
Pagi-pagi sekali Jovian sudah menghidupkan mesin mobil miliknya. Berjalan mondar-mandir memasukan beberapa barang yang dia juga Kiana bawa, hingga tertata rapi di dalam bagasi sana.
Setelah itu Jovian menutupnya, dan kembali menaiki tangga kayu untuk masuk ke dalam, bergabung bersama seluruh anggota keluarga yang sudah duduk di kursi meja makan masing-masing.
Dia menarik kursi yang terletak tepat di samping Kiana, duduk dan segera menerima piring yang sudah Leni isi dengan nasi merah.
Tidak bisa di bilang mewah. Hidangan sarapan pagi ini terlihat begitu sederhana. Hanya terdapat tempe goreng, sayur tauge yang dilengkapi potongan tahu, sambal tomat, ikan teri, juga rebus daun wortel yang tidak pernah absen dari meja makan sana.
Karena sepertinya itu salah satu menu favorit Jovian.
"Kamu mau coba? Selain enak ini juga sehat." Jovian membawa lalapan itu ke dalam piringnya, beserta sambal dan ikan teri.
Kiana menatap tanpa memberi jawaban apapun.
"Apa mau Mami buatkan telur dadar?" Leni menatap calon menantunya.
Namun Kiana menggelengkan kepala sambil tersenyum, dan mengambil sedikit lalapan juga sambal.
"Kayaknya lidah aku udah harus upgrade. Mencoba makanan baru, … toh selama ini aku terlalu banyak makan-makanan cepat saji, dan itu kurang sehat."
Mendengar itu Leni tersenyum.
"Memangnya bisa? Makan dedaunan dan ikan asin? Mami lupa tadi tidak pesan ayah atau ikan."
Kiana mengangguk.
"Biasanya kalau sudah coba aku langsung suka. Apa aja aku bisa makan!"
"Persis Papi." Leni terus menatap Kiana, memperhatikan gadis itu yang mulai menikmati sarapannya.
Semua orang diam, termasuk Jovian yang sepertinya sangat ingin tahu reaksi Kiana ketika gadis itu memakan makanan sederhana buatan ibunya. Namun tiba-tiba saja wajah Kiana terlihat sangat merah, dia mengibas-ngibaskan tangannya di udara, lalu meraih segelas air putih yang berada di hadapannya.
"Uhuk uhuk uhuk, … pedas!" Pekiknya dengan mata berkaca-kaca.
"Pelan-pelan!" Jovian menepuk-nepuk punggung Kiana.
"Air hangat." Jonathan berujar, meminta Leni untuk segera mengambilkan.
"Biar aku saja." Jovian langsung berlari ke arah dispenser, membawa gelas baru dan mengisinya dengan air putih hangat.
Sementara Kiana masih terbatuk-batuk karena merasakan panas di area tenggorokannya.
"Kamu tidak biasa makan pedas?" Jonathan bertanya.
Kiana hanya menjawab dengan gelengan kepala, saat dia tidak mampu berkata-kata karena rasa panas yang terus terasa di area tenggorokannya.
"Nah, minum dulu." Jovian langsung memberikan air putih hangat itu kepada Kiana.
Dengan segera Kiana meraih tangan Jovian yang masih menggenggam gelasnya, lalu meneguk perlahan-lahan sampai habis setengah.
Dan setelah drama tersedak sambal di pagi hari. Semua orang kembali melanjutkan sarapannya, termasuk Kiana yang hanya makan dengan sayur tauge dan ikan teri.
***
Jovian mematikan mesin mobilnya setelah merasa cukup lama. Lalu dia kembali ke arah dalam, duduk bersama Kiana di ruang tamu yang hanya beralaskan karpet. Jonathan dan Leni diam, keduanya menatap Jovian juga Kiana bergantian dengan tatapan yang entah bagaimana maksudnya.
"Kalian benar-benar akan menikah?" Leni mulai berbicara.
Dia menatap Kiana lekat-lekat, yang langsung Kiana jawab dengan anggukan pelan, kemudian menoleh ke arah Jovian untuk memberikan jawaban yang lebih pasti dari pertanyaan ibunya.
"Mungkin tidak lama lagi. Jadi kalian harus datang, meminta Kiana langsung kepada orangtuanya untukku!" Jovian menjawab.
"Itu sudah pasti, kami akan datang jika Kiana benar-benar mau kamu nikahi. Memang seharusnya Mami dan Papi bertanya nanti di hadapan kedua orang tuanya, … hanya saja apa benar Kiana akan menikah denganmu?" Leni menatap Jovian.
"Kia? Jovian sudah sangat dewasa, 3 tahun lagi bahkan umurnya akan memasuki kepala empat. Apa kamu tidak akan menyesal? Masa depan kamu masih panjang, dan mungkin ada banyak hal yang mau kamu wujudkan. Karena ketika kamu sudah menikah, kamu akan terikat dengan Jovian, yang sudah pasti membatasi ruang gerakmu." Wanita itu bertanya lagi, seolah kembali meyakinkan Kiana.
Atau bahkan berusaha membuat Kiana tersadar, jika saja gadis itu sedang ada dalam pengaruh tekanan. Entah itu dari Jovian sendiri, atau dari kedua orang tuanya.
Namun hal yang tidak Leni duga dia dapatkan. Kiana tersenyum lebar, mengangguk dengan raut wajah penuh keyakinan.
"Kamu tidak sedang dalam tekanan? Jovian bercerita awal dari kedekatan kalian adalah permintaan orang tuamu? Apa benar begitu?" Jonathan bertanya.
Kiana mengangguk lagi.
"Mungkin Papa tahu siapa yang bisa mengendalikan aku. Papa tahu juga siapa pria yang benar-benar tepat untuk aku." Balas Kiana.
Dua lansia itu saling menoleh, menatap satu sama lain tanpa ekspresi apapun.
"Kalian tidak percaya kepadaku?" Jovian menatap kedua orang tuanya.
"Tentu saja 2 tahun terakhir ini kami tahu kamu bagaimana." Cicit Leni. "Mami bukan mau mengungkit, tapi jangan pernah kamu membuat Kiana kecewa, atau menjadikan pernikahan ini hanya sebuah ajang pelarian sesaatmu saja."
Kiana kembali menatap Jovian ketika Leni mengatakan itu.
"Setidaknya kami bisa menghentikan dia jika niatnya tidak baik, Kia!" Jonathan tersenyum ke arahnya.
"Benar. Sepertinya Om harus meyakinkan perasaan Om dulu! Aku tidak mau jika suami aku belum benar-benar menghilangkan perasaan kepada masa lalunya."
Jovian menghela nafasnya.
"Curang sekali kalian ini. Satu lawan tiga, … sudah aku katakan jika kali ini aku serius, Mam!"
"Benar?" Jonathan memicingkan mata.
"Iya, … astaga kalian ini kenapa?"
Jonathan akhirnya tertawa, lalu dia menepuk pundak putra keduanya dengan sangat kencang.
"Kalau begitu Minggu depan Papi dan Mami menyusul kesana." Kata Jonathan kepada Jovian.
"Kenapa tidak sekarang saja? Berangkat bersama?" Pria itu memberi usul.
__ADS_1
Namun Leni segera menolaknya dengan gelengan kepala.
"Masih ada beberapa hal yang harus diurus dan diselesaikan. Tenang saja, Minggu depan Mami dan Papi akan datang, … atau mungkin Javier juga akan pulang dan ikut bersama kami nantinya."
Jovian mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Tapi kami harus pulang hari ini, karena Kiana masih harus kuliah, … dan dia tidak boleh izin terlalu lama."
Jovian segera bangkit, begitupun dengan Kiana, Jonathan dan Leni.
"Makasih Mami sama Papi udah mau Nerima Kia dengan baik, maaf ngerepotin, nggak bisa bantu-bantu juga. Makan tinggal makan, … mau bantuin masak takutnya malah bikin rusuh." Kiana terkekeh sendiri.
Dia merasa malu dan lucu di waktu yang bersamaan.
Leni mengulum senyum, dia tidak menjawab, melainkan segera mendekat dan memeluk Kiana cukup erat.
"Memangnya kenapa? Kamu bukan calon asisten rumah tangga yang harus menguasai semuanya." Leni mengusap punggung Kiana.
"Mungkin Kia jauh dari kata menantu idaman. Dan Kia mau kasih tau ini sama Mami dan Papi sekarang, agar ekspektasi kalian tidak terlalu tinggi, … mungkin uang Om Jovian akan habis hanya untuk menyewa petugas kebersihan atau membeli makanan di luar."
Leni tertawa mendengar itu, dia mendorong kedua pundak Kiana sampai pandangan mereka saling bertemu.
"Cukup sabar dengan sikapnya saja. Jangan mudah menyerah, dan jika sesuatu terjadi yang berkaitan dengan Jovian, maka katakan kepada Mami, jangan kepada orang tuamu, oke?"
Kiana mengangguk.
"Kiana pamit." Gadis itu kembali memeluk wanita di hadapannya.
"Hati-hati, secepatnya kami kesana untuk meresmikan lamaran Jovian."
Kiana mengangguk. Lalu dia beralih kepada Jonathan, dan pria tua itu memeluk Kiana tak kalah eratnya, memejamkan mata seraya memberikan beberapa nasehat dan pesan.
"Papi tidak bisa berkata-kata lagi. Tapi terimakasih sudah mau menerima Jovian, … dibalik sifatnya yang tidak peka, juga terkadang keras kepala dan menyebalkan. Tapi dia pria baik, setahu Papi begitu, dan semoga ini menjadi pernikahan terakhir Jovian, semoga kamu memiliki kesabaran yang lebih besar lagi agar kejadian yang lalu tidak terulang."
Jonathan melepaskan rangkulannya, mereka saling menatap dan tersenyum.
Setelah itu Jonathan beralih kepada putranya, memeluk erat seperti dia memeluk Kiana, dan memberikan nasehat yang cukup panjang.
"Jika kamu dulu melepaskan Eva begitu saja. Berjanjilah kali ini untuk tidak melepaskan Kiana. Dia masih sangat muda, … kasihan kalau harus jadi janda." Jonathan tertawa, namun dia segera mengusap sudut matanya yang mengalihkan air mata.
Pria itu terharu.
"Tidak akan. Sekeras apapun dia meminta perpisahan, aku tidak akan melepaskan Kiana."
"Papi pegang kata-katamu!" Pria tua itu dengan harapannya. "Dan sesudah menikah nanti, tidak mungkin kamu tetap bekerja menjadi ajudan pribadi istrimu sendiri. Maka pulang dan uruslah kebun teh dan sayur, … Papi sudah tua dan mau sampai kapan kamu membiarkan kami mengurusnya? Sedangkan kami sudah sangat tua." Sambung Jonathan lagi.
"Kan ada Mang Darman!"
"Dia yang kerja di lapangan, yang mengawasi tetap harus kamu."
Jovian mengangguk, lalu dia beralih memeluk ibunya, dan setelah itu mereka benar-benar pergi, diiringi lambaian tangan Leni dan Jonathan, juga air mata haru keduanya.
***
Brugh!!
Jovian langsung saja melemparkan tubuhnya di atas sofa, berbaring terlentang dengan lengan yang dia letakan di atas kening.
"Kayaknya perjalanan kali ini lebih lama yah!?" Kiana mendudukan dirinya di sofa lain yang kosong.
"Jelas. Kamu minta berhenti berapa kali tadi? Saya sampai lelah sendiri." Sahut Jovian tanpa mengubah posisinya sedikitpun.
"Ya maaf. Masa aku mau nahan pipis sampai sini! Nggak lucu Om, … apalagi kalau sampai nggak ketahan di dalam mobil gimana?"
Jovian hanya menghela nafasnya.
"Om mau makan? Mau aku orderin? Atau Om punya stok bahan-bahan masakan?" Tanya Kiana.
"Tidak usah istirahat saja, saya yakin kamu juga lelah."
"Lelah. Tapi tidak separah yang Om rasain."
Jovian tidak menjawab lagi.
Dan itu membuat Kiana segera beranjak pergi ke arah dapur, membuka lemari pendingin, dan memeriksakan bahan-bahan yang tersedia disana.
Kiana terdiam cukup lama. Berpikir saat dia hanya menemukan telur, beberapa pack dada ayam, kentang, ubi ungu dan beberapa kota keju, juga susu di dalam lemari pendingin sana.
"Aku bikin chicken Cordon bleu aja kali yah!"
Kiana membawa 2 pack dada ayam, kentang, dan satu kotak keju. Dia letakan di atas meja dapur, lalu gadis itu dengan sangat telaten membuka hampir seluruh laci untuk mencari tepung roti. Salah satu bahan yang sangat dia butuhkan.
"Ah syukurlah." Katanya ketika dia menemukan apa yang dia cari, di dalam lemari yang sepertinya dikhususkan untuk berbagai macam tepung.
Dengan tenaga yang tersisa, Kiana segera mengeksekusi bahan-bahan yang sudah dia siapkan.
Pertama Kiana mengeluarkan kentang dari dalam kemasan, membasuhnya hingga bersih, lalu memotongnya dengan bentuk memanjang kecil, setelah itu dia rendam dengan air garam.
Lalu dia mengerjakan yang lain dengan bertahap dan telaten, agar masakannya kali ini tidak gagal.
Sekitar 1 jam lebih menghabiskan waktu. Akhirnya Kiana selesai, dan meletakan dua piring berisikan chicken Cordon bleu, juga potongan kentang goreng di atas meja makan berukuran kecil, yang hanya terdapat dua kursi saja di sana.
Pandanganya tertuju ke arah sofa, dimana dia dapat melihat Jovian dengan jelas dari tempatnya berdiri saat ini. Pria bertubuh besar, dengan hanya mengenakan kaos rumahan dan celana jeans hitam berbaring dengan posisi yang tidak berubah sedikitpun.
Dia sangat kelelahan, pikirnya.
"Om?" Panggil Kiana, dia segera mendekat dan mengguncang juga menepuk-nepuk lengannya.
"Aku bikin Chicken Cordon bleu. Ayo makan dulu sebelum anterin aku pulang." Gadis itu duduk di area yang tersisa.
Dia menatap Jovian yang masih terdiam, berbaring terlentang seraya menyembunyikan wajah di balik lengan kekarnya.
__ADS_1
"Om?" Kiana memanggil lagi.
Dan sepertinya itu berhasil, Jovian mulai menyingkirkan tangannya yang menutupi wajah, lalu mengerjapkan mata.
Dia menggeram, merenggangkan kedua otot tangannya lalu mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk.
"Masak apa kamu?" Suaranya terdengar begitu parau.
"Chicken Cordon bleu."
"Katanya tidak bisa masak. Tapi itu?"
"Hanya beberapa yang aku bisa. Sisanya tidak terlalu!"
Mata sayu Jovian menatap Kiana cukup lama, membuat gadis yang saat ini duduk di dekatnya terlihat sedikit gugup.
"Ayo. Nanti keburu dingin, terus Mozarella nya nggak meleleh deh."
Kiana bangkit, meraih tangan Jovian untuk dia bawa ke arah meja makan minimalis yang terdapat di sisi lain apartemen itu. Namun, Jovian menahannya sampai membuat Kiana terhuyung dan seketika duduk di atas pangkuannya.
"Mau kemana?" Tanya Jovian dengan suara rendah.
"Makan. Udah makan kita pulang, … eh maksudnya anterin aku pulang!" Kiana tertawa sambil menutup mulutnya. "Kok kita yah?" Dia terus menertawakan kekonyolannya.
Jovian tidak bereaksi apapun. Ekspresi wajahnya bahkan terlihat datar dan terasa begitu dingin, dengan jemari yang mulai bergerak, menyingkirkan anak-anak rambut, menyelipkannya di daun telinga.
Kiana balas menatap Jovian dengan debaran yang terus meningkat setiap kali mereka saling menatap seperti itu.
"Berhenti bikin jantung aku kaya mau meledak, Om!"
Kiana hampir bangkit, tapi tangan Jovian menahan pinggangnya sampai Kiana tidak dapat merubah apapun.
"Om, …"
"Terimakasih." Jovian tersenyum.
"Tidak! Jangan katakan itu sebelum mencobanya, terkadang masakan aku …"
"Bukan untuk Chicken Cordon bleu nya, … tapi untuk perasaan yang kamu berikan. Untuk cinta yang sudah tumbuh di dalam hatimu."
"Ini tanpa aku rencanakan tahu, … tiba-tiba aja aku ngerasain ini, padahal sebelumnya belum pernah." Kiana mencoba santai.
Jovian mengulum senyumnya.
"Ayo kita makan. Cobain masakan aku, enak tidak enak harus di makan."
Kiana hendak bangkit lagi, tapi Jovian masih menahannya, dengan senyuman tipis yang terus pria itu perlihatkan.
"Om?"
"Buka dulu kuncinya!" Dia berujar.
"Kunci?" Kiana bingung.
Jovian mengangguk.
"Kunci apa?"
"Kunci tangannya." Kiana menundukan pandangan, menatap lilitan tangan kekar di pinggangnya.
Lalu dia beralih menatap Jovian, seolah mencari sebuah jawaban di dalam manik tajam sana.
"Sun maksudnya?"
Jovian terkekeh kencang.
"Kalau mau bilang aja, nggak usah main tebak-tebakan!"
Dia segera mendekatkan wajah, lalu menempelkan bibir keduanya untuk beberapa detik.
"Sudah."
"Itu tidak cukup."
Kiana menahan senyumnya, dengan wajah yang sudah memerah karena menahan rasa yang entah bagaimana dia harus menjelaskannya.
Kedua tangan Kiana meraup wajah Jovian, mengusap rahang tegasnya, lalu menghujani bibir Jovian dengan kecupan basah.
"Aku yakin itu cukup."
Jovian tertawa kencang, bahkan saking kencangnya, kepala Jovian mendongak ke arah belakang dan mata yang terpejam.
"Bisa kita makan sekarang?"
"Baiklah."
"Lepasin!" Pekik gadis itu saat Jovian tak kunjung melepaskan lilitan tangan di pinggangnya.
"Hemmm." Jovian bergumam, dia kembali menatap Kiana, dan mencium pipi gadis itu dengan singkat.
"Ah aku mau menginap saja kalau begini!"
Jovian menggelengkan kepalanya, sambil mendorong tubuh Kiana perlahan, hingga gadis itu benar-benar berdiri.
"Tidak boleh, bahaya!" Dia memberi peringatan.
Jovian ikut berdiri, lalu menarik Kiana ke arah meja makannya, duduk berisikan dengan hidangan yang sudah tersedia di atas meja makan.
......................
Maaciw yang selalu nungguin si Om. Jangan lupa like, komen, hadiah sama votenya, othor abal-abal juga butuh dukungan 🤭
__ADS_1