
Denis meletakan satu cup minuman dingin di samping tempat duduk yang Kiana tempati. Kursi kayu yang terletak tepat di bawah pepohonan rimbun, dengan dahannya terus bergerak-gerak tertiup semilir angin yang berhembus secara perlahan.
"Minumlah!" Ucap Denis, seraya mendudukan diri tepat di samping Kiana.
Dimana perempuan itu tampak sedikit tidak dikenali. Kiana memakai pakaian serba panjang, dengan penutup Hoodie yang dia kenakan dan kacamata hitam untuk menutupi mata bengkaknya karena sudah menangis semalaman.
Namun, postur tubuh mungil Kiana tampaknya sudah Denis kenali, sehingga dia tidak kesulitan untuk mengenali Kiana yang saat ini duduk di tengah-tengah keramaian taman tepi kota.
"Terimakasih, Om." Kiana meraih cup tersebut, lalu meminumnya dengan perlahan-lahan.
Keadaan hening untuk beberapa saat.
"Apa tidak panas? Siang bolong begini memakai Hoodie?"
Denis kembali membuka obrolan, tapi Kiana menjawab dengan gelengan kepala. Nampaknya perempuan itu masih enggan banyak berbicara, dan Denis hanya perlu bersabar dalam menghadapi seorang gadis belia yang baru saja merasakan indahnya cinta, lalu terjatuh karena tersandung rasa patah hati yang luar biasa.
"Kamu sedang menyamar?" Tanya Denis lagi.
Dan itu mampu membuat Kiana menoleh, mengarahkan pandangan kepada Denis, sosok yang sudah dia kenali sejak dari lama. Bahkan dia menganggap Denis sudah seperti Kakak kandungnya sendiri, sampai Kiana selalu berani melanggar aturan yang Denis berikan, karena perempuan itu tahu bagaimana sikap penyayang Denis. Pria yang akan menutupi setiap kebohongannya kepada Danu.
"Bukan. Untuk apa nyamar?"
Kiana menarik lepas kacamata hitam yang dia pinjam dari Kevin. Hingga terlihatlah mata bengkak, dengan hidung yang tampak memerah.
"Oh astaga!" Denis menatap keadaan Kiana dengan ekspresi penuh keterkejutan.
"Berapa lama kamu menangis? Sampai wajahmu sembab seperti itu, dengan mata bengkak dan hidung yang sangat merah?" Pria itu bertanya.
Lalu terdengar kekehan pelan, membuat Kiana segera memukul lengan pria yang duduk di sampingnya cukup kencang.
"Nggak ada yang lucu lho, Om!" Kiana kembali mengenakan kaca mata hitamnya.
"Baiklah, jadi kamu butuh uang? Berapa dan untuk apa saja?" Tanya Denis.
Dia menoleh, dan memperlihatkan ekspresi wajah serius.
Mendengar itu, seketika membuat Kiana diam, kemudian menundukan kepala, menatap cup minuman dan memainkan sedotan hingga membuat air dan es di dalamnya berputar-putar. Rasa ragu mulai terasa semakin dalam, bahkan Kiana tidak percaya kepada dirinya sendiri. Bukan urusan untuk bertahan hidup, melainkan pergi dari kehidupan Jovian.
Cinta pertamanya.
"Ya, apakah aku akan mampu? Sementara cinta ini masih sangatlah besar. Apa perasaan ini tidak akan menyiksaku nantinya?" Hati Kiana berbicara.
"Kiana?"
"Aku nggak tau Om. Mungkin hanya untuk beberapa bulan tinggal sendiri saja. Aku juga nggak yakin mau benar-benar pergi dari rumah, ada Mama yang nggak bisa aku tinggalkan begitu saja." Jelas Kiana.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba saja Kiana merindukan sosok wanita yang selalu membelanya habis-habisan. Tidak peduli sekeras apa Danu, tapi tentu saja dengan lantang akan membela Kiana jika Danu bersikap berlebihan.
"Lalu bagaimana dengan Pak Danu dan Jovian suamimu?" Pria itu mengingatkannya pada dua pria yang tentu saja Kiana cintai.
"Tidak bagaimana-bagaimana. Mereka ya tetap mereka, biarkan saja hidup dengan jalan yang mereka inginkan. Pun dengan aku, aku akan hidup sesuai keinginanku, bukan keinginan siapapun." Dia berkelakar, seraya menatap lurus kedepan, dimana sebuah danau buatan berukuran tidak terlalu besar, yang memiliki air mancur di tengahnya berada.
Denis kembali diam, dengan pandangan yang ditujukan kepada Kiana.
"Aku capek Om. Semua nama baik harus aku jaga! Aku juga manusia biasa." Dia mulai berkeluh-kesah.
"Jika kamu ingin menyendiri dulu untuk beberapa saat. Maka itu tidak apa-apa, ada kalanya kita ingin menepi dari segala macam masalah. Tapi jika kamu pergi, Om tidak setuju karena masalah itu dihadapi, bukan dihindari."
Kiana menghirup nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskan dengan sangat perlahan. Ketika segumpal daging yang terkurung di dalam tulang rusuknya terasa di remat begitu kencang, sehingga menimbulkan rasa sesak yang sangat luar biasa.
"Nggak tau aku cuma ingin menepi, atau menyerah dengan semuanya. Om tahu? Mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya tidaklah mudah." Suara Kiana terdengar bergetar.
Kali ini Denis mengangguk, dia setuju dengan apa yang Kiana ucapkan.
"Apa kamu ragu? Om memang tidak bisa menyangkal, Jovian memang selalu bodoh saat jatuh cinta."
"Maksud Om? Dia memang masih mencintai mantan istrinya?"
Kiana merasakan dadanya bergemuruh, mata memanas dengan perasaan yang semakin terasa di cabik-cabik. Dia belum mendengar apa yang akan Denis ucapkan, tapi sebisa mungkin Kiana mempersiapkan hal yang paling buruk sekalipun, dan tidak lagi berharap banyak tentang cinta Jovian kepada dirinya.
"Mungkin untuk menghilangkan cinta itu sepenuhnya butuh waktu. Tapi percayalah, saat ini Jovian sudah benar-benar memberikan cinta dan kasihnya kepadamu, meskipun dia sedang mati-matian membuang Eva dari dalam kenangannya, tapi dia sedang berusaha, dan sudah seharusnya kamu membantu dia."
Kiana berdecih.
"Om belain aja dia terus!" Cicit Kiana dengan nada ketus.
"Om tidak sedang membela siapun Kia. Kalian ini sama-sama memiliki posisi yang begitu dekat dengan Om. Jadi sangatlah disayangkan, jika hubungan kalian akan selesai begitu saja hanya sebuah masalah yang sebetulnya bisa di selesaikan secara baik-baik." Kata Denis.
Kiana diam. Perempuan itu terlihat berpikir keras, karena setiap kata-kata yang diucapkan Denis memang benar. Apa yang dirinya dan Jovian hadapi sekarang hanya tentang salah paham.
Ketika seseorang ingin membuktikan bahwa dirinya benar. Maka setiap masalah tidak akan pernah berujung, karena sejatinya manusia memiliki ego yang sangat tinggi, dan selalu ingin di benarkan meskipun mereka salah.
"Jika kamu hanya butuh waktu. Maka pakailah waktu sebanyak mungkin! Tidak untuk membela diri, atau membuktikan jika kamu ini benar dan lebih baik dari pada siapapun. Ada Tuhan bukan? Yang akan tetap membelamu di saat semua orang menghakimi kamu, dan membuat kamu merasa berdiri sendirian sementara Tuhan selalu ada di belangmu." Denis tersenyum.
Satu tangannya terulur, meraih pundak Kiana, dan merangkul gadis bertubuh mungil yang sudah dia anggap sebagai adik kandungnya sendiri.
Kiana kembali menangis, rasanya begitu melegakan ketika masih ada bahu untuk bersandar saat ia merasa sendirian.
"Kamu mau pergi ke suatu tempat untuk beberapa Minggu? Mungkin itu bagus untuk menyembuhkan lukamu!" Kata Denis seraya mengusap-usap punggung Kiana lembut.
Kiana tidak menjawab, dia terus menangis untuk menumpahkan kesedihan dan rasa kecewa kepada dua pria yang sangat berarti di dalam hidupnya, terutama Danu.
__ADS_1
"Ayo kita ke rumah, Om! Kamu bisa berbagi cerita dengan Tante Sita, atau bermain bersama Dendi!"
Kiana menarik dirinya, lalu membuka kacamata dan mengusap area sana yang terasa basa.
"Tadinya aku mau gadai cincin kawin ini buat healing, sama bertahan hidup sebelum aku pulang." Kiana menatap cincin yang melingkar di jari manis sebelah kanan.
Denis tertawa lepas, membuatnya mendongakan kepalanya ke arah belakang, dengan kedua bola mata yang terpejam.
"Kamu ini masih Kiana ternyata. Selalu berbuat sesuatu tanpa berpikir, … memangnya kalau di gadai akan menyelesaikan masalah? Tidak Kiana, justru kamu akan terjerat masalah yang baru."
"Baiklah." Kiana mengangguk-anggukan kepala. "Aku pikir juga begitu, … kalau aku gadai mungkin Jovian akan marah, dan masalahnya tidak akan selesai sampai kapanpun." Ucap Kiana lagi.
"Jadi bagaimana? Mau ikut pergi bersama Tante Sita?" Pria itu kembali bertanya.
"Bareng Om?"
Denis segera menimpali pertanyaan Kiana dengan gelengan kepala.
"Om banyak pekerjaan. Setelah melepaskanmu ternyata Pak Danu memberikan pekerjaan yang lebih banyak lagi." Denis tertawa.
"Memangnya tidak apa-apa? Jika Tante Sita pergi sendirian? Om tidak marah?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena dia hanya akan berkunjung dan menemui Tuhannya. Kamu ingat? Sita kehilangan bayinya, dan dia mengalami patah hati yang sangat luar biasa. Kali ini dia meminta untuk menunaikan ibadah umroh, jadi itu lebih bagus, dia akan pulang dalam keadaan sangat baik, karena dia tidak lagi mengadu kepada seorang manusia yang sangat lemah seperti Om. Melainkan pada Dzat yang maha agung, yang juga memiliki lautan cinta dan kasih." Jelas Denis.
Dan tampaknya Kiana sedikit tertarik dengan ajakan dari Denis.
"Jika mau, nanti Om akan urus semuanya! Kamu tinggal berangkat saja, bersama Tante Sita dan rombongan umroh lainnya."
"Memangnya boleh?"
Denis mengangguk, lalu dia bangkit.
"Ayo kita temui Tante Sita, dan berikan kabar jika kamu akan pergi bersamanya."
Kiana mengulum senyum, kemudian bangkit, dan mengikuti kemana kaki Denis melangkah.
......................
Haduh, dunia nyata sedang tidak baik-baik saja. Maaf keun ya telat terus🤧 tapi othor usahain biar bisa terus update.
Jangan lupa seperti biasaaaaaa.... Cuyung kalian ♥️
__ADS_1