
"Beneran?"
Jovian mengangguk.
"Ya sudah. Udah jam sepuluh, … ayo kita tidur! Bukannya kamu bilang besok kita harus siap-siap? Soalnya lusa kita ke Pangalengan."
"Hemm, … kamu benar."
Jovian bangkit, lalu dia berjalan memasuki pintu kamar mandi untuk membasuh wajah, tangan, kaki, dan mengosok gigi.
Dan sekembalinya Jovian dari dalam kamar mandi sana. Suasana sudah tampak temaram, televisi yang menyala kini sudah benar-benar mati, dan hanya menyisakan lampu tidur memang di biarkan menyala.
"Aku pikir kamu selalu tidur dengan keadaan gelap. Jadi aku matikan saja lampunya, … atau lampu tidurnya juga mau aku matikan? Dan gordennya di buka, sama seperti saat kamu tidur di apartemen?" Tanya Kiana.
Jovian tersenyum. Lalu kemudian naik dan ikut berbaring di atas tempat tidur milik istrinya.
"Tidak perlu, biarkan seperti ini! Ini bukan di apartemen jadi biarkan lampu tidur dan gordennya tertutup." Ucap Jovian setengah berbisik.
"Ya sudah."
Kiana beringsut mendekat, dan segera membenamkan wajah di dada bidang milik suaminya.
Rasanya begitu nyaman. Entah kenapa dirinya merasa sangat aman berada di dalam dekapan pria itu. Padahal sejauh ini, jelas Kiana tahu tidak ada hal yang akan membahayakannya.
Cup!!
Jovian mencium puncak kepala Kiana.
"Sweet dreams, Baby." Suara Jovian terdengar sangat rendah.
Dan itu membuat Kiana segera menengadahkan pandangan, menatap Jovian yang juga sedang menunudkan pandangan. Mereka diam untuk beberapa menit. Saling memandangi wajah satu sama lain, dengan debaran yang bisa di dengar jelas oleh Kiana maupun Jovian.
"Apa kamu baik-baik saja? Maksudnya, … apa masih sakit?" Raut wajah Jovian terlihat sangat serius.
"Ngggg, … sedikit!" Sahut Kiana.
Satu tangan Jovian bergerak, menyentuh pinggang Kiana. Dan menariknya sampai mereka saling menempel satu sama lain. Kemduain Jovian bangkit, dan mengungkung tubuh mungil Kiana.
Jovian menyeringai.
"Baiklah, … kita lakukan sekali lagi!"
Kiana hampir membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu. Namun Jovian seegra membungkuk, dan membungkamnya dengan ciuman.
__ADS_1
Dengan perasaan yang sangat menggebu-gebu Jovian memangut bibir Kiana. Tangan kiri Jovian bertumpu di atas kasur, dan tangan kanannya mulai meraba-raba sesuatu di balik gaun tidur Kiana.
Dan suasana semakin syahdu, saat Kiana membalas setiap cumbuan yang Jovian berikan. Bahkan membuat perempuan itu melupakan rasa sakit dan ketakutannya yang sempat hadir menguasai diri.
Satu-persatu pakaian yang melekat diantara tubuh keduanya terlepas, hingga entah sejak kapan mereka sama-sama polos tanpa sehelai benangpun.
"Pelan-pelan!" Pinta Kiana kala Jovian menyentuh dan membuka kedua kaki Kiana lebar-lebar.
Jovian tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan semakin mendekatkan miliknya pada inti tubuh Kiana yang sudah sangat jelas terlihat.
Kedua tangan Kiana mencengkram kuat pergelangan tangan Jovian. Matanya terpejam, dengan mulut sedikit terbuka saat Jovian mulai mendorong pinggulnya dengan sangat perlahan. Seolah takut akan menyakiti Kiana jika dirinya tidak hati-hati.
"Nggghhhhhnj!!" Erangan tertahan Kiana terdengar.
Jovian diam, menatap mata Kiana yang perlahan mulai terbuka. Kemudian memperlihatkan senyum tipis, saat Kiana juga tersenyum ke arahnya.
"Masih sakit?"
Kiana menggelengkan kepalanya pelan.
Jovian kembali membungkuk, mendekatkan wajah pada Kiana, untuk kemudian meraih bibir istrinya yang terlihat sangat menggoda. Dia mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, membuat Kiana merintih pelan, namun tak jarang kini perempuan itu me**esah karena mulai dapat menikmati permainan suaminya.
Kening mereka saling menempel, juga tangan yang tak pernah berhenti untuk menyentuh satu sama lain. Sampai suasana semakin tidak terkendali, apalagi saat Kiana sudah merespon setiap sentuhannya dengan sangat baik.
"Ah sayang!" Kiana meremat rambut suaminya.
Cup!!
Jovian mencium daun telingan Kiana, dan memberi gigitan kecil disana, sampai membuat Kiana merintih terus menerus.
"Emmmmmhhhh!!" Erang Jovian lagi.
Kala dia merasakan milik Kiana berkedut kencang, menghadirkan rasa yang sangat luar biasa. Apalagi saat melihat ekspresi wajah Kiana, dia benar-benar ingin lepas kendali.
"Emmmmhhh, … sayang, … aku …. Hhhhheuh!"
Wajah cantik di bawah ruangan temaram itu tampak menjadi merah padam. Matanya tertutup dan terbuka, bibirnya meringis, dengan hembusan nafas yang tersengal-sengal.
"Ohhh, … lepaskan saja Baby!"
Hentakan Jovian semakin kencang.
Mata Kiana terpejam rapat. Sesuatu terasa mengalir dari atas kepala, bergerak turun hampir keseluruhan tubuh, dan berkumpul di telapak kaki sampai membuat Kiana benar-benar tak dapat menahannya lagi.
__ADS_1
"Jovian!!" Kiana menggeram kencang.
"Ya. Aku selesai sayang, … aku selesai!" Jovian dengan suara parau dan nafas yang tersengal-sengal.
Pria itu semakin menggila. Dan terlepaslah segala hal yang sangat indah. Kala Jovian menembakan sesuatu ke dalam sana, berharap akan ada kehidupan baru yang akan segera hadir, tumbuh dengan sehat di dalam rahim Kiana.
Seorang gadis yang dia nikahi kemarin siang.
Suasana menjadi hening. Suara-suara yang sempat memenuhi ruangan itu benar-benar hilang, bergantikan dengan suara hembusan nafas yang menderu-deru.
Dari Kiana dan Jovian.
Dada pria bertubuh kekar itu naik turun dengan sangat cepat. Menatap istrinya dengan keadaan yang sama. Nafas tersengal-sengal, juga peluh yang bercucuran membasahi seluruh tubuh.
Tangan Jovian bergerak, menyentuh pipi Kiana dan mengusapnya lembut. Lalu dia beralih mengusap perut rata istrinya, dimana Jovian sudah menanamkan saham di dalam rahim Kiana.
"Segeralah hadir sayang." Jovian berbicara dengan raut wajah berbinar.
Jovian memundurkan diri, membuat tautan tubuh keduanya terlepas, berbarengan dengan sesuatu yang juga ikut keluar, mengalir membasahi kain pelapis kasur.
"Mau bersih-bersih sekarang?" Tanya Jovian kepada Kiana.
"Kamu saja dulu, nanti kalau sudah giliran aku." Katanya dengan mata yang terus terpejam, karena rasa lelah yang terasa sangat luar biasa.
"Baiklah sayang." Jovia tersenyum bahagia.
Jelas bahagia, karena setelah 2 tahun. Akhirnya dia mendapatkan apa yang memang pantas. Dan ini lebih dari cukup, Kiana sangat sempurna untuk dirinya yang hanya seorang pria dewasa yang sudah berusia 37 tahun.
Terlebih dulu Jovian mencium kening istrinya, beralih pada pipi kiri dan kanan, yang segera berakhir di bibir menggoda milik Kiana.
Kiana membenarkan posisi. Dia membaringkan kepalanya di atas bantal, menatap punggung kokoh Jovian yang beranjak semakin menjauh, sampai benar-benar menghilang di balik pintu kamar mandi.
Seulas senyuman samar terbit di kedua sudut bibir Kiana.
"Kenapa dia tampan sekali? Bahkan saat usianya se-dewasa sekarang? Bayangkan saja, bagaimana pesona suamimu saat masih muda Kiana!" Gumam Kiana, seraya menatap pintu kamar mandi yang saat ini tertutup rapat.
"Terimakasih Tante Eva. Terimakasih karena sudah memilih pergi, dan membiarkan aku masuk ke dalam hidupnya, menggantikan semua apa yang sempat hilang dari dalam suamiku. Termasuk cinta yang sangat tulus."
......................
...Guys!!...
Sepertinya biasa🤭
__ADS_1