Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Skandal.


__ADS_3

"Om aku masuk dulu. Kalau mau nunggu di rumah, atau di apartemen silahkan. Nanti kalau sudah keluar aku kasih tau, … hari ini pulang cepat, hanya satu pelajaran saja, dan mengumpulkan soal yang sempat dosen kasih." Jelas Kiana dengan senyuman manis yang terlukis di wajahnya.


Gadis itu menelan tombol berwarna merah di sisi kanannya, hingga seatbelt yang melilit kencang di tubuh Kiana benar-benar terlepas.


"Saya harus profesional. Walaupun sebenarnya hubungan kita sudah lebih dari seorang Bodyguard dan anak dari kliennya, tapi saya tidak boleh melakukan itu. Saya harus siap siaga menjagamu." Kata Jovian.


Kiana yang hampir saja membuka pintu mobil mengurungkan niatnya, dia kembali bersandar dengan pandangan yang tertuju kepada Jovian, pria yang saat ini juga mengarahkan sorot mata ke arahnya.


"Baiklah, Pak Bodyguard. Aku harus masuk kelas dulu, dan berhentilah membuat jantung aku hampir meledak dengan senyuman tipis seperti itu!"


Jovian mengulum senyum, lalu mengangguk.


Kiana keluar. Begitu juga dengan Jovian, yang selalu menunggu di cafetaria parkiran universitas. Setelah itu keduanya benar-benar berpisah, Kiana yang berjalan lurus memasuki kampus, sementara Jovian berbelok ke arah kiri dimana sebuah bangunan kecil, namun membuatnya selalu nyaman jika sedang menunggu Kiana.


"Baru kali ini aku merasa tidak berguna ketika sedang bekerja. Duduk santai menunggu seorang gadis sampai selesai kuliah, … oh tidak, lebih tepatnya seperti seorang kekasih yang menunggu gadisnya yang sedang berangkat menimba ilmu." Jovian tersenyum, lalu menggelengkan kepala karena merasa tidak percaya dengan apa yang saat ini dia lakukan.


Menjemput Kiana untuk kuliah, lalu menjaganya sampai dia pulang lagi nanti. Pekerjaan ekstraknya mungkin ketika Kiana pergi keluar, namun saat ini gadis itu sudah tidak melakukannya. Bahkan hari ini Kiana datang ke apartemennya, sampai dia tidak melakukan hal yang seharusnya dia lakukan.


Kiana terus melangkahkan kakinya, berjalan menyusuri lorong pada pukul 09:45 hari ini. Lalu langkahnya berhenti, ketika beberapa orang terlihat berkerumun di dekat sebuah papan pengumuman.


Kiana menghentikan langkahnya, dan seluruh murid segera menoleh. Mereka terlihat berbisik-bisik, menatap Kiana dari atas hingga bawah, dan memberikan senyuman meledek dengan ekspresi wajah menyebalkan.


"Ada apa dengan manusia-manusia itu!" Kiana bergumama seraya mendelikan kedua bola matanya.


Jelas. Bukan Kiana jika gadis itu tidak bereaksi apapun jika ada beberapa orang yang menatapnya dengan sedemikian rupa. Gadis itu tidak pernah terlihat lemah, orang tua saja dia lawan, apalagi teman-teman satu kelasnya, yang menurut Kiana tidak ada apa-apanya sama sekali.


Dia berjalan mendekat, berniat melihat apa yang berada di papan pengumuman sampai membuat siswa lain terlihat mengumpat tentang dirinya.


"Dari Ratu biang onar, sekarang tambah gelar jadi ratu skandal!"


Seseorang yang Kiana ketahui sebagai teman satu kelasnya berbicara.


"Dih! Ada gila-gilaannya nih manusia satu!" Balas Kiana.


Namun, tubuhnya segera mematung ketika melihat sesuatu yang menempel di sana. Sebuah foto berukuran besar, yang tidak lain adalah dirinya bersama sang Bodyguard, berdiri di tengah jembatan kayu, saling merangkul dan berciuman, tampak sengaja seseorang tempel disana.


Dengan sekali tarikan Kiana meraih benda itu sampai terlepas, lalu berbalik badan menatap beberapa mahasiswa yang masih betah berdiri disana.

__ADS_1


"Siapa yang pasang ini!?" Kiana berteriak.


"Mana kita tahu! Lo nggak lihat kita masih bawa ransel? Kita baru saja datang. Please deh! Nggak usah nuduh sembarangan!" Seorang pria berbicara.


"Bubar-bubar! Atau kalian bakal di amuk sama dia, langganan Kapolres coy, dia nggak bakalan takut kalau cuma buat matahin leher kalian, … toh kalo masuk kantor polisi kan tinggal bapaknya tebus pake duit!" Pria yang akrab disapa Hendi itu berkata dengan penuh ejekan.


Kiana mengepalkan tangannya, menatap pria itu dengan amarah yang tiba-tiba saja naik.


"Apa kata lo!"


Kiana langsung lari, kemudian menarik tas pria itu dengan kencang, sampai membuatnya terjerembab ke belakang.


Semua murid wanita berteriak, sampai suara ricuh terdengar, dan membuat kegaduhan disana. Apalagi ketika Kiana mulai melayangkan satu pukulan keras.


"Maksud lo apa?" Kiana mencengkram kerah kemeja pria tadi.


"Apa? Gue ngomongin fakta kok! Udah bukan rahasia lagi gimana sifat lo Kia! Orang-orang udah pada tau, lo itu cewek murahan, hobi minum sama balapan liar. Terus kalau lo punya skandal sama Bodyguard lo, … yaa bukan urusan gue!" Pria itu tersenyum meledek.


Kiana menatapnya tajam. Bahkan matanya sudah benar-benar memerah dengan nafas yang terdengar menderu-deru.


"Tapi gue kasih tau satu hal!" Pria itu menyeringai. "Buruan nikah dari pada hamil duluan, … kasian Bapak lo entar mati karena terkena serangan jantung dadakan, cape sama anak gadisnya yang badung!" Hendi terus melesek.


"Wow!!" Semua murid yang menonton kembali mengejek.


Kiana berusaha tidak menggubris orang-orang yang saat ini mengelilinginya. Dia segera bangkit, berbalik badan mencoba menerobos kerumunan orang untuk pergi, namun sesuatu terasa membentur punggungnya dengan sangat keras.


"Pelacur!" Ucapnya setelah sepatu yang dia lemparkan terjatuh ke atas lantai.


Kiana menoleh, menatap pria tadi yang sepertinya terus menantang.


"Cuma bocah kecil yang nakal Hendi! Lawan." Teriakan lain terdengar.


"Coba aja kalo dia laki! Gue lawan!" Katanya, lalu bangun sambil menepuk-nepuk kedua telapak tangan.


Kiana berjalan mendekat perlahan-lahan, dengan tatapan tajam yang tidak teralihkan sama sekali.


"Pergi sana. Gue mau nggak mukul …"

__ADS_1


"Alah banyak bac*t!!" Kiana langsung mendorong dadanya, sampai Hendi kembali tersungkur ke belakang.


Dan tanpa banyak bicara Kiana duduk di atas dada pria itu, mencengkram lehernya dan menekannya cukup kencang.


Hendi terlihat meronta-ronta, bahkan beberapa kali tangannya memukul wajah Kiana, dengan segenap tenaga yang Kiana miliki dia terus menekan leher teman satu kelasnya itu. Amarahnya terus meluap ketika Hendi mengatakan hal buruk tentang keluarganya, lalu ditambah dirinya yang di teriaki seorang pelacur.


"Hey itu nanti Hendi mati!" Semua orang mulai panik.


"Tolong, … tolong, … pak Security!!"


Suasana semakin gaduh, namun mereka hanya berteriak tanpa berani menghentikan Kiana.


"Uhuk, … uhuk, … uhuk!" Hendi terbatuk-batuk.


Beberapa orang di ruang Dosen berhamburan keluar, lalu mereka berlari ketika siswa berteriak meminta tolong, dengan raut wajah ketakutan yang jelas terlihat.


"Ada apa ini!" Pria paruh baya mendekat.


"Hendi, Pak!"


"Kiana mencekik leher Hendi!"


Dengan segera, salah satu dosen yang mengajar di sana berlari, mendekati Kiana dan menarik gadis itu, yang kini terlihat kalang kabut.


Sementara seorang security mencoba membuat Hendi sedikit menjauh dari jangkauan gadis yang saat ini terlihat sedang mengamuk.


"Sekali lagi lo ngatain gue pelacur! Habis lo!" Kiana menunjuk Hendi dengan kilatan kemarahan.


Sementara pria di belakangnya terus menarik Kiana sampai benar-benar menjauh dari sana.


"Bawa Hendi ke UKS." Dosen wanita memerintahkan.


"Siap, Miss." Katanya.


Lalu Hendi diangkat oleh beberapa teman prianya, di bawa ke arah ruangan kecil yang berada persis di samping ruangan dosen.


Sementara Zayna terlihat memperhatikan dari ambang pintu masuk kelas, bersama kedua teman pria dan wanitanya, yaitu; Starla, Sharla, Kevin dan Hilmi.

__ADS_1


Mereka berlima diam dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan oleh kata-kata.


__ADS_2