
Kiana duduk menghadap ke arah kolam. Dimana ikan-ikan dengan corak yang begitu indah berada di dalamnya, dengan ukuran yang cukup besar. Suara gemericik air jelas terdengar, dan mereka memilih duduk di sana beberapa saat setelah kejadian menegangkan tadi, yang hampir membuat Jovian gelap mata.
Tiba-tiba saja suara dering notifikasi handphone terdengar .
Jovian menggeser tombol hijau di layar handphone miliknya. Lalu mendekatkan ke arah daun telinga.
"Selamat pagi, Pak?" Dia menyapa terlebih dahulu.
"Ya. Ada apa, Jo? Tadi saya sedang di toilet, Mamanya Kiana juga sedang memasak di dapur, jadi tidak mendengar suara teleponnya berbunyi."
Jovian yang saat ini duduk di kursi kayu pinggir kolam ikan koi segera menoleh ke arah samping dimana Kiana berada saat ini.
"Bapak masih ada pekerjaan disana?" Pria itu berbasa-basi.
Dan entah kenapa dadanya terasa semakin berdebar-debar, mengingat dia harus menyampaikan sesuatu kepada calon mertuanya.
"Ya, … ada beberapa pertemuan untuk membahas kerjasama bisnis. Ada apa?" Kata Danu.
Suara itu selalu terdengar lembut. Seperti seorang ayah yang sedang berbicara kepada anak laki-lakinya.
"Saya mau membicarakan soal pernikahan."
Tiba-tiba saja Jovian merasa gugup. Bahkan wajahnya tampak memerah, rasa malu jelas dia rasakan. Bagaimana tidak, dirinya terus mengubah-ubah rencana, dan apa yang akan Danu pikirkan setelah ini. Saat dirinya kembali meminta sesuatu yang awalnya sempat dia tolak.
"Memangnya kenapa? Semua sudah berjalan sebagaimana harusnya bukan? Undangan sudah, gedung sudah, catering sudah, tinggal fitting baju saja. Kan mas kawin sudah kalian pikirkan." Ucap Danu.
Sementara Jovian langsung mengangguk-anggukan kepala, mengira jika Danu akan melihatnya dari jarak yang sangat jauh. Si seberang Kalimantan sana.
"Menurut Bapak. Kalau acara akadnya sedikit lebih di percepat bagaimana?"
Walaupun sedikit ragu, namun akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Jovian. Meski sedikit takut dengan jawaban calon mertuanya. Tapi dia tetap harus menanyakan itu, agar sesuatu tidak terjadi sebelum waktunya.
Pandangan Kiana tak teralihkan sama sekali. Dia terus menatap wajah tampan Jovian, dengan bayang-bayang kejadian beberapa menit lalu.
"Rencana awalnya kan memang seperti itu. Tapi kamu mempunyai pendapat lain. Ya sudah kita ikuti bagaimana baiknya saja." Pria itu berujar.
Membuat Jovian menganggukkan kepalanya kembali.
"Apa Bapak mengizinkan jika saya mempercepat akad nikahnya? Agar saya dapat membawa Kiana kemanapun tanpa merasa ragu. Akhir-akhir ini produksi teh sedang melonjak, … dan saya harus memantaunya dari sana langsung. Penambahan beberapa pekerja juga harus segera dilakukan, dan Papi sudah memberikan tanggung jawab itu kepada saya." Jovian beralasan.
Mungkin di satu sisi Jovian memang tidak bisa jauh dari Kiana. Namun, alasan yang lebih kuat untuk mempercepat akad nikahnya bukan itu.
"Apa Kiana merengek untuk meminta ikut ke Pangalengan?" Danu menerka-nerka.
"Iya." Jovian berbohong lagi.
Karena tidak mungkin dirinya mengatakan jika godaan semakin kencang, dan mereka sudah sama-sama tidak bisa menahan diri.
"Hhheuh, … dia memang selalu mengeluh, apalagi saat kamu berada di sana dalam jangka waktu yang sangat lama. Sudah bisa di tebak, Kiana akan semakin membuatmu kerepotan." Danu terkekeh.
"Tidak merepotkan juga, Pak. Saya senang jika Kiana berada di dekat saya, setidaknya dia terjauh dari hal-hal yang tidak diinginkan." Seketika pandangan Jovian beralih kepada Kiana, yang saat ini sedang tersenyum samar ke arahnya.
"Kira-kira kapan?" Suara pria di seberang sana terdengar tegas.
"Saya maunya besok, tapi Bapak masih harus di Kalimantan sampai lusa. Jadi secepatnya saja jika Bapak ada waktu." Celetuknya tanpa berpikir terlebih dahulu.
Isi kepalanya seolah kosong, dan hanya tersisa Kiana di dalamnya sampai dia tidak dapat berpikir dengan jernih.
__ADS_1
"Besok?"
Danu terdengar meninggikan suara karena terkejut. Saat Jovian mengutarakan keinginannya.
"Niat baik tidak boleh ditunda."
Jovian mengingatkan sang calon mertua dengan ucapannya tempo hari. Yang seketika membuat Danu tertawa kencang karenanya.
"Apa saya bisa mengandalkanmu?" Tanya Danu, dia berusaha meyakinkan.
"Jika bisa saya akan melakukannya." Katanya.
"Baik. Urus semua persyaratan yang diperlukan! Saya akan pulang secepatnya." Jawab Danu tanpa berpikir panjang.
Mungkin karena persiapan akad tidak akan serumit saat menyiapkan pesta pernikahan, sampai Danu langsung menyetujui keinginan Jovian.
Akhirnya Jovian dapat bernafas lega. Dia memejamkan matanya, menahan dirinya agar tidak berteriak karena merasa sangat bahagia. Bahkan dadanya terus berdesir, persis seperti di penuhi kupu-kupu berterbangan di dalamnya, sampai menghadirkan sedikit rasa sesak.
"Siap."
"Ya sudah, kalau begitu tutup saja teleponnya. Hati ini ada tiga pertemuan dengan kolega dari tiga negara berbeda." Jelas Danu kepada calon menantunya.
"Ingat, Jo! Setelah menikah kamu akan semakin sibuk. Selain kebut teh, kamu harus membantu Kiana menjalankan sahamnya." Pria itu kembali terdengar berbicara.
Sementara Jovian hanya mengangguk paham.
"Terimakasih, Pak "
Dan setelah itu sambungan telepon keduanya terputus.
Jovian segera menatap Kiana, yang terlihat begitu serius menyimak percakapannya dengan sang ayah.
Jovian tersenyum, dia menyentuh tangan Kiana, dan menggenggamnya sangat erat.
"Aku harus mengurus semuanya. Dan setelah itu aku tidak akan melepaskanmu!" Jovian berbisik, dengan senyuman bahagia yang berubah menjadi seringai yang sangat menakutkan.
Kiana menghela nafasnya, lalu mengusap wajah Jovian cukup kencang.
"Apa yang kamu pikirkan?" Kiana terkekeh kencang, bahkan sampai membuat matanya terpejam, dengan pandangan yang mendongak ke atas.
"Kamulah, … apalagi?" Jovian berseru.
"Bohong! Pasti lagi mikirin yang lain yah!?" Kiana mengarahkan jari telunjuknya kepada Jovian. Dan menggerak-gerakannya di hadapan wajah pria itu.
Jovian kembali memperlihatkan senyumannya. Hal yang sangat jarang dia lakukan dulu, namun seperti sudah menjadi kebiasaan baginya saat ini. Apalagi saat sedang bersama Kiana, kebahagiaan terus menyertai, sampai Jovian tidak mempunyai alasan untuk tidak bahagia.
Tangan kanannya bergerak, kemudian menyentuh rambut Kiana, dengan tatapan penuh arti.
"Aku baru sadar kalau rambutmu mulai memanjang. Kamu lebih cantik, … kamu juga terlihat sedikit berisi. Dan aku menyukainya. Sekarang kamu terlihat sangat sehat, Baby!" Suaranya terus terdengar rendah.
"Kamu selalu memastikan aku sarapan, makan siang dan makan malam dengan benar. Makanya berat badan aku memang sedikit naik, … dan mulai besok aku mau gym. Latihan angkat beban biar postur tubuh aku semakin terlihat bagus." Kiana mengutarakan keinginannya.
Mendengar itu jelas Jovian langsung menganggukan kepala. Selain harus mendukung setiap keputusan pasangan, dirinya pun akan sangat menyukai jika perubahan besar terjadi pada tubuh belahan jiwanya. Keadaan Kiana sekarang ini bukan tidak cantik, namun gadis itu akan sempurna jika melakukan beberapa hal. Dan keinginannya meningkatkan massa otot itu bagus sekali.
"Aku mau kaya Tante Mayden. Postur tubuhnya kaya gitar spanyol. Depan belakang oke, … eh dia Tante-tante bukan yah? Tapi kalau …"
Belum selesai Kiana berbicara, Jovian segera memotong ucapannya.
__ADS_1
"Tidak! Tetaplah jadi diri kamu sendiri, jika mau latihan beban, maka lakukan itu untuk dirimu sendiri, bukan untuk menjadi seperti orang lain."
"Tapi kayaknya kamu suka."
"Bercanda ya! Aku bahkan memilih kamu, padahal dia yang lebih dulu mengutarakan rasa suka."
Kiana hampir saya membuka mulutnya. Namun dengan segera Jovian bungkam dengan telapak tangan, mencoba menghentikan Kiana sebelum berpikir semakin jauh, dan ujung-ujungnya akan membuat mereka berdebat.
"Jangan bahas Mayden. Kita bahas mobil saja, … jika akadnya akan dipercepat! Maka aku harus mencari mas kawin dengan segera, … kamu bisa mengatakan mobil apa yang kamu mau, agar dapat mempermudah aku dalam mendapatkannya." Kata Jovian.
Kiana tampak berpikir.
"Aku tidak mau memberatkan kamu dengan permintaan aku, tahu! Makanya aku bilang terserah, … bukan mau mempersulit."
"Tapi aku bingung, harus mencari mobil yang cocok denganmu."
"Beli yang sesuai dengan kemampuan kamu, sayang. Aku akan menerimanya."
Jovian tidak menjawab lagi. Pandangan pria itu terus terkunci pada wajah mempesona calon istrinya, seraya memikirkan sesuatu yang pantas untuk Kiana dapatkan.
"Aku kasih saran deh!" Kiana berujar, saat melihat Jovian terus terdiam.
"Apa? Katakan saja aku mampu."
"Ish, … kamu sombong!" Kiana mencubit pinggang Jovian seperti biasa, dengan perasan gemas.
"Habisnya kamu terus mengatakan itu. Yang tidak memberat kan aku, … yang sesuai dengan kemampuan aku. Aku ini anak pemilik kebun teh lho, walaupun judulnya petani, tapi hasil saat panen itu nominalnya akan membuat kamu terkejut." Jovian berujar.
"Ya ya ya. Kalau begitu belikan apa saja, … tapi jangan yang modelnya kaya model aku sekarang. SUV aja, biar bisa ke pake sampai anak-anak lahir."
Kening Jovian menjengit kencang.
"Belum apa-apa udah mikirin anak lahir." Jovian tertawa. "Otak kamu sudah seputar itu, yah!?" Dia terus berbicar dengan tawa pelan yang terus terdengar.
"Ya maksud aku biar irit aja, nggak usah ganti-ganti mobil lagi." Kiana sedikit mengelak.
Jovian mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian dia segera bangkit.
"Lexus mau?" Jovian bertanya.
Tangannya terulur ke arah Kiana, yang langsung saja gadis itu raih, dan berjalan ke arah dalam dengan tangan yang saling menggenggam.
"Mau." Kiana mengangkat pandangannya, lalu mengangguk.
Raut wajahnya berbinar, sampai sudut bibirnya terus tertarik kedua arah berlawanan, hingga memperlihatkan senyuman tipis yang sangat manis.
"Baiklah, kita ke showroom mobil sekarang. Gantilah pakaianmu." Jovian melepaskan genggaman tangan saat mereka berada di ruang tengah.
"Sama aku?" Kiana menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja, agar kamu dapat melihat-lihat. Model apa yang kamu mau ambil, atau warna yang mana yang kamu mau. Kamu tahu? Aku akan sangat bahagia jika kamu memilih semuanya sendiri, karena sudah di pastikan kamu puas."
"Ya sudah, aku siap-siap dulu. Janji nggak akan lama, tunggu yah."
Kiana segera berjalan menaiki tangga, sementara Jovian segera mendekati sofa untuk menunggu.
......................
__ADS_1
...Ayo timpukin pake hadiahhhhh sama vote kalo masih pada punya. Ritual wajibnya jangan lupa! Like, komen, rate dan masukin rak buku yah, biar kalau si Om gentayangan ada notifikasi bunyi....
cuyung kalian😘😘