
Malam harinya.
Semua orang baru saja menyelesaikan acara makan malam bersama. Terkecuali Kiana yang memilih menghindar, berdiam diri dan duduk di kursi rotan sembari menikmati susu jahe yang Leni buatkan beberapa menit lalu.
Kepalanya terasa kembali berat, ketika mencium bau masakan yang disajikan di atas meja makan. Setiap uap yang mengepul, membuat perempuan itu merasa mual, padahal setiap hidangan memiliki bau lezat di hidung orang-orang normal.
Suara jangkrik terdengar hampir di setiap sudut tempat. Bersahutan dengan suara riuh dahan pepohonan yang tertiup angin. Bahkan tak jarang suara motor lewat berlalu-lalang, dengan beberapa orang yang melintas tepat di depan rumah sambil berbicara atau bahkan tertawa kencang. Membuat suasana tidak menyeramkan seperti apa yang selalu Kiana pikirkan.
"Ya, sekarang aku seperti manusia tidak normal. Penciuman semua orang sama, tidak ada masalah. Hanya aku saja!" Gumam Kiana dengan perasaan kesal.
Jelas. Di saat semua orang berkumpul, menikmati hidangan makan malam bersama. Sementara dirinya? Duduk menyendiri karena menghindari rasa yang tidak dia sukai.
"Kia? Tidak mau masuk?" Suara bariton itu memecah keheningan malam di sekitar rumah panggung sana.
Kiana menoleh, kepalanya mendongak. Dan disanalah Jonathan, berdiri di ambang pintu sambil membawa mug besar di genggaman tangannya.
"Masih bau!" Jawab Kiana dengan jujur.
Jonathan tersenyum, berjalan keluar, lalu menempati sisi kosong di samping menantunya.
"Papi kira sudah sembuh."
Kiana menundukan kepala.
"Hhheuh. Sayangnya belum!"
"Berat yah? Tidak apa-apa, kamu harus tetap semangat, karena Mami juga dulu seperti itu. Bahkan dia sempat melarang Papi pulang ke sini, karena tidak suka dengan bau Papi. Aneh memang, tapi itulah ibu hamil! Di setiap akan adanya kehidupan yang berlanjut, maka akan ada keunikan yang terjadi."
Helaan nafas dari Kiana terdengar, dia mengangkat pandangannya kembali, seraya menyandarkan punggung pada kursi rotan di belakangnya.
"Mami seperti aku saat hamil Jovian?"
"Hum." Jonathan tersenyum.
"Jadi ini ada bawaan dari bapaknya dulu, yah!?" Raut wajah Kiana berubah murung.
Jonathan terkekeh mendengar ucapan Kiana. Apalagi saat melihat perempuan itu lelah sambil mengusap-usap perutnya.
"Bawaan saja, … mungkin seperti itu. Mudah-mudahan tidak lama." Ucap Jonathan, kemudian pria itu mengusap dan memberikan sedikit tepukan di pundak Kiana.
__ADS_1
Perempuan muda itu menoleh, sampai akhirnya mereka saling menatap satu sama lain. Awalnya tidak ada yang aneh, tapi setelah beberapa detik menatap Jonathan, Kiana mulai sadar jika pelupuk sang ayah mertua terlihat mulai basah.
Seketika Kiana mengubah posisinya menjadi duduk tegak.
"Aku yang mengalami gejala ini. Aku juga tidak merasa sangat kesusahan, … papi tidak usah sedih!" Tukas Kiana.
Jonathan mengulum senyum. Sementara Kiana segera mendekat, kemudian memeluk tubuh tinggi besar pria di sampingnya.
"It's okay, Kia baik-baik saja Papi!" Kiana berbicara dengan suara pelan. Namun, Jonathan masih dapat mendengarnya dengan sangat baik.
Sikap Kiana saat ini tidak terlihat seperti seorang menantu dan ayah mertua. Melainkan tampak seperti ayah dan anak perempuan kesayangannya.
"Oh astaga!" Jonathan menghembuskan nafasnya perlahan-lahan, berusaha menahan sesuatu yang sudah menyeruak di dalam dadanya.
Bahkan pria itu memejamkan mata, sebisa mungkin menahan Isak tangis kala air mata mulai berderaian.
"Terimakasih karena Kia memutuskan untuk tetap mempertahankan rumah tangga kalian. Terimakasih sudah memaafkan Mami, Papi dan Jovian. Jika berkenan maafkan juga Adline juga Javier, kejadian itu sungguh diluar dugaan kami semua."
Kiana mengangguk.
"Tetaplah bersama Jovian bagaimanapun keadaannya. Papi tidak bisa membayangkan jika kamu benar-benar pergi dari hidup Jovian, dan memilih untuk melanjutkan hidup sendiri-sendiri. Mungkin kamu akan baik-baik saja, tapi tidak tahu dengan Jovian, lukanya terdahulu saja belum sepenuhnya sembuh, lalu jika Kia meninggalkan dia, … tidak tahu harus bagaimana lagi Papi dan Mami agar dapat membuat dia tetap waras." Kata Jonathan lagi.
Sementara di ambang pintu sana Leni tampak mengintip. Memperhatikan keduanya dengan mata berkaca-kaca.
"Ada apa Mam?" Jovian setengah berbisik saat melihat sang ibu terus berdiri di ambang pintu.
Dia menepuk pundak Leni, sampai wanita itu menoleh.
"Mereka membuat Mami ingin menangis." Ujar Leni seraya kembali mengarahkan pandangan ke arah luar.
Jovian menatap istri dan ayahnya yang tengah saling memeluk. Lalu tidak lama setelah itu Jonathan melepaskannya, terlihat berbicara, kemudian Kiana bangkit setelah pria itu mengusap kepalanya dengan penuh kasih.
"Masuklah! Sudah malam. Gejala trimester pertama membuat kamu kelelahan, jadi sudah harus banyak istirahat." Jonathan tersenyum, kemudian mengusap kedua pipinya.
Kiana menuruti apa yang Jonathan perintahkan, lalu bangkit dan berjalan mendekati pintu masuk. Dan betapa terkejutnya saat dia mendapatkan Leni juga sang suami tengah berdiri menunggu.
Jovian tersenyum, sementara Leni terlihat menahan tangis.
"Lho!" Kiana terheran-heran saat melihat Leni.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu tersenyum lebar, lalu mengusap kedua matanya.
"Mami tidak apa-apa. Semua yang Papi katakan sudah mewakili perasaan Mami juga." Leni mengusap pipi Kiana, dan menatapnya dengan lembut.
"Jo, bawa Kia untuk istirahat." Dia beralih pada anak bungsunya.
Jovian mengangguk.
"Eeee, … Mama sama Papa?" Dia mencari keberadaan kedua orangtuanya.
"Di kamar. Beberapa waktu lalu ada yang menghubungi, mungkin urusan penting sampai Bu Herlin ikut berbicara dengan seseorang yang menghubungi Pak Danu." Jelas Leni.
"Mungkin Denis." Jovian berujar.
Kiana menatap wajah ibu mertua dan suaminya bergantian.
"Ayo masuk. Mama dan Papa kamu masih lama disini, tenang saja."
Jovian meraih tangan Kiana, dan segera menariknya ke arah pintu kamar mereka yang tertutup dengan rapat.
Klek!!
Kiana melenggang mendekati tempat tidur lebih dulu, meraih remote tv yang ada di atas, lalu menghidupkan benda itu.
"Sepertinya kamu mulai terbiasa disini? Tidak kelihatan dingin seperti awal-awal saat kita menginap." Jovian tersenyum penuh arti.
Kiana melirik sekilas. Dia naik ke atas tempat tidur, dan duduk bersandar pada tumpukan bantal di belakang tubuhnya.
"Belum. Buktinya aku masih pakai Hoodie atau jaket, belum seperti Bi Wiwin yang setiap harinya hanya memakai kaos sehari-hari." Dia menarik selimut sampai menutupi kaki hingga pinggang.
Suara Jovian tidak kembali terdengar. Pria itu hanya terus berjalan mendekat dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Sorot matanya tajam, ekspresi wajah terlihat datar, dengan senyuman jahil tertahan di kedua sudut bibirnya. Satu tarikan kedua tangannya mempu melepaskan Hoodie yang dirinya kenakan. Lalu menjatuhkannya di atas lantai berbahan kayu begitu saja. Kemudian dia beralih pada kaos lengan pendeknya, membuat bagian atas tubuh Jovian terlihat dengan sempurna.
Bahu lebar, otot dada dan perut yang terlihat sempurna. Belum lagi lengan kekar yang memang membuat postur tubuh pria itu terlihat sangat sempurna.
Kiana menoleh saat ranjang tidurnya terasa bergerak. Dan betapa terkejutnya saat dia baru saja menyadari jika sang suami sudah bertelanjang dada, dengan memasang raut wajah berbeda.
......................
Aduh gimana dong 🙈🙈
__ADS_1