
Keesokan harinya pagi-pagi sekali di dalam sebuah ruangan cukup besar, yang Jovian jadikan sebagai ruang kerjanya.
Seperti biasa pria itu duduk di kursi kerja, menatap layar komputer yang menyala, memantau sesuatu yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Dan itu sedikit membuat Jovian gemas, karena masih belum bisa melacak pelaku utama yang membuat rekaman cctv hilang.
"Siapa yang sedang ingin bermain-main denganku!" Pria itu bergumam, dengan pandangan yang terus menatap lurus ke arah depan.
Matanya memicing, namun tidak sedang melihat apapun. Melainkan mencoba menerka-nerka, siapa sosok yang sudah menyabotase cctv kampus, mengambil foto secara sembunyi-sembunyi, lalu menempelkannya di papan pengumuman, dan itu jelas tindakan yang disengaja.
Tiba-tiba saja ponsel yang berada di atas meja bergetar, dan menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.
Membuat Jovian segera meraih handphone miliknya, lalu menatap layar untuk memastikan.
"Iya Pih."
Jovian menyapa setelah menggeser tombol berwarna hijau terlebih dahulu.
"Kamu baik-baik saja?" Jonathan bertanya, dengan nada bicara yang terdengar khawatir.
"Baik, Pih!"
Pria itu terkekeh cukup kencang. Jelas, apa yang dia lakukan pagi ini akan membuat Jonathan khawatir, pasalnya Jovian menghubungi sang ayah hampir enam puluh kali, saat seseorang disana tidak ada yang menjawab.
"Lalu apa maksudnya lima putih tiga panggilan tidak terjawab? Kamu mau membuat Papi dan Mami jantungan pagi-pagi." Jontah menggerutu.
"Habisnya kenapa tidak ada yang menjawab."
"Ya setidaknya kirim saja pesan yang jelas, tidak usah melakukan panggilan sebanyak itu. Setelah tahu, Mami jadi sangat khawatir kepadamu. Ada banyak pekerjaan di kebun belakang rumah, toh pesan dari kamu pun pasti Papi baca!"
Jovian tersenyum.
"Jadi kenapa?"
"Aku mau berbicara sangat serius. Tentang pernikahan aku dan Kiana." Jelas Jovian.
"Kenapa? Kamu masih belum mendapatkan mobil yang cocok?"
"Salah satunya itu. Sebenarnya kemarin malam aku mau tanya, mobil apa yang Kiana mau. Tapi seperti biasa aku selalu lupa, dia mengalihkan semuanya sampai aku hanya bisa fokus kepada Kiana." Katanya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Helaan nafas di seberang sana terdengar sangat kencang. Dan membuat Jovian tertawa, karena membayangkan raut wajah kesal Jonathan, saat dirinya terus bertingkah konyol karena seorang gadis.
"Kamu melakukan panggilan berkali-kali hanya ingin mengatakan jika Kiana terus memenuhi pikiranmu? Sampai kamu tidak dapat berpikir jernih seperti sekarang?"
"Bukan." Tawa Jovian semakin kencang.
"Dasar ana durhaka. Bisa-bisanya dia tertawa saat ayahnya yang sudah tua merasa sangat ketakuta." Jonathan sedikit berteriak.
"Aku mau akadnya di percepat saja bagaimana? Aku tidak bisa membiarkan Kiana kemanapun sendiri. Setidak jika sudah menikah aku dapat membawa Kiana kemanapun aku pergi, termasuk memantau para pekerja disana."
Jovian beralasan. Tentu saja bukan karena dia tidak tega terus meninggalkan Kiana, dan menjalin hubungan jarak jauh untuk sementara. Melainkan godaan yang selalu datang jika dirinya selalu berdekatan dengan sang pujaan hati. Rasanya sangat berat jika setiap malam harus menahan rindu.
"Acara pernikahannya mau kamu percepat, Jovian?"
"Hanya akadnya saja. Kalau resepsi ya selesai Kiana wisuda saja." Jovian menjelaskan.
Senyumannya merekah, dada berdebar-debar seperti bom waktu yang akan meledak.
"Kamu ini bagaimana? Awalnya bilang mau akad dulu, terus meminta acaranya di adakan secara serentak. Lalu sekarang berubah pikiran lagi, … mau pakai alasan apa kamu kepada Pak Danu dan Bu Herlin. Mereka akan sangat terkejut jika kamu terus meminta memaju atau memundurkan acara."
"Aku belum memberi tahu Pak Danu. Mungkin setelah ini aku menghubungi beliau, dan memberitahukan jika aku ingin segera menikahi Kiana. Secepatnya, kalau bisa besok." Dengan entengnya Jovian mengucapkan itu.
Sementara Jonatha terdengar kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Dia ini ada gila-gilaannya."
__ADS_1
"Memang. Dan itu karena calon menatu Papi!"
"Aneh sekali. Dulu kamu selalu bersikap tenang, jika Eva meminta segala sesuatu dengan terburu-buru kamu selalu berbicara 'masih ada waktu, tenang saja' tapi sekarang, kamu melakukan semuanya seolah takut jika Kiana akan ada yang merebunya darimu."
Jovian bergerak untuk membenahi posisi duduknya.
"Papi tahu sebesar apa cintaku kepada Eva dulu? Dan pastinya Papi juga tahu sebesar apa cintaku kepada Kiana sekarang. Lebih besar dan besar lagi, Pih!" Kata Jovian dengan wajah yang terlihat sedikit merona. Bahkan bibirnya terus tersenyum-senyum, saat sesuatu tiba-tiba melintas di dalam isi kepalanya.
Bayang-bayang keseharian setelah dia menikahi Kiana tiba-tiba. Gadis yang akan selalu manja kepada dirinya, meminta banyak hal, dan banyak lagi yang menjurus pada hal yang lebih sensitif. Apalagi setelah malam sebelumnya, gambaran Kiana tanpa balutan busana terus menghantui.
Tubuh gadis muda yang terlihat segar, dada yang sesuai dengan postur tubuhnya, kulit putih bersih, dan rambut pendekat yang acak-acakan. Belum lagi tatapan sendu namun tajam, yang terlihat sangat pasrah meskipun dirinya melakukan banyak hal.
Jika di bandingkan dengan Mayden. Jelas perbedaan sangat jauh terlihat, walaupun Jovian belum pernah menatap wanita itu tanpa busana, tapi pakaiannya saat berada di pusat kebugaran tentu saja sudah membuktikan jika segala yang wanita idamankan ada pada Mayden.
Namun tingkah laku menggemaskan Kiana membuat semua itu tidak berarti.
"Jovian?"
"Jovian?"
"Apa kau masih disana?"
Jonathan terus memanggil-manggil, sementara pria itu sibuk dengan bayang-bayang Kiana.
"Astaga anak ini."
Setelah itu Jonathan memutuskan sambungan teleponnya. Yang langsung membuat Jovian sadar ketika mendengar suara operator.
Tuuuuttttt!!
"Papi?" Panggil Jovian, kemudian dia menjauhkan benda pipih itu dari daun telinganya saat tidak mendengar apapun dari seberang sana.
Pria itu mendengus kencang, segera mematikan komputer, dan beranjak pergi dari ruangan kerjanya ke arah luar.
***
Matanya berbinar, juga senyuman tertahan, dan kedua pipi yang terlihat sangat memerah. Bak seperti tomat yang sudah sangat matang.
Dengan semangat yang membara, Kiana segera berbalik badan, kemudian berlari ke arah luar kamarnya dengan kecepatan tinggi, sampai gadis itu tidak sadar entah berapa anak tangga yang dia lompati.
Sementara Jovian yang baru saja sampai. Dia segera menerobos masuk, setelah meminta izin kepada salah satu asisten rumah yang sedang menyiram tanaman-tanaman hias milik Herlin.
"Sayang!!" Suara itu menggema.
Jovian terperanjat melihat Kiana yang berlari sangat kencang ke arahnya. Lalu dia bersiap-siap menangkap gadis itu yang mungkin saja akan melompat seperti yang selalu gadis itu lakukan.
Brugh!!
Dan benar saja, Kiana langsung melingkarkan tangan dan kaki di tubuh tinggi besar Jovian. Sementara pria itu hanya tertawa terbahak-bahak.
"Jangan terus melakukan itu. Nanti kamu jatuh, … dan akan membuatku sangat sedih." Jovian menyentuh pipi Kiana, seraya memberikan usapan yang sangat lembut, seolah dirinya takut melukai kulit wajah yang sangat mulus milik belahan jiwanya.
"Kamu kesini, … padahal masih pagi." Kiana sedikit memundurkan kepalanya agar dapat menatap wajah Jovian dengan jelas.
Pria itu tersenyum, lalu menganggukan kepalanya.
"Kamu baru selesai mandi?"
Tanya Jovian saat menghirup aroma segar pada diri Kiana. Yang langsung gadis itu jawab dengan anggukan samar.
"Sudah. Sarapan juga sudah, … tapi Bibi bikinin aku cream sup."
Jovian mengulum senyum, dengan jemari tangan yang tak hentinya mengusap wajah, dan memainkan helaian rambut Kiana.
__ADS_1
"Rumahmu sepi sekali. Di luar juga hanya ada Bibi, yang lainnya kemana?"
"Mereka minta izin buat pergi. Hari ini gajian, mungkin mau healing." Kiana terkekeh, lalu turun dari atas gendongan Jovian.
"Bibi tidak ikut?"
"Katanya mau nyusul kalau sudah selesai mengurus tanaman-tanaman punya Mama. Soalnya cuma Bibi yang ngerti, … dan di percaya buat ngurus bonsai Mama."
Jovian menimpali dengan anggukan kepala.
Kiana meraih tangan Jovian, menarik dan membawa pria itu ke arah dalam. Hal yang tidak Jovian duga kembali terjadi, gadis itu tidak membawanya duduk di ruang keluarga, atau kursi pinggir kolam yang ada di taman belakang rumah, melainkan menaiki tangga, yang sudah bisa Jovian tebak jika Kiana akan membantu ke dalam kamarnya.
"Baby!"
"Aku mau ngasih tau sesuatu." Kiana menoleh sekilas dengan senyuman khasnya.
"Apa?"
Kiana tidak menjawab, dia hanya terus menariknya hingga benar-benar menapakan kaki di lantai dua, dan memasuki sebuah kamar dengan cat berwarna magenta yang mendominasi di dalam sana.
"Undangannya sudah datang. Tinggal di bagikan saja!" Kiana memperlihatkan sebuah container box perukurab sedang, dimana terdapat tumpukan kartu undangan disana.
Peraduan warna hitam dan emas, membuat kartu undangan itu terlihat elegan.
"Kapan?"
"Tadi jam enam, orang percetakan datang mengantarkan ini. Katanya Papa yang minta kapanpun pekerjaannya selesai maka harus cepat di anatrakan. Abangnya bilang selesai tadi malam, tapi mereka antar pagi saja soalnya takut ganggu istirahat orang rumah." Gadis itu menjelaskan.
Jovian tersenyum penuh arti, dia melangkah semakin mendekat, kemudian membawa salah satunya, dan melihat dengan seksama.
"Kata Papa. Mami sama Papi nggak mau undang orang sana yah!?"
Jovian mengalihkan pandangannya dari benda itu, ke arah Kiana.
"Mami mau ada acara ngunduh mantu. Jadi orang sana akan di undang di acara yang Mami dan Papi adakan."
Kini Kiana yang mengangguk.
Keduanya sama-sama diam untuk beberapa saat. Melihat-lihat nama yang tertera di kartu undangan sana, yang Kiana ketahui sebagian besar adalah rekan bisnis dari ayahnya, maupun teman-teman arisan dari sang ibunda.
Kiana mendongakkan kepala, menatap Jovian dengan senyuman tertahan. Hal yang sama Jovian perlihatkan, lalu kemudian keduanya sama-sama mendekat tanpa mereka sadari.
"Aku tidak mengerti, kenapa kamu senang sekali memakai pakaian super mini saat berada di rumah." Jovian berbisik, seraya menatap dress rumahan di atas lutut yang Kiana kenakan.
Kiana tersenyum malu-malu.
"Aku juga nggak ngerti. Kenapa kamu kelihatan ganteng banget kalau lagi pakai kaos berkerah seperti ini. Warna gelap juga membuat kulit kamu terlihat semakin cerah." Kiana membalas pujian Jovian.
Pria itu terkekeh.
"Jadi kalau pakai setelan jas tidak tampan seperti sekarang?"
"Ish, … nggak kok! Cuma tampilan sekarang kelihatannya beda banget. Kamu pakai celana jeans, kaos lengan pendek, sampai ininya kelihatan jelas banget, … dan aku suka." Dia menyentuh otot tangan Jovian.
"Yasudah, ayo kita turun. Nanti Bibi memberi tahu Pak Danu jika kita berduaan di kamar."
Jovian merentangkan tangan. Menunggu Kiana raih, agar dia dapat membawa gadis segera keluar dari ruangan yang sangat berbahaya menurutnya.
Namun, Kiana menggelengkan kepala. Dia berjalan ke arah pintu kamar, dan menutupnya dengan segera. Membuat Jovian terdiam dengan pikiran-pikiran gila di dalam otaknya.
Kiana berjalan semakin mendekat, berjinjit untuk meraih pundak Jovian, dan mempertemukan bibir keduanya.
......................
__ADS_1
...Ayo timpukin Kiana sama Si Om pake hadiah sama vote🤪...
...Ritual like, komen sama masukin rak jangan lupa! yang belum rate, rate juga yah🤭 cuyung kalian😘...