
"Saya tidak terima yah! Anak saya hampir meregang nyawa gara-gara Kiana. Seharusnya pihak kampus sudah mempertimbangkan dia, sudah tahu urakan masih dipertahankan, … mau sampai kapan kampus ini mempertahankan anak seperti itu? Apa sampai muncul korban baru?"
Seorang wanita terlihat begitu emosi, ketika dia menghadap kepada Dosen yang memang menghubunginya untuk segera datang.
"Kami tidak bisa sembarangan mengeluarkan pelajar, jika itu yang Ibu maksud. Hanya saja Kiana ini anak yang cerdas, … dia hanya terlalu kasar saja. Dan itu menjadi pertimbangan bagi pihak kampus." Jelas Dosen pembimbing kelas Kiana dan Hendi.
Matanya terlihat merah dan membulat sempurna, nafasnya memburu, terlihat sangat jelas jika Ibunda dari Hendi itu merasa tidak terima atas apa yang Hendi alami.
Dia hendak kembali membuka mulut, namun sesuatu menghentikannya.
Tok tok tok!!
Seluruh perhatian tertuju ke arah suara terdengar. Seorang pria tinggi besar, dengan setelan jas serba hitam, berdiri di ambang pintu dengan seorang gadis yang berdiri di belakangnya.
"Oh, ini dia pelakunya!" Wanita itu bangkit, berjalan mendekati Kiana, dan hampir saja meraih rambutnya.
Beruntung Jovian segera menghalangi wanita itu sampai dia tidak dapat melakukan apapun kepada gadis di belakangnya.
"Jauhkan tangan anda, Maaf. Kiana datang kesini untuk memberikan keterangan, tidak untuk membuat keributan." Kata Jovian dengan nada bicara datarnya seperti biasa.
"Kiana, silahkan masuk." Dosen wanita mempersilahkan.
Jovian dan Kiana segera beranjak masuk, lalu duduk di sofa yang berada di sana, duduk berhadapan dengan seorang pria yang terlihat lebih muda dari Danu.
"Ini siapa Kia? Dimana orang tuamu?"
Dosen itu bertanya.
"Saya minta jangan terlalu banyak berbasa-basi yah!" Wanita itu kembali mendekat, mengatakan telunjuk tangannya ke arah Kiana.
"Kamu harus tanggung jawab, tulang leher anak saya hampir patah." Dia masih berteriak.
Seorang Dosen wanita kembali menghampiri, kemudian berusaha menenangkannya, ketika amarahnya benar-benar semakin tersulut apalagi ketika Kiana datang kesana.
"Bu? Jika Ibu tidak tenang maka tidak akan ada musyawarah seperti ini. Kami mendatangkan pihak dari Kiana dan Henti agar menemukan titik terang, dan mencari akar permasalahannya."
Kiana menatap dosen wanita itu lekat-lekat.
"Anda perwakilan dari orang tua Kiana?" Tanyanya kepada Jovian.
"Benar. Tapi mungkin sebentar lagi beliau akan datang, hanya menghadiri satu rapat penting, setelah itu Pak Danu datang memenuhi panggilan anda." Jovian menjelaskan.
Dosen pria itu mengangguk.
"Kalau begitu anda boleh tunggu di luar saja. Yang ada disini hanya orang-orang berkepentingan saja!"
__ADS_1
Namun, Jovian segera menggelengkan kepalanya, dia menolak permintaan sosok pria dengan usia yang mungkin saja 5-7 tahun di atasnya.
"Saya tidak bisa membiarkan Kiana dalam bahaya. Seseorang terlihat sedang sangat murka, saya tidak mau mengambil resiko!" Tegas Jovian.
"Kiana aman, Pak!"
"Tidak. Saya akan keluar jika Pak Danu sudah tiba, dan Kiana benar-benar aman dari amukan seseorang." Jovian menatap tajam ke arah wanita berpakaian modis, yang Jovian yakini adalah ibu dari pria yang memanggil calon istrinya seorang pelacur.
"Jika dia mengatakan itu kepada Kiana. Mungkin maksud anak tengil itu akulah pelanggannya!" Batinnya berbicara dengan perasaan sedikit tidak terima.
Jelas saja. Anak laki-laki itu mengumpat setelah melihat Poto mereka berdua bukan? Jadi kurang lebih Hendi mengatakan itu untuk Kiana juga dirinya.
"Saya tidak mau tahu! Pokoknya keluarga Kiana harus mengganti rugi kepada keluarga saya terutama Hendi. Biaya rumah sakit, dan apa yang anak saya alami, dia terbaring lemah dirumah sakit, tidak bisa mengikuti mata kuliah mungkin sampai beberapa bulan, dan itu semua gara-gara anak nakal ini! Hendi mendapatkan banyak kerugian."
"Ibu bisa diam dulu nggak? Saya belum ditanya dari tadi, tapi Ibu terus maki-maki saya!" Kiana mulai membuka suara.
"Eh tidak sopan, …"
Wanita yang juga saat ini duduk di sofa yang sama mulai kembali bangkit, dia hampir saja menjambak rambut Kiana, namun dengan sekali gerakan tangan Jovian menghadangnya.
"Tolong tenang sedikit Bu Lia!" Pihak kampus kembali berbicara, mereka mulai kewalahan dengan sikap wanita itu.
Tok tok tok!!
Pintu ruangan tersebut kembali terdengar di ketuk dari arah luar. Dan setelah dibuka munculah Danu, dengan kemeja dan jas kerjanya, Hanya membawa sebuah ponsel yang segera Danu masukan kedalam saku jas sana.
Dengan penuh wibawa Danu melangkahkan kaki, mendekati sofa dan duduk di sana setelah Jovian segera berdiri, dan keluar tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Silahkan, Pak Danu. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan, mungkin sebagian Kiana sudah bercerita, saya memanggil Pak Danu dan Bu Lia kemari untuk mencari akar masalah dan menyelesaikannya, … mungkin jika bisa berakhir secara kekeluargaan."
"Tidak bisa! Saya mau pihak dari Kiana ganti rugi." Katanya.
Dia menatap Danu kemudian mendelikan mata.
"Baik, baik. Jika Ibu mau ganti rugi, sebutkan saja berapa …"
"Nggak bisa gitu, Pah!" Kiana meraih lengan ayahnya.
"Sebentar dulu ya, Bu Lia!" Tegas Dosen.
Setelah mengatakan itu. Dia menoleh ke arah Kiana juga Danu.
"Kia? Bisa jelaskan pemicu awalnya sampai kamu mencekik Hendi?"
Kiana menganggukan kepala. Lalu dia segera menjelaskan apa yang memang benar-benar terjadi. Dari Hendi yang mengumpat hal-hal kurang baik, juga melempar punggungnya dengan sepatu.
__ADS_1
Hanya satu yang Kiana tidak katakan. Yaitu masalah foto yang seseorang tempel di sebuah papan pengumuman, karena Kiana merasa tidak perlu.
Ya, cukup dirinya dan Jovian yang tahu masalah yang satu itu.
Semua orang yang mendengar diam. Termasuk Danu, yang tiba-tiba saja menatap putrinya penuh dengan penyesalan.
"Saya tidak akan menyerang. Jika seseorang tidak memulainya terlebih dulu. Apa menurut Ibu pantas? Anak Ibu berbicara jika ayah saya akan mati terkena serangan jantung? Hanya karena memiliki anak yang suka keluyuran seperti saya!" Kiana menatap wanita di hadapannya tanpa merasa gentar sedikitpun.
"Saya memang bebas. Papa saya mengizinkan saya untuk menikmati hidup, memasuki hiburan malam bukan hal awam bagi saya, tapi saya tahu diri, tahu batasan juga." Jelas Kiana.
Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, menatap Kiana tajam dari atas hingga kebawah.
"Halah, … alibi! Semua orang yang ada disini sudah tahu bagaimana kamu!"
"Semua anak muda pasti pernah berada di masa-masa nakal seperti saya, Bu!" Kiana mulai beradu argumen.
Bahkan nada suaranya naik satu oktaf, hingga dengan segera Danu meraih tangan putrinya, meminta Kiana untuk berhenti.
"Begini. Yang Hendi lakukan memang salah, tapi pembelaan Kiana juga tidak bisa dibenarkan. Jadi seharusnya tidak lagi diperpanjang, … Kiana tidak akan melakukan itu kepada Hendi, jika Hendi tidak memanggil Kiana dengan sebutan merendahkan seperti yang Kiana jelaskan tadi. Saya harap sampai sini Bu Lia paham." Jelas Dosen.
"Tidak bisa!" Wanita itu bangkit. "Saya mau ganti rugi, atau saya perpanjang melalui jalur hukum." Katanya.
"Di kantor polisi, mau sesalah apapun Hendi. Saya yakin Kiana pasti di hukum karena dia mencoba melakukan sesuatu yang akan menghilangkan nyawa seseorang."
Danu memejamkan matanya, kemudian menatap wanita itu.
"Jadi apa yang anda inginkan? Pihak universitas saja sudah sangat bijak menanggapi ini, … tapi anda mempersulit semuanya." Ucap Danu.
"Saya mau 200jt!"
"Apa!?" Kiana memekik. "Ibu gila yah! Ini pemerasan." Tegas Kiana, dia merasa tidak terima.
"Ya sudah. Saya ajukan laporan hari ini juga."
"Emmm, … baik. Itu urusan saya nanti, anda bisa hubungi saya, dan bawahan saya yang akan mengurus semuanya." Danu memberikan sebuah kartu nama, yang dengan senang hati wanita tadi terima.
Kiana menatap ayahnya lekat-lekat, lalu menggelengkan kepala.
"Pah!"
"Jovian akan mengurusnya, Kia. Tenang!"
Danu beralih kepada kedua Dosen yang berada disana.
"Kalau begitu saya pamit. Jika masih ada masalah maka bisa hubungi saya."
__ADS_1
Pamit Danu, dia bengakit dan menarik Kiana keluar dari ruangan sana, setelah Kiana juga berpamitan terlebih dahulu kepada dua orang Dosen yang sangat dia kenali.