
Leni menyusun toples-toples kue kering di atas meja ruang televisi. Kemudian satu keranjang berisikan buah-buahan, tidak lupa air minum kemasan gelas di atas sana. Membuat meja di hadapan tv itu menjadi sangat meriah, persis seperti akan menggelar acar cukup besar.
"Memangnya mereka jadi berangkat hari ini?"
Jonathan keluar dari dalam kamar. Berjalan lamban ke arah istrinya, lalu duduk di atas sofa sana, seraya menyalakan televisi.
"Bukannya Papi mendengar tadi? Kalau Jovian dan Kiana sudah sedang berada di dalam perjalanan. Jangan bilang Papi lupa lagi!" Leni bangkit, kemudian berjalan ke arah dimana meja makan berada.
Wanita itu kembali menata beberapa masakan di atas sana. Kemudian menutupnya dengan tudung saji, agar beberapa hidangan istimewa yang dibuatnya sendiri terhindar dari hinggapan lalat atau jenis serangga lainnya.
"Sudah sampai mana, Jovian?"
"Mungkin satu setengah jam lagi sampai. Makanya Mami siapkan ini semua, … agar saat Kiana sampai dia bisa langsung makan! Biasanya perjalanan jauh membuat seseorang terus merasa lapar karena rasa lelah yang mereka alami." Jawab Leni.
Langkah kakinya kembali bergerak ke arah ruangan televisi, terus berjalan ke arah ruang tamu, lalu keluar untuk duduk di kursi rotan depan rumah, menunggu kedatangan anak dan menantunya.
Wanita itu terlihat begitu semangat saat mengetahui Jovian akan pulang bersama istrinya. Yang tentu saja kabar itu sudah di dengan oleh orang satu kampung. Seketika ucapan-ucapan selamat Leni dapatkan, juga tak luput dari pertanyaan untuk acara yang mungkin akan segera diadakan oleh keluarga cukup terpandang di desa itu.
"Amih? Kamarnya Aden udah Wiwin bersihin. Masak sama beberes dapur juga sudah selesai kan yah? Kalau begitu Wiwin pamit pulang." Seseorang yang Leni panggil untuk membantunya, keluar dari dalam rumah.
"Moal eumam heula? (Nggak makan dulu?)"
"Wios, engkin deui we. (Nggak apa-apa, nanti lagi aja.)" Kata Wiwin.
"Langsung pulang?"
Wiwin langsung menjawab dengan anggukan.
"Sakeudap atuh! (Sebentar dulu!)"
Leni hampir bangkit untuk masuk ke dalam rumahnya. Namun, panggilan Wiwin jelas membuat wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya.
"Tadi udah dikasih Apih." Ucap Wiwin, dia mengerti maksud dari wanita pemilik rumah yang selalu memakai jasanya untuk beberapa pekerjaan.
Dan setelah mendengar itu Leni tersenyum, lalu kemudian menganggukan kepala.
__ADS_1
"Nuhun. (Terimakasih.)"
"Sami nuhun, Amin. (Terimakasih kembali, Amih.)" Wiwin tersenyum.
Dan setelahnya perempuan itu segera beranjak pergi, menuruni setiap anak tangga rumah panggung dengan sangat hati-hati. Sementara Leni kembali duduk, dan menunggu dengan tidak sabar kedatangan Kiana.
Kedatangan Jovian memang selalu Leni tunggu. Namun, kehadiran Kiana jelas membuatnya semakin spesial. Entah kenapa dia sangat menyukai gadis belia itu. Apa karena sudah menyelamatkan Jovian dari keterpurukannya? Atau karena kerendahan hatinya? Entahlah, ada sesuatu yang tidak dapat Leni jabarkan dengan kata-kata.
Kesan pertama kali dirinya melihat Kiana memang sedikit berbeda. Pribadinya yang tumbuh dan dibesarkan oleh keluarga serba berkecukupan, membuat Leni tidak yakin jika Kiana dapat masuk kedalam hidup Jovian, apalagi jika mengingat bagaimana sudut pandangan keluarga Eva terhadapnya dulu, membuat dirinya sedikit merasa ragu dan takut saat Jovian mengatakan jika Kiana adalah calon istrinya .Tapi setelah mengenal gadis itu lebih jauh, ternyata Kiana tidak seburuk yang Leni bayangkan. Bahkan keluarganya terlihat begitu menerima mereka, tidak ada kata kesetaraan sosial, dan itu membuatnya benar-benar merasa lega.
"Kok melamun!?" Jonathan tiba-tiba datang, dan duduk tepat di kursi rotan yang terletak di sebelah istrinya.
Leni mengalihkan pandangan ke arah samping, dimana seorang pria asing berambut putih duduk.
"Benar kata Papi. Nggak semua orang kaya itu seperti orang tuanya Eva." Leni tersenyum lega.
"Mami masih saja memikirkan itu?" Jonathan tertawa. "Sudah Papi jelaskan, … mungkin sebagian besar seperti itu, tapi tidak semua. Dan keluarga Kiana sudah mematahkan pikiran burukmu terhadap calon istri anak kita."
Jonathan mengingat beberapa kejadian. Dimana istrinya selalu merasakan khawatir, terutama setelah keseriusan Jovian terhadap putri dari atasanya sendiri.
"Tapi kenyataannya tidak seperti itu bukan? Kiana tidak memberatkan Jovian. Begitu juga dengan Pak Danu, dia menerima apa yang anak kita berikan dengan tangan terbuka. Tanpa banyak berbicara apalagi menggunjing latar belakang Jovian. Yang hanya seorang anak dari petani sayur dan teh."
Leni mengangguk-anggukan kepala, dengan senyuman tipis yang terlihat jelas menghiasi wajahnya.
Dua orang tua itu terus berbincang tentang banyak hal, sampai setelah 2 jam lamanya. Mobil berwarna merah melaju dengan kecepatan sedang, memasuki pekarangan rumah yang sangat luas, lalu berhenti tepat di dekat tangga untuk menaiki rumah panggung itu.
Leni yang sudah berada di dalam rumah pun segera berlari, berdiri di ambang pintu menatap dua orang yang keluar dari dalam sana secara bersamaan. Pandangan antara ibu mertua dan menantunya itu kini saling bertemu, kemudian tersenyum satu sama lain.
"Mami tungguin dari tadi. Akhirnya kalian sampai!" Leni menyambut Kiana dengan segera.
Dia merentangkan tangannya, sementara perempuan yang baru saja resmi menjadi bagian dari keluarganya berlari menaiki tangga, dan memeluk ibu dari suaminya cukup erat.
"Bagaimana perjalanannya?" Leni bertanya sambil mengusap-usap punggung menantunya.
Kiana mengurai pelukan mereka, sampai pandangan itu kembali beradu.
__ADS_1
"Sangat melelahkan. Punggung aku pegal-pegal, … tapi Om Jovian bawa aku istirahat beberapa kali." Jela Kiana.
"Sepanjang perjalanan kamu tidur, lalu kenapa masih merasa kelelahan?" Jovian menyahut.
Dia naik dengan membawa satu koper berukuran besar, dimana pakaian miliknya dan Kiana berada di dalam sana.
"Kiana belum terbiasa, Jo!" Leni menjawab untuk membela menantu cantinya.
"Bagaimana kabar Mami? Terus Papi dimana?" Tanya Kiana dengan raut wajah berbinar.
"Seperti yang kamu lihat. Mami sehat, dan harus tetap sehat agar dapat membantu kalian mengurus anak nanti, … kalau Papi sedang di kebun belakang rumah, tadi disini nungguin, tapi kalian belum datang juga. Jadi ke saung menemani beberapa pekerja yang sedang istirahat."
Leni segera mengiring Kiana masuk ke dalam rumah. Sementara Jovian berjalan mengikuti dari belakang. Memasuki rumah kayu bergaya panggung itu dengan hati yang menghangat. Ada banyak momen masa-masa lampaunya disana, dan Jovian selalu merindukan halnitu.
"Kamarnya sudah Bi Wiwin bersihkan tadi. Istirahatlah dulu, … setelah itu kita makan bersama, tadi Mami masak banyak, beli kue juga dari tetangga, kata Jovian kamu suka cemilan-cemilan manis. Jadi Mami belikan kue kering kacang mete rasa coklat, … kamu pasti suka!"
Kiana hanya terkekeh mendengar itu.
"Jo, jangan ganggu Kiana. Biarkan dia istirahat yah! Kasihan istri kamu lelah sekali." Leni memperingati anak keduanya.
Jovian mengangguk.
"Memangnya Mami bayangin aku gimana?" Kata Jovian saat dia membuka pintu kamarnya.
"Mami pernah muda, … tahulah bagaimana pengantin baru. Jadi jangan berpikir seolah-olah Mami tidak tahu apa-apa." Celetuk Leni tanpa merasa sungkan.
Dan ucapan itu membuat tawa Kiana semakin pecah, dengan kedua pipi merona. Bayang-bayang kesehariannya setelah menikah kembali berputar di dalam ingatan, dan itu membuat Kiana malu apalagi saat mengingat kegilaan-kegilaan yang selalu dilakukan hampir setiap ada kesempatan bersama suaminya.
"Ah otakku!" Batin Kiana berbicara.
......................
Maaciw dukungan yang selalu kalian berikan kepada othor remahan kaleng kongguan ini. Responnya bagus-bagus, othor seneng baca komen-komen dari kalian, kadang sampe senyum-senyum sendiri.
Sekali lagi maaciw ya, cuyung kalian banyak-banyak. Jangan lupak, like, komen, bunga, kopi, dan Vote.
__ADS_1