Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Kemarahan Danu part 2


__ADS_3

Erik berdiri di ambang pintu, dengan eskpresi wajah penuh amarah.


"Dimana Eva?" Dia menatap Jovian dengan sorot mata tajam.


Karena pria itulah yang menghubungi sang mantan ayah mertua untuk mempertanggung jawabkan perbuatan istrinya.


"Dia baik-baik saja. Tidak ada hal serius!" Kata Jovian.


"Ya, hanya sedikit terkejut!" Adline ikut bersuara.


"Benarkah? Dia baik-baik saja? Tapi tidak mampu untuk pulang sendiri? Sampai kau menghubungiku?"


Mata Erik memicing, menatap orang-orang yang saat ini duduk di ruang tamu satu-persatu, dadanya terlihat naik turun dengan cepat, juga hembusan nafas memburu dan tersengal-sengal.


"Maafkan putri kami." Ucap Herlin.


"Tunggu dulu, kita bicara baik-baik tanpa disertai emosi!" 


Ilyas bangkit dari duduknya, lalu mendekati Erik, dan menggiring pria itu untuk duduk.


"Kita tunggu Eva sebentar lagi, setelah dia merasa lebih baik, kita harus tanya juga. Agar kita tahu akar permasalahannya apa. Dan mencari jalan keluar agar tidak ada masalah yang berlarut-larut!" Kata Ilyas lagi dengan senyuman hangatnya.


Sementara Danu semakin menatap tajam ke arah putrinya. Dia benar-benar tidak menyangka kejadian beberapa bulan lalu akan terulang, dan kali ini dia lakukan kepada mantan istri dari suaminya.


"Kiana? Minta maaf sekarang juga!" Pinta Danu.


Kiana menggelengkan kepalanya.


"Minta maaf!"


"Aku nggak mau, aku nggak salah!"


"Baby? Ini bukan masalah benar atau salah, tapi tindakan kamu …" 


Belum selesai Jovian berbicara, Kiana segera bangkit, lalu berjalan mendekati suaminya, yang saat ini berdiri tidak jauh dari sofa tempatnya duduk.


"Kamu tidak percaya kalau dia mengatakan hal buruk?" Kiana bertanya dengan nada penuh penekanan.


Dengan wajah memerah, dan mata berkaca-kaca. Tampak jelas jika perempuan itu sudah benar-benar merasa sangat sedih dan kecewa.


"Aku percaya, tapi apa yang kamu lakukan tetap salah, Baby. Semuanya bisa dibicarakan baik-baik, jangan selalu mengambil keputusan sendiri!" Jovian tersenyum, berusaha membuat Kiana sedikit lebih tenang.


Dia mencoba untuk mengerti posisi istrinya. Namun,  dia juga merasa serba salah di dalam waktu bersamaan.


Di satu sisi dia merasa malu kepada keluarga Kakak iparnya, lalu di sisi lain dia merasa khawatir dengan Kiana, entah apa yang akan dia hadapi setelah ini jika saja Erik membawa semuanya ke jalur hukum. Lalu Danu? Sudah jelas pria itu akan bersikap keras, karena apa yang Kiana lakukan hari ini jelas-jelas sudah melampaui batas. Sementara setelah semuanya terjadi, dia di pusingkan harus bersikap bagaimana, karena ini cukup membingungkan.


"Baby, dengar!"


Dia hendak meraih tangan Kiana, tapi perempuan itu menolak.

__ADS_1


"Dia sudah mengatakan hal buruk kepadamu. Dia mengatakan kamu menikahi aku karena ada sesuatu. Dan saat aku membelamu, tapi kamu tidak percaya!?" Kiana tersenyum getir.


"Bukan begitu!" 


Kiana menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Dia mendorong dada Jovian dengan sangat kasar, dan pergi ke arah luar dengan langkah tunggang-langgang.


"Kia?" Semua orang bereaksi.


Bahkan Jovian hampir berlari untuk menyusul. Namun Danu segera mencegahnya.


"Biarkan saja." 


"Tapi Pak!"


"Tidak! Biarkan dia begitu, … jika di kejar dia tidak akan belajar dari keslaaban, dia akan terus melakukan hal yang sama karena merasa mempunyai dukungan." Tegas Danu, dan itu mampu membuat Jovian diam tanpa melakukan tindakan apapun.


"Dan untuk anda, Pak!" Danu menatap Erik. "Mari kita bicara, hanya berdua saja, karena ini menyangkut antara putri saya, dan putri anda."


***


Klek!!


Adline memasuki salah satu ruang tamu. Dimana Eva berbaring di atas ranjang tidur setelah mendapatkan pemeriksaan dari dokter beberapa menit lalu.


"Bagaimana keadaanmu?" Adline segera bertanya, lalu duduk di tepi ranjang.


"Leherku sakit!" Kata Eva.


"Ya, Kiana menekan lehermu cukup kencang tadi. Tapi beruntung dia tidak sampai mematahkannya." Jelas Adline.


Eva segera menjawab dengan anggukan kepala.


"Apa yang kamu katakan kepada Kiana sampai dia melakukan itu?" Adline menatap Eva penuh selidik. "Aku yang mengizinkan kamu datang, dan aku juga yang mengizinkan kamu tetap disini, … jadi untuk kejadian sekarang, aku juga harus ikut bertanggung jawab." Katanya, yang seketika membuat Eva terkesiap.


"Kamu membelanya? Sementara dia yang sudah hampir merenggut nyawaku?" Eva mendelik, bahkan raut wajahnya berubah muram dengan seketika.


"Aku tidak sedang membela apapun. Tapi jika benar kamu mengatakan sesuatu yang tidak baik, maka aku akan sangat kecewa kepadamu!" Tegas Adline, dan itu mampu membuat temannya diam untuk beberapa saat.


Eva menghela nafasnya kasar, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Pertemanan kita sudah lama terjalin, Adline! Apa semua akan hancur hanya karena anak kecil itu mengadu? Dia bahkan bisa saja mengarang sebuah cerita agar seolah-olah akulah yang berbuat buruk, padahal dia sendiri yang cemburu karena kedekatan aku dan keluarga suaminya."


"Maka dari itu aku bertanya." Sergah Eva lagi.


Dan kali ini Adline benar-benar terlihat sedang membela adik iparnya. Tentu saja, jika dia menjadi Kiana pun, Adline akan sangat membutuhkan dukungan, meskipun tidak secara langsung.


"Aku tidak banyak berbicara. Kita hanya berpapasan di dapur tadi setelah aku selesai dari toilet. Karena aku merasa hubungan kita tidak ada masalah, ya aku sapa dia lebih dulu, mengucapkan selamat atas apa yang sudah dia dapat hari ini, tapi entah kenapa dia menyerangku seperti itu?" Jelas Eva, lalu dia mengalihkan pandangan kembali pada sahabatnya.


"Apa aku salah, Adline? Jika aku ingin menjalin hubungan baik dengan semua orang? Tidak hanya dengan Jovian, tapi kamu, Javier, Mami Papi, dan Kiana?"  

__ADS_1


Mata Eva berkaca-kaca, seolah-olah apa yang dia katakan benar adanya. 


"Hhhheuh! Aku sangat menyesal apa yang sudah terjadi malam hari ini. Kau begini, Kiana juga pergi dengan amarahnya!" Adline dengan raut wajah penuh penyesalan.


Tangan Eva bergerak, menyentuh lengan Adline, lalu menggenggamnya.


"Maaf karena hari ini acara Axel kacau."


Adline menghela nafasnya kembali.


"Eva. Aku tahu kamu orang baik, … tapi bisakah kamu membuat ayahmu agar tidak menuntut apapun kepada keluarga Kiana atas apa yang sudah terjadi malam ini? Karena jika itu terjadi, … maka aku akan merasa sangat bersalah kepada Kiana!" Dia memohon.


Eva mengangguk, lalu memperlihatkan senyuman tipisnya.


"Ini hanya kesalahpahaman. Jadi akan aku usahakan Kiana baik-baik saja, … Papa tidak akan memperpanjang masalah ini, Adline. Percayalah!" 


Mereka terus menatap dengan senyuman yang terlihat di kedua sudut bibir masing-masing. Dan tentu saja, pernyataan itu membuat Adline tampak tersenyum lega.


"Maaf karena sudah membawamu masuk kedalam drama yang aku rencanakan, Adline." Batin Eva berbicara.


"Apa dapurmu mempunyai cctv? Jika masih ragu dengan apa yang aku katakan. Maka kamu bisa memeriksa rekamannya." Kata Eva.


"Kamu ini meledek atau bagaimana? Keluargaku tidak sekaya itu sampai harus memasang cctv di dapur. Rumah ini hanya mempunyai dua cctv, dan itu hanya diletakkan di luar saja."


Eva mengulum senyum.


"Ya mungkin saja kamu sudah memasangkan cctv di setiap ruangan rumah ini. Suamimu anak dari seorang pemilik perkebunan teh, ingat!"


"Tidak pernah ada hal aneh, jadi kami rasa tidak perlu."


Eva mengangguk.


"Kalau begitu, aku kembali ya? Jika sudah merasa lebih baik keluarlah, dan jelaskan semuanya sejelas-jelasnya. Agar tidak ada masalah berlarut-larut! Jangan membuat aku merasa bingung, Eva. Kamu sahabat aku dari dulu, dan Kiana adik iparku sekarang, jadi jangan membuat aku pusing karena aku tidak bisa memihak siapapun." Tegas Adline.


Dan wanita itu terlihat begitu serius.


"Baiklah, beri aku waktu lima menit lagi."


Adline mengangguk, dia bangkit, dan beranjak pergi mendekati pintu kamar tamu yang tertutup. Membukanya perlahan, keluar untuk kemudian menutupnya kembali seperti semula.


"Maaf Adline, tapi aku sudah memulainya cukup jauh. Tidak mungkin aku harus berhenti di tengah jalan." Kata Eva dengan suara rendah, bahkan hampir berbisik. 


"Jika aku tidak bisa, maka siapapun tidak ada yang boleh memiliki Jovian." Eva menatap lurus kedepan, dengan tatapan yang terlihat kosong.


......................


Jangan lupa like, komen, vote sama hadiaaaaaa ...


cuyung kaliaaaannnnn🤩😘

__ADS_1


__ADS_2