
Sementara di lantai 2 rumah itu.
Jovian segera meraih handle pintu, menekannya perlahan-lahan, kemudian masuk ke dalam kamar milik istrinya.
"Baby, kamu sedang apa?" Tanya Jovian saat melihat Kiana berdiri di hadapan lemari pakaian, dengan koper kecil miliknya yang terbuka, dan semua pakaian sudah tidak tersisa di dalamnya.
Kiana mundur beberapa langkah, berdecak pinggang, lalu menoleh ke arah suaminya berada saat ini.
"Lagi masukin baju-baju kamu biar rapih. Di apartemen kan baju aku yang di bawain Mbak Ipah sudah masuk ke lemari pakaian kamu, … nah sekarang pakaian kamu sudah masuk kedalam lemari pakaian aku!" Kiana tersenyum bahagia.
"Kalau sudah begini, kita sudah seperti orang-orang yang menikah pada umumnya." Lanjut Kiana.
Jovian mengulum senyum, dia terus mendekat, lalu memeluk Kiana dari belakang. Melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang, dengan kepala yang pria itu tumpukan di antara ceruk leher istrinya.
"Memangnya pernikahan kita tidak umum, huh?" Jovian berbisik, lalu mencium tengkuk istrinya.
Sementara Kiana tertawa.
"Aku cuma nggak nyangka, bisa nikah muda. Sama kamu lagi, … cinta pertama aku selain Papa, ciuman pertama aku juga selain Papa."
"Dan aku sangat beruntung, menjadi laki-laki pertama untukmu. Dalam segala hal, tidak hanya soal ciuman. Tapi yang lain, … merobek selaput dara misalnya." Dia menggigit daun telinga Kiana dengan gemas, membuat perempuan itu meringis kesakitan.
Plak!!
Kiana memukul lengan suaminya.
"Jangan seperti ini. Aku terlalu sensitif!" Katanya sambil berusaha melepaskan diri.
Jovian terlegak, dan melepaskan lilitan tangannya yang sedang memegang sesuatu. Namun tampaknya Kiana tidak menyadari itu, dia hanya fokus pada satu tempat yang berada di dalam lemari sana, dimana pakaian Jovian sudah tertata dengan sangat rapi di dalam sana.
Kiana meraih kedua ujung pintu lemari pakaian berwarna putih itu, lalu menutupnya.
"Kalau pulang ke apartemen kamu bawa lagi kopernya, simpan disana yah!" Perempuan itu membungkuk, menutup resleting koper, dan membawanya ke arah sudut ruangan untuk dia letakan disana.
"Baby? Aku mempunyai sesuatu." Jovian berjalan mengikuti Kiana.
Dia menoleh.
"Apa?" Katanya sambil tersenyum.
"Ini!"
Jovian mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan amplop berwarna coklat itu.
Kiana diam, menatap amplop dan wajah tampan suaminya bergantian, dengan seulas senyuman sama yang perempuan itu perlihatkan.
"Apa itu?" Dia meraihnya dari tangan Jovian.
__ADS_1
"Bukalah. Hadiah dari Papa dan Mamamu!" Katanya.
Kiana mengangguk, dia duduk di atas sofa, seraya membuka dan mengeluarkan sesuatu di dalamnya. Dimana terdapat beberapa lembar kertas tipis. Dengan namanya dan sang suami yang tercantum.
Mata Kiana membulat.
"Bali?"
"Orang tuamu sangat luar biasa, bukan?" Jovian terkekeh.
"Padahal aku baru saja memikirkan kemana aku harus membawamu berbulan madu. Tapi mereka sudah lebih dulu memberikan tiket ini untuk kita." Jovian berjalan mendekat, lalu duduk tepat di samping Kiana.
"Kamu juga mau bawa aku bukan madu?"
Jovian mengangguk.
"Belum sempat mencari, tapi Papamu sudah memberikan ini kepada kita."
"Baiklah. Nanti kamu ajak aku ke Pangalengan saja, bawa aku jalan-jalan disana, … keliling Jawa barat mungkin, atau membawa aku ke salah satu kota, Garut misalnya. Waktu SMA aku sempat kesana, ada banyak sekali oleh-oleh, dan aku sangat suka chocodot."
Jovian diam mendengar itu.
"Kia? Apa kamu tidak mau meminta aku untuk membawamu ke tempat yang lebih jauh? Selandia baru atau yang lain misalnya?"
Kiana menggelengkan kepala.
"Sesekali mintalah sesuatu yang mewah."
"Mobil!"
"Selain itu. Percayalah aku mampu, apapun untukmu!"
"Aku juga mampu. Sudah aku bilang, kalau aku tidak banyak meminta sama kamu itu bukan berarti aku sedang meragukan kemampuan kamu, … tapi karena memang aku sudah mendapatkan semuanya lebih dari cukup. Tapi kalau kamu mau bawa aku, ya aku pasti mau-mau saja."
Kiana kembali memasukan tiket itu ke dalam amplop seperti semula. Meletakan di atas meja yang berada tepat di samping sofa, lalu kemudian perempuan itu memeluk Jovian.
"Kebahagian itu tidak semuanya harus mewah. Tidak harus dengan uang banyak. Cukup bersama kamu saja, makan steak di apartemen juga sudah membuat aku sangat bahagia. Bahkan aku tidak merasakan hal se-istimewa itu saat aku makan di restoran berbintang, semuanya terasa biasa saja menurut aku."
Entah bagaimana Kiana bisa mengucapkan kata-kata itu. Namun yang pasti, membuat Jovian sedikit tidak percaya dengan sikap yang ditunjukkan istri mungilnya saat ini.
"Kita tidak tahu kedepannya seperti apa. Roda kehidupan juga berputar. Kalau ada uang sebaiknya ditabung untuk masa depan kita, apalagi biaya sekolah mahal, … kita harus pandai mengelola keuangan. Sayang kamu tahu? Sejatinya kita yang mengalahkan hawa nafsu, bukan hawa nafsu yang mengalahkan kita sampai mampu menguasai diri dan melakukan hal-hal tidak bermanfaat." Ucap Kiana lagi.
"Tunggu!"
Jovian menyentuh kedua bahu Kiana, lalu mendorongnya sampai mereka dapat saling memandang satu sama lain dengan jarak yang sangat dekat.
"Wie ben je? (Siapa kamu?)" Mata pria itu memicing, menatap wajah Kiana dengan raut wajah tidak percaya.
__ADS_1
Kiana hanya diam, karena tidak mengerti apa yang suaminya ucapkan.
"Apa kamu terbentur sesuatu saat kita melakukannya? Terjatuh di kamar mandi sampai kepalamu terbentur? Atau kepalamu terlalu lama berada di bawah shower?" Jovian mencerca dengan banyak pertanyaan.
Kening perempuan itu menjengit.
"Aku baik-baik saja, selain ini aku yang masih sakit." Kiana mengusap perut bagian bawahnya.
"Kamu terdengar bukan Kiana, sayang. Dari mana kamu mendapatkan kata-kata itu?" Pandangannya masih tertuju pada Kiana. "Dimana Kiana yang dulu? Dia keras kepala, selalu menganggap benar apapun yang ada dalam pikirannya meski sekalipun itu buruk. Dan siapa yang aku nikahi?" Jovian terkekeh.
Kiana menghela nafasnya.
"Aku melakukan itu hanya semata-mata agar tidak terlihat lemah tahu! Teman-teman sekolah selalu menindasku, dan jika aku bersikap lemah-lembut, maka mereka akan terus mengganggu. Dan karena saat ini aku merasa aman, jadinya seperti ini! Tidak perlu bersikap keras hanya untuk melindungi diri aku sendiri, sudah ada kamu yang akan melindungi aku bukan?"
"Astaga, kenapa kamu se-menggemaskan ini?"
Kiana menggelengkan kepalanya.
"Tapi jangan coba-coba membuat aku kecewa. Jika kamu melakukannya, … aku pastikan kamu akan melihat Kiana versi lebih gila lagi daripada sebelumnya."
Jovian kembali menarik Kiana kedalam dekapannya.
"Ancamanmu sangat menakutkan, Baby." Jovian berbisik, lalu mencium puncak kepala Kiana.
"Apa hari ini kita akan tetap di rumah?" Tanya Kiana dengan posisi yang masih sama.
"Hemm, … bukannya kamu masih sakit?"
"Tapi sepertinya sangat berbahaya jika terus seperti ini. Bisa-bisa aku mandi untuk yang ketiga kalinya.
Jadi, … ayo kita jalan-jalan sore!"
Jovian tertawa, kemudian melepaskan Kiana dengan segera.
"Ayo ganti pakaianmu. Kita jalan kemanapun kamu mau pergi." Kata Jovian.
Dan dengan penuh semangat Kiana mengangguk, dia bangkit dan berjalan mendekati lemari pakaian, mencari-cari pakaian yang cocok, dan setelah mendapatkannya, dia segera bersiap-siap.
Sementara Jovian duduk bersandar di atas sofa, memperhatikan Kiana yang tanpa merasa malu berganti pakaian di hadapannya.
......................
...Ayo ritualnya seperti biasa🤪🤪...
Jangan lupa Like, komen sama tabur-tabur mawar. Yang belum masukin rak, masukin dulu. Yang belum rate, rate juga, sama jangan lupa di kasih bintang lima 😁
Cuyung kalian😘
__ADS_1