Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Pembuktian


__ADS_3

Langit mulai gelap, cahaya matahari mulai meredup ketika salah satu ciptaan Tuhan yang selalu menghiasi Dunia mulai terbenam dengan perlahan-lahan.


Tring!!


Suara lonceng yang menggantung tepat di atas pintu masuk restoran berbunyi. Membuat pandangan tiga orang yang sudah duduk di meja itu tertuju ke arah suara terdengar.


Mereka saling menatap dalam diam. Apalagi Eva yang terlihat sedikit terkejut dengan keberadaan dua pria yang tidak pernah dia sangka akan keberadaannya, bersama sang sahabat yang sore hari ini memintanya untuk segera bertemu. Dia mengedarkan pandangan, melihat keadaan restoran yang begitu sepi, tidak ada pengunjung lain, selain Adline, Javier dan juga Jovian.


"Ada apa ini?" Sinyal di kepalanya seolah memberikan sebuah tanda penuh ancaman.


"Hey, kemarilah! Kenapa terus berdiri disana?" Adline segera melambaikan tangannya dengan senyum sumringah.


"Emmm …"


"Suamiku baru selesai mengurus beberapa hal bersama Jovian. Jadi aku meminta mereka datang juga, sekalian untuk makan malam bersama." Sambung Adline.


Dia segera beralasan ketika melihat mimik wajah Eva yang tampak sangat berbeda. Wanita itu kelihatan takut dan gugup dalam waktu yang bersamaan.


"Kebetulan, ada sesuatu yang mau aku bicarakan kepadamu!" Jovian tersenyum. "Duduklah!" Katanya lagi, yang langsung membuat Eva mengangguk, tersenyum malu-malu dan segera berjalan untuk mendekat.


"Semoga ada kabar baik. Aku tahu kau masih mencintaiku! Kau hanya sedang menghindar karena marah bukan? Setelah ini kita akan benar-benar kembali seperti sebelumnya, dan melanjutkan hubungan yang sempat berakhir kurang baik." Hati Eva berbicara.


Dadanya terasa berdesir, kala rasa bahagia jelas memenuhi diri, karena kini Jovian mulai bersikap seperti biasa, bahkan dia memberikan senyuman manisnya seperti dahulu kala.


"Kiana?" Eva berbasa-basi.


"Tidak ada, dia masih marah. Jadi sudah bisa di pastikan dia tidak akan datang kesini tiba-tiba, toh dia juga tidak akan kembali dalam waktu cepat, dia sedang melakukan ibadah umroh, aku yakin kamu juga sudah tahu akan hal ini." Balas Jovian.


"Aku, …" Eva celingukan, kembali melihat setiap sudut tempat itu. "Apa Kiana tidak akan marah? Kamu datang tanpa dia?"


"Tidak akan, sudah aku katakan bukan? dia masih marah. Jadi biarkan saja!"


Dan jawaban itu membuat batin Eva bersorak kencang. Dia meneriaki kemenangannya, karena sudah berhasil membuat pasangan itu benar-benar salah paham, dan mungkin hubungan yang baru saja di jalin Jovian bersama seorang gadis belia itu akan segera berakhir, pikirannya.


"Kita sudah pesan minum dan makan. Kalau kamu mau pesan juga boleh panggil waiters!" Kata Adline.


"Iya." Eva mengangguk.


Kemudian dia mencari seorang pelayan, dan mengangkat satu tangannya setelah melihat salah satu dari mereka yang berdiri di dekat meja kasir.


***

__ADS_1


Beberapa piring makanan diantar ke meja dimana Adline, Eva, Javier dan Jovian duduk. Masing-masing mendapatkan satu dengan jenis makanan yang tentu saja berbeda. Rencana yang Jovian lakukan berjalan cukup baik. Tampaknya tidak ada kecurigaan dari Eva sedikitpun, meski pada awalnya wanita itu kelihatan sedikit was-was.


Sesekali Jovian melirik Eva yang duduk tepat di sampingnya. Berusaha mencari apa yang sempat Hilmi katakan, yang membuat raut wajah Eva tersipu malu karena merasa terus diperhatikan.


"Astaga, lihat tingkahnya!" Jovian berbicara di dalam hatinya.


"Aku baru sadar, kamu pangkas habis rambut kamu, Va?" Adline kembali berbicara, sembari menikmati sepiring steak miliknya.


Eva mengangguk.


"Cari suasana baru. Lagian cuma sebahu, nggak aku pangkas habis, Lin!" Katanya.


"Itu bagus, tapi ini cukup membuat aku terkejut. Tidak biasanya kamu membuat rambutmu sependek ini!"


Jovian menatap Adline dan Eva bergantian. Dia berusaha terus meneliti, meskipun pada kenyataannya ini sangatlah sulit, karena Eva membuat rambutnya terurai sampai Jovian tidak dapat melihat apapun.


"Ah masa aku harus melakukan drama lain." Pria itu kembali membatin.


Namun, sepertinya Jovian tidak harus melakukan itu. Karena tanpa sadar Eva menyelipkan helaian rambutnya yang terurai pada daun telinga sebelah kiri. Mata Jovian memicing, ketika sesuatu memang terlihat disana. Sebuah tato berukuran kecil, dengan warna hitam pekat.


"I found it!" Ucap Jovian dengan suara yang sangat pelan.


"Kamu mengatakan sesuatu, Jo?"


Wanita itu menoleh, menatap wajah tampan mantan suaminya yang tiba-tiba terlihat berubah. Pandangannya tajam, dengan ekspresi wajah datar seperti yang selalu Jovian perlihatkan.


Kemarahannya mulai tersulut.


"Kenapa?" Eva bertanya lagi, lalu dia menatap Adline dan Javier dengan perasaan bingung.


"Kamu memiliki tato sekarang?" Tanya Jovian.


Pria itu bertingkah seolah dia sangat terkejut atas apa yang dilakukan mantan istrinya.


"Emmm …" Eva langsung menutupinya.


"Sejak kapan kamu membuat itu disana? Dengan inisial namaku juga? Apa aku seistimewa itu, Eva?" Jovian tersenyum miring.


Membuat Adline menatap Javier, karena merasa situasi mulai berbeda. Dan tentu saja dia merasa sedikit ketakutan.


"Apa kalian butuh waktu berdua? Jika …" Javier belum sempat menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


Namun, satu tangan Jovian terangkat, yang seketika membuat pria itu berhenti berbicara.


"Kalian tetaplah disini. Tidak akan ada hal serius, aku hanya ingin bertanya saja!" Kata Jovian, lalu dia beralih kepada mantan istrinya. "Iya, kan Eva!?" Jovian tersenyum penuh arti.


"Hemmm, … lagi pula jika kalian pergi, takutnya akan ada masalah yang lebih serius." Kata Eva.


Adline mengangguk.


"Baiklah, sejak kapan kamu membuat tato itu? Sudah lama?" Jovian berusaha membuat suaranya selembut mungkin.


"Ini!" Eva mengusapnya. "Aku membuatnya setelah menyadari jika apa yang aku lakukan selama ini ternyata salah. Aku berniat memintamu untuk kembali, tapi sayangnya kamu sudah memiliki penggantiku! Tapi tidak apa-apa, aku baik-baik saja, Jo!"


Jovian meletakan garpu yang sedang ada dalam genggamannya. Lalu diam seraya mengarahkan pandangan pada mantan istrinya.


"Sungguh kau baik-baik saja?" Tanya Jovian setelah beberapa menit terdiam.


"Ya."


Adline terlihat semakin tidak nyaman, tapi dengan segera Javier meremat tangan Adline, yang langsung dia letakan di atas pahanya sendiri.


"Sepertinya mereka butuh waktu berdua untuk berbicara, sayang. Ayo kita pulang, Axel menunggu kita, … atau mungkin Mami dan Papi sudah tiba, ayo kita kembali sekarang!"


Namun, Adline tetap bersikukuh ingin pergi meninggalkan tempat itu. Bukan karena takut, hanya saja rasa canggung tiba-tiba terasa apalagi saat Jovian mulai terlihat serius, sementara Eva masih mengira jika Jovian sedang memperlakukannya dengan istimewa.


"Baiklah. Kalian boleh duluan, aku juga meminta Denis untuk datang, ada satu hal lagi yang belum aku selesaikan!" Kata Jovian.


"Tapi sayang!" Javier berusaha menahan.


Dia khawatir kepada adik laki-lakinya. Javier tentu saja tahu betul bagaimana Jovian jika sedang marah. Pria itu tidak akan melihat lawannya sepadan atau tidak. Apalagi jika memang benar kecurigaan Jovian terbukti, maka yang Eva lakukan sudah benar-benar di luar batas.


"Mereka butuh waktu berdua. Mungkin jika mereka menyelesaikan masalah di masa lalu mereka, tidak akan ada lagi kekacauan seperti kemarin!" Tegas Adline.


"Eva, maaf aku harus kembali. Axel pasti sudah menunggu, Mami Papi juga! Kami harus mengantar mereka ke Pangalengan malam ini."


Dan setelah mengatakan itu Adline menarik tangan suaminya, lalu pergi meninggalkan Eva dan Jovian berdua saja.


Membuat Eva tersenyum samar.


......................


Hari ini double up nih kayanya🤭 ayo di ramein dulu, sama lemparin kopi, bunga sama Vote☺️🥳

__ADS_1


__ADS_2