Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Bandel tapi penakut.


__ADS_3

Jovian menyandarkan punggungnya di body mobil. Menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian menghembuskan asapnya sampai mengepul di udara. Dengan tatapan mata yang terus tertuju ke arah sebuah tempat hiburan malam.


Semakin malam suara musik di dalam sana semakin terdengar nyaring, bahkan tak sedikit anak muda yang terlihat berdatangan ke tempat itu.


"Emmmm, … Pak Jovian? Maaf. Sepertinya saya akan pulang saja seperti usulan Bapak tadi, ini sudah sangat larut, anak istri saya pasti menunggu!" Yanto muncul dari arah samping.


Pria yang sedari tadi memutuskan untuk menunggu bersama Jovian kini menyerah. Jam sudah menunjukan pukul 22.00 malam, namun Kiana tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda akan segera keluar dan pulang, sampai membuat Yanto menyerah.


Berbeda dengan Jovian, pembawaanya memang terlihat begitu santai, bahkan dia tampak tak terganggu sedikitpun setelah menunggu hampir 6 jam lamanya. Pria itu hanya fokus memperhatikan dengan rokok yang tak hentinya dia hisap, entah susah berapa banyak Jovian menghabiskan benda yang mengandung nikotin itu.


"Pulang saja, Pak. Sebentar lagi juga saya masuk, Kiana sudah benar-benar keterlaluan!" Katanya.


"Mobilnya?"


"Pak Yanto saja yang bawa, nanti saya pulang dengan Kiana."


Jovian menegakkan tubuhnya, menjauh dari mobil sedan mewah milik Kiana. Dan membiarkan Yanto segera masuk kedalam sana.


"Pak Jovian? Kalau begitu saya duluan."


Jovian menghembuskan asap rokoknya, lalu mengangguk.


Yanto segera melajukan mobilnya, kemudian pergi setelah menekan klasson beberapa kali. Dan hal yang sama Jovian lakukan, setelah kepergian Yanto dia segera mendekati kawasan hiburan malam, yang terlihat semakin ramai saja ketika malam semakin larut.


Suasana temaram. Dengan gemerlap lampu disko yang yang mendominasi tempat itu. Tak lupa dengan musik yang terasa memecah pendengaran kala seorang DJ mulai beraksi di atas panggung.


Pandangan Jovian mengedar, mencari sosok gadis yang memiliki postur tubuh mungil. Beberapa kali Jovian bertabrakan dengan para pengunjung lainnya, dengan kepala yang terus menoleh ke kanan dan ke kiri.


Dan disanalah Kiana. Menari, berteriak sambil melompat-lompat, dikelilingi beberapa orang sampai tubuh mereka saling bertabrakan satu sama lain.


Dengan langkah lebarnya Jovian langsung mendekat, kemudian meraih pundak Kiana sampai gadis itu terkesiap, terkejut bukan main.


"Pulang!"


"Apa!?" Kiana berteriak saat suara musik menyamarkan suara sang Bodyguard.


Kiana menepis tangan Jovian dari pundaknya, lalu kembali menari dengan enerjik.


"Sudah cukup bersenang-senangnya, sekarang waktunya pulang!" Kini Jovian berteriak.


Pria itu meraih tangan Kiana, lalu menariknya sedikit menjauh dari area sana.


"Om!"


"Diamlah saya sudah sangat berbaik hati hari ini, sampai membiarkan kamu pergi bersenang-senang ke tempat yang sangat berbahaya ini!" Jovian terus menarik tangan Kiana.


"Om!" Gadis itu menarik tangannya dengan kencang, hingga benar-benar mampu melepaskan diri dari cengkraman tanga Jovian.


Tubuh Kiana tampak tak seimbang, dia terus bergerak seolah mencari sesuatu untuk berpegangan.


Pria itu berbalik badan, menatap Kiana dengan mata tajamnya.


"Sekali saja kau membantah, maka saya akan benar-benar menyerahkanmu kepada Pak Danu!" Tegasnya.


"Apaan sih! Jaket aku ketinggalan." Kiana berbalik arah, kembali pada meja tempatnya tadi berada, lalu meraih jaket tergeletak begitu saja dengan sisa kesadarannya.


Jovian diam melihat Kiana. Memperhatikan gadis itu yang berpenampilan sangat terbuka.


Crop Top yang hanya menutupi bagian dada, sementara lengan dan sedikit bagian perutnya benar-benar terekspos. Belum lagi rok yang sangat pendek, membuat kaki jenjang Kiana terlihat, dan tentu saja mengundang syahwat para laki-laki hidup belang yang ada di sana.


"Ya, tentu saja! Tidak mungkin mereka semua tidak memanfaatkan Kiana. Sedikit banyak pasti sudah menyentuh walaupun di balut dengan kata-kata tidak sengaja." Jovian bermonolog.


Sementara pandanganya terus tertuju kepada Kiana. Hingga satu hal baru kembali dia sadari.


"Kau mabuk?" Tanya pria itu saat Kiana sudah benar-benar dekat.


"Nggak!"


Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu berjalan melewati Jovian dengan langkah yang terlihat sempoyongan. Bahkan kedua tangannya kembali berusaha menyentuh sesuatu, saat gadis itu tak dapat menyeimbangkan tubuhnya.

__ADS_1


Jovian segera meraih lengan Kiana, dan memeganginya sangat erat agar gadis yang kini berada di bawah pengaruh alkohol itu tidak terjatuh.


Kiana diam, dan tidak terlalu banyak bicara seperti biasanya.


"Mana kunci mobilnya!?" Kata Jovian.


"Hah?" Kiana mendongak, menatap pria itu dengan mata yang sudah sangat merah.


"Kunci mobilmu."


"Oh, …. Di dalam tas, tunggu!" Katanya.


Gadis itu menyentuh tas kecil yang dia bawa, membuka nya dan berusaha mencari apa yang Jovian minta. Namun, pengaruh Alkohol membuat dirinya sedikit kacau, sampai dia menjatuhkan satu persatu barang yang ada di dalam sana.


Seperti ponsel, dompet, kabel charger, dan parfum.


"Astaga, sudah diam saja. Berikan tasnya, kau mulai membuat banyak kekacauan!"


Jovian berjongkok, untuk kemudian memunguti barang-barang milik Kiana. Sementara gadis itu diam memperhatikan.


Orang yang sangat tidak dia benci. Tak pernah Kiana bersikap baik sedikitpun pada pria itu. Tapi apa yang dia lakukan, bahkan Jovian adalah orang yang selalu ada di saat orang lain pergi, dan dengan pedulinya dia membawa kembali setiap barang yang tidak sengaja dirinya jatuhkan, lalu memasukan kembali ke dalam tasnya.


Jovian bangkit, menekan salah satu tombol remote yang menggantung di kunci mobil itu, kemudian meraih handle pintu dan membukankannya untuk Kiana.


"Masuk." Dia meraih tangan Kiana, menuntunnya sampai perempuan itu duduk dengan nyaman di kursi penumpang.


Jovian membungkuk, meraih tali seatbelt di sisi kanan, sampai tubuhnya benar-benar dekat dengan wajah Kiana, yang lagi-lagi mematung. Apalagi ketika Kiana mulai menyadari sesuatu di bawah alam sadarnya.


"Om ganteng." Kiana berujar, lalu tersenyum.


Klik!


Seatbelt itu terpasang dengan benar. Kemudian Jovian menoleh, sampai keduanya saling menatap satu sama lain dari jarak yang sangat dekat.


"Berapa banyak kamu minum?" Mata hitam kelam Jovian bergerak-gerak, menatap Kiana yang terus tersenyum kepada dirinya.


"Dua atau tiga?" Jovian mengulangi.


"Berapa yah! Aku nggak tau, … lupa!" Gadis itu menggaruk kepalanya dengan senyuman yang mulai surut, tergantikan dengan raut wajah penuh kebingungan.


"Apa yang kamu minum?"


"Rum, …. Eh apa Wiski yah? Aku nggak tau Om, … aku lupa!"


Pria itu memejamkan mata, lalu menghela nafas sambil menegakan tubuh, dan menutup pintu di sebelah Kiana. Dia berjalan memutari mobil, segera masuk, duduk di kursi kemudi, memakai seatbelt, dan segera menyalakan mesin mobil untuk segera membawa Kiana pulang.


Mereka diam untuk beberapa saat. Jovian fokus mengendalikan laju mobil, sementara Kiana sudah terlihat memejamkan mata.


"Om?" Gadis itu kembali bersuara.


Dia menoleh dengan mata yang begitu sayu.


"Om Jovian kan temannya Om Denis. Umurnya samaan dong yah! Tiga tujuh." Kiana meracau.


Jovian tidak menjawab.


"Tapi Om Jovian kok lebih ganteng dari Om Denis ya? Sayang kekurangannya cuma satu, … Om Jovian galak!" Kiana tertawa.


Jovian tetap diam, dia membiarkan Kiana berbicara apapun yang dia inginkan. Toh gadis itu sedang tidak benar-benar sadar, pikinya.


"Kata Om Denis, Om Jovian Duda kan yah? Kok jadi Duda? Om kegalakan kali jadi suami, nggak kaya Papa dong. Walaupun dia galak sama aku, tapi sama Mama malah nggak pernah marah sama sekali!"


Jovian melirik sekilas, lalu dia kembali mengarahkan pandangan ke arah depan, dimana lalu lintas terlihat sangat padat.


"Kadang aku mikir. Kenapa ya nggak punya Abang, atau Adik agar ada yang di marahin Papa juga selain aku. Kalau sendiri apa-apa aku, yang di salahin aku, yang di marahin aku juga."


"Haih sangat menyedihkan. Kata Zayna hidup aku enak, bisa beli apa aja yang aku mau, … tapi dia nggak tau jadi aku juga berat, aku di tuntut banyakhal, dan tidak sedikit Papa melarang aku melakukan apa yang aku suka."


Laju mobil melamban, kemudian berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah, sampai membuat beberapa kendaraan di depannya berhenti, dan membuat antrian kendaraan kebelakang nya cukup panjang.

__ADS_1


Jovian merebahkan punggungnya. Lalu menoleh ke arah Kiana yang kembali memejamkan mata, bahkan dia menjadikan jaket jeansnya sebagai selimut, yang melindunginya dari hawa dingin AC mobil.


Pria itu sedikit mencondongkan tubuhnya, menekan salah satu tombol beberapa kali sampai suhu dingin sedikit berkurang.


***


Setelah menempuh perjalanan yang sedikit memakan waktu karena terjebak macet dibeberapa titik. Akhirnya Jovian memberhentikan mobil berwarna merah maroon itu di garasi rumah, terparkir berjejer besama mobil-mobil yang lain, termasuk mobil milik Kiana yang tadi Yanto bawa.


Jovian menarik handle pintu, lalu keluar dan berjalan memutari mobil.


"Akhirnya Pak Jovian datang, tadi Bapak dan Ibu Telepon saya." Seseorang muncul dari dalam rumah.


"Apa yang mereka tanyakan?"


Jovian membuka pintu mobil sebelah kiri, dimana Kiana terlelap disana. Dia membungkuk, kemudian membuka seatbelt. Namun setelahnya Jovian tampak bingung, bagaimana dia membawa Kiana dengan pakaianya yang sangat terbuka.


"Saya bilang lagi keluar."


"Boleh saya minta tolong? Bawakan kain atau apapun." Pinta Jovian. "Kiana tertidur, dan saya harus memindahkannya, tidak mungkin membangunkan gadis mabuk yang sudah terlelap."


"Non, Kia mabuk? Aduh!" Wanita itu terlihat takut.


"Ya, … dan saya peringatkan jangan biarkan Pak Danu dan Bu Herlin tahu."


Seseorang yang Jovian ketahui sebagai asisten rumah pun mengangguk, lalu dia berlari ke arah dalam, dan kembali setelah beberapa detik, membawa sebuah selimut tipis berwarna pink dengab aksen bunga-bunga.


"Ini selimut kesayangan Non Kiana Pak!"


"Baik terimakasih." Jovian menerimanya.


Dia meletakan di atas tubuh Kiana, sampai kini dia benar-benar tertutup. Lalu membungkuk dan meraih tubuh mungil itu, untuk Jovian pindahkan kedalam kamarnya.


"Tolong tutup pintunya." Titah Jovian seraya melangkahkan kaki mendekati pintu masuk.


"Om?" Suara Kiana terdengar lagi, namun saat ini lebih pelan lagi hingga hanya dia yang mampu mendengarnya.


Jovian tidak menjawab.


"Dimana kamar Kiana?" Dia sedikit berteriak, membuat beberapa asisten berdatangan dari arah belakang.


"Mari, Pak. Saya antar."


Jovian mengangguk, dan dengan segera mengikuti wanita yang terlihat lebih muda menaiki setiap anak tangga, hingga setelahnya mereka sampai di salah satu ruangan yang di dominasi oleh warna Dusty pink.


Cat kamar yang terlihat begitu manis. Dengan furnitur berwarna putih, sungguh perpaduan yang sangat bagus, dan untuk pertama kalinya dia melihat sisi lain gadi keras kepala yang berada di bawah pengawasannya.


Setelah membantu melepaskan sepatu, sang asisten tadi segera keluar. Sementara dirinya berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Kiana.


"Om?"


"Kau sudah sampai, tidurlah dan saya akan segera pulang."


"Om jangan bilang Papa yah!"


"Hah! Kau ini bandel tapi penakut."


"Jangan bilang, Om!" Suaranya semakin lirih, bahkan cangrkranan tangan di jas miliknya terlihat semakin erat.


Dengan kedua mata yang terus terpejam.


Jovian menarik paksa tangan Kiana sampai dirinya kini benar-benar terlepas.


Kiana segera memeluk selimut tipis yang tadi menutupi seluruh tubuhnya. Kemudian menariknya dan mendekatkan benda itu ke arah hidung.


Jovian tertegun menatap itu. Apalagi saat jemari kaiana bergerak-gerak mengusap permukaan yang memang terasa lembut.


"Kau ini nakal sekali! Tapi sekarang kau terlihat seperti anak kecil yang sedang berusaha tidur dengan barang kesayangannya."


Seulas senyum terbit di bibir Jovian, dia menggelangkan kepala, berbalik badan, lalu keluar meninggalkan Kiana, tak lupa Jovian menutup pintu kamar itu sebelum dirinya kembali turun dan keluar dari dalam rumah sana.

__ADS_1


__ADS_2