Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Keluarga bahagia


__ADS_3

Jonathan duduk di dalam sebuah gazebo yang terletak tepat di tengah-tengah perkebunan belakang rumahnya. Menikmati keindahan alam dengan udara sejuk seperti biasa, menyendiri dengan handphone yang ada di dalam genggamannya. Menatap ke arah layar sana, dimana terlihat sebuah foto Jovian yang tengah merangkul Kiana sambil tersenyum lebar.


"Mami cari kemana-mana tidak ada. Ternyata disini!"


Tiba-tiba saja Leni datang, membuyarkan lamunan Jonathan yang sedang fokus memperhatikan raut wajah bahagia putra keduanya.


"Lihat!" Jonathan tersenyum, seraya memberikan benda pipih itu kepada istrinya.


Leni segera duduk di samping pria tua itu, meraih ponsel yang Jonathan sodorkan, lalu menatap apa yang ada di sana lekat-lekat.


Sebuah pemandangan yang sangat menawan. Lautan berwarna biru toska, dengan hamparan pasir putih. Namun perhatiannya tentu saja tidak hanya tertuju kesana, melainkan putra mereka yang sedang berpose dengan senyuman paling manis, merangkul Kiana yang juga memperlihatkan raut wajah bahagia.


Tak lupa dengan kacamata hitam melekat di wajah tampan Jovian, bertumpu pada hidung mancung pria itu. Sementara Kiana terlihat sangat menggemaskan dengan topi pantai yang dia pakai berukuran cukup besar, sampai dapat menyembunyikan wajah Kiana dari teriknya cahaya matahari.


"Jovian mengirimkannya beberapa menit lalu." Pria itu menjelaskan.


Leni mengangguk, lalu tersenyum.


"Dia terlihat sangat bahagia ya, sekarang!" Wanita itu menatap foto yang dikirimkan Jovian dengan perasaan haru.


Jonathan mengangguk, dia beringsut mendekat, dan merangkul pundak Leni dengan segera.


"Kita sudah benar-benar tenang sekarang. Terutama Papi, … karena Jovian sudah menemukan kebahagiaannya. Tidak ada lagi yang akan membuat kita khawatir."


"Papi benar. Jovian sudah baik-baik saja dengan pilihannya."


Leni terkekeh, tapi tak selang lama dia mengusap sudut matanya. Ketika air mata terjatuh tanpa sengaja, padahal Leni sudah berusaha menahannya.


"Javier sudah bahagia dengan keluarga kecilnya. Adline dan Axel, … sekarang Jovian dengan Kiana, dan kita doakan segera hadir anak di antara mereka." Jonathan menepuk-nepuk pundak istrinya.


"Tapi satu yang membuat Mami masih takut."


"Tidak ada yang perlu ditakutkan, … Jovian tidak salah langkah lagi! Dia diterima Kiana tanpa syarat apapun, begitu juga dengan keluarganya. Pak Danu dan Bu Herlin tidak pernah memandang Jovian itu laki-laki yang sangat rendah, … hanya karena dia terlahir dan di besarkan oleh keluarga yang tidak bekerja di area perkantoran juga memakai setelah rapi. Mereka menerima Jovian yang hanya seorang ajudan pribadi, dan anak dari sepasang petani."


Leni diam menatap wajah suaminya lekat-lekat. Dimana sudah terdapat banyak keriput dan rambut yang sudah memutih.


"Tapi bukan itu yang membuat Mami takut."


"Lalu apa?"


Jonathan terus mengukir senyum, berusaha menghapuskan rasa takut yang tampak kentara di raut wajah istrinya saat ini.


"Eva itu kan sahabatnya Adline. Bahkan hubungan Javier dan istrinya terjalin karena seringnya Eva mengajak Adline untuk pergi bersama. Lalu sekarang bagaimana? Setiap ada acara untuk Alex, Adline sudah pasti mengundang Eva, … apa akan menjadi masalah bagi Kiana?"


"Memangnya acara apa? Mereka jauh di Belanda sana."


"Ini hanya bayangan saja, Pih!"


"Berpikir yang baik-baik saja dulu. Tidak perlu memikirkan hal buruk yang bahkan belum terjadi, … dan mudah-mudahan tidak pernah terjadi." Jonathan berujar.


Dan kali ini Leni kembali diam, menatap foto bahagia dari sang putra bersama menantu cantiknya.


"Sekarang berpikir yang baik-baik, bayangkan jika pulang nanti Kiana sudah hamil, dan buah hati mereka akan menjadi pelengkap keluarga Jovian juga Kiana kelak."


"Hmmmm, … semoga bahagia selalu menyertai mereka." Leni tersenyum, seraya mengusap layar handphone dengan raut bahagia.

__ADS_1


***


Sementara itu malam harinya di Indonesia bagian tengah.


Jovian berdiri menyandarkan punggung pada dinding kamar, sembari menatap Kiana yang tengah bersiap-siap.


Dress panjang berwarna hitam polos. Memiliki belahan dari atas mata kaki sampai paha. Juga bagian pundak dan punggung yang terbuka, dengan aksen tali-tali kecil melingkar menghiasi tubuh bagian belakang perempuan itu, membuat kulit putih mulusnya terekspos dengan jelas.


Dengan telaten Kiana menata rambutnya sampai terlihat rapi, tak lupa memakai anting bulat berukuran sedikit besar, dan aksesoris-aksesoris yang dia pakai seperti cincin dan gelang.


"Let's go, Bae!" Kiana menoleh ke arah dimana Jovian berada.


Berdiri menyandarkan diri pada dinding kamar, dengan tatapan tajam yang tertuju kepada dirinya.


"Kamu yakin?" Dia menegakkan tubuhnya, lalu berjalan mendekati sang istri, dengan tangan yang terus terlipat di atas dada.


"Kenapa?"


"Pakaiannya sedikit terbuka dibagian sini!" Satu tangan Jovian bergerak, lalu mengusap pundak dan punggung Kiana menggunakan jari-jari tangannya.


Pandangan Kiana lurus kedepan, menatap cermin besar yang berada di atas meja rias sana. Pun dengan Jovian, sampai mereka saling memperhatikan dari arah pantulan cermin.


"Apa buruk?"


Jovian segera menggelengkan kepalanya. Jelas dia menyangkal pertanyaan Kiana. Mana mungkin penampilan se-sempurna ini di katakan buruk, hanya saja hatinya merasa tidak rela, entah berapa pasang mata yang akan melihat keadaan Kiana nantinya, dengan decak kagum yang sudah pasti mereka utarakan.


"Tapi aku suka dress ini. Sebelum skripsi aku sempat berbelanja pakaian, … salah satunya ini! Dan aku tidak pernah memakainya sampai akhirnya ada acara yang tepat untuk aku memakainya.


Jovian diam untuk beberapa waktu. Memperhatikan keadaan istrinya dari ujung kepada sampai ujung kaki.


Kiana tidak menjawab lagi. Dia berusaha mencerna setiap ucapan suaminya. Namun, dengan segera otaknya berpikir keras, harus pakaian yang bagaimana agar Jovian tidak merasa keberatan saat dirinya hendak keluar malam ini?


Dia berbalik badan, berjinjit untuk kemudia melingkarkan tangan si bahu kokoh milik suaminya, lalu Kiana memperlihatkan senyuman yang paling manis.


"Kamu keberatan karena takut ada yang mengagumiku?" Retina milik Kiana bergerak-gerak. Menelisik lebih jauh netra Jovian, yang saat ini menatapnya dengan ekspresi dingin dan datar.


"Aku bersolek seperti ini juga agar kamu merasa senang. Jika mereka menatapku, lalu mengaguminya. Itu bukan masalah kamu ataupun kita! Mereka hanya mampu mengagumi aku saja bukan? Sementara kamu benar-benar memiliki aku seutuhnya."


Kata-kata itu terdengar seperti rayuan maut. Apalagi saat Kiana mengubah intonasi bicaranya menjadi sangat mendayu-dayu.


"Hhheuh!" Jovian menghembuskan nafasnya pelan.


"Lalu kamu mau aku pakai apa? Daster? Piyama? Atau biki …"


"No!!" Sergah Jovian, dia segera memotong ucapan istrinya sebelum perempuan itu selesai berbicara. "Jangan macam-macam, … atau kamu tidak akan bisa kemana-mana! Dari pada berpenampilan seperti itu lebih baik kita di villa saja." Tegas Jovian.


Senyuman Kiana terlihat semakin merekah. Membuat aura kecantikannya semakin memancar.


"Jadi ayo kita berangkat. Aku yakin tidak akan ada yang berani menggodaku, sementara ada Bodyguard seumur hidup yang selalu ada kemanapun aku pergi."


Setelah mengatakan itu Kiana menarik pundak Jovian, sampai pria itu sedikit menunduk, dan bibir keduanya beradu.


"Ayo sayang."


Kiana melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi melingkar di bahu Jovian, lalu beralih pada salah satu lemari berukuran kecil, dan membawa satu kotak berisikan high heels yang belum pernah Kiana pakai sama sekali.

__ADS_1


Dia membawanya ke arah sofa, duduk lalu memakainya dengan segera. Sementara Jovian menggelengkan kepala, dengan perasaan tidak percaya. Bagaimana bisa dia membiarkan istrinya berpakaian terbuka seperti itu, bahkan dulu dia tidak pernah mengizinkan Eva melakukannya sama sekali.


"Apapun agar dia bahagia Jovian!" Hatinya berbicara.


"Kita berangkat sekarang?" Tanya Kiana.


Perempuan itu segera bangkit, meraih tas hitamnya yang berada di atas koper, memasukan beberapa barang-barang seperti dompet, dan handphone.


Tidak ada yang bisa Jovian lakukan, selain segera bersiap-siap untuk segera pergi.


Dengan segara Jovian meraih botol minyak wangi miliknya, yang berada di dalam sebuah pouch terletak tepat di atas meja rias, tak lupa menyemprotkannya hampir keseluruh tubuh. Dia menatap dirinya sendiri dari arah pantulan cermin, memastikan keadaanya yang juga tampak sempurna.


Kemeja putih berlengan panjang, dia lipat sampai sikut, yang Jovian padukan dengan celana chinos berwarna hitam. Tak lupa dengan sepatu pantofel hitam mengkilapnya.


"Kamu juga tampan bukan?" Kiana mendekat.


Dia memeluk lengan suaminya, mengatakan kamera ponsel ke arah cermin, dan mengambil beberapa gambar. Hingga setelah itu Kiana kembali menyimpan handphonenya ke dalam tas hitam miliknya.


"Hemmm, … karena kamu cantik sekali, jadi aku harus berpenampilan setara bukan?" Katanya sambil memeluk pinggang Kiana, lalu memberi kecupan di pipi istrinya.


Perempuan itu terlihat lebih tinggi, dan ikut berkat sepatu yang dia kenakan saat ini.


"Baik, ayo kita berangkat sekarang, Baby!" Jovian tersenyum terlebih dulu kepada Kiana.


Lalu beralih mengangkat sebelah tangannya, dan melihat arloji, dimana jarum jam sudah menunjukan pukul 20.30.


Kiana mengangguk dengan segera, dia bahkan keluar lebih dulu dari area kamar. Meninggalkan Jovian yang tampak sedang membawa dompet dan kunci mobil yang memang tersedia di villa sana.


"Bude, kami berangkat dulu yah. Minta tolong beritahu Dea untuk merapikan kamar, … sama Mas Bayu buat bawa pakaian kotor ke laundry besok." Ucap Kiana ketika dia menemukan Isma yang baru saja melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang tengah, membawa keranjang berisikan berbagai jenis makanan ringan.


Isma meletakan keranjang itu di atas meja, menatap Kiana, kemudian menganggukan kepala sambil tersenyum tipis.


"Besok mau di siapkan apa?" Isma langsung bertanya.


"Siapkan sarapan seperti biasa. Tapi tolong buatkan Zuppa soup yah!"


"Iya, Non."


Kiana menoleh saat mendapati bayangan Jovian mendekat, merentangkan tangan, yang langsung Jovian sambut sampai keduanya berjalan saling bergandengan tangan.


Ismi mengikuti ke duanya dari arah belakang, mengantar Jovian juga Kiana sampai memasuki mobil BMW 530i yang terparkir di garasi villa.


Beruntung Danu menunjuk Bayu untuk mengurusnya, sampai mobil mewah itu terawat dengan baik, dan dapat di gunakan kapan saja jika sewaktu-waktu salah satu dari keluarga berkunjung kesana, dan membutuhkan kendaraan bermotor untuk pergi.


Suara derum mesin mobil jelas terdengar. Lalu tidak lama setelahnya kaca di sebelah kiri terbuka.


"Kami berangkat ya, Bude. Tolong minta Dea untuk merapikan kamarnya sekarang juga, … dan maaf sudah membuat kalian masih bekerja selarut ini."


Isma mengangguk.


"Tidak apa, Non. Kami begini juga tidak sering, hanya jika ada yang datang saja." Wanita itu berujar, dengan senyum yang tak pernah terlihat pudar sama sekali.


Setelah itu Jovian memutar setir mobilnya, melaju dengan kecepatan rendah, meninggalakn villa besar itu sesegera mungkin setelah terlebih dulu menekan klakson untuk berpamitan kepada sosok perempuan paruh baya penjaga villa milik keluarga istrinya.


......................

__ADS_1


Komen, like sama hadiahnya mana nih😌 katanya mau othor crazy up 🤪


__ADS_2