Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Potato Head Beach Club


__ADS_3

Deburan ombak terdengar semakin kencang saja. Bersahutan dengan kicauan burung camar yang terdengar terbang berputar-putar di area villa yang saat ini Jovian tempati dan Kiana tempat untuk beberapa hari kedepan.


Jovian langsung meraih kesadarannya, dia membuka mata, dan hal pertama yang Jovian lihat adalah Kiana. Wanita yang tampak menempelkan pipinya di dada sana seperti biasa. Dia yang saat ini tak memakai pakaian bagian atas membuat wajah perempuan itu langsung menyentuh kulit tubuhnya, seketika membuat setiap hembusan nafas perempuan itu menyapu dadanya dengan leluasa.


Dia tersenyum. Tangannya bergerak menyentuh pipi sang istri, lalu mengusap dengan sangat lembut. Dan Jovian melakukan itu karena takut akan membuat Kiana yang sedang tidur terbangun.


Jovian menoleh, lalu meraih handphone yang terletak di atas nakas. Membawanya dengan segera, dan menekan tombol power sampai layar itu menyala.


Jam baru saja menunjukan pukul 05.00 waktu setempat. Membuat Jovian kembali menyimpan ponselnya, lalu menatap Kiana lagi tanpa merasa bosan.


"Kamu menggemaskan kalau sedang tidur begini. Sama persis seperti Axel kalau sedang menginap dan meminta tidur denganku. Dia selalu memeluk dan menempelkan wajahnya seperti ini, seolah takut jika aku akan pergi jauh." Ucap Jovian pelan.


Tiba-tiba saja Kiana menggerakan tubuhnya. Menarik selimut sampai menutupi leher, dan semakin mendekatkan diri pada Jovian.


"Sudah aku katakan, temperaturnya terlalu rendah!" Suara Jovian terdengar berat.


Dia menarik ujung selimut yang sekarang membalut tubuh keduanya, tak lupa mempererat dekapannya, membuat perempuan itu terlihat semakin nyaman.


"Aku baru tahu. Ternyata sikap bisa mengubah raut wajah! Awalnya kamu yang selalu memperlihatkan wajah jutek dan masam. Kini berubah menjadi sangat manis!" Jovian mengusap pipi lembut Kiana dengan punggung tangan.


Kiana bergeming. Perempuan itu terus saja terlelap, meski Jovian menyentuh pipi, hidung, kening, dan juga rambutnya berkali-kali.


"Tidur saja ya! Aku mau bikin kopi."


Jovian menundukan kepalanya, berusaha mendekatkan bibir pada wajah Kiana. Sampai akhirnya dia beranjak pergi memasuki kamar mandi setelah memberikan kecupan penuh cinta pada perempuan yang masih terlelap di dalam lautan mimpinya.


Dia berdiri di depan wastafel, dimana sebuah cermin besar berada disana. Dan terdapat pouch berisikan skin care yang sengaja mereka bawa dari Jakarta. Pertama-tama Jovian membubuhkan sabun cuci muka pada telapak tangannya, lalu mengaplikasikan ke wajah hingga berbusa. Setelah itu membasuh wajahnya dengan air bersih, tak lupa menggosok gigi, hingga setelah semuanya selesai dia segera kembali, beranjak pergi dari dalam kamar mandi sana.


Jovian berjalan mendekat meja rias, dimana terdapat tisu wajah disana, membawanya beberapa helai dan mengusapkan pada wajah dengan lembut. Kakinya kembali melangkah, mendekati pintu kamar, untuk kemudian memutar kunci dan segera keluar, dengan keadaan bertelanjang dada.


Klek!!


Pria itu keluar, namun segera berhenti di ambang pintu saat melihat seseorang tengah merapikan meja makan. Keduanya sama-sama diam, saling memandang satu sama lain.


"Sudah bekerja sepagi ini?" Jovian terlihat santai seperti biasa.


Bahkan dia kembali melangkahkan kaki, berjalan ke arah dapur bersih yang terletak tidak jauh dari meja makan, dimana Dea sedang berdiri mengumpulkan beberapa piring kotor disana.


Dea tampak terkejut.


"Maaf. Apa saya sangat berisik? Sampai membuat Bapak terbangun?"


"Tidak." Sahut Jovian singkat.


Dea mengangguk, dia meletakan piring-piring kotor ke dalam sebuah keranjang berukuran besar. Hendak membawanya pergi, namun panggilan Jovian menghentikannya.


"Apa kalian punya kopi hitam?" Tanya Jovian saat dia tidak menemukan serbuk minuman kesukaannya di setiap laci yang ada di sana.


"Ada. Nanti saya minta Bayu untuk mengantarkannya kesini, Pak."


"Sekalian susu putih hangat, yah!"


"Baik, kalau begitu saya permisi."


Jovian mengangguk. Membuat Dea segera beranjak pergi, keluar dari dalam villa, tak lupa menutup pintu kembali seperti semula.


"Bahkan ini masih pagi, tapi aku sudah melihat sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat!" Gumam Dea dengan wajah merah padam.


Wanita itu berjalan dengan langkah cepat, membuat dirinya segera sampai di bangunan yang terletak cukup jauh dari area bangunan utama.


"Kenapa?" Seorang pria bertanya, yang tidak lain adalah saudara sepupunya sendiri.


"Hhheuh, … sudah aku katakan. Sebaiknya kesana kalau benar-benar di panggil saja!" Dea menggerutu.


Bayu menjengit.


"Memangnya siapa yang meminta kamu kesan?"


"Ibumu! Sudah aku bilang nanti saja, … jadinya aku melihat apa yang tidak pantas aku lihat."


Pria itu terlihat semakin bingung. Sementara Dea membawa keranjang berisikan piring-piring kotor ke arah dapur, dimana seorang wanita paruh baya berada disana.


Bergelut dengan perkakas dapur, dan berbagai macam bumbu dan bahan masakan lainnya.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Ah aku malu kalau ingat itu!" Dea menahan senyum.

__ADS_1


Memangnya siapa yang tidak terpesona dengan pria tampan seperti Jovian? Usia tidak membuat pesonanya luntur, bahkan semakin terpancar saja dengan raut berbinar yang selalu pria itu perlihatkan.


"Ya walaupun dingin, tapi ganteng." Hatinya menjerit.


"Maksud kamu?"


"Kapan-kapan Bude nggak usah minta aku datang kesana kalau tidak diminta. Masa aku lihat suaminya Non Kiana keluar kamar tidak memakai baju!"


"Apa!?"


Suara wanita itu memekik kencang, seraya menatap Dea dengan mata yang membulat sempurna.


"Hanya tidak memakai baju. Kalau celana masih dia pakai, … tapi tetap saja aku malu … itu bukan hak aku." Katanya sambil menelungkupkan wajah di balik kedua telapak tangannya.


Dan entah kenapa kedua sudut bibir Dea tertarik membuat senyuman samar, dengan pipi merona. Dan tentu saja wanita paruh baya yang akrab disapa Bude Isma itu menyadarinya.


"Hey, jangan berpikir macam-macam kamu yah!"


"Benar kata Bude. Suaminya Non Kiana bukan sembarang Om-om! Pantas saja Non Kiana mau, orang judulnya aja yang Om-om, fisiknya masih oke banget."


"Hus!" Dia menepuk pundak Dea kencang. "Jangan lancang, tidak boleh begitu." Isma memperingati keponakannya.


***


Dan setelah menunggu cukup lama. Akhirnya Jovian mendapatkan apa yang dia mau, setelah Bayu mengantar satu nampan berisikan secangkir kopi hitam, beberapa lembar roti tawar, beserta butter yang menjadi pelengkap.


"Jika ada yang kurang, Bapak boleh beritahu kami seperti biasa." Kata Bayu saat mengantar secangkir kopi untuknya, beserta roti dan olesan untuk sarapan pada pagi hari ini.


Jam sudah menunjukan pukul 05.30 pagi. Suasana masih terasa begitu sejuk, sampai dia memiliki untuk mengenakan Hoodie hitam kesayangannya. Daripada bertelanjang dada seperti beberapa saat lalu, yang membuat kulitnya terasa seperti di tusuk-tusuk.


Cahaya matahari mulai menampakan dirinya dengan malu-malu. Membuat langit berwarna hitam pekat mulai berubah warna, seiring cahaya kekuningan yang mulai muncul dari ufuk timur.


Jovian duduk di sofa yang terletak tepat di luar kamarnya. Berhadapan dengan kolam renang, dimana airnya terus bergerak-gerak terbawa hembusan angin yang pagi ini tidak terlalu kencang seperti semalam hari tadi.


Perlahan dia meneguk kopi panasnya, meletakan cangkir itu kembali, lalu beralih pada bungkusan rokok, yang masih terdapat beberapa batang di dalamnya. Dia membawa satu, meletakan di antara kedua celah bibirnya seperti biasa. Lalu segera menghidupkan api dan membakar ujung dari benda tersebut.


Jovian menghisapnya dalam-dalam, membuat dia segera meniupkan asapnya di udara.


Pandangan Jovian tertuju lurus kedepan. Menikmati pagi hari ini dengan perasaan laga. Entah apa yang membuatnya merasakan perasaan seperti itu, tapi memang seperti ada beban berat yang terlepas dari dalam diri.


Kemudian tatapan matanya tertuju pada sepasang sejoli. Yang sedang berjalan menyusuri bibir pantai, dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain.


"Apakah pria itu juga merasakan sesuatu yang aku rasakan? Apa jatuh cinta memang seindah ini?" Gumam Jovian, dia bermonolog dengan suara rendahnya sambil menikmati sebatang rokok, yang berada di antara dua jari tengah dan telunjuk.


Dia kembali menempelkan benda itu di bibirnya, menghisap seperti siapa, dan menghembuskan asapnya begitu saja. Membuat seorang perempuan yang sedang terlelap, segera terbangun karena merasa terganggu dengan bau asap rokok. Yang begitu mengganggu penciumannya.


Mata Kiana mulai mengerjap, dan menjengit saat berusaha menyesuaikan cahaya dunia yang terasa sedikit menusuk indra penglihatannya. Suara-suara ombak terdengar dengan jelas, bersahutan dengan kicauan burung yang sepertinya memang sedang terbang memutari area villa.


Perempuan itu segera bangkit, dia meraih bando menggemaskan miliknya yang terletak di atas nakas. Lalu turun dari atas tempat tidur, dan berjalan mendekati pintu kamar mandi yang saat ini tampak terbuka lebar.


Dan setelah membasuh wajah juga menggosok giginya terlebih dulu. Akhirnya Kiana kembali melangkahkan kaki menuju pintu kaca di kamarnya yang terbuka sangat lebar.


Kiana berdiri di ambang pintu, menatap Jovian yang masih sibuk dengan rokoknya tanpa menyadari keberadaan sang istri disana. Satu tangannya memegangi rokok, sementara tangan satunya memegang handphone, dengan pandangan yang juga tertuju ke arah layar benda pipih itu.


Dia terlihat sedang mengunggah sesuatu, dan sudah bisa di pastikan Jovian sedang menunggu postingannya sukse. Dan betapa terkejutnya Kiana saat melihat foto yang suaminya bagikan melalui sosial media.


Dimana foto dirinya terpampang nyata di layar sana, dengan caption My little wife. Tak lupa disertai emot menggemaskan berwarna kuning, dengan mata berbentuk bintang berwarna merah muda, yang tampak sangat ceria.


"Mmmmm, … dia manis sekali!" Batin Kiana berbicara.


Kiana maju beberapa langkah untuk mendekatkan diri, lalu duduk tepat di samping Jovian. Yang tentu saja membuat pria itu terkejut bukan main.


"Baby!"


Perempuan itu tidak menjawab, dia segera memeluk lengan Jovian, dan menyadarkan kepala pada pundak suaminya.


"Kamu sudah bangun? Ini baru jam enam." Dia mengecup puncak kepala istrinya.


Kiasan mengangguk.


"Apa kamu lapar? Sampai membuat kamu segera terjaga seperti ini? Padahal semalam kamu mengeluh sangat kelelahan, aku pikir hari ini kamu tidak akan bangun awal." Katanya lagi sambil terus mempermainkan telinga beruang yang melekat di bando Kiana.


Perempuan itu diam. Dia berusaha menyempurnakan kesadarannya. Meskipun sudah membasuh wajah, namun nyatanya tak dapat langsung membuat kesadarannya segera berkumpul, terlebih rasa kantuk yang masih dia rasakan.


Dan entah kenapa dia memaksakan untuk bangun. Apa karena tahu jika Jovian sudah bangun? Atau hal yang lebih dari sekedar rasa ingin tahu? Melainkan rindu yang selalu terasa walaupun pria itu tak beranjak kemanapun.


"Kamu masih mengantuk?" Akhirnya Jovian bertanya.

__ADS_1


Dia mematikan rokoknya terlebih dulu, kemudian segera merangkul Kiana yang saat ini tengah memeluk lengannya.


"Sedikit." Kiana menjawab dengan suara parau khas bangun tidur.


"Mau aku antar tidur lagi?"


Kiana tidak menjawab. Dia justru mengangkat pandangannya, menatap Jovian yang juga sedang mengarahkan pandangan ke arahnya.


Pria itu tersenyum, lalu menyentuh pipi dan mengusapnya dengan punggung tangan.


"Kamu post apa tadi?" Dia pura-pura tidak tahu.


"Foto kamu. Yang sempat diambil menggunakan handphone aku kemarin." Jelas Jovian.


"Pas kita jalan-jalan di pantai?"


Pria itu segera menjawab pertanyaan istrinya dengan anggukan pelan.


"Banyak respon dari teman-teman kamu?"


"Ada beberapa. Salah satunya Sita! Dia mengucapkan kata selamat dan minta maaf, … karena beberapa kali tidak bisa jadi di acara kita."


"Apa Tante Sita sudah sembuh?"


"Sudah dalam masa penyembuhan." Jovian terus tersenyum, dengan tangan yang tak henti mengusap dan menyentuh setiap inci tubuhnya.


Kiana menatap wajah suaminya lekat-lekat. Dengan sesuatu yang sudah berputar-putar di dalam isi kepala.


"Keguguran itu bisa parah yah!?"


"Tentu saja. Tapi yang Sita alami itu bukan keguguran, melainkan memang harus di lakukan tindakan. Dia mengalami kehamilan ektopik."


Pria itu segera menjelaskan, setelah mengerti rasa penasaran yang cukup tinggi dari istrinya.


"Kehamilan ektopik itu apa?"


"Kehamilan yang terjadi di luar rahim. Kalau tidak salah dengar begitu, … tapi aku tidak tahu lebih jelasnya bagaimana."


Kiana diam lagi.


"Pulang dari sini kita harus nengok Tante Sita. Kasihan Om Denis, pasti dia butuh dukungan, … dia juga pasti terpukul, tapi berusaha tegar aja biar Tante Sita nggak down."


Jovian mengulum senyum.


"Benar. Terkadang kita hanya fokus kepada siapa yang mengalami, tapi lupa untuk memberi semangat kepada orang di sekitarnya."


"Ya sudah, … pulang dari sini kita tengokin Tante Sita sekalian beli oleh-oleh yah?"


"Apapun untukmu, Baby."


Jovian mendorong Kiana dengan perlahan, membuat perempuan itu segera berdiri. Sementara dirinya segera membungkuk, meraih tubuh Kiana, memangkunya, dan membawa perempuan itu masuk ke dalam kamar.


"Sayang?"


Panggil Kiana ketika Jovian meletakkannya di atas tempat tidur.


"Ya?"


"Malam nanti aku mau ke Potato Head Beach Club, boleh?"


Kiana memasang ekspresi wajah menggemaskan, dengan mata berbinar agar mampu membuat Jovian menyetujui keinginannya.


Namun, pria itu tidak menjawab. Dia hanya diam memperhatikan Kiana dengan mata bergerak-gerak, dan raut wajah datarnya seperti biasa. Yang seketika membuat pria itu terlihat sangat tampan berkali-kali lipat.


"Boleh yah! Kan sama kamu, jadi nggak bakalan ada yang berani macam-macam." Kiana memohon.


Jovian masih belum menjawab, dia menatap istrinya semakin tajam.


"Sayang? Ayolah hanya sekali ini saja, lain kali tidak akan minta datang ke clubbing lagi." Dia mengacungkan jari kelingkingnya.


"Hhhheuh!" Jovian menghela nafasnya kencang, seraya memutar bola matanya.


"Boleh ya? Ya ya ya?" Dia merengek manja.


Dan tidak ada lagi yang bisa Jovian katakan, selain menganggukan kepala, sebagai tanda setuju atas apa yang istrinya inginkan.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa taburannya guys ... biar makin gurihhhh 🤪


__ADS_2