Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Keadaan


__ADS_3

Celana joger panjang berwarna abu-abu, dan kaos rumahan berwarna hitam menjadi salah satu pakaian yang Jovian kenakan sore hari ini. Entah kenapa, pakaian itu selalu menjadi pilihan saat dirinya tidak ada kepentingan apapun, hingga dapat terbebas dari setelah jas yang membuatnya selalu kepanasan.


Ting tong!!


Bell berbunyi. Membuat Jovian yang sedang berleha-leha di atas sofa sambil memainkan handphone nya beranjak pergi ke arah suara terdengar.


Ting tong!!


"Ya!" Sahut Jovian.


Dia memutar kunci pintu beberapa kali, meraih handle pintu, menekannya cukup kencang, dan menarik benda itu sampai benar-benar terbuka lebar.


Seorang perempuan tersenyum, kemudian menarik troli yang dia bawa, di mana berbagai macam makanan tertata dengan rapi di atasnya.


"Maaf membuat Bapak dan Non Kia menunggu lama. Ada beberapa bahan dan bumbu yang habis jadi harus dibeli terlebih dahulu." Katanya.


Jovian mengangguk, dia sedikit mundur, dan membiarkan wanita itu mendorong troli makanan nya sampai masuk ke dalam, sebelum akhirnya dia pamit dan Jovian menutup pintunya dengan segara.


Satu piring besar berisikan buah mangga, kiwi, strawberry, melon, nanas, dan semangka yang sudah di potong-potong. Satu botol wine yang diletakkan di dalam sebuah tempat yang dipenuhi dengab batu es. Beberapa potong cake, juga sandwich yang Jovian minta kepada pekerja beberapa waktu lalu.


Dia mendorongnya ke arah ruang tengah, dan setelah itu Jovian kembali ke dalam kamar. Dimana Kiana masih terlelap di bawah gulungan selimut, dengan keadaan yang tidak berubah sedikitpun.


Polos tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya.


"Baby? Wake up!" Jovian berujar.


Langkah kakinya terus berjalan mendekati ranjang tidur, duduk di tepi ranjang, menyentuh wajah Kiana, dan mengusap pipinya untuk kemudian memberi tepukan pelan agar perempuan itu segera terbangun setelah hampir 3 jam tertidur.


Tidak ada respon apapun dari Kiana. Perempuan itu terus memejamkan matanya, dengan hembusan nafas yang terdengar sangat teratur.


"Sayang, bangun!" Panggil Jovian lagi.


Namun Kiana tetap tidak terganggu.


"Baby, keadaanmu semakin mengkhawatirkan!" Pria itu mengguncang tubuh Kiana, berusaha membuat istrinya agar segera terbangun.


Dan itu sedikit berhasil. Erangan Kiana terdengar, meskipun matanya terus terpejam, setidaknya tangan Kiana mulai bergerak, begitu juga dengan tubuhnya yang saat ini berputar mengubah posisi tidur.


Jovian bergeser, semakin mendekatkan diri kepada Kiana. Bahkan saat ini dirinya ikut berbaring, menyentuh pundak polos Kiana dengan wajah yang terletak tepat di belakang leher istrinya.


"Hey, bangunlah. Bersihkan dirimu, setelah itu makan dan kita pergi untuk melihat sunset! Cuacanya sangat indah, Baby. Apa kamu mau melewatkannya?" Kata Jovian tepat di daun telinga Kiana.


Perempuan yang di maksud membuka matanya perlahan, menoleh sekilas sampai pandangan mereka beradu untuk beberapa detik.


"Kiana?" Cicit Jovian saat melihat Kiana kembali memejamkan matanya.


Bahkan kali ini dia menarik selimutnya agar semakin merapat. Melindungi kulit dari hawa dingin yang berasal dari air conditioner kamar yang saat ini ditempati Jovian juga Kiana.


"Aku capek. Mau tidur dulu, … kalau kamu mau lihat sunset pergi saja!" Suara Kiana terdengar, seraya dengan nada malas yang diperdengarkan.


Jovian diam untuk beberapa saat. Dan setelah itu dia mengecup tengkuk Kiana, lalu beralih pada belakang telinga Kiana, sampai membuat perempuan itu mengendikan bahunya beberapa kali.


"Sayang!" Suara paraunya memekik kencang.


"Bangun dulu, bersihkan diri, lalu makan. Setelah itu jika kamu mau tidur lagi tidak apa-apa, … tapi jangan seperti ini, kamu membuat aku khawatir! Tidak mungkin kamu sakit padahal belum genap sehari kita disini." Ujar Jovian panjang lebar.


Kiana menghembuskan nafasnya kencang.


"Aku capek tahu! Habis lending, sampai Villa malah di hajar habis-habisan. Kamu pikir aku ini apa? Sampai mampu bertahan dengan rasa laparmu yang tidak pernah ada kenyangnya." Kiana sedikit menggerutu.


Sementara Jovian tersenyum karenanya.


"Kamu beruntung karena aku tidak minta tambahan seperti beberapa hari terakhir!" Ucap Jovian dengan suara yang terdengar semakin rendah.


Tangannya kembali masuk ke dalam selimut. Menyentuh pinggang ramping Kiana, mengusap kulit perutnya, kemudian menarik perempuan itu sampai kembali merapat tanpa jarak.


"Atau tambahannya mau sekarang saja, Baby!?" Jovian berbisik lagi, yang kemudian memberikan satu gigitan kecil di daun telinganya.


"Astaga Tuhan!" Perempuan itu memekik kesal.


Kiana langsung meraih kesadarannya yang sempat hilang terkubur rasa lelah. Mengusir rasa kantuk, kemudian bangkit, dan turun dari atas tempat tidur sana, berlari ke arah pintu kamar mandi dengan selimut tebal yang masih dia lilitkan di tubuh.


Walaupun terlihat sedikit kesulitan, setidaknya ia tidak akan membuat singa kelaparan terbangun lagi.


Langkah Kiana terseok-seok. Rasa kantuknya belum sepenuhnya hilang, namun dia memilih untuk beranjak saat ancaman kembali datang.


Jovian tertawa melihat tingkah laku istrinya.

__ADS_1


Brakk!!


Pintu kamar mandi di banting cukup kencang, dan suara kunci di putar juga terdengar.


"Kamu bersikap seolah aku ini seorang penjahat yang kamu hindari, Baby!" Teriak Jovian dengan suara keras.


"Kamu lebih dari itu!"


Kiana menyahut dari arah dalam sana, dan itu mampu membuat tawa Jovian menyembur keluar. Karena merasa sangat gemas dengan istri belianya saat ini.


***


Suara mesin pengering rambut terdengar hampir ke setiap sudut ruangan villa. Kemudian hening setelah Kiana merasa rambutnya sudah benar-benar kering. Perempuan itu duduk di kursi meja rias, menatap dirinya dari pantulan cermin besar yang ada di hadapannya.


Dia menyisir rambutnya sampai benar-benar rapi, mengenakan bando berbentuk telinga beruang seperti biasa, lalu bangkit dan berjalan ke luar kamar tanpa mengoleskan makeup sedikit pun. Kiana benar-benar membiarkan wajahnya terlihat natural tanpa sentuhan foundition, bedak, pensil alis ataupun lipstik. Namun tentunya tidak mengurangi aura dan pesona Kiana sama sekali.


"Duduklah. Aku hanya minta buah dan sandwich saja tadi, … soalnya nanti malam aku berniat mengajakmu dinner romantis di hotel yang ada di seberang villa." Jovian membawa satu piring roti isi ke dalam satu piring kecil, kemudian memberikannya kepada Kiana.


"Terima Kasih." Perempuan itu tersenyum manis.


Kiana meraih pemberian Jovian, dan segera duduk di sofa, bersisian dengan suaminya.


Jovian diam. Menatap Kiana lekat-lekat dengan ekspresi wajah yang tidak biasa di artikan oleh kata-kata.


Bando menggemaskan, kemeja oversize polos berwarna hitam, Kiana padukan dengan celana jeans putih super pendekat. Membuat kaki jenjangnya terekspos dengan sangat mudah.


"Apa kamu akan keluar dengan hanya memakai celana ini, Baby?" Jovian bertanya dengan suara rendahnya, bahkan terdengar sedikit berbisik.


Tangannya segera menyentuh paha terbuka Kiana. Mengusap kulit mulus istrinya tanpa mengalihkan pandangan dari sosok perempuan muda yang duduk tepat di sampingnya itu.


"Kenapa rasanya tidak rela, yah!" Lanjut Jovian, lalu tertawa karena merasa konyol.


Tentu saja, mereka sedang berada di area pantai, dan tidak mungkin juga meminta Kiana agar memakai celana jeans panjang, pikirnya.


Kiana mengunyah roti isinya dengan sangat perlahan. Memperhatikan raut wajah Jovian dengan perasaan tak menentu. Satu Minggu mereka menyandang status sebagai suami-istri, melakukan banyak interaksi, saling menyentuh dan menatap satu sama lain. Namun anehnya Kiana selalu berdebar-debar, bahkan hanya karena melihat Jovian diam, dengan sorot mata tajamnya seperti biasa.


"Apa kamu mau aku pakai bikini juga seperti orang-orang?" Goda perempuan itu.


Dengan segera Jovian menggelengkan kepala, dan meremat paha Kiana cukup kencang karena merasa gemas.


"Tidak mungkin. Kamu sudah berjanji hanya akan memakainya jika sedang ada di area villa saja!"


Kiana tersenyum.


"Kamu melihat banyak wanita seksi di luar sana. Sementara aku tidak boleh melakukan itu? Tidak


adil, … enak di kamu rugi di aku!" Kiana berujar.


"Aku tidak peduli dengan mereka. Mau tidak memakai pakaian sekalipun terserah saja! Asal jangan milikku yang melakukan itu, … atau setelah itu aku akan gila. Karena apa yang menjadi milikku menjadi pusat perhatian orang lain." Tegas Jovian.


Dia menoleh ke arah samping, dimana sebuah meja kecil berada, lalu meraih gelas dengan minuman berwarna merah pekat di dalamnya.


"Kamu minum wine?" Cicit Kiana tidak percaya.


"Hanya sedikit, Baby. Hanya untuk menghangatkan tubuh!"


Kiana menatap suaminya tidak percaya.


"Menghangatkan?" Kiana meracau, mengulangi ucapan suaminya.


Jovian meneguk minuman miliknya, lalu mengangguk.


"Sungguh? Padahal disini sangat panas, tapi kamu butuh sesuatu agar tubuhmu terus hangat?" Mata Kiana memicing.


Jovian tidak menimpali pertanyaan Kiana lagi, dia kembali meletakan gelasnya, kemudian meraih ponsel untuk memantau perkembangan teknologi informasi, yang dengan sangat mudah Jovian mendapatkannya.


"Habiskan rotimu. Setelah ini kita jalan-jalan ke pantai, cuacanya sudah bagus, … cerah tapi tidak terik seperti siang tadi." Tukas Jovian dengan pandangan yang terus tertuju ke arah layar handphone.


"Iya, Om." Dia menirukan nada suaranya sendiri, persis seperti ketika Jovian selalu mengancamnya dan membuat Kiana ketakutan.


Jovian melirik, mata tajamnya seketika menyorot Kiana. Sementara perempuan itu hanya tersenyum seraya mengendikan kedua bahu.


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi!" Dia menggeram pelan.


"Om atur saja gimana bagusnya." Kiana melajutkan kekonyolannya.


"Stop!"

__ADS_1


"Kenapa? Om nggak suka?"


Kiana meletakan piringnya dengan sedikit sisa roti lapis yang masih berada di sana. Dia bangkit, lalu beralih duduk di atas pangkuan suaminya.


Jovian diam, membiarkan Kiana melakukan apa yang perempuan itu mau lakukan. Karena pada kenyataannya dia juga menyukai itu.


"Rubah nakal!" Katanya sembari melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kiana.


Mereka tersenyum satu sama lain.


"Haih, … kenapa panggilan sayangnya jelek banget. Masa aku di samain sama Swiper. Rubah kecil yang sangat licik, bahkan dia suka mengganggu Dora dan membuat sedikit masalah di sekelilingnya." Protes Kiana.


Jovian terkekeh.


"Apa kamu tidak sadar? Bagaimana kamu?" Jovian berusaha mengingatkan.


"Hhhheuh!" Kiana menghela nafasnya. "Itu kan dulu, sekarang sudah tidak. Aku menjadi Kiana yang cantik, rendah hati dan tidak sombong." Katanya dengan penuh percaya diri.


Namun, Jovian segera menyangkalnya dengan menggelengkan kepala.


"Nakalnya masih sama. Bahkan sekarang lebih parah, kamu senang sekali menggoda Om-om seperti suamimu ini!"


Kiana menggigit bibirnya sendiri cukup kencang, berusaha menahan senyuman, lalu kemudian menyatukan keningnya pada kening Jovian.


"Om yang ngajarin aku, … Om ambil ciuman pertama aku! Sampai setelah itu aku semakin penasaran, dan aku mencoba mencari tahu, tapi internet sekarang ternyata tidak seterbuka yang aku pikirkan."


"Apa?!"


"Aku penasaran, lalu aku berusaha mencari tahu. Dan ml yang Om maksud itu bukan game, … tapi hal gila yang akhir-akhir ini sering kita lakukan. Bahkan menjadi aktivitas yang tidak bisa kita lewatkan saat hendak pergi tidur." Dia berbisik tepat di hadapan wajah Jovian.


Dengan polosnya Kiana mengatakan semuanya dengan jujur.


"Pantas saja." Jovian menghembuskan nafasnya pelan.


"Apa? Kamu sudah curiga? Atau kamu hack handphone aku yah?"


"Tidak sama sekali, untuk apa? Tapi jangan salah, aku dapat menemukanmu dimanapun, … tidak harus dengan cara menyadap, tapi cara lain dan aku tidak akan memberitahukan ini kepada siapapun." Jovian tersenyum, sembari menggerakan alisnya naik turun.


"Jadi aku tidak bisa pergi?"


Kiana kembali menegakan diri, membuat keduanya kembali berjarak, sampai mampu menatap satu sama lain. Mengagumi paras indah tanpa merasa puas.


"Kalau untuk pergi, … tentu saja bisa! Tapi jika kamu mau sembunyi, itu musthil karena aku akan tetap menemukanmu." Ekspresi wajahnya terlihat bersungguh-sungguh.


"Benarkah?" Tangan Kiana bergerak, menyentuh wajah Jovian, untuk kemudian mengusap tulang rahang milik suaminya, yang tentu saja sangat dia sukai.


Jovian mengangguk pelan.


"Asal kamu tetap membawa ponselmu. Maka aku akan tahu kemana kamu pergi, dan dimana kamu berada." Jovian semakin mempererat lilitan kedua tangan di pinggang ramping Kiana.


Keadaan menjadi hening. Keduanya diam dengan pikirannya masing-masing.


"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang!" Jovian mendorong tubuh Kiana, sampai perempuan itu segera bangkit, dan berdiri tepat di hadapannya.


"Tidak perlu ganti pakaian?" Kiana meyakinkannya.


Mengingat Jovian memang terlihat sangat keberatan dengan apa yang dirinya kenakan saat ini. Padahal tidak ada yang aneh, namun tentu saja Jovian memiliki sudut pandang tersendiri.


"Tidak usah. Kamu cantik, … dan kamu bahagia bukan saat kamu terlihat seperti itu?" Dia tersenyum kepada Kiana.


Tapi justru membuat perempuan itu sedikit bingung.


"Hhemmm, … ini untukmu! Aku cantik hanya untuk dirimu." Kiana berujar.


Jovian tersenyum mendengar itu.


"Kalau begitu, … ayo kita pakai sunscreen! Aku tidak mau kulit kamu terbakar matahari." Jovian mengulum senyum.


Tubuh Jovian sedikit membungkuk, meraih tangan Kiana untuk dia genggam erat seperti biasa. Keduanya berjalan memasuki kamar terlebih dahulu, membawa beberapa barang yang sangat penting, dan setelah itu keluar dari dalam bangunan itu, menuju ke arah pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari villa.


......................


...Guys, jangan lupa like, komen, tabur-tabur sama kasih vote kalo yang masih punya eheheh ......


...Yang belum masukin rak, masukin rak dulu biar nggak ketinggalan kalo si Om gentayangan. Bantu rate bintang lima juga bagi yang belum, kalo yang udah ya udah aja nggak usah ngasih binta lagi 🤭....


Btw terimakasih, dukungan kalian itu sangat berarti buat Othor, sampai pop si Om bisa naik pesat banget ...

__ADS_1


Pokonya cuyung kaliaaaaaan ♥️


__ADS_2