
"Kalau temanya outdoor boleh?" Kiana menatap semua orang bergantian.
Mereka memutuskan untuk berkumpul di halaman belakang rumah. Menggelar tikar, untuk menikmati suasana indah di sekitaran sana. Dengan berbagai macam jenis kue, minuman kaleng, dan buah-buahan segar yang disediakan khusus untuk Kiana.
"Bisa. Mau outdoor boleh, indoor juga boleh. Mau disini boleh, mau mencari villa juga boleh. Terserah Kia mau gimana dan bagaimana." Jonathan menjawab.
Raut bahagia jelas menghiasi wajah Kiana. Tak hentinya dia tersenyum, bahkan setelah melewati muntah-muntah yang luar biasa beberapa waktu lalu, setelah perempuan itu tidak menemukan Jovian bersamanya.
"Jadi acara resepsinya sekalian empat bulanan?" Tanya Kiana lagi.
Dan langsung dijawab anggukan oleh keempat orang tua, juga suaminya.
"Aaaaa, … aku bakal di rias. Pakai siger Sunda yah!?"
Kiana menatap Jovian, menyentuh lengan kekar pria itu, kemudian mengguncangnya dengan senyuman lebar yang terus terlihat.
"Memangnya mau pakai siger? Tidak mau make up ala-ala Korea, atau Negara mana gitu seperti yang sedang trend di kalangan para perempuan sekarang?" Senyuman Jovian terlihat.
Apa yang Kiana rasakan jelas dia rasakan juga. Sampai membuat dadanya tak henti berdesir, merasakan perasaan yang begitu luar biasa.
"Mau." Kiana mengangguk-anggukan kepala dengan semangat.
Tingkahnya semakin terlihat seperti anak kecil, yang baru saja mendapatkan apa yang dirinya mau.
"Berarti acaranya akan ada dua sesi yah! Pertama syukuran empat bulan saja dulu. Setelah itu baru resepsi pernikahan." Leni menjelaskan.
"Seperti siraman begitu?"
"Iya." Leni mengangguk, kemudian tersenyum.
"Pakai kemben? Terus pakai bunga melati?"
"Iya."
"Aaaaaa, … aku nggak sabar!" Dia bertepuk tangan.
Herlin sedikit terlihat heran menatap tingkah Kiana. Sehingga membuat dia menoleh ke arah suaminya, dan hal yang sama Danu lakukan sampai keduanya beradu pandangan.
"Kalau kamu suka. Kenapa tidak meminta saja sejak akad kemarin?" Danu bereaksi.
"Dulu aku nggak mau Papa."
"Lalu sekarang mau?" Danu menjengit.
"Hu'um."
Danu menghela nafas, lalu dia mengarahkan pandangan pada Jonathan. Sementara pria itu hanya tersenyum penuh arti.
"Mungkin saat ini yang ingin bukan Kiana. Tapi cucu kita!" Ujar Jonathan.
Tawanya terdengar menyembur.
"Kalau begitu. Besok kita sudah bisa memulai, … bisa dari cetak undangan, lalu mencari sapi." Jonathan dengan semangat.
"Kalau sapi. Sepertinya Mang Adang saja yang cari." Jovian menjawab.
"Yang bisa dilakukan oleh kita, mari gotong royong. Jika memang tidak memungkinkan, kita minta seseorang saja. Untuk upah, nanti saya yang tanggung." Kata Danu.
Dan semua orang mengangguk setuju.
"Berundingnya sudah?" Perempuan itu bertanya.
"Sudah. Mau masuk ke rumah?" Herlin bertanya.
Kiana menimpali pertanyaan sang ibu dengan gelengan kepala pelan. Tanpa banyak berbicara dia bangkit, lalu beranjak pergi begitu saja.
"Mau kemana?" Jovian bereaksi.
"Aku lupa kalo Mami dan Papi punya kelinci!" Dia menyahut.
Setiap langkahnya terlihat semakin kencang. Menghampiri satu tempat yang dihalangi pagar kayu. Dengan rerumputan hijau di dalamnya, dan terdapat kandang berbentuk rumah-rumahan berukuran sedikit besar.
"Setelah hamil Kiana terlihat lebih energik yah!" Danu terkekeh, seraya mengarahkan pandangan pada Kiana yang sudah memasuki area sana.
Perempuan itu terlihat sumringah, membungkuk, lalu kembali menegakan tubuh sembari membawa kelinci putih di pangkuannya.
Jovian hendak bangkit, berniat untuk menyusul sang istri yang mulai terlihat asik dengan kelinci-kelinci peliharaan orang tuanya. Namun, ucapan Leni membuat pria itu berhenti dan tampak berpikir.
"Biarkan saja, jangan terlalu banyak melarang. Dia itu hanya hamil, bukan sakit parah sampai tidak kamu izinkan berbuat sesuatu." Ucap Leni dengan suara sedikit pelan.
Pandangannya mendongak, menatap putranya yang memiliki postur tubuh seperti sang suami. Begitupun dengan Jovian, pandangan pria itu menunduk, sampai keduanya saling menatap dalam waktu yang cukup lama. Leni terus memberikan sebuah isyarat jika keadaan Kiana memang baik-baik saja selain selalu merasakan pusing mual dan muntah di waktu-waktu tertentu.
"Papi?"
Teriakan Kiana terdengar nyaring. Membuat semua orang langsung mengarahkan pandangan pada arah suara terdengar.
Herlin terliht panik, rasa takutnya jelas terlihat.
"Kiana digigit kelinci!" Herlin dengan sejuta keunikannya.
"Astaga!" Semua orang bereaksi.
Mereka bangkit bersama-sama, dan tanpa banyak bicara Jovian berlari mendekati pagar kandang kelinci yang terbuat dari bambu. Bahkan saking paniknya pria itu sampai lupa mengenakan alas kaki, dengan wajah merah padam karena merasa sangat ketakutan saat mendengar teriakan dari perempuan yang sangat dia cintai.
"Kia!?" Jovian sedikit berteriak.
Perempuan yang tadinya berjongkok sampai tubuhnya tidak terlihat dari penjuru arah manapun. Akhirnya berdiri dengan raut wajah yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata. Terlihat bahagia, takjub, bahkan sorot matanya tampak berbinar. Dan itu sukses membuat jantung Jovian terasa akan meledak karena kemunculannya yang tiba-tiba.
"Ada bayi kelincinya! Kenapa nggak bilang?" Cicit Kiana.
Perempuan itu persis seperti anak kecil yang sangat menyukai hewan berbulu yang sangat menggemaskan itu.
Semua orang menghentikan langkahnya.
"Aku mau gendong. Satuuuuu saja, …. Boleh ya?" Pintanya sambil memohon.
__ADS_1
Mereka masih diam, terutama Jovian yang masih berusaha menetralkan perasaannya.
"Sayang?" Panggil Kiana. "Ayo ambilkan!" Dia tersenyum, dengan rengekan khas anak kecil, dan sikap itu mulai melekat kepada dirinya.
"Hhheuh!"
Jovian menghela nafasnya kencang, seraya menyapu wajah kasar dengan perasaan sedikit kesal.
"Kamu membuat kami takut, Kia!" Danu bereaksi.
Kiana celingukan, menatap setiap orang bergantian, lalu senyum di bibirnya perlahan surut.
"Maaf! Tapi aku cuma mau ambil anaknya." Kiana berbisik.
Jovian menghembuskan nafasnya lagi, dia mendorong pintu pagar bambu, kemudian masuk.
"Dia masih sangat kecil, Baby! Tidak boleh disentuh, mungkin sekitar tiga minggu lagi baru dia bisa kamu pegang."
Kiana terlihat sangat kecewa.
"Tapi aku mau bayi nya!"
Jovian mengulum senyum, lalu dia berjongkok untuk mengintip ke arah dalam kandang. Dimana ada satu tempat yang dipenuhi bulu, dan terdapat kecil yang masih sangat kecil di dalamnya.
"Lagian tiga Minggu lagi belum tentu aku masih disini. Siapa tahu sudah pulang, kan Papa juga harus bekerja."
Pria itu mendongakan kepala, menatap Kiana yang tampak murung.
"Kemarilah!" Dia mengulurkan tangannya, yang segera diterima oleh Kiana, sehingga perempuan itu berjalan mendekat, dan kembali berjongkok seperti sebelumnya.
"Lihat? Mereka masih sangat kecil, Baby. Mereka itu renta, bisa mati kalau tidak hati-hati, sayang." Jovian berusaha menjelaskan.
"Bayangkan jika anak kita masih sangat kecil, kita berusaha menjaganya dengan baik. Tapi ada orang lain yang berusaha membawanya, apa kamu tidak akan sedih?" Lanjutnya.
Kiana bungkam, seraya menatap ke arah kandang sana.
"Jadi kita bisa lihat nanti. Atau kalau kamu mau sekali kita pergi ke pasar, dan cari anak kelinci yang kamu mau. Yang ukurannya sedikit lebih besar dari mereka."
Dan akhirnya perempuan itu mengangguk.
"Sudah mengerti?"
"Iya." Kiana mengangguk lagi.
"Mereka ada berapa? Sepertinya lebih dari enam ekor. Tapi aku tidak tahu juga, mereka tidur saling menumpuk seperti ini."
"Entah. Mungkin Mami atau Papi sudah hitung, tapi aku tidak tahu."
Kiana beralih pada dua mertuanya yang mulai mendekat. Yang segera disusul oleh Danu juga Herlin.
"Papi? Mereka banyak?"
Jonathan mengangguk.
"Ada sekitar sembilan ekor."
"Sembilan?"
"Kadang ada yang sebelas."
"Astaga!" Kiana menutup mulutnya, lalu menoleh ke arah satu kandang dimana terdapat bayi-bayi kelinci disana.
Kemudian dia beralih menatap Herlin juga Danu.
"Yah kalian kalah sama kelinci. Mereka aja banyakin anak biar anaknya nggak kesepian. Aku malah nggak punya saudara sama sekali." Celetuk Kiana.
"Beda, Kia!" Herlin menjawab.
"Hhhheuh. Bayangkan kalau aku punya Abang atau Kakak. Seneng kayaknya, … ada yang jagain."
"Memangnya sekarang kamu tidak senang? Papa lihat juga kamu lebih manja kepada Jovian dari pada sama Papa. Jadi apa yang kamu sesali?" Sergah Danu.
"Seneng kok. Cuman kesepian aja."
Kiana berjalan keluar dari area sana, meninggalkan sang suami yang masih berada di area kandang kelinci yang terlihat cukup luas.
"Hey mau kemana?" Panggil Jovian dengan suara yang terdengar sangat kencang.
Kiana menoleh, ketika kakinya baru saja menginjak tangga keempat.
"Mau pipis." Katanya, lalu kemudian melanjutkan langkahnya kembali, sampai tubuh mungil itu benar-benar menghilang di balik pintu masuk.
"Kelakuannya!" Danu geleng-geleng kepala.
"Jangan begitu!" Herlin mencubit pinggang suaminya. "Sikapnya kan mirip kamu, banyakkkk banget sampai aku tidak kebagian." Lanjut Herlin.
Membuat Leni, Jonathan dan Jovian terkekeh pelan.
***
Beberapa hari kemudian.
Persiapan acara yang hendak di selenggarakan sudah dimulai satu-persatu. Puluhan karung besar sudah datang, beberapa ekor kambing dan sapi pun sudah berada disana, lalu peralatan dekorasi yang mulai memenuhi pekarangan rumah Jonathan.
Beberapa orang sudah terlihat sangat sibuk, tidak terkecuali Jonathan, Leni, Danu, Herlin pun dengan Jovian. Sehingga setelah waktu tidur tiba, mereka tidak lagi menghabiskan waktu bersama untuk sekedar berbincang santai, melainkan langsung masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Dan mereka benar-benar melupakan sesuatu.
Jam sudah menunjukan pukul 23.50 malam.
Namun, seorang perempuan di bawah gulungan selimut tampaknya belum juga terlelap. Tubuhnya terus bergerak-gerak samar, bahkan beberapa kali menyembulkan kepala hanya untuk memeriksakan ponsel.
Perlahan Kiana bangkit, seraya menatap suaminya yang masih terlelap, kemudian turun dengan hati-hati, was-was jika pergerakannya akan membuat Jovian terbangun.
Setelah berhasil turun, Kiana berjalan mengendap ke arah pintu, membukanya dan segera keluar setelah memastikan Jovian benar-benar tidak terjaga.
Hening.
__ADS_1
Itulah yang Kiana rasakan ketika berjalan dari kamar melewati ruang tengah rumah mertuanya. Lampu-lampu sudah terlihat mati, hanya menyisakan cahaya lampu luar yang menembus pentilasi udara.
Dia meraih pegangan kulkas setelah sampai di area dapur. Kemudian berjongkok, mengeluarkan satu kotak yang dia sembunyikan dari sore hari. Dan berhasil, tidak ada satu orang pun yang menyadarinya.
Kiana meletakan kotak berukuran kecil itu di atas meja makan. Membukanya, dan terlihatlah apa yang ada di dalam sana. Sebuah kue black forest berukuran kecil.
"Korek!"
Katanya, kemudian beralih mencari benda kecil itu pada laci-laci yang ada di dapur. Sayang sekali, dia tidak menemukan benda itu dimana-mana, sampai Kiana baru menyadari jika benda itu akan dirinya temukan di kamar.
"Ah aku lupa kalau suami aku perokok." Ujar Kiana, kemudian beranjak mendekati salah satu laci, dan membawa sendok.
Kiana kembali menuju kamarnya. Dia menekan saklar lampu kamar, sehingga membuat ruangan itu menyala sempurna. Yang tentu saja membuat Jovian sedikit bereaksi. Jovian mengerjap beberapa kali, dengan tangan yang dia simpan di atas kepala untuk menyesuaikan cahaya yang terasa menusuk mata.
"Baby?" Suaranya terdengar parau.
Kiana sedikit terkejut.
"Kamu bangun? Apa merasa pusing dan ingin muntah?" Katanya lagi, tampan membuka mata sedikitpun.
Perempuan itu tidak menyahut, dia terlihat kebingungan apa lagi saat dirinya tidak menemukan apa yang dia cari.
"Baby? Are you okay?"
Jovian menyingkirkan lengan dari kepalanya, lalu bangkit.
"Eeee, ya, … i'm good." Kiana gugup. "Happy birthday, Papa!" Senyumannya terlihat canggung.
Kiana berjalan mendekat, membawa satu kotak berukuran kecil dengan hanya ada tulisan huruf angka '38'.
"Aku nggak nemuin korek dimana. Jadi lilinnya nggak usah di nyalain aja yah!?" Dia duduk di tepi ranjang, menyodorkan kue yang dia beli dengan harga yang sangat murah.
Jovan terlihat linglung. Bahkan dia terus menatap kue yang Kiana pegang dengan wajah cantik istrinya lekat-lekat.
"Memangnya ini tanggal berapa?" Suaranya masih terdengar berat.
"Tanggal dua lima." Kiana memperlihatkan senyumannya yang paling manis. "Beberapa hari lalu Mami bilang mau bikin nasi tumpeng buat kamu, tapi kesibukan kita akhir-akhir ini sepertinya membuat semua orang lupa, kecuali aku. Aku sengaja datang ke rumah sebelah lho, … kebetulan ibunya jualan bolu gitu, nah aku pesen ini. Tadinya mau yang gede, tapi katanya lagi bikin yang kecil-kecil saja buat di jual ke pasar."
Penjelasan itu membuat Jovian bungkam, menatap wajah Kiana dengan raut tidak percaya.
"Happy birthday, my dearest friend! Another year older but still as cool and charming as ever. I hope this year brings you endless joy, good health, and plenty of fun. Let’s celebrate like there’s no tomorrow!
(Selamat ulang tahun, teman tersayang! Setahun lebih tua tapi tetap keren dan menawan seperti biasanya. Aku harap tahun ini memberimu kegembiraan tanpa akhir, kesehatan yang baik, dan banyak kesenangan. Mari rayakan seperti tidak ada hari esok!)" Kiana membuat suaranya selembut mungkin.
"Friends?" Jovian menatap istrinya tajam.
Kiana mengulum senyum, lalu menganggukan kepala.
"Teman bukan sembarang teman. Teman hidup, teman makan, … teman bobok juga yah!" Dia tertawa kencang, dengan kepala yang mendongak. Membuat leher jenjangnya terekspos sempurna.
Cup!!
Kiana diam, pandangannya mulai turun, menatap wajah pria yang baru saja mengecup lehernya.
"Terimakasih." Jovian tersenyum.
Perempuan itu mengangguk pelan.
"Selamat tiga puluh delapan tahun, Papa. Baru mau jadi Bapak, … tapi udah bapak-bapak!" Ucap Kiana sekenanya.
Jovian tertawa dengan mata terpejam, lalu meraih tangan Kiana, dan hendak memeluk perempuan bertubuh mungil itu. Namun, Kiana tentu saja menahannya, untuk kemudian menyodorkan kue pada sang suami.
"Kalau kamu tidak mau mencoba kuenya, tidak apa. Tapi suapi aku dulu, baru boleh peluk." Dia memberikan sendok.
Jovian meraih benda itu, memotong pinggiran kue, lalu memberikannya kepada Kiana.
"Bagaimana?" Tanya Jovian, kemudian memasukan sendok bekas pakai Kiana pada mulutnya sendiri, membersihkan sisa-sisa krim putih yang masih ada disana.
Kiana mengangguk-anggukan kepalanya sambil terus mengunyah. Tak jarang jari telunjuknya mengusap sudut bibir saat merasa sesuatu masih tersisa disana.
"Enak. Kamu pasti suka."
Jovian pun segera mencobanya.
"Maaf ya, aku bukan nggak punya uang. Uang aku ada, uang nafkah dari kamu juga ada. Tapi disini aku bingung belikan hadiannya apa." Ujar Kiana.
Dahi Jovian menjengit, menggelangkan kepala pertanda tidak setuju dengan ucapan sang istri, lalu meletakan kue yang sempat Kiana berikan di atas nakas.
"Tidak apa. Mereka sudah menjadi kado yang paling indah." Dia menyentuh perut Kiana.
"Mungkin nanti kalau sudah pulang, aku belikan kado yang lebih spesial."
"Tidak udah. Uangnya simpan saja untuk kebutuhanmu, memang tidak sebesar apa yang selalu di berikan orang tuamu, … tapi aku sedang berusaha memberikanmu nafkah sebesar yang di berikan Pak Danu dulu." Jelas Jovian.
"Dan mungkin uang yang aku berikan tidak akan sama nominal nya. Kalau panen sedang bagus, sudah pasti besar, tapi jika …"
"Ahh aku tidak mau mendengarnya lagi!" Dia menutupi daun telinganya.
Kiana memejamkan matanya beberapa saat, kemudian membukannya kembali sambil menghembuskan nafasnya perlahan.
"Jangan gitu ih. Udah cukup tahu, apalagi sekarang belum di pake, makannya masih sama Mami. Di Tangerang juga makannya masih numpang sama Mama." Kiana tertawa.
"Hemmm, … aku minder jadinya."
Kiana menggelengkan kepala, beringsut mendekat, dan memeluk tubuh Jovian yang di balut Hoodie tebal.
"Tidak usah minder. Ini udah lebih dari cukup! Bahagia itu bukan soal uang. Aku mendapatkan apapun dulu, tapi aku tidak pernah merasa senyaman sekarang, setelah menjalin hubungan bersama kamu." Ucap Kiana dengan posisi yang tetap sama.
Jovian membalas pelukan Kiana, seraya beberapa kali menghujani perempuan itu kecupan hangat di kening.
"Oh Tuhan, … aku sangat mencintai istriku ini."
......................
Maaf ya cuyung, othor lagi sibuk ngurusin rujukan. Mau periksain si Adik. Minta Doanya ya, besok jadwal ketemu Dokter lagi, semoga semuanya lancar.
__ADS_1
cuyung kalian🥰