Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
01.00 Dini hari


__ADS_3

Setelah mengarungi perjalanan yang cukup memakan waktu. Akhirnya Jovian memutar setir mobilnya sampai kendaraan itu berbelok memasuki pekarangan rumah panggung yang berdiri kokoh di atas hamparan tanah yang cukup luas. Suara derum mesin mobil merobek keheningan malam yang begitu mencekam, membuat suara-suara hewan nokturnal sedikit tersamarkan.


"Mungkin Papi sama Mami udah tidur. Kita pasti ganggu mereka malam ini!" Ucap Kiana kepada suaminya yang hendak bersiap untuk turun.


"Kitu coba ketuk dulu beberapa kali, jika tidak di buka kita kembali lagi ke bawah untuk mencari hotel." Jovian berujar.


"Baiklah, setidaknya kita datang tanpa membuang-buang waktu." Gumam Jovian.


"Ya ya ya." Kiana mencebikan bibir, lalu mendelik.


Mungkin saja perempuan itu masih merasa sedikit kesal. Pasalnya Jovian memberi sedikit masukan agar mereka berdua tidak banyak membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, sampai keduanya menyetujui jika tidak ada bermalam di kota Bandung lebih dulu, dan memilih melanjutkan perjalanan menuju Pangalengan agar tidak membuat semuanya semakin kacau karena banyak waktu yang terbuang sia-sia. Salah satunya masalah fiting baju yang sampai saat ini belum selesai karena menunggu beberapa anggota keluarga yang memang sebagian tinggal di luar kota, termasuk keluarga besar Danuarta.


"Kamu bahas saja terus. Padahal aku sudah mengalah, dan mengikuti apa yang kamu sarankan." Kiana membuka seatbeltnya, kemudian keluar lebih dulu.


Dan Jovian hanya tersenyum ketika melihat istrinya kesal. Memang sedikit menakutkan, namun pada kenyataannya raut wajah kesal Kiana membuat Jovian merasa semakin gemas. Setelah itu Jovian membuka pintu, keluar dari dalam mobil sana, dan berjalan cepat menyusul Kiana yang saat ini sudah berjalan menaiki setiap anak tangga yang terbuat dari kayu satu-persatu.


"Sepi!" Ucap Kiana seraya mengintip ke arah dalam.


Dimana suasana sudah terlihat gelap, dan tidak ada satupun lampu yang menyala di dalam sana.


Tanpa basa-basi, Jovian mendekati pintu, lalu mengetuknya beberapa kali, sembari memanggil-manggil kedua orang tuanya, berharap mereka akan bangun dan membukakan pintu.


Hening, hanya terdengar suara jangkrik-jangkrik yang bersahutan. Di tambah suara-suara dahan-dahan pepohonan di terpa angin yang cukup kencang.


"Mami?" Jovian memanggil lagi.


Namun tetap tidak ada sahutan dari arah dalam sana. Membuat Kiana yang sudah mulai mendudukan dirinya segera berdiri kembali.


"Kita cari hotel terdekat saja. Kasian kalau harus ganggu Mami sama Papi! Mungkin mereka juga lelah karena banyak aktivitas yang dilakukan." Kiana sedikit berbisik.


Jovian menatap Kiana lekat-lekat.


"Tunggu sebentar lagi, oke?"


"Ish tapi nungguin disini agak nyeremin. Suasananya mencekam, nggak ada suara lain, selain suara jangkrik-jangkrik di sekeliling rumah. Mana anginnya kenceng lagi!" Raut wajah Kiana terlihat sedikit berubah.


Manik indah Kiana terlihat semakin bulat, dengan kening sedikit mengkerut, dan kaki yang memperlihatkan sedikit getaran kecil.


"Sayang? Aku tunggu di mobil, boleh? Disini dingin, aku nggak kuat." Kiana berbohong.

__ADS_1


Jelas ekspresi ketakutan begitu kentara di wajah cantiknya. Walaupun dia tidak percaya adanya hantu, namun kesunyian malam mampu membuat pikirannya berkelana pada hal-hal yang buruk. Apalagi suasana di sekitara rumah mertuanya yang terbilang sangatlah sunyi.


Hampir saja Kiana pergi untuk turun dan masuk ke dalam mobil sana seperti apa yang dia niatkan dari awal. Namun, Jovian segera menahan tangannya, kembali membawa Kiana untuk duduk di kursi kayu yang tersedia disana.


"Kenapa?"


"Disini dingin, aku mau ke mobil sajalah!"


"Dingin? Atau takut? Padahal bukankah waktu itu kamu bilang tidak percaya pada hantu? Lalu apa yang kamu takutkan? Sementara ada aku disini, hum?" Jovian segera bertanya.


Sementara Kiana tidak langsung menjawab, dia justru semakin menyembunyikan wajah di dada Jovian, melingkarkan tangan di pinggang pria itu, dan memeluknya dengan sangat erat, lalu memejamkan matanya.


"Hanya suara jangkrik, Baby!" Jovian mengusap-usap punggung Kiana, berusaha membuat perempuan di dalam dekapannya sedikit lebih baik dari rasa takutnya yang mulai memenuhi diri.


Cukup lama Jovian dan Kiana duduk disana. Sampai akhirnya suara pergerakan terdengar dari arah dalam. Dan benar saja, lampu ruang tiba-tiba menyala, kemudian seseorang menyibakan gorden, dan barulah suara kunci pintu diputar beberapa kali.


"Papi kira Mami kamu hanya sedang mengigau. Katanya dia mendengar suara mobil masuk, lalu mendengar ketukan dan suara kamu memanggilnya. Ternyata benar!" Jonathan menatap keadaan putra juga menantunya bergantian.


Dimana keduanya saling memeluk satu sama lain.


"Tadinya aku mau berangkat cari hotel kalau Papi nggak buka pintunya." Celetuk Jovian.


"Ya sudah, ayo masuk." Jonathan menggerak-gerakkan tangan, lalu meraih Kiana dan menggiring menantunya lebih dulu.


Sementara Jovian kembali turun, berjalan mendekati mobil, dan membawa tas pakaian berukuran besar keluar, lalu kemudian berlari cepat sampai pria itu benar-benar masuk.


"Ya ampun, kalian benar datang?!" Leni segera beraksi.


Dia duduk di tepi ranjang dengan wajah sembab, dan segera bangkit untuk kemudian berjalan mendekati Kiana yang saat ini tampak duduk di sofa ruang tv.


"Maaf ya jadi bikin Mami dan Papi bangun." Kiana kepada dua mertuanya.


Leni juga Jonathan tersenyum, duduk menghimpit Kiana, seraya tersenyum pernuh arti. Entah kenapa, kedatangan Kiana menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka.


"Tidak apa-apa, yang penting kalian selamat sampai tujuan." Leni meraih tangan Kiana.


Namun, Leni sedikit terkejut ketika mendapati telapak tangan Kiana yang terasa begitu dingin.


"Jo, tangan Kiana dingin sekali. Apa kamu tidak punya sarung tangan? Sudah tahu cuaca disini itu dingin." Wanita itu bertanya.

__ADS_1


Leni segera protes.


Jovian yang sedang memasukan barang bawaannya ke dalam kamar segera keluar, lalu menatap kedua orangtua dan istrinya bergantian.


"Kamu kedinginan?" Tanyanya.


Kiana mengangguk pelan, menatap suaminya dengan raut wajah yang terlihat semakin menggemaskan.


"Kenapa tidak hilang? Kan tadi bawa selimut kecil?" Suara Jovian terdengar pelan, juga lembut.


"Kedinginan nya setelah turun tadi, bukan pas dalam perjalanan." Jelas Kiana.


Membuat Leni langsung bangkit, meninggalakn mereka untuk segera pergi ke dapur. Tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Mau teh atau susu?" Teriak Leni. "Kopi juga ada, tapi tidak baguslah minum kopi lewat tengah malam begini!" Sambung Leni.


"Ih jadi repotin Mami." Sahut Kiana.


"Tidak apa-apa. Mana bisa Nenek-nenek itu membiarkan menantu kesayangannya dalam keadaan tidak baik-baik saja." Kata Jonathan dengan suara pela.


Mendengar itu Jovian tertawa, sementara Kiana hanya diam sambil menahan senyum.


"Pendengaran Nenek-nenek ini masih sangat bangus, lho!" Leni menyahut dari arah dapur. "Jadi jangan bicara sembarangan!" Tegas Leni.


Dan itu membuat tawa Kiana menyembur.


"Jadi Kia mau apa, Nak?" Suaranya melembut lagi.


"Gimana menurut Mami saja, kalau disini enaknya minum teh, ya teh saja. Biar sekalian kita minum teh sama-sama menjelang pagi seperti sekarang. Momen langka ini, kapan lagi bisa minum teh bersama malam-malam, bahkan hampir pagi." Kiana terkekeh pelan.


"Ya sudah. Mami siapkan teh saja yah! Siapa tahu Aki-aki juga mau minum teh. Soalnya kalau tidak di perhatikan suka merajuk seperti Axel." Balas Leni.


Dan keheningan malam segera lenyap, bergantikan dengan keriuhan canda dan tawa dari Kiana, Jovian, Leni, dan Jonathan.


......................


Maaf ya guys telat terus 🥲


Jangan lupa like, komen, hadiah sama vote : )

__ADS_1


Cuyung kalian banyak-banyak ♥️


__ADS_2