
Tidak seperti biasanya.
Malam hari terasa begitu hangat dan ramai di kediaman Jonathan yang terletak di tengah-tengah perkampungan. Puncak persiapan terjadi pada malam hari ini, tentunya setelah acara pengajian dan syukuran atas kehamilan Kiana selesai.
Area halaman depan kembali di rombak, kali ini banyak tiang-tiang penyangga berukuran kecil, dengan helaian kain tipis yang di tata sedemikian rupa. Tak lupa dengan bunga mawar berbagai macam warna, dan bohlam-bohlam kecil berwarna kuning menggantung di sana, membuat area rumah panggung itu sangat berbeda.
Kiana duduk di kursi rotan, menatap ke arah bawah, ketika semua orang disibukkan dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Pengantin tidak baik malam-malam berada di luar rumah, apalagi sedang hamil."
Suara itu terdengar dari arah dalam, membuat Kiana menoleh. Dan disanalah sosok pria yang dia ketahui sebagai sepupu dari suaminya.
"Memangnya tidak dingin, ya?' Ardan kembali bertanya.
Kemudian dia berjalan mendekat, dan duduk tepat di samping Kiana. Perempuan yang 10 tahun lebih muda darinya.
"Dingin, … cuman kalau di dalam juga bosen. Mami, Papi, Mama, dan Papa sibuk bikin dodol di belakang. Suami aku entah lagi kemana, kalau di kamar terus bikin sumpek, akunya stress." Kiana berujar.
Membuat tawa Ardan segera menyembur.
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu yah?" Kiana bertanya dengan raut wajah yang tidak bisa dijabarkan oleh kata-kata.
"Hemm, … kau lucu. Pembawaanmu ceplas-ceplos, tapi tidak membuat sakit hati sama sekali. Beda sama omongan orang kampung sebelah, sekali buka mulut yang keluar aib orang semua." Jelas Ardan kepada Kiana.
Kiana menggelengkan kepala.
"Ngeri!" Katanya.
"Nggak ada yang lebih ngeri daripada jatuh cinta sama orang yang lebih muda, Kia. Mereka sangat manja, belum lagi sikap egois yang terkadang tidak bisa dihilangkan, dan Jovian hebat bisa menangani itu." Ucap Ardan sambil tertawa.
Kiana yang sedari tadi memfokuskan diri pada aktivitas di sekitar rumah mertuanya kini menoleh, menatap Ardan yang duduk tidak jauh darinya.
"Maksudnya?"
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja aku sedikit heran, … apa yang kamu cari dari sepupuku? Jika dulu Eva menginginkan uangnya, atau mungkin beberapa petak tanah yang Om Jonathan miliki. Tapi kamu? Kamu mempunyai semuanya, tapi kamu memilih Jovian yang jelas umurnya jauh diatas kamu. Kau tahu? Gadis secantik dirimu masih bisa mendapatkan bule yang lebih muda." Ardan dengan rasa penasarannya.
Kiana tidak langsung menjawab, perempuan itu hanya diam seraya menatap wajah pria di sampingnya lekat-lekat.
"Apa yang membuatmu ingin bersama, Jovian? Apa dia menjanjikan sesuatu?"
Kiana masih diam.
"Tapi sepertinya tidak mungkin juga, kamu anak seorang pengusaha batubara. Jadi, …"
"Apakah cinta butuh sebuah alasan? Apa aku harus menjelaskan bagaimana aku mencintai pria yang usianya jauh diatasku? Yang tidak lain adalah saudara sepupumu sendiri? Aku memang bisa mendapatkan pria mana saja, tapi kalau sudah hati yang sudah memilih aku bisa apa?" Sergah Kiana.
Perempuan itu tidak membiarkan sepupu dari suaminya selesai berbicara.
Tatapan Kiana kini berubah menjadi tajam, dan membuat Ardan sedikit grogi karena perubahan sikap Kiana yang terlihat signifikan.
"Kamu terlihat berbeda ketika ada suami saya, tapi kenapa sekarang kamu seolah-olah sedang menguliti saya? Berbicara banyak hal yang tentu itu bukan kapasitas kamu. Ini rumah tangga kami, dan saya tidak akan memberikan alasan apapun, karena saya tidak mempunyai alasannya." Ujar Kiana, dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Arda mengatupkan mulutnya.
"Saya memang masih muda, umur kita terpaut tujuh belas tahun. Apa karena itu saya harus memberikan alasan kenapa saya mau Jovian nikahi?"
Ardan menggelengkan kepala, dia tampak tersenyum canggung.
"Oh, … bukan begitu, kau salah paham Kia!"
"Lalu apa maksudnya? Setiap pertanyaan kamu sudah menjelaskan, jika cara pandangmu terhadap saya sudah berbeda. Saya dan Eva adalah dua orang yang jauh berbeda, jadi aku mohon jangan di sama ratakan."
"Tidak, tidak. Aku hanya bertanya, serius! Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin meyakinkan saja, jika perempuan yang saat ini sudah bersama sepupuku wanita yang berbeda dari, …"
"Ah itu lagi!" Kiana memotong ucapannya. "Kenapa semuanya harus ada sangkut pautnya ke sana sih? Kaya nggak ada wanita lain buat di bandingin sama aku, kita jelas berbeda."
Ardan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Hmmm, … maaf karena sudah membuatmu tersinggung, aku hanya bertanya, sungguh."
Kiana menghela nafas, kemudian dia bangkit, dan melangkahkan kakinya ke arah dalam. Meninggalkan Ardan begitu saja.
"Haduh, brabe ini!" Ardan menyapu wajahnya. "Wanita hamil nggak bisa diajak bercanda yah? Serius aku hanya melontarkan guyonan, … masa tidak lihat juga ekspresi aku? Orang bercanda ini, nggak serius-serius amat."
Ardan berbicara, sambil menatap ke arah kaca dimana Kiana terlihat pergi memasuki kamar milik sepupunya.
"Aih aku tidak bermaksud begitu! Kenapa dia kelihatan marah sekali?"
Ardan terus berbicara, sampai dirinya tidak menyadari kedatangan seseorang, yang saat ini tengah menatapnya dengan ekspresi aneh.
"Siapa yang marah?"
Suara Jovian tiba-tiba terdengar, membuat Ardan sedikit terperanjat karena keberadaan sepupunya sendiri.
Pria itu menoleh, kemudian berdiri dengan raut wajah terkejut.
"Siapa yang marah?" Jovian menatap sepupunya penuh selidik, sehingga matanya tampak memicing.
Ardan tersenyum gugup.
"Tidak ada, aku hanya berbicara dengan istrimu tadi. Tapi dia sedikit berbeda yah? Tidak bisa diajak bercanda."
Tak!!
"Sudah aku ingatkan. Berhentilah mendekati istriku, … jauhkan tatapan genit itu dari Kiana, dia masih sangat lugu untuk mengetahui jenis laki-laki seperti dirimu."
"Aih, … kenapa di sentil!" Cicit Ardan seraya mengusap-usap telinganya yang terasa panas bekas sentilan Jovian yang cukup kuat.
__ADS_1
Pria yang di maksud hanya mendelik, lalu menerobos masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Ardan.
"Kebiasaan dari dulu tidak pernah hilang, dia selalu melakukan itu seolah aku ini anak kecil yang sangat nakal." Ardan menggerutu.
***
Klek!!
Jovian mendorong pintu kamar, menyembulkan kepala untuk memantau situasi di dalam kamarnya. Dan disanalah Kiana, berjalan mendekati tempat tidur dengan langkah gontainya.
"Baby?"
Dia masuk, kemudian menutup pintu kamarnya kembali, sehingga keriuhan dari arah luar sedikit tersamarkan.
Kiana menoleh, raut wajahnya terlihat masam. Namun, di detik berikutnya sebuah senyuman terbit, membuat Jovian ikut tersenyum kepada pujaan hatinya.
"Kamu pulang?" Dia segera menghambur ke dalam pelukan Jovian.
Matanya terpejam, seraya menghirup aroma yang sangat dia senangi. Tidak tahu kenapa, semuanya terasa lepas ketika dia dapat mencium aroma khas suaminya.
"Kenapa? Kamu mual-mual?"
"Tidak."
Pandangan Jovian menunduk, menatap wajah cantik tanpa polesan makeup yang kini sedang menempel di dadanya.
"Oh ya? Bukankah kamu selalu merasa mual dan muntah ketika aku tidak ada?"
Kiana mengangguk.
"Mungkin malam ini si kembar tahu, kalau Papa nya sedang sibuk mempersiapkan segala macam kebutuhan." Pandangan Kiana menengadah, sehingga keduanya dapat saling melihat satu sama lain.
Memindai wajah yang mereka cintai.
"Ah pintar sekali mereka ini!" Katanya, seraya memindai wajah Kiana, kemudian mengusap lembut pipi perempuan itu dengan punggung tangannya.
Kiana mengulum senyum.
"Ardan mengganggumu, ya?"
"Iya, dia bertanya kenapa aku mau kamu nikahin. Terus pertanyaannya semakin jauh saja, seolah-olah dia sedang menggali informasi."
Kekesalan yang awalnya sudah menghilang, kini terasa kembali sehingga membuat wajah manis itu berubah lagi.
"Kamu kesal?"
"Iya."
"Sudah aku sentil tadi, … aku membalaskan dendam mu. Jadi jangan kesal lagi yah? Sebaiknya sekarang kita tidur, besok harus bangun pagi-pagi sekali. Kamu harus dirias, dan itu membutuhkan banyak waktu."
Kata Jovian, kemudian semakin menunduk, sampai pria itu dapat mencium kening sang istri dengan bibirnya.
Kiana mengangguk, dia melepaskan lilitan kedua tangan dari pinggang suaminya, kemudian mundur beberapa langkah.
"Aku tidak akan lama." Jovian tersenyum.
Kiana mengangguk.
Dia membiarkan Jovian berjalan mendekati pintu kamar mandi, membuka benda itu yang semula tertutup rapat, dan menghilang setelah Jovian benar-benar masuk ke dalam sana.
20 menit berlalu, suara gemericik air dari dalam kamar mandi sudah menghilang, dan tidak lama setelahnya pintu kamar mandi di buka dari arah dalam. Munculah Jovian dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Pria berkulit putih, dengan ukiran otot yang indah, membuat Jovian terlihat semakin tampan, apalagi dengan rambut acak-acakan yang terlihat masih menitikkan air.
"Kenapa belum tidur?" Dia bertanya saat mendapati Kiana masih terjaga.
Kiana tidak menjawab, dia hanya terus memperhatikan suaminya yang sedang berjalan mendekati lemari pakaian.
Kiana menyibakan selimut, dia bangkit, menurunkan kedua kakinya, lalu menyentuh ujung sweater yang perempuan itu pakaian saat ini, kemudian menarik lepas sampai hanya menyisakan kacamata pembungkus gunung Sinabung.
Dia berjalan mengendap-endap, membuka kedua tangannya, dan menyelinap di antara celah pinggang Jovian, untuk kemudian melingkarkannya kembali di sana dengan pipi yang menempel di punggung pria itu.
Sehingga Jovian dapat merasakan kehangatan di bagian belakang tubuhnya.
"Baby, biarkan aku berpakaian du, …"
Belum selesai Jovian berbicara, Kiana mengecup punggung kokoh milik suaminya, membuat pria itu diam seketika.
Jovian menoleh, dan betapa terkejutnya saat mendapati Kiana sudah tidak memakai pakaian bagian atas, sampai apa yang sangat menggoda imannya terlihat jelas.
"Hey apa yang kamu lakukan?" Jovian memutar tubuhnya.
Kiana tersenyum penuh arti.
"Pakai bajunya, … selain dingin kau juga akan membangunkan sesuatu."
Jovian berjalan mendekati ranjang tidur, kemudian membawa sweater yang awalnya dia kenakan. Hendak memakaikannya, tapi Kiana menghindar untuk menolak.
"Baby?" Dia yang hanya memakai ****** ***** pun berjalan mengejar-ngejar Kiana.
Perempuan itu tertawa pelan.
"Aku tidak mau pakai, aku mau begini saja, sayang!"
"Dingin!" Jovian masih berusaha mendapatkan Kiana.
Kiana menggelengkan kepalanya, dia mendekati Jovian dengan sengaja, lalu merebut sweater miliknya, dan melemparkan ke sembarang arah.
"Baby, jangan mengujiku!" Suara Jovian terdengar rendah.
__ADS_1
Kiana menatap raut wajah Jovian yang kini terlihat sangat serius. Dia membuka celana panjangnya, untuk kemudian semakin merapatkan diri pada tubuh suaminya yang masih bertelanjang dada.
Jovian tertegun.
"Apa yang kamu inginkan, hum? Sampai melakukan hal seperti ini?"
Kepala Kiana mendongak, menatap pria tinggi di hadapannya. Hasratnya tiba-tiba menanjak, sampai ekspresi wajah perempuan itu terlihat datar dengan mata sendu.
Kiana berjinjit, meraih pundak Jovian, dan mendaratkan kecupan hangat di bibir suaminya, yang berujung dengan French kiss.
Mata keduanya terpejam.
Suara decapan mulai terdengar, ketika mereka saling memagut satu sama lain.
"Baby kau akan membuat aku, …"
Kiana kembali membungkam Jovian dengan ciuman memabukan.
Jovian mendorong pundak Kiana, berusaha melepaskan diri, sebelum akhirnya dia tidak mampu mengendalikan diri.
"Stop, … stop!"
"Aku yang ingin, sayang!" Kiana menggigit bibirnya.
Jovian diam, matanya bergerak-gerak, menelisik manik indah milik istrinya yang saat ini sudah terlihat berkabut.
"Aku yang ingin, apa kamu akan menolakku?" Kiana berbisik.
Tangannya bergerak, menyentuh sesuatu yang sudah terbangun di balik ****** ***** sana.
"Kamu bilang stop, tapi sudah ada yang mengeras!" Kiana tersenyum jahil.
Rahang Jovian terlihat mengeras. Dia merasa gemas dengan kelakuan istrinya malam hari ini. Pria itu membungkuk, meraup pinggang sang istri dan memeluknya erat, sampai keduanya tidak berjarak sama sekali.
Jovian kembali melanjutkan kegiatan yang sempat terjeda, yang di balas Kiana lebih menggebu-gebu lagi. Decapan kembali terdengar mengudara, memenuhi langit-langit kamar pada hampir pukul sepuluh malam.
Kiana menarik diri, lalu menarik tangan Jovian sampai mereka sampai di samping tempat tidur.
"Kamu yakin? Kita ada acara besok." Jovian berbisik.
Kiana tidak berbicara lagi, dia hanya menatap wajah dan dada suaminya bergantian. Lalu kemudian mendorong dada bidang itu, sampai Jovian jatuh terlentang diatas tempat tidur. Perlahan-lahan Kiana naik ke atas tempat tidur, dan mendudukan diri di atas tubuh suaminya.
Tangan Jovian bergerak, mengusap perut Kiana yang sudah sedikit mengeras.
"Kamu tahu? Dia sudah bergetar-getar di dalam sini." Ucap Kiana dengan suara rendah.
Tangannya bergerak menyentuh punggung tangan Jovian yang tengah asik mengusap-usap permukaan kulit perut.
"Ada apa ini? Kenapa kau terlihat sedang menggodaku?"
Kiana menunduk, sampai wajah keduanya kini berjalan satu jengkal saja.
"Karena aku ingin, … mungkin si kembar rindu Papanya."
Tangan Jovian bergerak ke atas, kemudian meremat gundukan kembar yang saat ini terlihat lebih besar. Dan tentu saja dirinya sangat menyukai itu. Jovian memeluk tubuh mungil Kiana, bangkit, dan segera membalikan keadaan. Sehingga kini Kiana berada di bawah kungkungan tubuh kekarnya.
"Kau suka sekali yah mengujiku!" Kata Jovian saat kening mereka saling menempel.
Kiana tidak bersuara, namun tangan kecilnya merayapi punggungnya Jovian, sampai pria itu semakin merasa tidak sabar. Tangannya menyelinap ke belakang, meraih pengait bra, lalu menarik benda itu setelah berhasil melepaskannya.
Dengan perasaan tidak sabar Jovian meraup puncak bulatan kenyal, dan menyesapnya kencang sampai membuat Kiana tak karuan.
Tubuhnya menggelinjang, merasakan sensasi yang sangat gila, apalagi saat Jovian memberikan gigitan kecil di sana.
"Oh sayang!" Tangannya merayap semakin ke atas, meremat rambut Jovian kencang.
Jovian menarik wajahnya, menatap wajah Kiana yang sudah sangat memerah. Lalu dia tersenyum, dengan tangan yang tak pernah berhenti menyentuh setiap lekuk tubuh istrinya.
Tubuh Kiana meliuk-liuk, dengan suara-suara erotis yang terus keluar dari mulut Kiana.
Jovian mulai menanggalkan satu-satunya pakaian yang melekat di tubuhnya, dan setelah dirinya polos tanpa sehelai benangpun, Jovian melakukan hal yang sama kepada Kiana, sehingga mereka sama-sama tidak memakai apa-apa.
Kiana menatap tubuh indah suaminya dari arah bawah, sambil mempermainkan jari-jari tangannya disana. Sementara Jovian mulai mempersiapkan diri, membuka kaki Kiana selebar mungkin.
"Ngghhhh!"
Kiana mengerang, ketika sesuatu yang sudah sangat mengeras memasuki inti tubuhnya.
Jovian membungkuk, kembali menciumi setiap jengkal dari tubuh istrinya, membuat reaksi Kiana semakin menjadi-jadi. Tubuhnya bergerak tak tentu arah, rintihan dan desahannya semakin terdengar kencang, sampai Jovian tidak memiliki pilihan lain kecuali membekap mulut Kiana.
Pria itu menghentak dengan sangat kencang, menikmati pergumulan pada malam hari ini yang terasa sangat menyenangkan. Tangan Kiana menggapai tubuh suaminya, dan Jovian hanya membiarkan Kiana melakukan apapun yang dia inginkan.
Kening Kiana menjengit, sehingga kedua alisnya terlihat hampir saling menyatu satu sama lain. Tubuhnya bergetar, nafasnya memburu, dengan wajah yang terlihat semakin memerah.
"I'm coming, Babe!" Jovian dengan suara bergetar.
Dia semakin mempercepat hentakannya, apalagi saat merasakan sesuatu dibawah sana dicengkram dengan sangat kencang, membuat Jovian semakin kalang kabut dan tidak bisa mengendalikan diri.
Kiana menepis tangan kekar Jovian yang terus membekap mulutnya, kemudian beralih memeluk tubuh pria itu, dan membenamkan wajah di bahu sang suami, berusaha untuk meredam suara erotis yang terus dikeluarkan dari mulutnya.
"Euhhhhh, … sayanggggh!!" Tubuh Kiana semakin bereaksi.
Mata Jovian terpejam, ketika sesuatu terasa mengalir dari ujung kepala, mengalir hingga ujung kaki, dan di detik berikutnya sesuatu terasa membludak, menyembur dari bawah sana.
"Ohhhh!!"
Jovian membenamkan wajah di ceruk leher Kiana, lalu tubuhnya ambruk.
__ADS_1
......................
😘😘😘