
Suasana ruangan cukup hening, semua pandangan tertuju pada sebuah layar monitor yang sedang memperlihatkan keadaan dua bayi di dalam perut Kiana. Beberapa pertanyaan Dokter berikan, dan setelah selesai mereka kembali duduk di kursi yang Dokter sediakan untuk berkonsultasi seperti biasa.
"Si kembar sehat, semuanya normal. Lingkar kepala, dan berat badan yang ideal saat usia mereka menginjak 24 Minggu," jelas Dokter.
Jovian menatap dengan serius wanita yang duduk di hadapannya, pun dengan Kiana yang selalu mendengarkan apa kata Dokter dengan baik.
"Salah satu dari mereka memiliki berat badan yang lebih kecil, tapi masih normal apalagi mereka bayi kembar. Karena beberapa kasus bayi kembar memang terkadang ada yang seperti itu," katanya lagi yang langsung mendapatkan anggukan dari Kiana dan Jovian.
"Ada sesuatu yang dikhususkan tidak Dok? Kita kan mau terbang ke Belanda. Jarak tempuhnya kurang lebih 14 jam," tanya Jovian.
Dokter yang di maksud tampak tersenyum, lalu menjawab;
"Ada keluhan tidak?"
Jovian menoleh, menatap ke arah istrinya yang terlihat sangat cantik siang hari itu. Rambut panjang berwarna coklat yang di cepol, sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Kemeja polos berwarna putih, dengan legging panjang dan juga sandal jepit andalannya.
"Sayang, apa ada keluhan?"
"Hanya sedikit kesulitan saat berjalan saja, Dok. Sama tidak bisa berdiri lama, soalnya suka sakit pinggang sama kaki kram," tutur Kiana.
"Bagian bawah perut juga kadang-kadang sakit," lanjut Kiana.
"Kalau begitu anda sudah saatnya memakai kursi roda, saya tidak menyarankan anda berjalan terlalu lama, apalagi dengan jarak yang sangat jauh," tukas Dokter.
Kiana mengangguk.
"Kalau sedang berada di tempat umum, di usakan cari tempat duduk yang disediakan. Jangan terlalu dipaksakan kalau perutnya sudah sakit, ya? Bisa bahaya nanti."
Kiana mengangguk lagi, tanda mengerti dengan penuturan seorang wanita berjilbab di hadapannya.
"Baiklah kalau begitu terimakasih untuk pertemuan hari ini, Dokter."
Kiana mengulurkan tangannya, yang langsung di raih sehingga dua perempuan berbeda usia itu saling tersenyum dan berjabat tangan.
"Karena jarak tempuh yang sangat lama. Saya sarankan untuk membawa beberapa cemilan yang anda sukai, … mood ibu hamil harus benar-benar dijaga, oke?"
"Iya Dok," sahut Kiana sambil terus memperlihatkan senyumannya.
Lalu jabatan tangan itu terlepas, dan Dokter segera beralih kepada Jovian saat mengulurkan tangannya juga.
"Selamat berlibur Pak Jovian," katanya.
Jovian tersenyum samar.
"Baik, Dokter. Terimakasih!"
Dokter menarik lepas tangannya, kemudian dia beralih mengambil secarik kertas dan juga amplop berisikan hasil USG seperti biasa.
"Ini resep Vitamin yang harus di tebus seperti biasa. Dan ini hasil USG nya, siapa tahu mau di jadikan koleksi lalu di pajang di dinding rumah."
Jovian menerimanya dengan rasa bahagia yang sangat besar. Matanya bahkan tampak berbinar-binar, dengan senyuman paling manis yang pria itu perlihatkan saat menatap sebuah amplop, dimana isinya adalah sebuah Foto kedua janin di dalam perut sang istri.
__ADS_1
"Sekali lagi terimakasih, Dokter." Joviaj menatap wajah Dokter kandungan di hadapannya.
"Iya, Pak Jovian."
Dan setelah itu, Kiana juga Jovian melenggang ke arah pintu, membukanya lalu keluar bersamaan dengan seorang asisten Dokter yang kembali memanggil pasien lain.
***
"Nanti kita disana tinggal di rumah Ka Vier?"
Kiana menoleh, menatap suaminya yang tengah fokus mengendarai mobil, dimana kendaraan itu melaju dengan kecepatan normal di jalanan kota yang cukup padat.
Sekilas Jovian menoleh, tapi bukannya menjawab. Dia justru mengulurkan tangan, dan mengusap perut istrinya yang ada di balik baju kemeja.
"Mereka anteng kalau di dalam mobil. Kalau duduk di sofa baru bertingkah, … tendangannya udah kaya mau keluar secara paksa!" Ujar Kiana seraya menundukan pandangan, menatap tangan Jovian yang terus mengusap-usap perut buncitnya.
"Pintar sekali anak Papa!" Katanya dengan perasaan yang tidak bisa di deskripsikan oleh kata-kata.
Mendengar itu Kiana tersenyum.
"Kita pulang kampung, ya! Bertemu sepupu-sepupu disana," kata Jovian lagi kepada anak-anaknya yang masih ada di dalam kandungan sang ibu.
"Kita tinggal di rumah Ka Vier?" Lagi Kiana bertanya.
"Mungkin sesekali menginap saja. Kita tinggal di rumahku yang sekarang ditempati adiknya Papi," kata Jovian.
Pria itu menurunkan laju kendaraan roda empat yang kini mereka tumpangi, berhenti di tengah-tengah jalan untuk menunggu kendaraan lain lewat, dan setelah jalanan kosong. Jovian memutar stir mobil, sampai Lexus hitam itu memasuki gerbang utama yang dijaga beberapa petuga keamanan.
"Selamat siang, Pak Jovian!" Katanya sambil meletakan telapak tangan di atas pelipis.
Salah satu dari beberapa keamanan yang berjaga menyapa, dan tidak lama setelah itu Barrier Gate (palang pintu otomatis) terbuka. Membuat Jovian dapat segera kembali melakukan mobilnya yang sempat terhenti.
Mobil melaju dengan sangat pelan, menyusuri jalanan komplek yang tampak lengang pada siang hari ini. Maklum saja, hampir semua penduduk yang ada disana beraktivitas dari pagi hingga sore hari, tidak aneh kalau siang suasana di area cluster itu cukup sepi, dan hanya terlihat beberapa pengasuh yang sedang mengajak main balita-balita menggemaskan di salah satu taman bermain yang tersedia.
Pepohonan yang rimbun, cahaya matahari yang tidak terlalu terik, nyatanya mampu membuat anak-anak betah bermain di luar rumah.
"Nanti kita seperti itu, ya?" Kiana tersenyum-senyum sendiri.
Seringkali Kiana merasa tidak sabar, melihat anak-anak balita yang berlari kesana-kemari, tertawa riang gembira seperti salah satu anak yang tinggal tepat di samping rumahnya, membuat perempuan itu berkhayal bagaimana jika putra-putri lahir nanti.
Apakah mereka akan sangat menggemaskan seperti mereka? Dan keluarganya menjadi semakin harmonis?
"Ya, kita pasti akan merasakan masa-masa itu. Bermain bersama anak-anak, menghabiskan waktu bersama. Entah itu di rumah atau pergi keluar untuk menemani mereka menjelajahi dunia."
Mereka saling menatap untuk beberapa detik, sebelum akhirnya Jovian mengembalikan pandangannya ke arah jalanan, membelokan mobil mereka sampai memasuki pekarangan rumah, dan memberhentikan kendaraan roda empat itu di garasi yang tersedia.
"Kita sampai, Baby."
Jovian mematikan pendingin, mesin mobil, dan setelah itu dia membuka sabuk pengamannya lalu keluar lebih dulu. Dengan langkah cepat dia berlari memutari mobil, untuk membantu Kiana turun dari dalam sana seperti biasa.
Bahkan posisi duduk bersandar saja, sudah membuat Kiana kesulitan saat perempuan itu hendak mengubah posisi duduk dan bangkit. Sampai bantuan dari orang lain pun selalu dia butuhkan hanya untuk memberikan sedikit bantuan.
__ADS_1
"Sebentar, perut aku suka sakit kalau terlaku buru-buru!" Dia meraih pundak suaminya, dan menarik perlahan-lahan.
"Santai saja, aku disini tidak akan meninggalkanmu," kata Jovian dengan suara yang terdengar sangat lembut dan pelan.
Tubuh tinggi besarnya sedikik membungkuk, dengan tangan yang menyentuh pinggang Kiana, menariknya perlahan sampai perempuan itu dapat keluar dan berdiri di samping mobil.
Nafasnya tersengal-sengal, seraya menekan pinggangnya yang memang selalu terasa pegal.
"Astaga, kalau bisa aku mau titip mereka di perut kamu dulu!"
Kiana mengeluh, yang membuat Jovian tertawa kencang setelahnya.
"Seneng banget yang mau punya anak sekaligus dua," ledek Kiana.
Dia menatap Jovian tajam, kemudian mendelik saat netra keduanya bertemu.
"Tentu saja, memangnya siapa yang tidak bahagia saat mereka akan memiliki keturunan? Terlebih mereka akan terlahir dari seorang perempuan yang sangat cantik luar biasa," sambil berbisik Jovian mendekat, kemudian merangkul Kiana dan mencium pipi perempuan itu beberapa kali.
Kiana menghela nafas, dia mencoba melepaskan rangkulan tangan kekar suaminya, meskipun nihil karena pria itu terus memeluk tanpa merasa puas.
"Berat, Papa!"
"Perut bulat ini membuat kamu terlihat semakin menggemaskan, sayang!"
Kiana mengikut Peut Jovian pelan.
"Dasar gombal!"
"Tidak, aku serius. Bahkan aura keibuan kamu sudah terpancar."
Kiana bergumam, saat menimpali kata-kata dari Jovian.
"Baiklah. Ayo kita masuk," ajak Jovian.
Kiana mengangguk, sambil menyodorkan tas branded miliknya kepada Jovian.
"Apa?"
"Bawain Papa. Tas ini juga menambah beban tahu!"
"Beban apanya? Hanya ada dompet, handphone sama vitamin yang baru kita tebus tadi," sanggah Jovian dengan raut wajah datar.
Namun, tak membuat Jovian menolak keinginan istrinya. Setelah itu Kiana melingkarkan tangannya di lengan kekar Jovian, kemudian berjalan perlahan mendekati pintu utama yang tertutup rapat.
"Aylapyu Papa, Jo! Nanti sore kita ke rumah Mama ya? Aku mau markisa di belakang rumah. Dicampur garen sama irisan rawit kayaknya enak banget," racau Kiana, sementara Jovian hanya terus melangkahkan kakinya sambil mendengarkan celotehan Kiana yang tidak pernah berhenti bahkan sampai mereka berada di dalam rumah.
......................
Jangan lupa like, vote, komen sama sawerannya yaaaaa
Aylapyu sekebon markisa 🐣
__ADS_1