Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Bau bawang!!


__ADS_3

Satu mug besar susu jahe panas Leni letakan di atas meja makan. Dimana kini Kiana tengah duduk di sana sambil memperhatikan Wiwin berkutik dengan bahan-bahan dan perkakas dapur.


"Semoga mualnya segera hilang." Katanya sambil duduk di hadapan Kiana.


Perempuan itu mengulum senyum, lalu mengangguk pelan.


"Terimakasih, Mami. Maaf jadi merepotkan! Malam-malam begini jadi harus cari jahe kebelakang rumah, olah susunya juga." Ucapnya dengan perasaan tidak enak.


Namun, Leni menolak ucapan itu dengan gelengan kepala.


"Kamu ini bicara apa? Hanya susu jahe, tidak repot sama sekali."


Kiana tersenyum.


"Jika ingin sesuatu, … katakan saja! Jangan ditahan-tahan, kalau tidak nanti bayi nya suka ileran. Itu juga kata orang tua jaman dulu, tapi entah kenapa selalu kejadian kalau ibu hamil ingin sesuatu tidak kesampaian, bayi nya kalau sudah lahir suka ileran."


"Sekarang belum mau apa-apa, Mi!"


Leni menatap wajah pucat menantunya lekat-lekat. Bagaimana bisa seorang ibu hamil muda dengan keadaan kurang baik mengarungi jalanan yang cukup panjang? 6 jam bukan waktu yang sebentar, dan Kiana dapat mengatasi itu sampai mereka dapat sampai dengan waktu yang sucup singkat.


"Oohhh Kianaku!" Hatinya terenyuh.


"Kata Jovian sudah mau makan mangga muda milik tetangga?" Leni tersenyum penuh arti.


Membuat wajah Kiana semakin terlihat merona.


"Ah iya, … Kia lupa kalau hari ini sudah memaksa Jovian minta mangga muda tetangga sebelah." Lalu dia tertawa pelan.


Kiana meraih mug keramik yang masih mengepulkan uap panas di dalamnya, seketika aroma jahe menyeruak, apalagi saat dia semakin mendekatkan benda itu ke arah mulutnya, bau lezat dari susu murni, beradu dengan aroma jahe yang begitu khas. Beberapa kali Kiana terlihat meniup-niup, dan setelah merasa sedikit lebih hangat, perempuan itu pun mulai meminumnya dengan sangat hati-hati.


"Bagaimana? Enak tidak susu jahe buatan Mami?"


Kiana mengangguk, seraya meletakan mug tersebut kembali di atas meja makan.


"Enak. Susunya nggak terlalu manis seperti yang aku suka, … wangi jahenya juga pas, hangat pas disini." Dia mengusap tenggorokannya.


"Ya sudah, habiskan." Ujar Leni.


Sementara Kiana duduk di kursi meja makan sambil menikmati susu jahenya yang masih sedikit panas. Jovian justru memilih duduk bersama sang ayah di kursi rotan yang terletak di luar rumah. Menikmati suasana malam dengan secangkir teh tawar panas, sembari membahas sesuatu yang mungkin lebih serius lagi.


"Niat Papi begitu. Terserah mau di depan atau di belakang, … kalau sudah setuju kita langsung lakukan pembangunannya."


Jovian menyesap teh miliknya perlahan-lahan.


"Kenapa harus di bangun rumah lagi? Disini saja sudah cukup. Lagi pula kalau punya rumah sendiri-sendiri rumah ini akan sepi!"


"Entah, Papi kira harus saja membuatkan kalian rumah."


"Tidak perlu. Agar ketika aku dan Javier ada disini suasana rumah terasa semakin hangat, ramai dan menyenangkan. Kurang dari setahun anakku akan lahir, dan bayangkan seheboh apa rumah Mami dan Papi kalau kita semua berkumpul? Tapi kehangatan itu bisa saja tidak terasa kalau kami mempunyai rumah masing-masing."


Jonathan terlihat berpikir. Dan apa yang dikatakan putranya memang tidak salah. Mungkin kedua anaknya membutuhkan rumah, tapi di kota atau negara mereka masing-masing, sementara di kampung? Untuk apa kembali membuat bangunan baru, karena itu hanya dapat mengurangi kebersamaan saja.


"Kamu pikir begitu? Papi dan Mami tidak perlu membuatkan kalian rumah lagi? Jika mau tanah di depan dan belakang rumah masih bisa."

__ADS_1


"Tidak usah. Kasihan nanti kitanya sibuk sendiri-sendiri." Kata Jovian, yang kembali meraih cangkir tehnya, dan menyesap perlahan-lahan.


"Ya sudah, kalau begitu ambil uangnya saja yah!"


Mata Jovian membelalak.


"Untuk apa?"


"Untuk kalian. Terutama kamu, … masa mau punya anak masih diam di apartemen kecil!"


"Apartemennya sudah laku terjual, Pak Cendana yang membelinya. Aku bisa membelikan rumah untuk Kiana, walaupun mungkin harus menunggu beberapa bulan dari hasil kebun teh."


Jovian terkekeh.


Rasanya begitu lucu, dia harus bekerja lebih keras lagi untuk lebih memantaskan diri. Tentu saja, apa dirinya tidak akan merasa malu? Saat memberikan sesuatu yang tentu jauh dari harapan Kiana. Walaupun perempuan itu tidak pernah menuntut banyak hal, tapi statusnya yang seorang anak tunggal dari seorang pengusaha ternama, sudah sepantasnya Kiana mendapatkan apa yang sudah pasti dia dapatkan dari orang tuanya.


"Pakai saja uang dari Papi. Ini memang untuk kalian!"


"Tidak!" Jovian menolak dengan tegas. "Aku mau semuanya hasil jerih payah aku sendiri, tidak mengandalkan uang Papi, meskipun kini penghasilan aku berasal dari apa yang Papi berikan. Tapi setidaknya aku bekerja untuk menjalankan itu, dan aku berhak memetik upah dari sana."


"Ah kamu banyak berubah!"


Jovian yang awalnya menatap lurus kedepan, kini menoleh, menatap wajah pria tua di sampingnya yang juga tengah memberikan tatapan nanar. Hati ayah mana yang tidak tersentuh, ketika ada banyak perubahan yang diperlihatkan oleh seorang putra, yang dulu dia besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Cukup dulu aku dipandang hidup dengan uang orang tua aku, … bahkan mereka mengira aku menafkahi anaknya dengan yang hasil minta-minta, seolah-olah pekerjaan aku begitu terhina karena hanya seorang ajudan pribadi, dan bukan seorang CEO kaya raya yang hanya duduk di kursi kerja dengan ruangan mewah, nyaman dan ber AC."


"Kamu terlalu banyak mendengarkan apa kata Pak Erik."


"Pak Danu tidak akan berbicara seperti itu, Kiana juga." Sergah Jonathan.


"Hanya mewanti-wanti saja!" Jovian tetap membela diri.


Jonathan tidak menjawab lagi, dia membiarkan Jovian dengan keinginannya. Sementara Kiana berdiri di ambang pintu, mendengarkan obrolan dua pria yang terdengar sangat serius. Niat awal yang ingin menemui suaminya dia urungkan, lalu kembali berjalan memasuki rumah.


***


"Baby?"


Jovian menyembulkan kepalanya di antara celah pintu kamar yang sedikit terbuka. Menatap Kiana yang sudah berada di atas tempat tidur, bergulungkan selimut tebal.


"Makan malamnya sudah siap, Mami memintaku untuk memanggilmu."


Kiana menurunkan selimutnya sampai hidung, lalu kemudian menggelengkan kepala.


"Bau bawang!" Katanya, dengan suara yang sedikit tertahan, membuat Jovian tidak dapat mendengar ucapan istrinya dengan jelas.


"Apa?"


Dia membuka pintu kamarnya lebar-lebar, berusaha mendekat tanpa menutup benda itu terlebih dulu. Namun, Kiana segera berteriak, dan meminta Jovian untuk menutup pintu kamarnya seperti semula.


Trek!!


"Kenapa?" Tanya Jovian setelah menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


"Bau!!" Suara Kiana memekik kencang.


Bahkan perempuan itu terdengar kesal, hanya karena Jovian tidak menutup pintu kamarnya seperti biasa.


"Bau apa?" Jovian mengendus aroma yang mengganggu penciuman istrinya. "Tidak ada bau Baby, selain pewangi ruangan!" Katanya sembari menatap alat yang menempel di dinding.


"Hhheuh!" Kiana menghela nafas.


"Ada masalah apa? Bau apa yang kamu maksud? Bau nasi yang baru matang? Atau bau aku?"


Jovian mendudukan dirinya di tepi ranjang, lalu mengusap punggung Kiana dengan lembut.


"Ish! Di bilangin bau bawang, … telinganya ketempelan apa kali? Sampe aku ngomong beberapa kali aja kamu nggak denger!" Ucap Kiana cukup ketus.


Membuat Jovian diam seketika.


"Bau bawang? Sekarang dia juga mengganggu penciuman kami?"


"Hmmmm."


"Masaknya sudah selesai. Mungkin baunya sudah tidak ada." Bujuk Jovian.


Kiana menggelengkan kepala.


"Masih bau! Aku nggak mau ah, nanti mual lagi kaya tadi." Kiana mengingat beberapa menit sebelumnya.


Dimana dia berlari kencang memasuki kamar, saat Wiwin menumis beberapa jenis bawang sekaligus untuk melengkapi masakannya.


Mereka saling diam dalam jangka waktu yang cukup lama. Sebelum akhirnya pria itu kembali mengajak Kiana untuk makan, mengingat belum ada karbohidrat atau nutrisi lain yang Kiana makan. Sementara saat ibu perempuan itu benar-benar membutuhkan asupan gizi yang baik, mengingat ada dua janin yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.


"Sayang, … Mami sudah masak, kasihan kalau kamu tidak mau makan." Jovian membuat suaranya selembut mungkin.


Kiana diam, seraya terus menutupi hidungnya.


"Baby?"


"Tapi aku nggak kuat baunya, Papa! Adik bayi nggak kuat." Kiana merengek.


Seulas senyum terbit di kedua sudut bibir Jovian. Perasaannya berdebar-debar ketika Kiana memanggilnya


"Jadi bagaimana?"


"Aku nggak tau. Kalau kesana aku mual, tapi kalau tidak kasihan Mami sama Bi Wiwin."


Jovian mengulum senyum.


"Mau coba kesana sebentar? Tadi baunya sudah hilang. Atau kalau tidak sapu tangan, berikan sedikit minyak angin, dan tempelkan di hidung agar menyamarkan bau yang kamu tidak suka."


Kiana mengangguk. Dia meraih uluran tangan suaminya, lalu bangkit perlahan-lahan untuk segera turun dari atas tempat tidur sana.


......................


Seperti biasa guys🤭

__ADS_1


__ADS_2