
Empat hari kemudian.
Suasana di kediaman kedua orang tua Kiana terlihat sedikit ramai. Beberapa orang terlihat hadir, seorang ustadz, penghulu dan orang-orang tertua di area rumahnya. Yang akan menjadi saksi akad nikah antara Jovian dan Kiana, yang di gelar pada hari ini.
"Ananda Jovian Alton bin Jonathan Alton. Saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Jasmine Kiana Danuarta binti Danuarta. Dengan mas kawin satu unit mobil Lexus RX 300 luxury, cincin berlian 2,10 karat, dan uang tunai senilai dua ratus tiga puluh juta dibayar tunai."
Dengan lantang Danu mengucapkan setiap kata, seraya menatap wajah Jovian lekat-lekat, lalu menghentakan tangannya cukup kencang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Jasmine Kiana Danuarta binti Danuarta dengan mas kawin tersebut tunai."
Jovian mengucapkan ikrar janji suci pernikahan dengan sekali tarikan nafas. Lalu suasana hening untuk beberapa saat, dan riuh ucapan kata sah terdengar saat penghulu menatap kedua belah saksi.
Pria yang duduk di hadapan Danu terlihat menghembuskan nafas lega, saat dirinya dapat melalui hal yang paling menegangkan di dunia. Memang bukan hal pertama untuk Jovian, namun entah kenapa hal yang satu itu selalu membuat dirinya merasa gugup.
Jovian terlihat sangat tampan dengan balutan kemeja putih, dan celana bahan berwarna abu-abu, juga tatanan rambut yang kali ini terlihat rapih.
Semua pandangan beralih pada sisi lain rumah. Dimana Kiana terlihat datang, berjalan anggun di temani Herlin.
Pandangan sepasang manusia yang baru saja sah menjadi suami istri itu saling bertemu. Saling tersenyum satu sama lain, kala rasa lega dan bahagian beradu-padu menjadi satu.
Tidak ada hal yang terlihat mewah. Semuanya benar-benar sederhana seperti apa yang Kiana minta. Tidak ada dekorasi, tidak ada riasan wajah sebagaimana pengantin wanita padamumnya. Bahkan gadis itu terlihat memakai pakaian yang sama, kemeja putih dan celana kulot berwarna abu-abu.
Kiana duduk di kursi kosong samping Jovian. Segera mencium punggung tangan pria itu, dan Jovian membalasnya dengan mencium kening Kiana.
Leni dan Jonathan yang hadir disana terlihat berkaca-kaca. Menatap kebahagiaan putra keduanya yang baru saja tiba. Bahkan dia dapat merasakan kebahagiaan yang Jovian rasakan, sampai hati kecilnya terus berdoa, agar ini menjadi pernikahan terakhir bagi Kiana dan Jovian putranya.
Hubungan berbeda usia itu tidaklah mudah. Seperti halnya yang Leni alami dulu. Ada banyak ego yang harus di padamkan, dan itu sangatlah sulit. Namun dia berharap, jika kedua anaknya dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan baik.
Lantunan doa segera terdengar. Di pimpin langsung oleh pemuka agama yang Danu undang, sampai acarapun berjalan lancar dan terasa begitu khidmat.
***
"Bermalamlah dulu satu atau dua hari. Masa baru selesai acara langsung pulang, jarak antara Tangerang dan Pangalengan itu sangat jauh." Danu memeluk tubuh besannya cukup erat.
"Sudah lima hari kami di sini. Ada banyak pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan." Jelas Jonathan.
"Lima hari kan di apartemennya Jovian. Disini belum pernah bermalam." Danu kembali menyahut.
"Mungkin nanti jika acara resepsi, kami akan menginap disini." Balas Jonathan lagi.
Keduanya melepaskan rangkulan masing-masing, sementara yang lain diam memperhatikan. Setelah itu Jonathan beralih kepada putranya, dan memeluk tubuh tinggi Jovian erat-erat.
"Selamat, Jo. Kamu sudah resmi menjadi seorang suami hari ini. Jaga Kiana sebagaimana seorang suami menjaga istrinya, … dan jika ada sedikit masalah, maka mengalah saja karena Kiana masi sangat belia. Dia masih harus banyak belajar, bahkan menyesuaikan diri." Jonathan mengusap-usap punggung anaknya.
Jovian membalas pelukan sang ayah lebih erat, dia mengangguk, dan berusaha memahami setiap ucapan ayahnya dengan baik.
"Terimakasi. Papi susah membantu aku lagi, padahal aku bisa, … tapi Papi lagi-lagi tidak mau membuat aku kesusaha, meskipun aku tidak kelihatan seperti itu." Suara Jovian terdegar sedikit bergetar, saat dirinya berusaha menahan tangis yang hampir pacah.
Apapun profesinya, namun dia tetap manusia biasa. Yang bisa terharu seperti manusia lainnya.
Jonathan mendorong kedua bahu Jovian, sampai keduanya dapat menatap wajah satu sama lain dengan sangat jelas.
"Itu yang akan semua orang tua lakukan untuk anaknya." Jonathan tersenyum.
__ADS_1
Acara perpisahan itu berlangsung cukup lama. Ada beberapa petuah yang Leni sampaikan kepada Jovian dan menantu cantiknya. Kemudian mereka benar-benar pergi setelah mengucapkan banyak hal.
Mereka berempat menatap kepergian sebuah mobil berwarna putih, dimana terdapat Leni dan Jonathan di dalamnya, yang di kendalikan seorang supir pribadi keluarga mereka.
Jarum jam baru saja menunjukan pukul 16.30 sore hari.
Namun, kediaman Danu sudah benar-benar terasa hening. Bahkan sebagian karpet yang di gelar mulai di gulung oleh para asisten rumah. Maklum saja, karena memang acara akad saat ini hanya di hadiri oleh keluar kedua belah pihak, selain beberapa orang yang di tua kan di area rumah Danu.
Pun dengan Javier yang tidak bisa datang, karena pria itu sudah berada di Belanda sekarang. Dia pulang tepat beberapa hari setelah acara tunangan di adakan.
"Baiklah, ayo masuk." Kata Danu kepada istri, anak dan menantunya, yang saat ini berdiri di teras depan rumah.
Herlin mengangguk. Kemudian dia berbaik arah, hendak di ikuti Kiana, namun Jovian segera menahannya.
"Kenapa?" Kiana menatap pria yang saat ini sudah menjadi suaminya lekat-lekat.
"Ada sesuatu?" Tanya Danu.
Yang seketika membuat langkah Herlin juga berhenti.
"Aku lupa membawa baju. Mungkin sekarang harus pulang dulu untuk membawanya." Kata Jovian.
"Kamu mau pulang ke apartemen?" Tanya Kiana, yang langsung di jawab anggukan oleh Jovian.
"Hanya sebentar, membawa pakaian saja."
Jovian menjelaskan. Dia menatap ketiganya bergantian, seolah sedang meminta izin untuk segera pergi.
"Apa baju Papanya Kiana tidak akan muat?" Herlin ikut bertanya.
Mendengar itu Danu segera menganggukan kepala, begitu juga dengan Herlin. Sementara Kiana terdiam untuk beberapa saat, tanpa melepaskan tangan Jovian dari genggamannya.
"Ya sudah Papa dan Mama masuk duluan." Danu segera mendekatia Herlin, lalu menggiring wanita itu masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Jovian dan Kiana bergitu saja.
Jovian tersenyum saat mendapati Kiana yang terus memperhatikannya.
"Masuklah aku tidak akan lama." Ucap Jovian dengan suara yang terdengar begitu lembut.
Kiana tidak menjawab, dia justru menoleh ke arah pintu rumah yang terbuka sangat lebar.
"Sayang aku mau ikut!" Kiana merengek.
"Untuk apa? Hanya sebentar. Membawa beberapa pakaian untuk menginap disini beberapa hari kedepan. Tidak mungkin juga baru menikah langsung membawamu keluar dari rumah ini, … jahat sekali aku kalau melakukan itu." Jovian terkekeh.
Kiana menggeleng-gelengkan kepalanya, dia melepaskan genggaman tangan, lalu berlari ke arah dalam begitu saja. Sementara Jovian menatap punggung Kiana yang terus semakin jauh. Dan menghilang saat dia berbelok menuju ruang keluarga.
Pria itu memutar tubuhnya, berjalan ke arah dimana mobil hitam itu terparkir. Namun, saat hendak membuka pintu, Kiana segera berteriak memanggil, sembari mengangkat satu tangan untuk memperlihatkan sesuatu dalam genggamannya.
"Aku ikut. Hanya sebentar kan?" Gadis itu kembali bertanya.
"Tidak perlu berlari. Aku tidak akan meninggalkanmu!" Cicit Jovian.
Kiana tersenyum.
__ADS_1
"Simpan kunci mobilmu. Ayo kita pakai mobil yang baru, … empat hari yang lalu aku melihatnya, dan aku tidak sabar untuk mencoba mobil ini." Pinta Kiana dengan raut wajah sumringah.
"Tidak di simpan dulu? Plat nomor kendaraannya belum ada! Mungkin seminggu lagi baru selesai."
"Sekali saja, ayolah!"
Jovian menggelengkan kepala dengan rasa tidak percaya. Namun setelah itu dia tetap menyambar kunci mobil yang Kiana berikan.
Senyum di bibir Kiana semakin merekah. Seperti orang-orang pada umumnya, mereka akan sangat bersemangat ketika memiliki suatu barang yang baru, tidak terkecuali Kiana. Dia terlihat sangat bersemangat, meski mobil mewah bukanlah hal baru untuk gadis itu
Mereka berjalan beriringan ke arah mobil hitam mengkilap, yang baru saja tiba tadi pagi bersamaan dengan kedatangan Jovian juga kedua orang tuanya.
"Ini sangat luar biasa. Empat hari langsung datang, biasanya lama lho!" Ucap Kiana kepada suminya.
Dia mengingat sesuatu saat sang ayah menghadiahkan sebuah mobil impian. Dan Kiana harus menunggu cukup lama karena satu dan lain hal.
Jovian tersenyum. Dia menekan salah satu tombol, dan membukakan pintu untuk istri mungilnya.
"Kok bisa sih!?" Kiana segera masuk kedalam sana, dan membiarkan Jovian memasangkan tali seatbelt seperti biasa.
"Bisa dong. Apa yang tidak bisa Jovian dapatkan jika dia sudah benar-benar mau." Katanya dengan bangga.
Klik!!
Suara itu terdengar saat sabuk pengamannya terpasang dengan benar.
"Bagaimana caranya? Kenapa Papa nggak bisa kaya gitu yah!?"
"Selain uang, … peran orang dalam juga sangat penting. Maka dengan itu semuanya akan berjalan lebih mudah lagi."
Jovian segera menutup pintu sebelah kiri. Lalu kemudian dia berlari memutari mobil dan masuk. Tapi tiba-tiba saja Jovian tertawa kencang, saat melihat setiap kursi yang masih di bungkus oleh plastik bening.
"Apa kita harus membukanya dulu?"
"Nanti sajalah. Sekarang berangkat saja dulu, keburu sore nanti kita melewatkan makan malam bersama Mama dan Papa."
"Baiklah."
Jovian segera menghidupkan mesin mobilnya. Diam untuk beberapa menit, lalu melajukan mobil barunya dengan kecepatan rendah, kemudian kembali berhenti kala seorang petugas keaman rumah tampak keluar dari dalam pos, mendekati gerbang, dan menggesernya dengan segera.
Setelah gerbang rumah benar-benar terbuka, Jovian kembali melajukan mobilnya, keluar dari area sana, dan melesat ketika memasuki jalanan utama.
"Kita harus mampir ke SPBU dulu. Mobil barumu membutuhkan energi agar bisa terus melaju. Dan mengantarkan kemanapun kita akan pergi." Jelasnya tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari jalanan utama di hadapannya, yang sore hari ini terlihat ramai seperti biasa.
"Memangnya kosong?"
"Hemmm, … tadi mereka mengisinya tidak full."
Kiana hanya mengangguk, dan mulai menikmati perjalanannya sore hari ini. Menatap langit hijau dengan siluet kuning kemerahan yang tentu saja membuat siapapun yang melihatnya terpukau, karena keindahan ciptaan Tuhan yang satu ini.
......................
Ayo mana timpukannya!!
__ADS_1
Like, komen, rate sama masukin rak oke 🤩🤩
Cuyung kalian♥️