendengarkan kamu berbicara seperti itu. Tapi semakin lama arah pembicaraannya mengarah pada suatu hal yang mungkin saja akan membuat kita bertengkar setelah ini." Lanjut Jovian.
Sorot matanya terlihat tajam dan mengintimidasi. Bahkan raut wajah Jovian terlihat datar, yang membuat pesona pria itu semakin memancar.
"Ya sudah, maafkan aku …"
"Kenapa meminta maaf, huh?" Sergah Jovian.
Satu tangannya menelusup masuk kedalam selimut, menyingkap gaun tidur yang Kiana kenakan, lalu mengusap kulit pinggang Kiana yang terasa begitu hangat.
"Emmmm, … ayo tidur lagi, maaf karena sudah membuat kamu terjaga kembali." Kiana mengusap lengan suaminya, lalu membenamkan diri pada dada bidang yang selalu terasa nyaman.
Namun, Jovian segera mendorong Kiana agar perempuan itu sedikit menjauh.
"Aku sedang berusaha tidur, … belum benar-benar tertidur. Tapi kenapa kamu terus berbicara? Dan setelah aku bangun justru kamu meminta aku kembali untuk tidur?" Jovian mencerca. "Tidak segampang itu, aku sedang berusaha meredam perasaan yang terus bergejolak, dan sekarang kamu harus meredamnya, sayang!" Tiba-tiba saja suara Jovian terdengar semakin rendah.
Setelah mengatakan itu keduanya sama-sama terdiam. Memindai wajah satu sama lain, dengan dada yang berdebar-debar.
"Kamu mau kita melakukannya?" Tanya Kiana.
Jovian tidak menjawab.
"Kamu benar, Baby. Kamar ini tidak memiliki peredam, jadi kita harus meredam suara kita sendiri." Jovian menyeringai.
Dia menarik pinggang istrinya dengan cepat, membuat mereka saling menempel satu sama lain. Jovian menundukan wajah, untuk kemudian menyambar bibir Kiana, yang langsung perempuan itu balas dengan lebih menggebu-gebu.
Tentu saja, nyatanya mereka berdua memang saling menginginkan satu sama lain.
Deru nafas terdengar saling bersahutan, di selingi decapan yang membuat suasana memanas dengan seketika. Apalagi saat tangan Kiana bergerak merayapi dada Jovian, semakin naik ke atas, dan melingkar erat di bahu kekar suaminya.
Ciuman keduanya semakin dalam. Dan entah sejak kapan kini mereka sudah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun di dalam balutan selimut tebal. Tidak ada lagi hawa dingin yang sangat menusuk, saat keduanya kini tengah berusaha menghangatkan tubuh masing-masing.
Mata Kiana terpejam, dengan mulut yang sedikit menganga, kala bibir Jovian kini menyusui tengkuknya. Menghisap cukup kencang, yang setelahnya meninggalkan bekas merah keunguan di area sana.
"Emmmmmhhhh!"
Tangan Kiana merayapi tengkuk bagian belakang suaminya, semakin naik ke atas, dan meremat rambut sedikit memanjang milik Jovian.
"Jangan bersuara terlalu kencang, ingat!" Dia berbisik tepat di daun telinga Kiana.
Perempuan itu menimpali ucapan Jovian dengan anggukan pelan.
"Baiklah. Bisa kita mulai, Baby?"
Kiana mengangguk lagi.
Jovian bangkit, namun tidak untuk memposisikan diri. Melainkan duduk setengah berbaring di samping Kiana. Membuat perempuan itu sedikit kebingungan.
"Kemarilah." Tangan Jovian terulur, meminta Kiana untuk segera mendekat.
"Huh!?"
Jovian tidak berbicara lagi, dia hanya meraih pergelangan tangan Kiana, menariknya sampai perempuan itu duduk mengangkang di atas pangkuannya.
__ADS_1
Dia tersenyum, seraya mengusap punggung istrinya dengan sangat perlahan-lahan. Lalu menekannya, sampai Kiana sedikit membungkuk, dan dapat menyatukan kedua bibir untuk kembali merasai satu sama lain.
Sementara Kiana fokus dengan ciumannya. Kedua tangan Jovian menyentuh pinggul Kiana, mengangkatnya dan mengarahkan sesuatu yang memang sudah berdiri kokoh.
Kiana melepaskan bibirnya, duduk tegap seraya menunpukan kedua tangan di dada suaminya, lalu menoleh ke arah belakang, saat merasakan sesuatu menghujam nya dari arah bawah.
"Hhhhhh!"
Jovian tersenyum saat Kiana menatapnya.
"Jika terus diam, maka rasanya akan semakin tidak nyaman, Baby!" Suara Jovian terdengar semakin berat.
Jelas, dia menahan sesuatu yang mungkin tidak akan bisa dia tahan. Sampai dirinya harus terus mempertahankan kesadarannya agar semua tetap terkendali. Tapi tentu saja tidak semudah itu, apalagi saat menatap ekspresi Kiana saat ini, dia terlihat kebingungan dengan rasa baru yang mungkin tidak membuatnya nyaman.
"Tapi dia sangat menggemaskan!" Batin Jovian berteriak.
Wajah memerah, mata sayu, dengan dahi mengkerut sampai membuat kedua alisnya hampir saling menyentuh satu sama lain.
"Sayanghhh …"
"Bergerak, Baby!"
Jovian mengangkat dan menurunkan pinggul Kiana dengan sagat perlahan. Membuat perempuan itu membuka mulutnya semakin lebar.
"It's okay, bernafaslah, … dan rileks." Jovian menahan geraman nya.
"Ini …."
"Tidak nyaman. Aku tahu, tapi rileks saja! Dan cobalah untuk bergerak perlahan, sayang." Pinta Jovian.
Pria itu berhenti. Membiarkan Kiana untuk mengatur nafas dan membiasakan dirinya. Sampai pada akhirnya Kiana mulai menggerakan tubuhnya naik turun. Awalnya memang terasa aneh, namun lama kelamaan dia merasakan sesuatu yang sangat gila.
"Hhhhhh, … sayang!" Mata Kiana terpejam, dengan gerakan tubuh yang semakin tidak terkendali.
Sementara Jovian tengah asik menyentuh setiap lekuk tubuh Kiana tanpa merasa puas.
Tubuh mungil itu meliuk-liuk, bergerak tak tentu arah dengan ekspresi wajah yang terlihat menggoda. Rintihan dan d**ahannya jelas terdengar tertahan, bahkan tak jarang Kiana menggigit bibirnya sendiri untuk menahan suara-suara erotis yang akan keluar dari mulutnya.
Dia berhenti.
"Sayang aku mau pipis dulu." Katanya dengan suara tersengal-sengal.
Kiana melepaskan pautan tubuh keduanya, segera bangkit, tapi saat hendak turun dari atas ranjang Jovian jelas kembali menariknya sampai perempuan terhempas berbaring terlentang di atas tempat tidur.
Dan tanpa aba-aba Jovian menerobos inti tubuh Kiana. Membuat Kiana hampir berteriak jika saja pria itu tidak membekap mulut istrinya dengan segera.
Jovian mulai berpacu, menghentak dengan sangat cepat, sambil terus membekap mulut istrinya.
"Heeeeemmmmmh!"
Mata Jovian mulai terpejam, keningnya menjengit, saat pelepasan sudah terasa dan hampir tiba. Darah terasa mengalir semakin deras, getaran-getaran di dalam tubuhnya terasa turun dan berkumpul di satu titik. Apalagi saat miliknya terasa di cengkram oleh sesuatu yang berkedut di dalam sana, membuat Jovian semakin tidak bisa mempertahankan kesadarannya.
Dan setelah beberapa saat Jovian menekan pinggulnya dalam-dalam, mengeluarkan sesuatu di dalam sana, seraya membenamkan wajah di ceruk leher Kiana dan melepaskan telapak tangannya dari mulut sang istri.
"Argghhh!" Suara itu terdengar rendah, keluar dari mulut keduanya secara bersamaan.
Suasana kembali menjadi hening, membuat suara-suara jangkri memenuhi indera pendengarannya. Bersahutan dengan suara nafas yang memburu dan tersengal-sengal dari Kiana dan Jovian yang baru saja menggapai pelepasan pada hampi pukul dua dini hari.
......................
Like, komen sama tabur-tabur jangan lupa, biar othor kembali semangat🤭
...Btw. Othor mau curcol sedikit ya :) Jika kalian nggak suka sama cerita yang othor buat, bisa di skip yah, jangan kasih rate jelek. Itu ngaruh banget sama performa karya. Kalo misalnya masih banyak typo, boleh di komen langsung nanti Othor benerin. Soalnya keyboard sama jempol othor gedean jempol othor, belum lagi othor pake google keyboard yang kadang suka berubah sendiri....
Mau kritik juga boleh, tapi bisa di sampirkan dengan sarannya yah :)
Cuyung kalian ♥️
__ADS_1