
"Ini semua gara-gara kamu! Kiana terus mengurung diri sampai tidak mau membukakan pintu untuk siapapun!"
Dengan amarah yang memuncak Herlin menunjuk wajah suaminya. Sementara Danu memilih untuk diam dan mendengarkan, dengan tatapan yang tertuju kepada istrinya yang sedang marah.
"Sudah jam sembilan malam. Dia belum keluar, tidak makan dan tidak minum!" Katanya lagi.
Danu melipat kedua tangannya di dada, lalu menempelkan punggung pada sandaran sofa kamar.
"Kamu benar-benar ayah yang sangat payah! Anaknya belum makan terus di diamkan seperti itu!"
"Lalu aku harus bagaimana?" Danu benar-benar sudah merasa frustasi, apalagi dengan ucapan pedas yang terus Herlin lontarkan.
Wanita yang sedari tadi terus mondar-mandir di dalam kamar itu pun seketika menghentikan langkahnya, kala mendengar penuturan Danu, yang lagi-lagi kembali memancing amarah Herlin terus menerus.
"Bagaimana? Kamu bilang bagaimana? Sudah berapa puluh tahun kamu menjadi ayah? Tapi kamu masih tidak bisa mengatasi kemarahan putrimu?" Herlin kembali berbicara dengan nada tinggi.
"Kiana sangat sulit aku redam amarahnya, kamu tahu sendiri, sayang!"
"Maka dari itu jangan terus membuatnya merasa marah. Coba kamu dengarkan tadi apa yang mau dijelaskan, … sebelum benar-benar mengancam jika dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan hari ini! Ingat, dia datang untuk mengadu, meminta perlindungan kepada kita. Bahkan untuk pertama kalinya dia menunjukan pandangan saat kamu memarahinya, ah kamu benar-benar membuat aku kesal hari ini."
Danu menghela nafasnya lagi, dia bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Herlin, meraih wanita itu sampai dia berada di dalam dekapan hangatnya.
"Tenanglah. Dari tadi kamu terus memakiku, aku jadi tidak bisa berpikir sama sekali kalau begitu!" Danu memeluk istrinya dengan erat, kemudian mencium keningnya beberapa kali, berusaha meredam api amarah yang masih berkobar.
Dan benar saja, akhirnya Herlin diam. Dia tidak lagi bersuara, apalagi memaki seperti dari tadi setelah dia kembali dan gagal membujuk Kiana untuk membukakan pintu kamarnya.
"Kiana tidak merespon?"
Herlin mengangguk.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Saat ini dia benar-benar sedang marah!" Perasaannya begitu khawatir.
"Baiklah. Sekarang tenang dulu, aku akan menghubungi Jovian. Siapa tahu dia bisa membantu membujuk Kiana."
Danu melepaskan rangkulannya, membiarkan Herlin duduk di tepi ranjang, sementara dirinya membawa ponsel yang terletak di atas meja samping sofa, dan segera menghubungi orang kepercayaannya.
***
Suasana kamar Kiana tampak temaram. Tidak ada lampu yang gadis itu nyalakan di dalam kamarnya, selain cahaya lampu luar yang menelusup masuk melalui celah jendela. Sementara gadis itu diam tepat di samping jendela, duduk memeluk lutut dengan pandangan yang tertuju ke arah luar, dimana dia dapat melihat halaman rumah yang cukup luas.
Air mata terus bercucuran. Betapa sulit menjadi dirinya, bahkan orang tuanya tidak percaya kepada dirinya saat ini, mereka hanya terus berpikir jika dialah biang kerok dari segala kejadian, terutama Danu.
Kiana memejamkan matanya untuk beberapa saat. Mengingat beberapa kejadian pada hari ini.
Apa seperti itu cara penilaian orang lain? Hanya karena dirinya pernah masuk Clubbing beberapa kali, mereka jadi berpikir bahwa bahwa dia seorang pelacur? Wanita yang menjajakan dirinya kepada pria hidung belang?
Tapi bukan itu yang lebih menyakitkan, melainkan pernyataan ayahnya tadi sore.
"Kalau begitu kenapa aku nggak sekalian aja nakalnya, jangan setengah-setengah, toh mereka berpikir seperti itu, … padahal aku nggak ngelakuin apa-apa!" Katanya sambil menangis tersedu-sedu.
Dia segera bangkit, berjalan mendekati lemari pakaian yang terletak di sudut lain, lalu membawa beberapa pakaian.
Tok tok tok!!
Pintu kamarnya kembali diketuk dari luar.
"Kia?"
Herlin kembali memanggil.
Gadis itu tidak berniat menjawab. Dia hanya fokus memilah beberapa pakaian, tak lupa menyiapkan sebuah tas kecil untuk melancarkan pelariannya malam hari nanti.
"Ada Jovian di bawah. Dia mencari kamu!"
Kiana langsung diam, dia segera menoleh ke arah pintu kamar dengan segera.
"Kia? Mama tahu kamu marah, tapi jangan seperti ini. Tidak apa-apa kalau kamu marah sama Papa dan Mama. Tapi hargai Jovian, dia datang karena merasa khawatir kepada kamu." Ujar Herlin berbohong.
Kiana memilih duduk di tepi ranjang membiarkan Herlin terus menerus memanggilnya, sampai wanita itu merasa lelah dan pergi.
Dia berjalan ke arah jendela, mencoba memastikan jika ibunya sedang berbohong dan mencoba memancingnya. Tapi sepertinya apa yang Herlin katakan benar adanya, bahkan mobil hitam Jovian sudah terparkir di samping mobil ayahnya.
"Kapan dia datang!" Gumam Kiana dengan ekspresi penuh tanya.
"Ah, … tapi aku curiga ini akal-akalan Papa. Kan dia pernah minta Om Jovian buat nikahin aku, siapa tau sekarang juga begitu." Dia kembali berbicara.
"Kiana? Buka pintunya!"
Tok tok tok!!
Gadis itu terdiam, hatinya berdebar-debar.
"Kia?"
Suara Jovian mendominasi.
__ADS_1
"Kiana!"
Namun gadis itu tak berniat merespon siapapun, termasuk Jovian yang mungkin saja ayahnya panggil hanya untuk membantu mereka.
"Kamu boleh marah kepada orang tuamu. Tapi kenapa kamu marah kepada saya? Saya bahkan percaya kepada kami."
"Tapi Om bohong! Katanya Om bisa menangani Papa, tapi nyatanya itu nggak membantu, Papa tetap marah dan nyalahin aku, … Om nggak denger tadi Papa bilang apa? Papa nggak bakalan bantu aku, walaupun nanti Hendi lapor polisi."
"Maka saya yang akan membantu kamu. Saya yang akan menyelesaikan semuanya." Jovian menjawab.
Kiana diam.
"Kia buka dulu pintunya, … saya pegal memegang nampan ini. Mama kamu meminta saya membawakan makanannya, Cepatlah!"
"Bawa lagi aja. Aku nggak nafsu makan!"
"Kiana? Cepat tangan saya pegal."
"Bawa pergi lagi saja Om!"
"Jasmine!"
Kiana memejamkan mata, menarik oksigen sebanyak mungkin, kemudian menghembuskan nafasnya kasar, lalu berdiri dan berjalan mendekati pintu.
"Kiana?"
"Iya iya. Dasar bawel!"
Gadis itu memutar kunci pintu kamarnya, lalu membuka dan mendapati Jovian yang berdiri di hadapannya, membawa nampan berisikan sebuah mangkuk dan segelas air putih.
"Hay!" Sapa Jovian sambil tersenyum.
Sementara Kiana memutar kedua bola matanya.
"Nyalakan lampunya, ayo saya temani kamu makan."
Pria itu melangkah masuk tanpa Kiana persilahkan, lalu meletakkan nampan yang dia bawa di atas meja, berhadapan dengan sofa besar di kamar gadis itu.
Kiana masih berdiri di ambang pintu, menatap Jovian yang sudah mulai duduk di sofa kamarnya.
"Kiana cepatlah! Jangan membuat semuanya semakin sulit. Untuk urusan itu besok saya selesaikan!"
"Om disuruh Papa datang yah!?"
Trek!!
Tanpa banyak bicara Kiana segera mendekat, tanpa menutup pintu kamarnya, dengan ekspresi wajah yang dia buat se-menyebalkan mungkin.
"Pulang gih! Kan udah nganterin makannya." Celetuk Kiana.
"Kamu ngusir saya? Padahal saya baru saja sampai?"
"Baru sampai? Terus Om mau Mama suruh-suruh?" Kiana menatap Jovian dengan senyum miringnya.
Jovian mengulum senyum, dia mengangkat mangkuk berisikan cream sup yang terlihat mengepulkan sedikit asap berbau lezat.
"Ayo makan."
Kiana duduk, namun sedikit memberi jarak dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Kia?" Panggil Jovian dengan suara rendahnya, dan terdengar lembut.
Kiana menoleh, dia menatap Jovian tajam, sementara pria itu terus berusaha tersenyum, dan itu membuat jantung Kiana terus berpacu lebih kencang lagi dan lagi.
"Baiklah. Apa yang anak itu lakukan? Selain memanggilmu pelacur?"
Pria itu mendekatkan sendok berisikan cream sup ke arah mulut Kiana yang saat ini sedang cemberut.
Gadis itu masih dengan pendirian yang sama. Memasang wajah datar, sorot mata tajam, dengan bibir yang mengerucut.
"Hhheuh!" Jovian menghela nafas, dia menurunkan mangkuknya dan kembali menyimpan di atas nampan.
"Saya harus bagaimana?"
Kiana mengedikkan bahu.
"Ah kau mulai lagi."
"Kenapa? Om kesal? Sana pulang!"
Pria yang tadi terus tersenyum, memasang wajah semanis mungkin seketika berubah menjadi seperti sebelumnya.
"Ada ada denganmu? Sepertinya tidak boleh ada orang yang bersikap manis yah!" Ucap Jovian penuh penekanan.
Dan itu jelas membuat Kiana sedikit takut.
__ADS_1
"Jika kamu tidak mau saya bantu. Ya sudah, terserah saja cari jalan sendiri. Saya sudah kembali muak menghadapi gadis labil seperti kamu."
Kiana menggigit bibirnya.
"Saya tanya. Selain memanggil kamu pelacur, dan melempar sepatu ke arah punggingmu, apa yang anak itu lakukan? Jawablah Agar saya dapat dengan mudah membelamu nanti."
"Tapi percuma, Om. Aku nggak punya bukti, sementara Hendi? Dia pasti mempunyai visum atas apa yang terjadi kepada dirinya."
"Saya usahakan Kiana. Kenapa kamu tidak mengerti?"
Retina kecoklatan Kiana bergerak-gerak, menatap Jovian dengan seksama.
"Mereka majang foto kita!"
Dan akhirnya Kiana berbicara.
"Foto?"
Kiana mengangguk.
"Aku nggak tau siapa yang ambil foto itu."
"Foto apa?"
"Foto, … ya foto Om!"
"Ya saya tahu foto. Maksudnya foto sedang apa?"
"Ciuman, di tengah jembatan kayu waktu malam itu. Hendi bilang selain ratu biang kerok sekarang aku juga ratu skandal. Terus bilang aku harus cepat nikah, kalau nggak nanti hamil duluan, terus bikin Papa meninggal karena jantungan lihat kelakuan aku."
Jovian mendengarkan dalam diam. Pria itu menatap wajah sendu Kiana. Bahkan matanya kembali memerah, dan berkaca-kaca, namun sepertinya Kiana menahan tangisnya sekuat mungkin.
Setelah berbicara banyak hal. Kiana menghempaskan punggungnya pada sandara sofa, menyimpan lengan di atas wajah, dan mulai terisak.
"Aku capek, Om! Rasanya kuliah saja harus banyak menghabiskan energi. Aku udah cukup diam dengan perbuatan Zayna. Lalu sekarang apa? Aku capek Om. Mungkin setelah ini aku nggak cuma di skors, tapi di depak dari kampus karena aku yang suka bikin onar."
Gadis itu terisak. Dan sepertinya keadaan dia memang benar-benar tidak baik-baik saja.
"Lalu mau bagaimana?"
Kiana menggelengkan kepala.
"Aku nggak tahu."
"Tidak mau makan? Saya sudah membawanya kesini?"
Jovian menyentuh tangan Kiana, kemudian menggenggamnya erat.
"Nggak mau." Dia berbisik.
"Saya bantu makannya, … mau?"
Namun, Kiana terus menolaknya.
"Kiana. Saya mohon, jangan mempersulit keadaan, saya harus pulang, saya juga lelah dengan keseharian saja."
"Ya sudah Om pulang saja. Biarin aku sendiri!"
"Tidak bisa. Mana mungkin saya meninggalkan calon istri saya dalam keadaan seperti ini. Dia sedang butuh dukungan, maka saya datang. Mungkin di dalam pikiranmu saya melakukan semuanya hanya karena sebuah perintah, … atau mungkin kamu berpikir saya melakukan ini hanya sedang berusaha mencintaimu? Tidak Kia! Saya benar-benar tidak mau kamu sakit hanya karena memikirkan sesuatu yang sudah pasti saya bisa selesaikan dengan cepat."
Kiana mengubah posisinya, lalu mengusap kedua sudut mata, dan menatap Jovian yang juga sedang menatapnya.
"Aku takut."
"Takut? Takut saya hanya menjadikanmu sebuah pelarian? Atau ajang coba-coba untuk kembali membuka hati? Apa kamu tidak lihat apa yang sudah saya lakukan? Saya sudah mulai nyaman, dan untuk soal perasaan, itu bisa menyusul nantinya."
"Ah Om bikin aku semakin takut."
"Tidak usah takut."
Jovian kembali meraih mangkuk tadi, meraih sendok dan mendekatkannya ke arah mulut Kiana.
"Buka mulutmu!"
"Om …"
"Buka Kiana!"
Dan akhirnya Kiana menurut, dia membuka mulutnya sampai Jovian dengan bisa memasukan sendok berisikan cream sup yang sudah mulai dingin.
"Good girl!" Katanya tanpa ekspresi apapun, tapi mampu membuat pipi Kiana merona.
"Jangan bikin aku semakin terlihat bodoh. Ini di rumah dan aku tidak mau melakukan hal yang tidak dapat aku kendalikan." Bisik Kiana, dia mencontohkan tubuh, kemudian mencubit pinggang pria di hadapannya.
Jovian hanya melirik sekilas tanpa mengatakan apapun. Lalu kembali menyodorkan sendok kehadapan mulut Kiana.
__ADS_1
"Jangan melakukan itu, Kiana! Saya peringatkan sekali lagi." Tegas Jovian, kala gadis itu terus mencubit pinggangnya.
Sementara Kiana hanya tersenyum, dan tidak memperdulikan apa yang Jovian peringatkan.