
Honda CRF 150L berwarna hitam yang Jovian kendalikan melaju dengan kecepatan sedang. Berjalan menyusuri jalanan sepi area perkebunan teh yang terlihat begitu mempesona.
Kedua tangan Jovian memegang erat stang motor, dengan pandangan yang terus tertuju ke arah depan, menatap jalanan kosong, dan berharap segera menemukan apa yang Kiana inginkan. Agar perempuan itu bisa segera makan dan meminum vitaminnya. Sementara Kiana terus diam, memeluk tubuh tinggi besar pria di hadapannya, sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang terus menyapu wajah.
Kepalanya terus bergerak ke kiri dan kanan. Melihat hamparan kebun teh yang sangat luas. Lalu kemudian pandangannya terkunci pada Jovian, dan tanpa sadar senyuman terbit di kedua sudut bibirnya.
Kiana mengeratkan pelukannya, kemudian menempelkan pipi di punggung sang suami, sehingga perempuan itu dapat menghirup aroma yang sangat dia senangi.
Jovian menundukan pandangan, menatap sepasang tangan mungil yang saat ini melingkar erat di pinggangnya. Pria itu pun tersenyum, rasanya begitu luar biasa, ketika Kiana semakin memperlihatkan jika perempuan itu tidak pernah main-main dengan perasaan yang pernah dia katakan.
"Kamu senang?" Tanya Jovian, seraya mengusap punggung tangan Kiana dengan tangan kirinya.
Perempuan itu mengangguk.
"Tangerang memang indah. Tapi ini jauh lebih indah!" Balas Kiana.
Suaranya sedikit berteriak, ketika angin terus berhembus kencang.
"Suasananya asri, udaranya sejuk, pemandangan disini juga indah. Aku seneng, … tapi kenapa kemarin-kemarin kamu nggak pernah bawa aku jalan-jalan seperti ini? Keliling sambil naik motor kan seru!!"
Jovian menoleh sekilas.
"Aku juga tidak ingat." Sahut Jovian.
"Ah, kamu mah!" Lalu Kiana mencubit pinggang Jovian sedikit kencang.
Membuat motor itu sedikit hilang keseimbangannya. Tapi dengan kelihaian Jovian tentu saja mereka masih bisa melaju dengan aman.
"Baby, bahaya melakukan seperti itu! Nanti kita jatuh, lalu bagaimana dengan si kembar?" Jovian sedikit memperingati.
Namun, Kiana hanya tersenyum ketika mendapati Jovian menoleh sekilas, yang membuat pandangan keduanya bertemu.
"Eheheh, … maaf!"
"Diam, pegangan yang erat." Kata Jovian, lalu pria itu membuat laju yang keduanya tumpangi menjadi lebih cepat lagi.
"Yuhuuu!!" Kiana berteriak.
Sementara Jovian tampak tersenyum senang.
Dan setelah berkendara cukup lama. Menyusuri jalanan dengan pemandangan kebun teh. Akhirnya Jovian juga Kiana sampai di kampung seberang, yang jaraknya cukup jauh dari kediaman Jonathan.
"Yeay, ketemu!" Kiana bertepuk tangan, ketika melihat gerobak dorong yang berhenti tepat di pinggir jalan. "Aku kira nggak ada, kita nyari sejauh ini sepanjang jalan nggak nemu yang jualan apapun." Lanjut perempuan itu.
Mata Jovian melirik, dia tersenyum, kemudian turun setelah memarkirkan motor miliknya.
"Mang Cecep? Mie ayamnya dua yah!"
Jovian menatap sosok pria tua yang duduk berteduh di bawah pepohonan.
Sempat tidak mengenali Jovian, sampai dia tampak bersikap biasa. Hingga akhirnya dia sadar setelah jarak mereka dekat, dan betapa terkejutnya Cecep saat mengenali seorang pria tinggi besar yang dia kenali sebagai putra dari orang terpandang di kampung sana.
"Lho! Den Jovian?"
Suami dari Kiana itu hanya tersenyum.
"Sayang? Kamu mau mie ayam yang bagaimana?" Tanyanya kepada sang istri.
__ADS_1
"Aku mie ayamnya kering yah! Sama pakai sambal saja, nggak boleh di kecapin sama nggak pake saos juga!"
Jovian mengangguk, lalu dia beralih pada sang penjual yang berdiri tidak jauh darinya.
"Dua-duanya kering, yang satu hanya pakai sambal. Yang satu seperti biasa, ya Mang!"
Orang yang di maksud mengangguk. Kemudian segera melakukan apa yang Jovian pesan. Dia membuka sebuah laci dimana mie-mie disimpan, lalu memasukannya kedalam sebuah dandang, dimana air terlihat mengepulkan .asap panas, saat air di dalamnya mendidih dan meletup-letup.
"Sudah menikah lagi?"
"Sudah dong, Mang!" Jovian sambil tersenyum penuh arti.
"Hebat. Yang sekarang lebih muda, lebih cantik! Kata Anang juga apa? Pasti dapet yang lebih asalkan sabar."
"He'em. Mang Cecep benar." Katanya, lalu segera beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.
Jovian berjalan mendekati Kiana yang saya ini sudah duduk menunggu di kursi kayu yang ada di bawah pohon jambu air. Wajah perempuan itu terlihat sumringah, matanya berbinar dengan kedua sudut bibir yang tampak melengkung.
"Are you happy, now?" Tanya Jovian dengan suara rendah yang terdengar begitu lembut.
Sorot mata Kiana berbinar, dia mengangguk pelan, menatap Jovian seraya menahan senyum. Sehingga membuat perempuan itu tampak sangat menggemaskan.
"Tidak mual?"
Kiana menggelengkan kepalanya lagi.
"Tidak." Kiana menjawab, dan senyumannya terlihat semakin sumringah.
"Benarkah? Padahal saat aku tiba tadi kamu terlihat tidak baik-baik saja. Tapi lihat sekarang? Kamu jauh lebih berbeda dari pada tadi."
Mereka berdua tertawa pelan.
"Kamu pucat, lemas, dan menangis dengan kencang. Membuat aku sangat khawatir. Tapi sekarang tidak lagi, kamu sudah baik-baik saja."
Tangan Jovian bergerak menyentuh perut Kiana, kemudian mengusapnya sambil berkata;
"Baby, apa mereka membuat kamu sangat kesusahan?"
"Eeee, … kadang-kadang." Dia menyentuh tangan Jovian yang sedang asik menyentuh perutnya.
Dimana di dalam sana terdapat dua janin yang masih berusia sangat muda.
"Tapi bukannya trimester pertama memang begini? Jadi bukan mereka yang membuat aku kesusahan. Memang sudah seharusnya."
"Adline dulu tidak terlalu begini! Hanya beberapa hal yang membuat dia mual, tidak seperti kamu!"
Dia mengingat masa-masa kehamilan dari istri saudara kandungnya. Dimana Adline terlihat santai, dan melakukan aktivitas seperti biasanya, tanpa mengalami hal yang aneh seperti yang Kiana alami.
"Oh aku nggak tau kalau soal itu. Mungkin setiap kehamilan ada keistimewaan masing-masing."
Jovian mengulum senyum.
Pandangan keduanya beralih, ketika seorang pria datang, membawa satu nampan berisikan dua mangkuk mie ayam sambil tersenyum ramah.
"Saya cari-cari, ternyata mangkal disini!" Jovian menatap sang penjual yang sangat dia kenali.
Satu mangkuk diletakkan di hadapan Kiana, dan satu mangkuknya lagi Cecep letakan di hadapan Jovian.
__ADS_1
"Ini baru keluar, … kalau mau kan biasanya lewat depan rumah nanti sore." Katanya.
"Kalau masih ada!" Timpal Jovian.
Cecep tersenyum, kemudian duduk di bangku kayu yang sedikit berjarak dari keduanya.
"Sudah tinggal disini lagi?"
"Tidak. Kebetulan sedang datang dan berkunjung saja, Mang." Ujar Jovian yang langsung mendapat anggukan dari pria penjual mie ayam tersebut.
"Nikahnya kapan? Amang nggak tahu, nggak denger juga."
"Tiga, … mau jalan empat bulan."
"Oh." Cecep mengangguk-anggukan kepala.
Kiana mengaduk-aduk mienya sampai semua bahan tercampur menjadi satu. Aroma khas dari kuah suwiran ayam menyapa indra penciuman, membuat perempuan itu semakin tidak sabar.
"Masih jualan di gerobak aja, Mang?"
Jovian bertanya setelah menjejalkan satu suapan mie ayam pada mulutnya.
"Ya, … masih begini saja! Kalau tidak jalan kaki ya nggak dapet uang buat beli beras, Den."
Jovian menimpali ucapannya dengan anggukan, sembari terus memakan mie ayam khas kampung yang mempunyai cita rasa khas. Potongan ayam yang besar, juga mempunyai kuah berwarna kuning pekat, berbau daun salam dan sereh dengan rasa yang sangat gurih.
"Kenapa tidak buka kios saja? Jalan kaki kan cape!" Jovian berkelakar.
Pria tua itu tertawa cukup nyaring.
"Gimana mau buka kios. Sementara buat kebutuhan sehari-hari saja masih pas-pasan."
Jovian meletakan mangkuk mie ayamnya, lalu menatap pria tua yang akrab disapa Cecep dengan perasaan iba.
"Saya kan sudah beberapa kali menawarkan bantuan. Tapi Mang Cecep nggak pernah mau menerima tawaran saja!"
Kiana diam mendengarkan.
"Nggak mau Den. Nggak usah repot-repot, saya mah jualan sambil dorong gerobak aja udah seneng."
Jovian menghela nafasnya cukup kencang. Membuat Cecep kembali tertawa, sementara Kiana mulai memperhatikan keduanya, menatap wajah Jovian dan Cecep bergantian dengan raut bingung.
"Kalian kenal sudah dari lama yah!?" Kiana mengusap sudut bibirnya, dan mengunyah mie ayam dengan perlahan-lahan.
"Den Jovian kenal Amang pas masih kecil. Kalo Amang tau pas masih bayi merahnya, Neng!" Ujar Cecep. "Dulu jualan bubur, tapi nggak gerobak seperti ini, di pikul. Kalo Amang lewat Den Jovian pasti ada nungguin di depan gerbang rumah, terus nge-bon dulu. Nggak pernah gitu pagi-pagi nyetop sama minta bubur sambil nyerahin duitnya, … nanti Amihnya datang baru bayar. Padahal masih kecil, tapi udah tau ngutang."
Mendengar itu Kiana melirik sang suami, kemudian mengangkat satu alisnya.
"Haih, … aib itu Mang!" Cicit Jovian.
"Bukan aib. Lebih ke cerita masa kecil saja, Den!" Cecep tertawa kecil.
Kiana terkikik. Sementara Jovian memperlihatkan tatapan tajam tak suka kepada istrinya.
Suara obrolan terus terdengar saling bersahutan. Tak jarang diselingi canda gurau, yang membuat tawa Kiana terus terdengar begitu kencang, apalagi saat Cecep terus menggoda Jovian, yang membuat pria itu memperlihatkan raut wajah masam karena merasa privasinya di kulit habis-habisan.
......................
__ADS_1
Maaf kalian nungguinya lama.
Tapi othor tuh cuyung kalian bangeddd tahu nggak sih😘