
"Maaf, Ka. Semuanya sudah selesai, kalau begitu saya pamit jika memang sudah tidak ada lagi tempat untuk dibersihkan."
Seorang petugas kebersihan yang Kiana hubungi melalui salah satu aplikasi segera berpamitan. Setelah merasa apa yang menjadi tugasnya benar-benar selesai, dan dia bisa pergi dengan keadaan seisi apartemen bersih dan rapi.
"Terimakasih, Mbak!" Ucap Kiana sambil tersenyum.
"Kalau begitu mari, minta bantu rate bintang lima sama ulasannya, Kak!" Pintanya yang langsung Kiana jawab dengan anggukan pelan.
Wanita itu meraih tas berisikan alat-alat kebersihan miliknya, lalu menggendongnya, dan hendak berjalan ke arah luar, namun teriakan Kiana kembali menghentikan langkah kakinya saat dia menyentuh gagang pintu.
"Mbak!" Panggil Kiana.
"Ya, ada sesuatu Kak?" Dia menoleh ke arah Kiana.
"Bukan." Kiana menggeleng-gelengkan kepala, dia meraih tangan wanita di hadapannya, lalu memberikan selembar uang pecahan seratus ribu.
Wanita itu diam menatap wajah Kiana dengan raut tidak percaya.
"Tapi, … Kakak sudah membayarnya melalui aplikasi. Tidak usah memberikan uang lagi!" Katanya.
"Iya. Itu untuk bayar jasa kebersihannya, dan ini untuk beli es jika di jalan nanti kehausan, … terimakasih, apartemen suami saya jadi lebih rapi dan bersih, jadi terima yah, jangan di tolak!" Pinta Kiana dengan senyum ramahnya seperti biasa.
"Kalau begitu terimakasih."
"Iya."
Dan setelah itu Kiana meraih pintu apartemennya, kemudian menutupnya rapat-rapat setelah seorang petugas layanan kebersihan benar-benar pergi dari sana.
Kiana berjalan ke arah sofa ruangan tengah, duduk di sana dengan pandangan yang perempuan itu tujukan ke arah luar, dimana gedung-gedung pencakar langit berdiri mengelilingi. Lampu-lampu dengan warna-warna berbeda mulai menyala, kala cahaya matahari mulai memudar, membuat langit kebiruan tampak begitu mempesona dengan siluet kuning kemerahan. Dan jangan lupakan awan-awan yang memenuhi hamparan langit luas, persis seperti sebuah kapas berukuran besar yang bertaburan.
Tiba-tiba saja dia merasa rindu kepada sosok pria yang sudah hampir satu bulan ini berstatus sebagai suaminya. Pria yang saat ini ada jauh di Pangalengan sana, tengah bergelut dengan rasa lelah karena sebuah kewajiban. Tapi apa yang dirinya lakukan? Seharian ini dia mengacuhkannya, dan itu sebuah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan.
Kiana bangkit, berniat masuk ke dalam kamar untuk membawa tas miliknya. Dimana salah satu alat untuk berkomunikasi ada di dalam sana. Namun, langkah Kiana terhenti tepat saat dirinya berdiri di ambang pintu kamar. Ketika tiba-tiba saja pintu apartemen terbuka dari arah luar.
Perempuan itu mematung, dia tidak dapat bereaksi apapun kala seseorang terlihat melangkah masuk.
"Kamu pulang?" Tanya Kiana setelah terdiam cukup lama.
Jovian tidak menjawab, dia menutup pintu apartemen rapat seperti sebelumnya, lalu berjalan mendekat, dan tanpa menunggu lama dia segera membawa Kiana masuk ke dalam dekapan hangat penuh rindu.
"Aku pulang ke rumah. Tapi kata Mama kamu sudah keluar dari tadi siang dan belum kembali, … kemungkinan kamu ada di apartemen. Dan benar saja kamu ada disini!" Jovian menyentuh kedua bahu sang istri, sedikit mendorongnya sampai membuat pandangan mereka kembali beradu.
Tatapan penuh rindu tersorot jelas di dalam netra Jovian. Sementara Kiana tak dapat berkata-kata, sampai dia kembali memilih untuk membenamkan wajah di dada bidang sana, menghirup aroma wewangian yang bercampur dengan aroma alami tubuh suaminya.
"Oh sayang! Aku sangat merindukanmu." Ujar Kiana dengan suara pelan, bahkan hampir berbisik.
"Apa yang kamu lakukan seharian ini?" Tanya Jovian sambil mengusap-usap punggung Kiana.
Perempuan itu sedikit menjauhkan kepalanya, menengadahkan pandangan, menatap Jovian yang juga sedang mengarahkan pandangan ke arahnya.
"Banyak. Aku meminta seseorang untuk merapikan kamar, membawa pakaian kotor ke laundry yang ada di bawah, berbelanja dan menatanya di dapur. Lihat? Apartemen kamu sudah terlihat sangat nyaman sekarang, kulkas sudah aku penuhi dengan berbagai macam bumbu dan daging. Chiller juga aku isi dengan banyak minuman, air mineral, susu dan yogurt." Jelas Kiana.
Rona bahagia jelas Kiana perlihatkan, saat dia mampu berperan sebagai seorang istri yang sesungguhnya. Berbelanja, dan menata setiap tempat agar terlihat lebih nyaman, meskipun dia masih membutuhkan bantuan orang lain, setidaknya dia sudah berusaha melakukan itu, dan tidak lagi bergantung kepada kedua orang tuanya.
"Hari ini aku berbelanja baju, ke salon, lalu membeli beberapa keperluan rumah." Ucap Kiana lagi.
Jovian hanya diam, menatap Kiana yang tersenyum dengan raut wajah serius, bahkan cenderung dingin, saat retinanya terus bergerak-gerak, seolah sedang mencari tahu sesuatu.
"Kenapa?" Tanya Kiana kepada suaminya.
"Dan kamu melakukan semuanya dengan keadaan seperti ini!?"
Tangan Jovian bergerak, menyentuh kedua sisi kemeja Kiana, lalu merapatkannya. Dimana tiga kancing paling atas dibiarkan terbuka, hingga bagian sana terekspos dengan sempurna.
"Kamu pergi berkendara sendiri, memasuki tempat perbelanjaan sendiri, dan melakukan semuanya tanpa aku ada bersamamu!"
__ADS_1
Jovian semakin menundukan kepala, sampai keningnya dengan kening Kiana saling beradu.
"Tidakkah kamu berpikir? Jika dunia luar itu sangat berbahaya, … apalagi untuk perempuan cantik seperti kamu. Mereka akan mengira kamu ini seorang gadis yang tidak terikat dengan siapapun. Padahal pada kenyataannya kau sudah menjadi miliki, Jovian Alton. Dan hanya aku seorang!" Suaranya terdengar semakin rendah.
Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat, menatap satu sama lain dari jarak yang sangat dekat, seraya merasai hangatnya hembusan nafas masing-masing.
"Memangnya cuma kamu yang boleh mengalihkan pikiran? Sementara aku tidak boleh? Kamu pergi ke Pangalengan untuk menghindari aku, dan aku mengalihkan rasa rindu …"
Belum selesai Kiana berbicara. Jovian segera membungkamnya dengan kecupan bertubi-tubi, yang berakhir menjadi lummatan yang begitu dalam.
Kedua tangan Kiana bergerak mengusap dada Jovian, beralih bergerak semakin ke atas, sampai melingkar erat di bahu pria itu.
Suara decapan semakin terdengar jelas di dalam ruang apartemen yang terasa begitu hening. Keduanya semakin terbawa suasana, hingga dengan segera Jovian menyentuh bo**ng Kiana, lalu merematnya dengan gemas.
Lalu mereka berhenti. Melepaskan tautan bibir masing-masing, dan menatap satu sama lain dengan ekspresi wajah yang terlihat sama-sama datar.
Tidak, lebih tepatnya Kiana dan Jovian sedang menahan rasa rindu yang menggebu-gebu.
"Kamu masih belum selesai?" Tanya Jovian.
Kiana tidak langsung menjawab. Dia berjinjit dan kembali mempererat pelukan.
Cup!!
Kiana mengecup singkat bibir suami tampannya.
"Apa aku bisa melepas rasa rinduku sekarang, Baby? Aku menginginkanmu!" Jovian terdengar sedikit memelas.
Kiana tersenyum sambil menggigit bibirnya. Dan tanpa aba-aba dia melompat, melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jovian. Beruntung pria itu langsung menangkapnya, jika sedikit saja Jovian tidak sigap, maka Kiana sudah di pastikan terjatuh ke atas lantai marmer yang begitu keras.
"Kamu sudah selesai?" Jovian bertanya lagi untuk memastikan.
Dan Kiana menganggukan kepalanya dengan segara.
Jovian merasakan dadanya meledak. Menghadirkan desiran-desiran yang begitu luar biasa, hingga menghadirkan sengatan-sengatan kecil di sekujur tubuhnya.
"Sayang!!' Kiana memekik kencang.
Jovian tidak menggubris, dia berjalan mendekati pintu, lalu menutup dan memutar kunci beberapa kali. Setelah itu dia berjalan ke arah ujung, meraih tirai putih tipis, menariknya sampai membentang menutupi kaca besar di hadapannya.
Suasana ruangan itu menjadi temaram. Dengan sedikit cahaya yang masih terlihat dari balik tirai sana.
Jovian menarik lepas kaos yang dia kenakan. Kemudian menjatuhkan kain itu begitu saja sampai tergeletak di atas ubin. Hal yang sama dia lakukan pada celana chinos nya, sampai kini Jovian hanya menyisakan sebuah kain hitam pembungkus area pribadi.
Kiana merasakan dadanya semakin berdebar-debar. Perempuan itu tak lagi mampu untuk berkata-kata.
Tubuh yang terlihat atletis. Bahu lebar, dada bidang, otot lengan yang cukup besar, belum lagi bagian perut Jovian yang terlihat semakin menggoda dengan beberapa kotak yang terpampangnya disana.
Dia tersenyum penuh arti, seraya merangkat naik ke atas tempat tidur sana.
Tangannya bergerak meraih ujung skinny jeans yang Kiana kenakan. Membuka kancing sedikit kesulitan, dan setelahnya menarik lepas benda itu, untuk dia lemparkan.
"Sayang?"
Kiana menginterupsi, kala dia merasa ada yang aneh pada diri suaminya.
"Tidak! Aku sedang tidak mau di protes saat ini, aku merindukanmu, … dan biarkan aku melepaskannya sekarang."
Dia beralih menyentuh setiap kancing kemeja Kiana tanpa merasa sabar, dan setelah berhasil melepaskannya Jovian kembali melemparkan benda itu sampai tergeletak bersama pakaian miliknya yang lain.
Jovian diam menatap keadaan Kiana saat ini, dengan jakun yang terus naik turun, ketika dia sedikit kesulitan untuk menelan salivanya sendiri.
"Kamu cantik sekali!" Katanya, lalu mengusap permukaan kulit lengan Kiana menggunakan punggung tangannya.
Membuat Kiana segera memejamkan mata, menahan rasa yang sangat luar biasa, dan dia tidak bisa menjabarkan perasaan itu.
__ADS_1
Tangannya kembali bergerak, menyentuh ujung cel*na dallam milik Kiana, lalu menarinya sampai benar-benar terlepas. Dan terlihatlah apa yang tersembunyi di balik sana.
Mereka kembali saling menatap.
"Jangan terburu …"
Jovian kembali membungkam bibir Kiana dengan ciumannya yang kali ini terasa semakin menggebu-gebu.
Dia mengungkung tubuh kecil istrinya, mengurung di antara kedua tangan kekar yang terletak di antara sisi kiri dan kanan. Sementara Kiana duduk setengah berbaring dengan kedua siku yang menahan bobot tubuhnya.
Jovian melepaskan bibir Kiana, beralih mencium kening, kelopak mata, pipi dan berakhir menyusuri tengkuk Kiana sampai membuat perempuan itu melenguh kencang.
"Mmmmhhhh, … sayang!!"
Cup!!
Jovian mencium tengkuk Kiana kembali. Sebelum akhirnya dia menegakan tubuh, dan membuka sisa pakaian yang masih melekat di tubuhnya, sampai saat ini Jovian benar-benar polos tanpa sehelai benangpun.
Dia kembali membungkuk, membuat posisi wajahnya sangat dekat, seraya memposisikan diri di antara kedua kaki Kiana yang terbuka lebar.
Tatapan Kiana sudah terlihat sangat sendu. Dia benar-benar tidak bereaksi apapun, sebelum akhirnya Keningnya terlihat mengkerut, kala Jovian mulai mendorong miliknya agar masuk dengan perlahan-lahan.
Kiana menahan nafasnya.
"Baby, bernafaslah. Wajahmu sudah terlihat sangat merah." Bisik Jovian, sambil menikmati ekspresi wajah menggemaskan yang Kiana perlihatkan.
"Egghhhhh!" Matanya terpejam.
Sementara Jovian hanya tersenyum ketika miliknya sudah benar-benar masuk. Dia menatap keadaan Kiana yang masih mengenakan bra berwarna hitam dengan tali tipis yang melingkar di pundaknya. Dan perempuan itu benar-benar terlihat sangat seksi dengan keadaan seperti ini.
"You look like a naughty girl, Baby!" Jovian berbisik, dengan senyum sensual.
Tangan kanan Kiana bergerak menyentuh dada Jovian, bergerak mengusap kebawah, dan berhenti menyentuh otot-otot perut, dengan tatapan nakal yang dia perlihatkan kepada suaminya.
Perlahan-lahan Jovian mulai menggerakan punggungnya maju mundur. Membuat kening Kiana kembali mengkerut, dengan wajah yang terlihat semakin memerah.
"Ohhhhh ****!!" Kiana meracau.
Jovian tersenyum.
Satu tangannya bertumpu untuk menyeimbangkan tubuh. Sementara satu tangannya lagi bergerak mengusap kulit perut Kiana, semakin ke atas, lalu mencengkram leher perempuan itu dengan perasaan gemas.
"Ahhhh kenapa kau terlihat cantik sekali, huh!?" Suaranya tersengal-sengal.
"Ngghhhhh, … faster Babe!" Kiana merintih kencang.
Jovian menyeringai, namun dia masih mengatur temponya sampai Kiana benar-benar tampak tersiksa. Bahkan tubuhnya terus bergerak-gerak tak tentu arah, dengan tangan yang mulai menyentuh pergelangan tangan Jovian yang masih mencengkram lehernya.
"Sayang!!"
"Ya, Baby? Aku disini?"
"Lebih cepat."
Jovian memejamkan matanya, ketika sesuatu dibawah sana terasa berkedut, dan miliknya di cengkram kencang, membuat Jovian merasa tidak tahan, dan segera menambah tempo hentakannya.
Suara rintihan, dan jeritan kenikmatan mengudara memenuhi langit-langit kamar pada menjelang malam hari ini. Bersahutan dengan suara geraman Jovian, sampai suasana semakin tak terkendali, dan benar-benar hening setelah keduanya meraih pelepasan bersama-sama.
"I want more, Baby!" Bisik Jovian tepat di daun telinga istrinya.
Membuat Kiana segera memukul dada Jovian sambil tersenyum. Dadanya naik turun dengan cepat, dengan nafas tersengal-sengal hasil dari kegiatan panas keduanya.
......................
Jangan lupa di like, komen, kasih hadiah sama vote yah :)
__ADS_1
Kawal di Om sama Kia sampe 1M pop.
Cuyung kalian ♥️♥️