Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
Bersinar


__ADS_3

Dua perempuan berbeda usia itu memilih untuk memisahkan diri dari para laki-laki. Jika Jovian, Denis dan putranya memilih untuk berbicang-bincang di luar, sementara Kiana tetap memilih berada di dalam kamar bersama Sita.


"Kia bahagia?" Tiba-tiba saja Sita bertanya demikian.


Membuat Kiana yang sedang duduk di sampingnya mengerutkan kulit kening.


"Maksud Tante gimana? Memangnya kelihatan banyak yang aneh yah dari aku?" Kiana terkekeh gugup.


Sita diam, dengan pandangan yang terus dia tujukan kepada Kiana. Gadis belia yang tumbuh di bawah pengawasan suaminya.


"Bukankah kalian menikah karena perjodohan? Pak Danu yang meminta Jovian menikahimu. Apa kamu tidak keberatan? Usia kamu masih muda, mungkin banyak hal yang belum kamu lakukan, … apa kamu tidak keberatan dengan apa yang Papamu minta? Terlebih usia kalian terpaut jauh?"


Wanita itu meraih telapak tangan Kiana, untuk kemudian dia genggam.


"Aura wajah kamu terlihat berbeda!" Lanjut Sita kepada Kiana.


"Ah itu perasaan Tante saja, … tidak ada yang berubah selain berat badan aku yang mulai naik!" Katanya.


Lalu kembali tertawa, dan kali ini lebih lepas sampai kepalanya mendongak ke arah belakang, dengan kedua bola mata yang tertutup.


"Tante serius, Kia!" Sita meyakinkan.


"Ya, mungkin banyak yang berubah dari diri akunya, jadi ngaruh juga ke aura aku." Jelas Kiana.


"Jadi kamu benar-benar tidak keberatan dengan apa yang Papamu putuskan? Kamu harus menikah di usia muda karena satu dan lain hal?"


Kiana pun akhirnya mengangguk.


"Mau gimana lagi Tante, jauh sebelum Papa minta Om Jovian nikahin aku, … aku udah suka suka." Katanya jujur.


"Oh ya?"


"Suwer!" Kiana tersenyum lebar, seraya mengangkat tangan dan mengacungkan dua jari telunjuk dan tengah sampai membentuk huruf V.


Sita mengangguk-anggukan kepalanya.


"Bagaimana? Apa sudah ada tanda-tanda?"


"Tanda-tanda?" Kiana meracau, mengulangi ucapan Sita.


"Eh bisa saja kan, kamu meminum pil KB, atau memasang alat kontrasepsi apapun yang dapat mencegah kehamilan yah!"


Sita tertawa karenanya, entah kenapa dia merasa konyol setelah melontarkan pertanyaan seperti itu.


"Oh. Maksud Tante aku hamil?" Kiana menatap wajah Sita lekat-lekat.


Dan perempuan itu hanya kembali mengangguk dengan senyuman yang masih tersisa.


"Belum. Sepertinya bukan sekarang-sekarang, soalnya hari ini aku dapet. Kemarin aku sempat tidak enak badan, semuanya terasa pegal dan sakit, mungkin efek mau datang bulan." Jelas Kiana.


"Oh ya?"


"Iya. Aku nggak minum apapun, atau melakukan sesuatu untuk menunda kehamilan. Tapi sepertinya tidak langsung di kasih." Kiana berujar.


Sita mengangguk-anggukan kepalanya, dengan pandangan yang terus tertuju kepada Kiana. Lekat-lekat dia memperhatikan gadis itu, dan memang terdapat banyak perbedaan, selain lebih berisi, raut wajahnya berbinar, ketika saat ini Kiana lebih banyak tersenyum. Hingga rasanya hanya aura baik yang kini terpancar dari dalam dirinya.


"Tante Sita mungkin pernah mendengar curhatan Om Jovian, … tentu saja kalian sangat dekat bukan? Dan ini menyangkut keinginan dia tentang seorang keturunan, dan Tante Eva tidak pernah mengabulkan itu dengan banyak alasan. Dan aku tidak mau seperti dia, jika aku sudah menikah, maka aku sudah benar-benar siap untuk mengikuti setiap aturan yang ada di dalamnya."


Dan ucapan itu membuat Sita tidak percaya. Wanita itu bungkam untuk beberapa waktu, sambil terus menatap Kiana tanpa henti.


"Dari mana kamu mendapatkan kata-kata seperti itu? Rasanya kemarin kamu hanya bisa menggerutu saja!"


"Ish! Sudah aku katakan, banyak hal yang membuat aku berubah."

__ADS_1


Sedang asyik berbincang-bincang. Tiba-tiba saja pintu ruangan itu kembali terdengar di ketuk dari arah luar, membuat dia perempuan yang ada di sana melihat ke arah suara terdengar.


"Ya?" Sita menjawab.


Dan setelahnya pintu terbuka dari arah luar, kemudian terlihatlah seseorang saat benda itu terbuka dengan lebar.


Seketika ruangan menjadi hening, bahkan suasana tampak menengang, kala pandangan Kiana dan Eva saling beradu tanpa memperlihatkan ekspresi wajah dari keduanya.


"Eemmmm …"


Nyatanya selain Kiana, Eva pun merasa gugup. Dia kira hanya sang mantan suami yang ada di sana, ternyata tidak.


"Ah, silahkan masuk dan duduklah. Kalau begitu aku permisi ya Tante Sita."


Kiana langsung bangkit, hendak pergi dari ruangan sana. Namun, Sita tentu saja menahan pergelangan tangan Kiana.


"Mau kemana? Disini saja tidak apa-apa!"


"Tidak usah Tante, mungkin kalian butuh ruang berdua." Kiana tersenyum.


Dan setelah itu dia melepaskan cengkraman tangan Sita secara paksa, kemudian berjalan mendekati pintu, dan melewati Eva begitu saja.


"Ya, mereka pasti butuh ruang berdua untuk berbicara. Secara suami mereka sahabatan bukan? Lalu apa yang diharapkan? Tante Eva tidak memiliki hubungan dekat dengan siapapun? Itu hanya mimpi Kiana!" Batin perempuan itu bermonolog, dengan perasaan tidak terima.


Sementara di ruang tamu sana Jovian tampak diam melamun. Mengarahkan pandangan ke arah Eva, seperti sedang menelisik sesuatu sampai dia tidak menyadari kedatang Kiana, dan keberadaan Denis disana.


"Dih!" Denis melemparkan sesuatu ke arah wajah Jovian.


Membuat pria itu segera tersadar, mengarahkan pandangan ke arah sahabatnya, lalu kepada Kiana.


"Liatin apa? Nggak inget bawa istri?" Kata Denis dengan tawa kencangnya.


Jovian menghela nafasnya.


Kiana menatap keduanya bergantian.


"Jangan di masukin ke hati Kia. Selain dekat karena dulu Eva dan Sita sering bertemu. Tapi salon kecantikan langganan Sita juga salah satunya milik Eva. Jadi … tidak usah khawatir." Kata Denis.


Kiana mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Dendi dimana Om?" Kiana berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Tadi minta Mbaknya untuk di anterin ke Alfa. Biasan, anak-anak sukanya kinder Joy."


Kiana mengangguk, lalu dia beralih kepada suaminya.


"Apa sudah selesai? Oleh-olehnya sudah kamu turunkan? Aku sudah lelah, ini juga hari haid pertama aku, rasanya mulai tidak nyaman." Ucap Kiana.


"Sudah selesai, sayang. Tidak perlu khawatir!"Jovian mengangguk. "Baiklah, Baby. Kau lelah, hum? Kita pulang sekarang, lalu istirahat, oke?"


Dia bangkit, kemudian mengulurkan tangannya kepada Kiana, yang seketika perempuan itu raih sampai keduanya saling menggenggam satu sama lain.


"Om, kami pulang yah? Titip salam sama Tante Sita, Dendi juga." Pamit Kiana sambil tersenyum.


"Ya, terimakasih sudah datang. Dan untuk oleh-oleh yang kalian berikan, … Sita akan senang apalagi pemberian kalian langsung dari Bali sana!"


Denis tersenyum. Lalu dia bangkit dan mengikuti sepasang pengantin itu dari arah belakang. Berdiri di teras depan rumah, seraya menatap Jovian yang tengah membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Hhheuh! Bagaimana tidak menyesal, Jovian selalu memperlakukan pasangannya dengan sangat baik. Dan dia pantas mendapatkan Kiana, perempuan yang akan menghormati suaminya."


"Om? Pulang yah! Salam sama Dendi dan Tante Sita." Kiana menyembulkan kepalanya melalui kaca mobil.


Denis mengangguk, kemudian dia mengangkat tangan untuk dia gerakan melambai-lambai.

__ADS_1


***


Hamparan langit luas tampak begitu cantik. Kala semburat kuning kemerahan berpadu dengan warna hijau kebiru-biruan, dengan percikan awan berwarna putih, membuat suasana pada sore hampir malam ini begitu berbeda. Perlahan-lahan cahaya matahari terus meredup, hanya sedikit menyisakan cahaya kala matahari sudah benar-benar terbenam di ufuk barat.


Mobil Lexus hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Berjalan menyusuri jalanan kota Tangerang yang selalu terlihat ramai, apalagi di beberapa kuliner dan jajanan kaki lima.


"Baby?"


Panggil Jovian, lalu dia menoleh untuk memastikan keadaan Kiana. Karena sejak mereka keluar dari rumah Denis, perempuan itu terus bungkam.


"Hmmmm?"


"Kenapa kamu terus diam? Ada sesuatu?" Pria itu menoleh sekilas.


Kiana tidak langsung menjawab, saat dia melihat lampu lalu linta dari kuning berubah menjadi merah, bersamaan dengan laju mobil yang melamban, dan Jovian menghentikan mobilnya tepat di garis yang tersedia.


"Tidak kenapa-kenapa, perut aku hanya terasa sedikit kurang nyaman. Sepertinya harus cepat sampai agar aku bisa minum ibuprofen." Ujar Kiana.


Jovian menoleh, dan mengunci pandangannya pada sang istri. Dengan tangan kiri yang bergerak terangkat, kemudian menyentuh punggung tangan Kiana yang dia letakan di atas pahanya sendiri.


"Kamu tidak marah?"


Dahi Kiana menjengit.


"Untuk apa aku marah?"


"Karena Eva datang tiba-tiba seperti tadi."


Lampu lalu lintas kembali menjadi hijau. Dan dengan segera pria itu menggenggam setir mobilnya, sambil menginjak pedal gas perlahan-lahan.


"Percayalah ini tidak disengaja. Aku bahkan tidak percaya dia datang menjenguk Sita di hari yang


sama." Sambung Jovian.


Entah kenapa dia merasa takut jika mood Kiana benar-benar menjadi sangat buruk karena kehadiran Eva disana. Padahal sebelumnya jelas sang istri terlihat sangat ceria.


"Ah aku tidak ada masalah apapun dengan Tante Eva. Jika mau datang, ya biarkan saja! Toh hubungan mereka terlihat begitu baik, selain dekat karena kedekatan mantan suaminya dulu, ternyata salon milik Tante Eva adalah tempat langganan Tante Sita memanjakan diri."


Pandangan Kiana menatap lurus kedepan. Memperhatikan beberapa kendaraan yang berlalu lalang, dengan perasaan yang sedikit kurang nyaman.


"Hebat yah! Tante Eva punya salon kecantikan." Gumam Kiana pelan.


Dia tersenyum getir.


"Kamu lebih hebat, Baby! Jangan pernah membandingkan diri kamu dengan siapapun."


"Aku mau punya usaha sendirilah. Bukan mau mengikuti Tante Eva, tapi rasanya akan kelihatan keren kalau aku berdiri dikaki aku sendiri. Bersinar tanpa ada iming-iming nama Papa yang di sangkut pautkan."


Kiana mengubah posisi duduknya menjadi sedikit miring, sampai dia dapat menatap suaminya yang tengah sibuk berkendara.


"Kira-kira apa ya?"


"Jangan pikirkan yang lain dulu, fokus untuk menjalankan usaha Papa saja sekarang!"


Jovian memutar setirnya ke arah kiri, sampai mobil Lexus hitam itu berbelok, dan berhenti tepat di hadapan gerbang yang tertutup rapat.


Perlahan-lahan gerbang besar rumah itu terbuka lebar, dan tanpa menunggu lebih lama lagi Jovian menginjak pedal gas nya, sampai membuat kendaraan roda empat itu melaju masuk, dan berhenti tepat di antara jajaran mobil-mobil mewah, dan salah satunya adalah milik Kiana, sang istri.


Sementara mobil miliknya terparkir entah sudah berapa lama di parkiran bawah tanah apartemen.


......................


Jangan lupa sogokan buat Othornya :)

__ADS_1


__ADS_2