Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Ask for a solution.


__ADS_3

Klek!!


Pintu dari sebuah bangunan di kawasan perumahan elit berukuran besar itu terbuka. Dan tampaklah seorang gadis yang membukakan pintu untuk dirinya.


"Pak, Jovian." Dia menyapa.


Jovian hanya mengangguk.


"Denis ada?" Pria itu bertanya dengan raut wajah datarnya, membuat seorang gadis yang dia ketahui sebagai pengasuh dari anak sahabatnya terlihat gugup.


Ah sepertinya bukan gugup, melainkan rasa takut yang gadis itu perlihatkan, karena Jovian memang selalu memasang ekspresi sekaku itu kepada siapapun.


"Saya panggil dulu. Bapak silahkan masuk." Katanya seraya membuka pintu rumah itu selebar mungkin.


Jovian melangkah masuk kedalam rumah sana. Kemudian duduk di sofa yang tersedia. Dia menempelkan punggungnya pada sandaran sofa, menatap sekitar ruangan yang terlihat begitu nyaman, dengan aksesoris dan furniture yang tertata sangat rapi.


Tidak lama setelah duduk seseorang kembali datang. Membawa sebuah nampan berisikan secangkir kopi panas, dan setoples kue kering.


"Silahkan, Pak Jovian. Bapaknya mungkin sedang mandi, atau menidurkan Dendi." Wanita paruh baya itu tersenyum ramah.


Jovian mengangguk.


"Terimakasih, Mbok."


"Iya, Pak." Balasnya kemudian kembali berlalu dari sana.


Sekitar sepuluh menit menunggu. Akhirnya Denis terlihat berjalan mendekati dirinya yang saat ini duduk di sofa ruang tamu, disusul seorang wanita yang tentu saja sudah Jovian kenali.


"Duda udah jarang banget nih mampir!" Wanita itu mengucapkan candaan.


Membuat Jovian menggelengkan kepala, dengan mata yang mendelik.


"Aku kira kamu bercanda saat memberi kabar kamu akan mampir sebentar." Kata Denis kepada sahabatnya.


"Aku serius." Sergah Jovian.


Kemudian dia beralih kepada wanita yang berada di dekat sahabatnya.


"Sita apa kabar? Bagaimana? Apa kamu masih waras menghadapi suamimu ini?" Jovian mengulurkan tangannya.


"Seperti yang kamu lihat, Jo. Dia selalu membuat aku pusing, tapi aku tidak berniat menyerah." Sita meraih tangan Jovian sampai keduanya saling berjabat tangan.


"Ah itu lagi!" Jovian memutar bola matanya.


Sita dan Denis tertawa.

__ADS_1


"Maaf aku datang malam-malam begini, mengganggu malam kalian, … tapi sepertinya aku benar-benar butuh pencerahan."


Sepasang suami istri itu mengangguk, kemudian mereka duduk saling berhadapan satu sama lain.


"Ada apa? Apa masih tentang Kiana dan Pak Danu?"


"Pak Danu?" Sita meracau. "Kenapa dengan Pak Danu? Dia marah? Atau Kiana yang membuat masalah?" Perempuan itu tampak panik.


"Sayang ini soal lain." Denis menoleh ke arah istrinya.


"Oh syukurlah." Sita bernafa lega.


"Jika aku mengatakan kejadian waktu itu gila. Kejadian tadi lebih gila lagi, Denis. Aku benar-benar pusing harus bagaimana sekarang."


Denis menatap wajah sahabatnya lekat-lekat. Sampai keadaan hening untuk beberapa menit, ketiganya mengarungi pikiran masing-masing.


"Mmmm, … coba bicarakan, mungkin Sita bisa membantu persoalan laki-laki, termasuk persoalan yang sedang kamu hadapi seperti sekarang."


Jovian menghela nafasnya dengan kasar, seolah sedang mengeluarkan beban hidup yang sangat berat.


"Tadi, … Kiana mengatakan jika dia menyukaiku!"


Ucapan itu sontak membuat mata Denis membulat, dan tertawa setelahnya.


"Sungguh? Anak dan ayah memburumu dalam waktu yang bersamaan." Denis tergelak.


"Jangan terus meledekku. Aku sudah pusing, tolong berikan aku solusi."


Denis menatap istrinya.


"Apa kamu keberatan dengan ini semua, Jo?" Akhirnya Sita bertanya.


Dan tentu saja Jovian menjawab dengan anggukan penuh keyakinan.


"Kenapa? Bukankah bagus? Kamu tidak perlu susah payah meminta wanitamu kepada orang tuanya. Seperti halnya dengan Eva dulu, kau sampai bertekuk lutut hanya untuk mendapatkannya, … tapi apa yang kamu dapatkan setelah itu? Dia meninggalkanmu. Tapi bukan itu poin pentingnya, … namun bagaimana cara seseorang mencintai. Jika Kiana memang mencintaimu, maka apa salahnya untuk mencoba, aku tidak tahu betul apa yang sedang kamu alami, tapi percayalah jika seorang gadis merasakan cinta lebih dulu, maka itu akan lebih baik, dia akan memberikan cintanya kepadamu dalam jumlah yang besar." Jelas Denis.


"Apa bisa? Hidup bersama tanpa ada rasa cinta dari salah satunya. Termasuk aku yang tidak mencintai Kiana, … dia bukan tipeku sama sekali, dia berbeda dari gadis lainnya, dia terlalu liar!"


"Kau tidak bisa memanfaatkan keadaan, Jo. Justru disitulah istimewanya Kiana. Dia berbeda dari gadis kebanyakan, … tapi dia baik, aku sering menemuinya, dan dia gadis yang sopan, dia hanya berbuat buruk pada orang-orang tertentu! Dan soal rasa, aku yakin cinta itu datang dengan sendirinya." Sita menatap sahabat suaminya lekat-lekat.


"Lalu kepada Pak Danu? Dia juga bersikap sedikit buruk. Kepadaku beberapa kali, tapi setelah itu dia tidak berani."


"Dia hanya sedang tidak suka dikekang, Jo. Makanya begitu." Sita kembali berbicara.


Dia terus memberi penjelasan, seolah pakar ahlinya dalam mengatasi setiap sikap perempuan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa. Bukan masalah rasa atau apapun! Aku ini pria dewasa, jelas tidak bisa bermain-main lagi dengan sebuah hubungan, apalagi pernikahan. Aku tidak bisa berpura-pura."


"Memangnya Pak Danu memintamu untuk berpura-pura?" Denis memicingkan mata.


Jovian menggelengkan kepala.


"Aku takut akan ada perjanjian seperti itu setelahnya. Kau tahu? Banyak film seperti itu, mereka menuruti keinginan para orang tua, dan membuat sebuah kontrak tertulis dengan materai yang menjadi pelengkap."


Denis tersenyum. Dia mulai mengerti kekhawatiran sahabatnya. Bukan masalah cinta yang tidak Jovian rasakan, atau sikap Kiana yang memang sangat berbeda, melainkan pria itu tidak mau bermain-main, karena ada banyak impian yang ingin segera diwujudkan, termasuk seorang anak yang selalu Jovian katakan, kala dia bermain dengan Dendi, putranya.


"Maka jelaskan hal ini kepada Kiana juga Pak Danu. Jika dia tidak keberatan, maka lakukan. Segera raih keluarga bahagia yang kamu inginkan, gadis muda, cantik dan menggemaskan ada di hadapanmu, Jo. Untuk urusan hati, pelan-pelan saja, nanti juga Kiana yang akan menempati posisi Eva sekarang." Sita Berujar.


Jovian menatap dua orang di hadapannya bergantian. Seperti sedang meyakinkan hati atas apa yang Sita juga Denis katakan.


"Aku tidak memaksamu untuk menerima Kiana karena aku sudah lebih dulu bekerja pada Pak Danu. Namun apa salahnya jika kamu mencoba, umur tidak menjamin kedewasaan seseorang, Jo. Mungkin akan ada hal yang membuat Kiana seperti anak kecil, karena memang usianya masih sangat belia, … tapi kita juga tidak tahu, sedewasa apa jika dia sedang menghadapi masalah."


Dan untuk kali pertama. Jovian melihatDenis lebih bersungguh-sungguh. Pria itu berbicara dengan ekspresi wajah serius, tidak seperti biasanya yang selalu menyelinginya dengan sebuah candaan.


"Tanyakan kepada hatimu, Jo. Jika kau yakin, maka melangkah dan terima tawaran Pak Danu. Tapi jika ragu dan hatimu masih memilih Eva, maka jangan lakukan itu, … kamu akan menyakiti Kiana, dan membuat Pak Danu kecewa dan marah."


Jovian menghempaskan punggungnya kembali pada sandaran sofa, menghembuskan nafasnya kencang, seraya memijat pelipisnya dengan keadaan dua bola mata yang tertutup.


"Jangan terburu-buru. Pikirkan dulu, atau rundingkan ini bersama Pak Danu, dia bisa memberimu solusi, karena itu yang Denis dapatkan jika kita sedang mempunyai banyak masalah rumah tangga. Dia memang sebaik itu, Jo!"


"Baik Sita. Aku akan mencoba beberapa saranmu, dan memikirkan ini matang-matang."


"Sebenarnya apa yang membuatmu se bimbang ini?" Denis masih penasaran. "Apa tawaran kedua itu? Ayo beritahu, kita sahabat, Jo."


Jovian mengubah posisinya menjadi duduk tegak. Dia meraih cangkir kopi yang seorang asisten rumah suguhkan, kemudian meneguknya sedikit demi sedikit.


"Aku akan memberitahukan itu nanti." Jelas Jovian. Dia segera bangkit, kemudian berjalan ke arah luar.


"Aku pamit. Terimakasih kopinya!" Dia mengangkat satu tangannya.


Dua orang itu diam saling menatap dengan ekspresi bingung. Kemudian pandangannya beralih kembali pada Jovian yang masih mengenakan setelan jas lengkap, membuktikan jika pria itu benar-benar belum pulang ke apartemennya, padahal dia sudah pulang sejak tadi sore bersama Denis.


Jovian terlihat memasuki mobil, dan benar-benar pergi setelahnya.


"Apa yang membuat dia seperti itu?' Denis bergumam.


"Eva. Dia begitu karena Eva, dia seperti ingin menunjukan sesuatu pada mantan istrinya, … tapi dia ragu untuk membuka hatinya." Sita menjelaskan.


"Astaga!" Denis menyapu wajahnya.


Sita segera beranjak pergi, kembali memasuki kamarnya, meninggalkan Denis begitu saja.

__ADS_1


"Ipah? Pah? Tolong tutup pintunya, kunci dan bawa gelas kopi bekas Jovian ke dapur." Denis berteriak, kemudian dia beranjak menyusul istrinya yang sudah memasuki kamar.


__ADS_2