Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Sunda Bule.


__ADS_3

Jovian menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Celana training panjang berwarna abu-abu, yang Jovian padukan dengan kaos lengan pendek berwarna senada, dan tidak lupa dia lapisi dengan jaket tebal berwarna hitam.


Dia berjalan mendekati Kiana yang masih terlelap di bawah gulungan selimut. Bersembunyi dari hembusan hawa dingin, saat tubuhnya masih polos tanpa apapun setelah diterjang amukan badai asmara beberapa kali, dan berakhir hampir subuh tiba.


Jovian sedikit membungkukkan tubuhnya, kemudian mengecup kening sang istri dengan penuh perasaan.


Cup!!


Kiana merenggangkan tubuhnya, bergerak-gerak pelan dengan mata yang mulai mengerjap ketika merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh keningnya.


"Morning, Baby?" Sapa Jovian sambil tersenyum, ketika mendapati Kiana yang mulai menarik kesadarannya.


Kiana tidak menjawab, dia hanya terus mengerjapkan mata. Berusaha meraih kesadarannya yang sempat menghilang.


"Baru jam enam, tidurlah lagi." Dia mengusap kening sang istri.


"Kamu mau kemana?" Suara Kiana terdengar serak.


Kedua tangannya terulur, meraih pundak Jovian, dan menariknya sampai Kiana dapat menghirup aroma wewangian pria itu yang sangat dirinya sukai.


"Mau ke kebun teh dulu sebentar. Kamu tidak usah ikut, tidur saja … tapi bolehkah kenakan dahulu pakaianmu? Takutnya Mami masuk tiba-tiba, dan mendapatkan kamu sedang tidak memakai apapun, selain selimut tebal ini yang melilit erat di tubuhmu." Katanya, lalu mencium pipi Kiana dengan senyuman yang terus terpancar.


Lilitan tangan Kiana terlepas, membuat Jovian segera menegakan diri, dan duduk di tepi ranjang sambil terus tersenyum saat pandangan keduanya terus saling beradu.


"Mau ke kebun teh dengan pakaian seperti ini?" Tatapan Kiana terlihat sedikit memicing.


Jovian terkekeh, kemudian menundukan pandangan menatap dirinya sendiri.


"Memangnya harus bagaimana? Memakai kemeja? Lalu jas dan dasi?" Tawa Jovian semakin kencang. "Aku mau melihat kebun teh, bukan sedang mengawasi seorang gadis jutek, tengil, dan keras kepala seperti dulu." Dia berujar.


"Tidak begitu juga. Tapi kamu terlalu tampan jika ke kebun teh seperti ini!" Cicit Kiana.


Dia merasa tidak terima.


"Lagian jutek, tengil, sama keras kepala juga kan tetep gemesin. Makanya kamu nemplok sekarang." Lanjut Kiana.


Sementara Jovian tertawa kencang karenanya.


"Hanya ada Bapak-bapak dan Ibu-ibu, … tidak usah khawatir, sayang!"


Dia menyentuh pipi istrinya kembali, dan mengusapnya sangat lembut, seolah takut terjadi sesuatu jika dia melakukannya dengan tidak hati-hati. Tangannya terus turun ke bawah, mengusap tengkuk Kiana, dimana terdapat bercak merah keunguan di sana.


Jovian tersenyum.


"Kapan aku membuat ini? Aku tidak ingat." Ucapnya sambil terkekeh.


"Hemmm, … kamu akan membuat aku malu tahu kalau Mami dan Papi lihat ini!"

__ADS_1


"Sedikit dikasih bedak saja, nanti juga tidak kelihata."


Kiana mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ya sudah. Aku berangkat dulu yah! Nanti kalau mau makan atau mau minum ambil saja seperti biasa, tidak usah sungkan meskipun aku sedang tidak ada."


Jovian membungkuk, kembali mencium kening Kiana, beralih pada dua pipi dan berakhir di bibir merah alami milik istrinya.


"Pakai bajumu." Jovian sedikit menarik ujung selimut itu, sampai belahan dada Kiana yang sempat terekspos kembali tertutup.


Pria itu bangkit dari duduknya. Membawa tas, dompet dan beberapa keperluan lainnya, yang seketika dia masukan kedalam sebuah tas berukuran sedang lalu keluar.


Klek!!


Jovian kembali menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Dia melangkahkan kaki ke arah dapur, dimana Leni dan Jonathan sudah berada disana.


"Mau pergi sekarang?" Leni yang sedang berdiri di hadapan meja kompor menatap putranya lekat-lekat.


"Hemmmm, … Kebetulan hari ini sudah waktunya bayaran." Kata Jovian.


Dia membawa gelas, mengisinya dengan air hangat lalu meneguknya hingga tandas.


"Titip Kiana ya, Mih! Dia masih tidur. Nanti kalau bangun Bi Wiwin tolong buatkan Kia coklat panas yah, kasihan semalaman dia tidak bisa tidur karena kedinginan. Kaki dan tangannya terasa beku, sampai otot-otot tubuhnya juga terasa sedikit nyeri."


"Kedinginan apa kedingainan nih!" Readers berteriak.


"Pergilah, Kiana akan baik-baik saja." Kata Jonathan.


Jovian mengangguk, kemudian dia beranjak pergi meninggalkan area dapur yang memang tampak bersatu dengan ruang makan. Dia langsung keluar rumah, menuruni anak tangga, kemudian berjalan mengikuti jalanan setapak yang berada di samping rumah panggung dengan ornamen kayu milik kedua orang tuanya.


Dan setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu. Akhirnya Jovian sampai di salah satu area perkebunan dimana beberapa pekerja tampak baru saja memulai aktivitasnya.


Hampir semua mata tertuju kepada Jovian. Sosok pria tinggi besar, dengan hidung mancung dan kulit putih bersih. Jika mereka bukan pekerja terdahulu, jelas tidak akan menyangka jika pria memiliki kemampuan berbahasa Indonesia dengan fasih.


"Sule datang." Beberapa perempuan berbisik.


"Eh, Aden ada disini?"


Seorang pria tua menyapa terlebih dulu, saat dia menyadari keberadaan anak dari pemilik kebun teh tersebut.


"Mampir kesini dulu, soalnya Minggu depan nggak bisa kesini." Kata Jovian sambil memperlihatkan senyuman samar.


Pria itu pun ikut senyum, lalu menganggukan kepala dan kembali melanjutkan pekerjaan.


Setelah itu Jovian beralih pada pekerjaan lain, memperhatikannya beberapa saat, sebelum akhirnya dia berjalan mendekati sebuah saung, dimana terdapat termos minuman dan beberapa tempat makanan yang sudah pasti ibunya pesan kepada seseorang penjual gorengan seperti biasa.


Jovian duduk di sana. Dia mengeluarkan bungkusan rokok dan korek dari dalam saku jaketnya, membawa satu batang, meletakan di antara dua celah bibir, menghidupkan korek, lalu kemudian dia menghisap

__ADS_1


dalam-dalam, sampai benda tersebut mengeluarkan asap yang cukup banyak.


Pandangan Jovian menatap lurus kedepan. Dimana hamparan kebun teh hijau terbentang memukau, dan memanjakan indra penglihatan.


"Den?" Seseorang memanggil dari arah samping, membuat Jovian segera menoleh ke arah suara terdengar.


Dia tersenyum saat mendapati orang kepercayaan yang di tunggunya telah datang. Dan tentu saja itu dapat mempersingkat waktu, hingga dirinya bisa cepat pulang dan menemui Kiana. Sosok cantik yang sudah memenuhi pikirannya.


"Mang Adeng." Jovian balik menyapa. "Rokok Mang!" Die menggeser bungkusan rokok miliknya.


"Sudah. Sekarang lagi dikurangi, ibunya anak-anak protes terus."


Jovian menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum.


"Bayaran mau di kasih sekarang?" Dia bertanya kepada orang kepercayaan ayahnya dulu.


"Teu langkung. (Terserah.)"


"Menurut Mang Adeng bagusnya kapan? Sekarang atau nungguin seminggu lagi? Tapi kalau Minggu depan saya sudah pasti tidak bisa kesini, … saya ada banyak urusan di Tangerang." Kata Jovian.


"Ya sudah hari ini saja. Biar pegawai pada semangat kerjanya." Adeng berujar.


"Ya sudah. Hari ini Mang Adeng tolong bagiin yah! Uangnya sudah Papi susun ke amplop tadi pagi. Sudah di kasih nama juga, … awas jangan ketuker!"


Pria paruh baya itu mengangguk.


Jovian segera meraih tas berukuran sedang miliknya. Mengeluarkan beberapa amplop berwarna putih, lalu menyerahkannya kepada orang kepercayaannya.


"Yang tau nama-namanya Papi, yang bungkusin juga Papi. Tapi nominalnya sudah saya kasih lebih, ya anggap saja mereka naik gaji. Kalau upah Mang Adeng kata Papi nanti ke rumah saja." Jovian menjelaskan.


"Gampang itu mah, Den."


Jovian menjatuhkan puntung rokoknya ke tanah, menginjaknya kemudian berdiri.


"Kalau begitu saya pulang yah. Titip uang gaji semua pegawai, … nanti mang Adeng ke rumah aja."


"Siap Den."


Jovian segera beranjak pergi, meninggalkan perkebunan teh itu dengan segera. Kala rasa rindu terus menerpa, membuat Jovian tidak sabar untuk menemui istrinya kembali.


......................


Duh, othor kangen crazy up.


Tapi imun tubuh mulai menurun, hidung mulai tersumbat, terus bersin-bersin sampe suara othor jadi seksi 🤭


Jangan lupa like, komen, sama tabur-tabur!!

__ADS_1


cuyung kalian ♥️


__ADS_2