Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Hasil USG


__ADS_3

Suasana rumah sakit sudah terasa semakin sunyi, kala antrian pemeriksaan satu-persatu mulai terselesaikan. Tinggallah Jovian dan Kiana yang masih menunggu giliran, karena keduanya datang dan mendaftar saat nomor absen sudah hampir habis.


"Ny. Jasmine Kiana Danuarta!"


Dan panggilan itu terdengar, setelah menunggu kurang lebih 30 menit lamanya.


Jovian segera berdiri, kemudian mengulurkan tangan, yang seketika Kiana terima sampai keduanya berjalan beriringan mendekati sebuah pintu ruangan Dokter, dimana terdapat seorang petugas medis berdiri disana sambil tersenyum ramah.


"Di timbang sama periksa tekanan darah, dan setelah itu baru bisa menemui Dokter, yah!?" Katanya sambil tersenyum.


Kiana hanya mengangguk, kemudian mendekati salah satu meja yang berada tepat di hadapan pintu masuk. Pertama perempuan itu menaiki timbangan, lalu kemudian duduk dan mengulurkan tangan kanannya, yang segera di pasangkan alat tensi darah.


Jovian diam memperhatikan dengan dada yang berdebar-debar. Tidak pernah dia merasakan hal seperti ini, dan apa yang pria itu alami sedikit membingungkan. Rasa senang, bahagia, gugup, dan entah harus bagaimana lagi Jovian menjelaskannya, karena dia benar-benar tidak tahu. Karena pada kenyataannya saat ini dia justru malah mau menagis.


"Hal yang aku tunggu-tunggu sejak dari lama. Dan ini cukup membuat jantungku terus berdebar." Batin Jovian berbicara, dengan pandangan yang terus ditujukan kepada Kiana yang sedang melakukan pemeriksaan awal.


"Berat badan ibunya normal, hanya tekanan darah yang rendah yah. Tapi tidak apa-apa, masih bisa dikembalikan setelah meminum beberapa vitamin resep dari Dokter nanti."


Kiana mengangguk.


"Beberapa Minggu belakangan saya mengalami pusing, mual dan muntah, sus!" Terang Kiana.


"Sudah telat datang bulan?"


Kiana sedikit terlihat berpikir, lalu dia menggelengkan kepalanya.


"Saya lupa, soalnya kalau haid jarang lihat kalender." Ujar Kiana lagi.


Asisten Dokter yang bertugas itupun mengangguk, kemudian berdiri dan mendorong pintu ruangan Dokter yang terlihat sedikit terbuka.


"Silahkan masuk." Katanya, lalu membuka benda itu sampai terbuka lebar.


Kiana meraih uluran tangan Jovian, kemudian dia bangkit perlahan-lahan.


"Sayang, aku gugup!" Kiana segera berbisik.


"Hemm, … kamu tidak tahu saja bagaimana jantungku saat ini." Jovian balas berbisik.


Mereka berjalan beriringan memasuki ruang pemeriksaan. Dengan tangan Kiana yang seketika dia tempelkan untuk memeriksakan.


Dan benar saja, debaran di dada suaminya terasa begitu kencang, sampai dirinya dapat merasakan hal tersebut.


"Silahkan duduk." Seorang Dokter laki-laki berbicara.


Membuyarkan lamunan keduanya yang tengah asik beradu pandangan dengan perasaan masing-masing.


"Eeee, … selamat sore Dokter." Jovian tersenyum, kemudian menerima uluran tangan dari pria berjas putih tersebut.


"Kenapa datangnya sore sekali? Sebenarnya saya sudah berniat menutup pendaftaran pasien. Tapi tiba-tiba masuk lagi." Katanya sambil tersenyum.


"Kami tidak tahu jadwalnya ada sejak kapan dan sampai kapan, Dok." Kiana menyahut.


Mereka berdua duduk di kursi yang sudah disediakan. Sehingga Dokter dapat menatap wajah Jovian juga Kiana dengan sangat jelas.


Dokter menunduk, membuka sebuah laporan hasil pemeriksaan awal Kiana, lalu membacanya dengan seksama.


"Pemeriksaan awal hanya menggunakan testpack? Lalu hasilnya garis dua samar-samar?" Pria itu menatap Jovian dan Kiana bergantian.


Kiana segera mengangguk.


"Sekitar seminggu yang lalu, saat saya umroh Dok. Sampai sekarang belum di periksa lagi, … mungkin mau memastikan keadaannya atau usia janin yang sudah saya kandung saja dulu."


Dokter mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ada kendala dari makanan? Atau sesuatu yang memicu rasa pusing, mual, dan muntah itu sendiri?"


"Kalau pusing bisa kapan saja, Dok. Tapi kalau mual dan muntah selalu terjadi di sore hari, … tadi juga sebelum berangkat sempat muntah-muntah lebih dulu." Perempuan itu menjelaskan sedetail mungkin.


Pria dengan jas putih itu segera bangkit, lalu berjalan lebih dulu mendekati sebuah tempat berbaring. Dimana terdapat beberapa alat di dekat sana. Sementara sang asisten sudah siap memegangi selimut untuk di pakaikan kepada Kiana.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita lihat. Apa sudah ada kantung janinnya."


"Semoga ada Dok!" Asisten Dokter itu menimpali, dengan senyum hangat di bibirnya.


Kiana berjalan mendekat, dan setelah sampai dia segera naik dibantu oleh Jovian.


"Masih pakai jeans?" Dokter menatap Kiana sambil tersenyum, tapi sorot matanya terlihat begitu tajam.


Kiana tidak menjawab, dia hanya berbaring. Lalu membuka pengait celana, dan setelahnya di tutup oleh selimut tipis.


"Bisa lebih ditarik kebawah?" Wanita itu bertanya.


"Bisa, Sus."


"Lain kali tidak boleh pakai jeans lagi yah!" Dokter mulai membawa alat USG. "Kasihan, walaupun masih kecil, tapi takutnya terjadi sesuatu kalau memakai celana yang ketat, apalagi kita tahu bagaimana bahan jeans itu sendiri." Pinta Dokter.


"Iya Dok." Katanya sambil menatap name tag. Dimana disana tertuliskan (Edy. SpOG).


Percakapan terus berjalan, sampai Dokter mulai membubuhkan gel di atas perut Kiana. Sementara Jovian diam seribu bahasa, dengan debaran yang terus meningkat.


Layar monitor mulai memperlihatkan bayangan-bayangan berwarna hitam putih. Ketika Dokter terus mencari posisi yang pas, hingga setelah beberapa saat tampaklah dua bulatan kecil yang terletak berdekatan.


Dokter tersenyum, seraya mengalihkan pandangan kepada Kiana juga Jovian.


"Kantung janinnya sudah kelihatan. Ada dua, … dan untuk usianya sudah dapat diperkirakan. Mungkin sudah jalan dua belas Minggu."


Raut wajah Jovian berbinar, bahkan kedua sudut bibirnya saling tertarik berlawanan sampai membentuk sebuah senyuman tipis, dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak ada lagi yang dapat Jovian lakukan, selain mengucapkan rasa syukur di dalam hati atas apa yang sudah Tuhan berikan.


Bukankah ini sebuah keajaiban? Disaat nasib rumah tangganya berada di ujung tanduk? Semuanya terjadi bahkan setelah Kiana mengucapkan niatnya untuk segera berpisah. Namun, Tuhan memang mempunyai rencana, sampai semua ini terjadi dan mereka akan tetap bersama-sama.


"Terimakasih, Tuhan. Karuniamu menyelamatkan sebuah hubungan yang akan benar-benar hancur karena sebuah kesalahpahaman diantara kami berdua." Batin Jovian bersorak mengucapkan rasa syukur.


Setelah melakukan USG. Jovian kembali menggiring Kiana untuk turun, yang kemudian membawanya kembali duduk di kursi semula.


"Sudah lihat ya? Kantung janinnya ada dua. Karena anda lupa hari pertama haid terakhir, … dari segi ukuran saya bisa pastikan jika janinnya sudah mau memasuki usia dua belas Minggu." Dokter Edy berujar.


Kiana dan Jovian mengangguk bersamaan, lalu tersenyum.

__ADS_1


"Saya resepkan beberapa vitamin yah? Untuk susu bisa dicari sesuai keinginan sendiri. Jangan lupa banyak makan-makanan yang bergizi, terutama yang mengandung asam folat, oke? Saya juga memberikan obat penguat kandungan, … di minum di awal trimester saja untuk berjaga-jaga, karena ada dua calon bayi yang harus ekstra diperhatikan. Dan satu lagi, jangan kelelahan apalagi banyak pikiran."


"Terimakasih, Dokter." Ucap Jovian.


"Sama-sama."


"Oh iya, apa boleh saya bertanya sesuatu?" Jovian sedikit terlihat ragu.


Bahkan wajahnya sedikit memerah, dan itu tidak tahu kenapa.


"Tanyakan saja."


"Untuk trimester awal ini. Yang boleh dan tidak bolehnya apa saja, Dok?"


"Seperti yang saya katakan tadi. Perbanyak makan-makanan bergizi, memiliki kandungan asam folat diutamakan, lalu jangan stres dan banyak pikiran. Ibu hamil harus bahagia." Dokter itu kembali menerangkan.


Dengan senyuman yang tak hentinya terlihat.


Jovian diam.


"Mungkin yang lain, Dok. Soal suami istri." Seorang Asisten Dokter berbicara, sambil membenahi beberapa barang.


"Oalah!" Dokter Edy mengusap wajahnya, lalu terkekeh kencang.


"Maksud saya memang itu Dok!" Kata Jovian.


Membuat Kiana menoleh, lalu memukul lengan suaminya cukup kencang karena merasa malu. Bagaimana tidak, apa suaminya akan membocorkan rahasia mereka di atas ranjang, atau bagaimana sampai dia harus bertanya kepada orang lain.


"Aku hanya bertanya, Baby! Untuk keselamatan kamu juga mereka." Cicit Jovian pelan.


Kemudian dia beralih pada Dokter di hadapannya.


"Jadi bagaimana, Dok? Apa boleh melakukan hubungan intim saat istri tengah mengandung?"


"Sebenarnya tidak. Karena janin di usia muda masih rentan akan goncangan tinggi. Tapi jika masih bisa melakukannya pelan-pelan, … ya tidak apa-apa." Jelas Dokter.


"Bagaimana? Sampai sini paham? Atau masih ada yang mau ditanyakan?" Dokter Edy kembali bertanya.


"Susah cukup, Dok. Kalau begitu terimakasih, kami pamit undur diri." Kiana menyela pembicaraan yang mungkin saja akan Jovian lanjutkan.


Dia berdiri, lalu menjabat tangan Dokter pria di hadapannya. Pun dengan Jovian yang tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti apa yang Kiana lakukan.


"Sekali lagi selamat. Kalian akan menjadi orang tua dalam hitungan bulan."


"Terimakasih Dok."


Dan setelah itu Kiana juga Jovian berjalan keluar dari ruangan sana.


***


Malam hari sudah menyapa. Lampu-lampu jalanan sudah menyala, membuat suasana menjadi semakin indah apalagi saat melihat langit yang begitu cerah, dengan taburan bintang, juga bulan sabit yang menjadi penghias alam semesta.


Pandangan Jovian lurus menatap kedepan, dimana jalanan kota Tangerang terlihat sedikit lebih padat daripada biasanya.


Mereka memutuskan untuk bergi berkeliling kota, hanya untuk menikmati waktu bersama yang sempat hilang selama beberapa minggu lamanya.


Dia menoleh ke arah samping kiri, dimana Kiana duduk sambil terus memegangi bagian perutnya yang masih rata.


Rasa bahagia sudah jelas Kiana rasakan, apalagi saat mengetahui dirinya mengandung bayi kembar. Kebahagiaannya jelas bertambah berkali-kali lipat.


"Hmmm?"


"Mau mampir ke satu tempat dulu? Mungkin kamu mau makan sesuatu? Kamu harus makan obat dan vitaminnya, jadi makanan berat yah, bukan hanya es krim atau buah saja." Jovian tersenyum ketika pandangan mereka beradu.


Sebelum akhirnya dia kembali memfokuskan diri pada jalanan di hadapannya.


"Tidak boleh es krim?" Tanya Kiana.


"Boleh, Baby. Hanya saja kamu juga harus memakan yang lain. Nasi atau roti misalnya!"


Kiana pun mengangguk.7


"Kalau begitu ayo beli roti bakar Bandung."


"Yang dimana?"


"Dimana saja, yang penting ada tulisan roti bakar Bandung."


Jovian melirik lagi, lalu dia tersenyum dan mengulurkan tangan untuk meraih tangan Kiana.


"Baiklah, ayo kita cari tukang roti bakar khas Bandung."


"Hemmm, … terimakasih Papa." Ucap Kiana, seraya memperlihatkan senyumannya yang paling manis.


***


Satu piring roti bakar dengan selai blueberry cheese di dalamnya. Ipah letakan di atas meja kaca, yang terletak tepat di hadapan sofa besar yang berjejer di ruang tengah.


"Terimakasih, Mbak." Ucap Kiana.


"Mau saya ambilkan yang lain? Atau potongin buah seperti tadi siang?"


Kiana menjawab dengan gelengan kepala.


"Potongin saja, Mbak. Sama minta air putih satu gelas lagi yah!" Sergah Jovian.


Dia mendahului istrinya.


"Bapak juga mau air putih? Maaf saya kira Bapak hanya mau kopi hitam saja."


"Tidak. Itu masih untuk Kiana, … dia harus minum obat soalnya!" Jelas pria itu.


Ipah pun mengangguk, lalu dia segera kembali ke arah dimana dapur berada.


Jovian menatap Kiana. Perempuan itu fokus menikmati roti bakar yang sudah dia idam-idamkan selama di perjalanan pulang. Dan terbukti, kini ibu hamil muda itu menyantap makanan di hadapannya dengan gembira.


"Sayang? Kamu tidak mau?" Tawar Kiana.

__ADS_1


Jovian mengulum senyum.


"Tidak, kamu saja. Makan yang banyak, dan setelah itu minum vitamin agar kamu dan mereka sehat."


Satu tangannya bergerak mendekat, menyentuh perut Kiana, dan mengusapnya lembut.


Sementara dua pasang mata tengah mengintip di balik dinding. Menatap anak dan menantunya yang saat ini terlihat begitu bahagia.


"Kita akan merusak kebersamaan mereka, Ma!" Danu berbisik.


"Tapi Mama mau kesana. Bukannya mereka baru pulang dari rumah sakit? Mama juga mau tahu bagaimana keadaan cucu Mama." Balas Herlin dengan suara pelan.


Tidak lama setelah itu Ipah terlihat datang, membawa satu nampan berisi satu piring potongan buah segar, dan segelas air yang langsung dia letakan di atas meja. Membuat Herlin merasa tidak sabar, dan bergegas mendekat meskipun Danu sudah melarangnya.


"Hhheuh, … dia ini sangat sulit diberitahu!" Danu menggerutu.


"Kalian sedang apa?" Tanya Herlin dengan raut wajah berbinar.


Kiana menengadahkan pandangan.


"Mama pulang? Dimana Papa?"


Herlin menoleh ke arah dimana pintu utama berada. Dan munculah Danu, pria paruh baya itu berjalan perlahan penuh wibawa, sambil tersenyum samar.


"Maaf tadi kami pergi tanpa pamit." Kata Danu kepada Jovian.


Dia menatap putri juga menantunya bergantian. Dan ya, ada banyak perbedaan di antara keduanya, wajah mereka terlihat begitu berseri-seri.


"Ada sesuatu? Kalian terlihat sangat bahagia?"


Tanya Danu, kemudian dia memutari sofa, dan duduk tepat di samping sang istri yang sudah duduk terlebih dahulu.


Kiana mengangguk, lalu dia meraih tasnya, dan membawa satu amplop berwarna putih, untuk kemudian diletakkan diatas meja.


"Apa ini?" Danu pura-pura tidak tahu, meskipun ada laporan yang mengatakan jika mereka pergi ke salah satu rumah sakit.


Dan sudah bisa dipastikan jika sesuatu di dalamnya adalah kabar yang sangat menggembirakan.


"Hasil USG tadi sore, … Mama dan Papa harus tahu."


Herlin langsung menyambar benda itu.


"Bagaimana? Dia sehat? Lalu berapa usianya sekarang?"


Herlin menatap Kiana, lalu beralih pada Jovian.


"Mama buka saja." Balas Kiana.


"Semoga ini menjadi ganti atas apa yang sudah terlewatkan." Kata Jovian kepada ayah mertuanya.


"Bukan Papa. Tapi kamu, … kamu yang mengalami banyak kerugian karena sudah membayar lunas semuanya."


Jovian tersenyum, kemudian dia menoleh saat merasa ada tangan dan kepala yang menyender di bahunya.


"Maafkan aku, ya. Semuanya jadi kacau!' Ucap Kiana pelan.


Jovian mengangguk.


"It's okay. Dua bayi sudah sangat cukup untuk menebus rasa sedih semua orang." Katanya dengan suara rendah, tapi sudah jelas Kiana masih bisa mendengarnya.


Lalu mereka berdua beralih pada Herlin, yang tampak sangat hati-hati membuka amplop berwarna putih tersebut. Sampai akhirnya sesuatu dapat dia keluarkan dengan sempurna.


Mata Herlin membelalak, dengan mulut yang menganga lebar, sampai satu tangan dia buat untuk menutupinya.


"Kenapa Ma?"


Danu bergeser lebih mendekat.


"Ini Mama tidak salah lihat?"


"Apa?" Danu semakin penasaran.


Karena pada kenyataannya dia hanya tahu jika itu foto USG. Dan tidak mengerti apa arti yang ada di dalamnya.


Herlin menatap Kiana dan Jovian, dan berakhir melihat Danu, dengan ekspresi wajah penuh keterkejutan.


"Ini ada dua bulatan, Pah!" Herlin mengarahkan jari telunjuknya. "Dua kantung janin." Sambung Herlin."


Air matanya mulai berderai. Namun, sebisa mungkin dia tahan.


"Apa bedanya satu, dua atau tiga? Bukankah yang paling penting mereka sehat?" Kata Danu.


Plak!!


Herlin menepuk lengan Danu kencang.


"Dasar! Padahal sudah punya Kiana, tapi kamu masih tidak mengerti ini apa?"


Danu diam.


"Ini dua kantung janin. Yang artinya putriku mengandung Bayi kembar! Aaaaa, … cucu kita kembar, Pah!" Ucap Herlin kencang, lalu dia memeluk tubuh suaminya dan menangis.


"Ke-kembar?"


"Hemm, … Papa senang? Aku akan memberikan kalian dua cucu sekaligus." Sahut Kiana saat mendapati tatapan penuh tanya dari ayahnya.


Danu memejamkan mata, kemudian dia membalas pelukan Herlin.


"Ayo berikan selamat pada mereka!" Titah Danu.


Herlin mengangguk, dia melepaskan pelukannya dari Danu, dan beralih memeluk Kiana dengan tangisan yang kembali pecah.


"Oh putriku sayang!!"


......................


Dua ribu dua ratus lhooooo, ...

__ADS_1


Ayok sawerannya mana😌


__ADS_2