Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Hari Wisuda


__ADS_3

Bangunan megah yang berdiri kokoh di tengah-tengah keramaian kota Tangerang. Dimana di dalamnya terdapat ratusan kursi yang sudah berjajar dengan rapi, di penuhi orang-orang dari berbagai kalangan, dengan gaya pakaian yang juga berbeda.


Namun, ada beberapa golongan yang paling mencolok, yaitu pakaian kebaya yang dibalut jubah hitam, dengan toga yang melingkar di kepala mereka. Dan salah satu di antara mereka adalah Kiana. Sosok gadis yang terlihat begitu memukau, sampai membuat Jovian yang kini ikut menghadiri acara paling bersejarah di dalam hidup istrinya itu terus terdiam tanpa bisa berkata-kata.


Kebaya brokat berwarna olive, dengan kristal-kristal kecil yang tampak mengkilap saat tersorot cahaya, berbalut baju wisuda berwarna hitam dengan warna kuning melingkar di area kerah, tatanan rambut ala anak-anak muda jaman sekarang, jangan lupakan sentuhan make-up di wajah Kiana, membuat perempuan itu benar-benar siap dan sempurna pada hari ini.


Alisnya terukir sempurna, bulu mata lentik, bibir merah dan pipi yang merona.


Suasana menjadi begitu hening, ketika susunan acara wisuda segera di mulai. Kata-kata sambutan diucapkan oleh kepala pimpinan pemilik Universitas, lalu di sambung dengan acara doa bersama-sama untuk mengucapkan rasa syukur.


Dan akhirnya. Seorang pembawa acara memanggil nama Kiana dengan begitu lantang, hingga memenuhi ballroom hotel dimana para pelajar berkumpul untuk memenuhi acara yang sudah mereka tunggu-tunggu selama beberapa tahun lamanya.


Riuh tepuk tangan dan teriakan terdengar, kala seseorang memberitahukan jika perempuan itu lulus dengan nilai terbaik. Dan tentu saja itu membuat Danu, Herlin, Jovian, Leni dan Jonathan yang ada disana merasa bangga.


"Jasmine Kiana Danuarta S.Mb. Silahkan naik ke podium!"


Perempuan yang sedari tadi duduk menyimak akhirnya bangkit, menatap kedua orang tua, suami juga mertuanya yang turut hadir di acara paling berkesan di dalam hidupnya.


Kiana berjalan naik ke atas podium, berjabat tangan dengan beberapa orang yang mengenakan pakaian rapi, sedikit membungkukkan tubuh, dan berpindahlah tali yang semulanya terletak di sebelah kiri, kini menjadi terletak di sebelah kanan. Menjadikan sebagai penanda jika Kiana sudah lulus dengan gelar Sarjana Manajemen bisnis.


Pandangan Jovian terus tertuju ke arah podium sana. Menatap betapa memukaunya perempuan yang satu bulan belakangan menjadi istrinya. Entah apa yang harus Jovian katakan, rasa bangga sudah jelas pria itu rasakan, namun ini lebih dari itu sampai dia merasakan isi kepalanya kosong dan tidak mampu berkata-kata lagi.


"Oh putriku!" Danu merasa bangga, dengan mata berkaca-kaca karena merasa tidak menyangka.


"Putriku juga." Herlin tidak mau kalah.


Dua orang itu terus saling merangkul, dengan tatapan yang terus tertuju pada Kiana yang saat ini mulai berjalan turun dari atas podium.


Sementara Jonathan dan Leni saling menatap dengan senyuman penuh arti. Kemudian dia beralih pada Jovian yang sedang fokus, seolah tidak peduli dengan keberadaan orang-orang di sekelilingnya.


"Ah, aku merasa sedang mengantar putriku wisuda juga." Jonathan berbisik tepat di daun telinga istrinya.


"Hemmm, … lihat Jovian! Dia bahkan terus menatap Kiana, tidak ada lagi yang dapat dia lakukan selain u


diam dan mengagumi istrinya." Balas Leni, yang langsung mendapatkan anggukan dari Jonathan.


Kiana mengangkat sesuatu di dalam genggaman tangannya. Sebuah gulungan kertas dengan pita yang melingkar cantik pada benda tersebut.

__ADS_1


"I got it!" Wajahnya berbinar.


Dia menatap penampilan suaminya. Kemeja putih lengan panjang, dengan satu kancing paling atas yang dibiarkan terbuka. Dipadupadankan dengan celana chinos hitam, membuatnya terkesan santai, namun tetap memukau dan tentunya menjadikan tingkat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.


Jovian bangkit dari duduknya, kemudian merentangkan tangan, saat Kiana terus menatap ke arahnya sambil berlari kecil.


Dia menarik lepas toga yang dia kenakan, lalu meraih tubuh Jovian.


Brugh!!


Kiana membentur tubuh kekar milik suaminya cukup kencang, seraya memeluk pundak Jovian dengan begitu erat.


"Kamu dengar? Aku salah satu murid dengan nilai terbaik. Tiga koma sembilan, bagus bukan?" Kiana berbisik.


Jovian yang sedari tadi menundukan pandangan pun mengangguk, sambil mengulum senyum dengan perasaan bangga.


"You did it, Baby!" Katanya, lalu mencium kening Kiana tanpa merasa canggung, meskipun di perhatikan banyak orang.


Tidak lama setelah itu Danu mendekat, seraya mengusap punggung Kiana dan menepuknya perlahan.


"Papa!" Kiana melepaskan Jovian, dan beralih memeluk ayahnya. "Lihat? Aku tidak seburuk yang Papa katakan, … senakal-nakalnya aku, aku tidak pernah mengabaikan kewajibanku sebagai seorang mahasisw!" Suaranya sedikit tertahan, namun tentu saja Danu dapat mendengarnya dengan sangat jelas.


Danu mendorong pundak Kiana, lalu tersenyum bangga setelah pandangan keduanya beradu.


"Aku mau hadiah!" Kiana tersenyum sumringah.


"Hadiah apa lagi?"


"Nggak tau, gimana Papa saja. Yang penting hadiah."


Danu semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Kiana. Sampai setelah itu Herlin mendekat dan ikut memeluk keduanya.


"Ah kamu membuat Mama sedih."


"Benarkah? Lulus dan menjadi siswi dengan nilai terbaik membuat Mama sedih?"


Dia beralih memeluk tubuh Herlin.

__ADS_1


"Bukan. Mama hanya tidak menyangka, di balik sikap keras kepalamu, ternyata kamu murid yang gigih!"


Kiana mengangguk, dia mengurai pelukan ibunya, kemudian beralih kepada Leni dan Jonathan. Dua orang baru yang begitu antusias dengan pencapaiannya.


"Kamu hebat. Papi ucapkan selamat yah!" Dia menyambut Kiana yang datang memeluknya.


"Ini untuk suami aku, Mama, Papa, Papi, dan Mami!"


"Rasanya kami tidak sedang mengantar istri Jovian wisuda. Melainkan putri bungsu kami yang baru saja menggapai kelulusan siswa dengan nilai yang cukup memukau." Timpal Leni.


Lalu setelah itu Kiana beralih memeluk sang ibu mertua.


Suasana terasa semakin meriah. Satu-persatu nama dipanggil, lalu datang menaiki podium. Dan beberapa di antaranya adalah Zayna, Starla, Syarla, Hilmi dan juga Kevin.


***


"Kalian boleh duluan. Aku mau menemui mereka dulu!" Ucap Kiana pada Jovian, juga para orang tua.


Lalu mengarahkan pandangan ke arah para sahabat, dimana mereka duduk berdekatan dengan orang tua masing-masing.


"Baby?" Jovian menggelengkan kepala.


Tentu saja dia tidak rela jika kekasih hatinya pergi menemui teman-temannya, dimana salah satu di antara mereka menjadi seorang pengagum berat Kiana.


"Hanya sebentar, sayang. Mengucapkan selamat atas kelulusan mereka atau perpisahan, soalnya setelah ini kita mencar, mungkin bisa saja mereka kerja keluar kota atau luar negeri."


Jovian tidak langsung menjawab, dia hanya terus menatap Kiana dengan sorot mata tajam.


"Biarkan istrimu, Jo! Dia juga memiliki teman dekat seperti kamu dulu." Jonathan menepuk-nepuk pundak putra keduanya.


Sementara Herlin, Leni dan Danu tampan menatap dalam diam, sambil terus menunggu.


"Hhhheuh!" Jovian menghela nafasnya.


"Hanya sebentar sayang, kamu duluan saja masuk mobil. Mana mungkin aku akan berlama-lama, sementara Axel sudah menunggu kamu di rumah Neneknya!" Kiana memberikan senyuman yang paling manis kepada Jovian.


Membuat Jovian terlihat semakin tidak rela.

__ADS_1


"Kiana benar, jadi ayo kita tunggu di mobil!"


Jovian menghela nafas lagi, namun akhirnya dia mengalah juga. Pria itu berbalik badan, kemudian berjalan ke arah pintu ballroom hotel yang terbuka lebar, bersama para orang tua, sementara Kiana kembali untuk mendatangi keempat temannya.


__ADS_2