
Setelah selesai melakukan beberapa latihan angkat beban di salah satu tempat gym yang ada di lantai paling atas Gedung apartemennya, Jovian duduk di kursi yang tersedia, mengusap cucuran keringat di wajahnya dengan sehelai handuk kecil yang memang selalu pria itu bawa.
Suasana area itu selalu ramai seperti biasa, hanya satu yang membuatnya sedikit berbeda, yaitu tidak ada sosok Wanita yang akan selalu mengganggunya dengan hal-hal yang tidak penting. Jovian menoleh, meraih tumbler berisikan susu protein, kemudian dia meneguknya.
Jovian segera beranjak keluar dari ruangan berukuran besar itu, membawa semua barang bawaan miliknya untuk segera kembali. Menuju salah satu unit miliknya setelah kurang lebih satu jam lamanya menghabiskan waktu untuk melakukan aktivitas yang tidak pernah dia lewatkan jika memang sedang memiliki waktu luang di sela kesibukannya.
Dan setelah beberapa menit, Jovian sampai di unit miliknya. Dia segera masuk, tak lupa menutup pintu ruangan itu kembali seperti semula.
“Kau masih disini?” Tanya Jovian kepada seorang petugas kebersihan yang dia hubungi kira-kira satu jam yang lalu.
Sebuah tas besar terlihat rapih, pertanda jika beberapa alat-alat kebersihan yang selau pria itu bawa, sudah di masukan ke dalam sana.
“Baru selesai, Pak.” Pria itu menjawab.
“Untuk pakaian kotor, tolong di bawa seperti biasa ya!”
“Sudah saya masukan ke dalam keranjang, Bapak tinggal terima bersih saja.” Jelasnya seraya menoleh ke arah sebuah keranjang berukuran sedang berada di dekat pintu keluar.
Jovian menganggukan kepalanya.
“Tunggu sebentar.”
Jovian berjalan ke arah kamarnya, membawa dompet yang dia simpan di dalam sebuah laci, mengeluarkan dua lembar uang pecahan seratus ribu, lalu kembali.
“Bonusmu hari ini. Terimakasih karena sudah membantu saya membersihkan apartemen ini, … dan juga membawakan pakaian kotorku ke laudry seperti biasa.” Jovian menyodorkan uanganya.
Namun pria yang berada tepat di hadapannya hanya diam, menatap uang itu dan wajah Jovian bergantian. Dengan perasaan canggung, karena merasa tidak enak hati dengan kebaikan Jovian yang selalu memberinya uang lebih Ketika selesai membersihkan apartemennya.
“Sebenarnya saya tidak enak hati kalau Pak Jovian terus seperti ini.” Raut wajahnya tampak berubah.
“Tidak apa-apa, ambil saja. Saya suka dengan cara kerjamu!” Jovian berujar. “Ambilah, tangan saya pegal jika terus seperti ini.” Lalu dia meraih tangan pria muda di hadapanya, dan meletakan uang itu tepat di atas telapak tangan, kemudian Jovian kepalkan.
“Kalau begitu terimakasih, Pak!” Ucapnya sambil tersenyum kepada Jovian.
Sementara Jovian hanya mengulum senyum, kemudian dia menganggukan kepala.
Pria itu segera meraih tasnya, yang berisikan alat-alat kebersihan berukuran besar. Menggendongnya, lalu berjalan menuju pintu dan segera keluar setelah berpamitan terlebih dahulu kepada sang tuan rumah.
Tiba-tiba saja suara dering notifikasi ponselnya berbunyi, membuat Jovian kembali ke arah kamar, mendekati benda itu yang sedang terhubung pada kabel charger.
__ADS_1
“Kiana!” Jovian bergumam, sambil menatap layar ponselnya.
Dia mencabut kabel charger di ponselnya, menggeser tomobil berwarna hijau dan mendekatkannya ke arah daun telinga.
“Om?”
Suara gadis itu mendominasi pendengaran pria itu, membuat Jovian seketika tersenyum karena merasa bahagia saat Kiana menghubunginya.
“Ini bahkan baru jam tujuh, kenapa kamu sudah menghubungi saya sepagi ini? Ada mata kuliah sekarang, hum?” Dia tertawa pelan, dengan perasaan bahagia.
“Mmmm, … Aku masak sarapan. Tadi sempat ke apartemen juga, tapi aku tekan bell Om tetap tidak menjawab, aku telepon juga nggak di angkat. Om dimana sih? Pagi-pagi udah keluyuran, … hayooo jangan-jangan Om nakal lagi!” Cerca Kiana tanpa henti.
“kamu sudah pulang?”
Jovian bertanya, kemudian pandangannya beralih pada jam yang menempel di dinding kamar. Dengan harapan jika Kiana masih berada di sekitar apartemennya.
“Sekarang udah di parkiran, tadinya kalau Om nggak angkat teleponnya lagi, aku mau pulang. Padahal aku usahain masak biar bisa sarapan bareng sama Om!” Ucapnya dengan nada kecewa.
“Saya baru selesai gym, ponselnya saya simpan sambil di charger!” Jovian menjelaskan. “Jadi bagaimana? Mau saya jemput kebawah atau kesini sendiri?” Tanya Jovian kepada gadis di dalam sambungan teleponnya.
“Aku kesana saja. Ngapain segala di jemput, Om sekarang jadi lebay!”
“Saya mau mandi dulu. Kodenya nanti saya kirim melalui pesan, oke? Jadi kamu bisa langsung masuk saja.”
“Baiklah.”
Dan setelah itu Jovian mematikan sambungan teleponnya, mengirimkan sebuah pesan kepada Kiana, kemudian dia pergi berjalan memasuki kamar mandi.
Sementara itu di sebuah perkiran apartemen yang cukup luas.
Pintu salah mobil yang terparkir disana terbuka, kemudian keluarlah seorang gadis dengan menenteng sesuatu di tangannya. Dia berjalan ke arah pintu lobby, dimana seorang penjanga berdiri disana.
“Bagaimana? Pak Jovian nya ada? Setahu saya memang belum keluar hari ini.” Pria itu bertanya.
“Sudah Pak, katanya baru pulang gym.” Kiana tersenyum.
“Syukurlah kalau begitu.”
“Saya izin masuk dulu, Pak security.”
__ADS_1
Pria yang di maksud menganggukan kepala, dan setelah itu Kiana segera berjalan mendekati beberapa pintu lift yang berada di salah satu sudut bangunan itu. Dia menekan salah satu tombol, lalu mundur untuk menunggu pintu besi itu terbuka, dan dapat membawanya hingga unit milik Jovian berada.
Ting!!
Dan pintu itu terbuka, membuat Kiana segera masuk, menekah tombol kembali, sampai pintu lift itu segera tertutup dengan sangat perlahan.
“Tunggu!” Seseorang berteriak sembari mengulurkan tangannya sampai pintu itu kembali terbuka.
Pandangan keduanta beradadu, Kiana bahkan sedikit menyunggingkan senyum, Ketika Wanita yang baru saja memasuki lift melakukan hal yang sama lebih dulu.
“Sorry!” Ucap Mayden kepada Kiana.
“It`s okay.” Kiana dengan santai.
Pintu liftnya kembali tertutup, mulai terasa bergerak dengan sangat perahan, sementara kedua Wanita berbeda usia itu saling terdiam.
Namun angka yang menyala di salah satu tombol. Membuat Mayden tidak tahan untuk tidak bertanya.
“Pemilik baru?” Tanya Mayden.
Kiana segera menggelengkan kepalanya.
“Mengunjungi seseorang?” Entah kenapa Mayden terus bertanya.
Meskipun Kiana terlihat begitu malas berinteraksi dengan Wanita yang berdiri di sampingnya, terlebih dengan orang baru.
“Mengantar sarapan untuk calon suami saya, Mbak!”
“Calon suami? Padahal saya kira kamu masih anak SMA, eh ternyata sudah mau menikah yah!” Tukas Mayden, dengan senyuman yang dia perlihatkan.
Kiana tersenyum samar.
Tringg!!
Benda itu berhenti, tidak lama setelahnya pintu besi yang tadi tertutup rapat mulai terbuka.
Tanpa banyak basa-basi Kiana keluar dari dalam lift sana. Berjalan mendekati salah satu pintu yang dia ketahui sebagai milik Jovian. Sementara Mayden menahan pintunya agar tidak langsung tertutup, menatap Kiana dengan rasa penasaran yang cukup besar.
Hatinya mencelos, Ketika melihat Kiana berhenti di salah satu pintu apartemen milik teman pria yang sangat dia kagumi. Gadis bertubuh mungil itu bahkan terlihat memiliki akses lebih sampai dia dapat masuk ke dalamnya dengan sangat leluasa.
__ADS_1
“Mungkin Jovian sudah pindah!” Katanya, dia mundur dan membiarkan pintu lift kembali tertutup.