
Jam sudah menunjukan pukul 01.30 lewat tengah malam.
Namun, tampaknya Jovian masih terjaga. Dia tidak bisa benar-benar memejamkan mata, hatinya terasa begitu gelisah, dengan pikiran yang terus tertuju kepada Kiana. Jovian terus memikirkan, bagaimana Kiana di luar sana? Apa dia baik-baik saja? Sudah makan atau minum? Apakah Kiana juga kedinginan? Karena akhir-akhir ini cuaca di Tangerang sedang sangat ekstrim. Siang hari bisa terasa begitu panas, dan malam hari akan terasa sangat dingin.
Seperti malam hari ini contohnya. Pepohonan di sekeliling rumah terus bergerak-gerak tertiup angin. Bahkan kabut terlihat turun, dan itu membuat suasana malam ini terasa begitu menusuk.
"Baby? Maafkan aku. Sungguh aku tidak berniat membuatmu kecewa!" Dia bermonolog dengan suara lirih.
Apa yang dia lakukan tadi sore, kini berbuntut pada rasa penyesalan yang begitu teramat dalam.
Jovian duduk bersandar di atas tempat tidur, setelah terus berjalan mondar-mandir sambil menatap gerbang rumah yang terus tertutup, berharap Kiana akan segera kembali meskipun rasanya sangatlah mustahil. Namun, pandangannya terus tertuju ke arah jendela kamar yang memang dibiarkan terbuka, menatap langit hitam kelam yang tertutup kabut tipis.
Dia benar-benar merasa sangat bersalah. Apalagi wewangian yang tercium di sekitaran kamar membuat Jovian semakin merindukan Kiana. Bahkan dia tidak bisa mengalihkan pikiran dari perempuan itu, meskipun hanya beberapa detik saja.
Jovian meraih handphone miliknya yang terletak di atas nakas. Mencari-cari kontak seseorang, lalu mendekatkan benda pipih itu ke arah daun telinga setelah mendapatkannya.
"Halo, Pak?"
Seseorang terdengar menyapa lebih dulu dari seberang sana.
Jovian memejamkan mata, menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali, berusaha menyingkirkan perasaan yang semakin lama semakin terasa tidak nyaman.
"Maaf aku mengganggu istirahatmu!" Balas Jovian dengan suara rendah.
"Ada sesuatu yang serius, Pak?" Gibran bertanya.
"Ya. Istriku pergi dengan keadaan marah, sampai saat ini masih belum pulang. Aku sudah mencarinya ke taman kota, taman jajan, apartemen! Tapi dia tidak ada dimana-mana. Kamu bisa membantuku Gibran? Tolong cari tahu dia ada dimana! Dia tidak membawa apapun, hingga membuatku sedikit kesulitan untuk melacaknya." Jovian berujar.
Pria itu menghela nafasnya lagi. Entah mengapa tiba-tiba saja Jovian merasa tenggorokannya tercekat, dan membuat dia tidak mampu banyak berbicara.
Dia berusaha menahan diri agar tidak menangis.
"Bapak sudah memeriksakan teman-temannya?"
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Jovian diam, dengan pikiran yang terus berputar-putar.
"Belum. Hubungan mereka akhir-akhir ini merenggang, jadi aku kira Kiana tidak akan kesana. Aku tidak tahu dia bersembunyi dimana, entah di tempat yang aman atau tidak!"
Jovian menyangkal pikiran buruknya tentang seseorang yang akan menerima istrinya dengan sangat baik. Atau bahkan dia akan memanfaatkan keadaan ini, dan masuk untuk menggeser posisinya.
Tidak mungkin, Kiana tidak menyukainya!
Kalbunya berbicara.
"Pagi besok saya coba cari tahu, Pak. Kita cari dari teman-teman dekatnya, lalu saudara. Dan jika sudah istri anda benar-benar tidak ada diantara mereka, maka kita harus meminta bantuan Pak Denis." Dia memberi usulan. Setidaknya itu bisa membuat perasaan Jovian sedikit lebih baik.
"Baik, kalau begitu terimakasih! Kamu boleh kembali beristirahat."
Jovian terus berbicara lembut, membuat Gibran sedikit terheran-heran, karena tidak biasanya Jovian berbicara dengan nada bicara seperti itu.
"Tunggu sebentar, Pak! Untuk kelanjutan kasus penempelan foto di papan pengumuman waktu itu bagaimana? Apa anda tidak berniat menemui Hilmi kembali untuk menggali lebih dalam informasi yang mungkin saja dia ketahui?"
"Tadinya saya mau terus perdalam. Niat awal menunggu Hilmi lulus saja dulu agar tidak mengganggu kuliahnya, … tapi hal lain terjadi, dan aku tidak bisa memikirkan apapun selain Kiana saat ini."
Jovian mengangguk-anggukan kepalanya.
"Terimakasih sebelumnya." Ucap Jovian.
"Sama-sama, Pak."
Setelah itu sambungan telepon keduanya terputus. Membuat Jovian kembali meletakan handphone kembali di atas nakas. Dan beralih membawa ponsel milik Kiana yang juga dia letakan di tempat yang sama.
Jovian menekan tombol power sampai layar ponsel milik Kiana menyala. Memperlihatkan sebuah lock screen dimana terdapat dua manusia yang sedang berfoto, menatap ke arah kamera, duduk di kursi tepi pantai, tersenyum dengan tangan yang saling merangkul satu sama lain.
"Oh Kiana!" Kata Jovian, seraya mendesah frustasi.
Lalu dia mengusap layar itu ke arah atas, sampai munculah beberapa angka. Jovian sempat berpikir untuk beberapa saat, sampai pada akhirnya dia memasukan tanggal, bulan dan tahun lahir Kiana.
__ADS_1
"Bukan!" Katanya, lalu dia berpikir lagi.
Cukup lama Jovian menatap layar handphone milik Kiana, lalu dia kembali mencoba dan memasukan tanggal, bulan dan tahun pernikahan mereka.
Terbuka.
Foto wallpaper kembali membuat Jovian diam. Bahkan kali ini matanya terasa memanas, ketika melihat mereka berdua yang sedang tersenyum sembari menunjukan buku nikah yang keduanya dapatkan kurang lebih satu bulan yang lalu.
"Ah aku benar-benar sudah membuat kamu kecewa, Baby!" Ekspresi penuh penyesalan jelas terlihat.
Jovian melihat-lihat lebih dalam lagi. Dari chat, atau postingan di media sosial yang terlihat tidak ada hal yang aneh. Sampai akhirnya dia membuka sebuah galeri, dimana tempat itu dipenuhi oleh foto-foto dirinya, yang mungkin Kiana ambil secara sembunyi-sembunyi.
Dirinya yang sedang berbincang bersama sang ayah dengan suasana pangalengan di pagi hari. Lalu memasak, saat menonton tv, bahkan perempuan itu masih sempat mengambil fotonya saat sedang tertidur lelap.
Dan satu foto yang membuat perhatiannya tertuju kesana. Yang dia ingat bahwa foto tersebut Kiana ambil saat mereka sedang berbulan madu di Bali. Lebih tepatnya saat mereka pulang dari Potato Head Beach.
Satu foto yang hanya mengekspos bagian dada. Dimana kancing-kancing kemejanya dibiarkan terbuka, dengan ukiran lipstik merah berbentuk bibir, maha karya Kiana yang dia jadikan sebagai tanda. Jika hanya dialah yang boleh menyentuh dirinya sejauh itu.
Jovian terkekeh, namun menitikan air mata di waktu yang bersamaan.
"Belum ada sehari. Tapi aku sangat merindukan tingkah lakuku yang nakal!" Katanya, lalu Jovian memejamkan mata, merasakan rindu yang mulai begitu menyiksa.
"Oh sayang, jangan begini! Kamu boleh marah, berteriak atau memukulku sekeras mungkin. Tapi jangan pernah pergi meninggalkan aku. Kamu boleh menghukumku dengan cara apapun, tapi tidak dengan pergi menghilang seperti ini!"
Air matanya terus berjatuhan membasahi pipi. Dan ini merupakan hal pertama yang pernah dia lakukan. Bahkan dulu dia tidak pernah merasa segelisah ini saat Eva pergi, dia cenderung tidak peduli apapun yang akan Eva lakukan, dirinya hanya mampu diam dan termenung mencari-cari kesalahan apa yang sudah dia lakukan sampai Eva memutuskan untuk selalu pergi saat rumah tangga mereka dirundung masalah.
Namun, ini berbeda. Besarnya cinta Kiana, dan ketulusan yang dia berikan, membuat Jovian benar-benar sangat ketakutan. Rasa gelisah bahkan terus memenuhi diri sampai dirinya tidak bisa hanya sekedar untuk memejamkan mata.
......................
Hati-hati Om! kecewanya orang tulus beda🙈🙈
Jangan lupa! Like, komen, kopi, bunga vangke sama apa aja deh yang kalian punya🤣
__ADS_1
Semangat puasanya cuyung😍😍