Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)

Jovian Alton (Bodyguard Seumur Hidup)
wedding gifts.


__ADS_3

"Jadi kalian akan ke Bali?"


Leni kembali memulai obrolan, setelah mereka selesai melakukan sarapan bersama pada hampir pukul sembilan pagi hari ini.


"Pak Danu memberikan itu sebagai hadiah. Satu Minggu aku dan Kiana di Bali, … dan setelahnya mungkin kita mulai disibukkan dengan beberapa hal. Apalagi Kiana harus mempersiapkan diri untuk wisuda, dan aku mengurus usahaku sekarang." Jelas Jovian.


Dan dua orang tua yang saat ini duduk berseberangan dengan Kiana dan Jovian hanya mengangguk-angguk kepala.


"Kia mau hadiah apa dari Papi dan Mami?" Tiba-tiba saja Leni bertanya demikian.


Wanita itu menatap sang menantu dengan senyuman tulus menyejukkan.


"Mmmm, … nggak usah Mi!" Tolak Kiana seraya membalas senyuman Leni.


"Tidak apa-apa, minta saja mau apa?" Jonathan mulai membuka suara.


Kiana tersenyum, lalu dia menggeleng-gelengkan kepala, seraya menatap Jovian yang saat ini juga sedang mengarahkan pandangan ke arahnya.


"Kia tidak tahu, Mih. Mobil sudah Om Jovian kasih, uang juga. Kalau untuk tempat tinggal kita bisa diam di apartemen sementara waktu sambil nabung sedikit-sedikit buat beli rumah." Perempuan itu berujar.


Leni dan Jonathan diam. Mereka menatap satu sama lain dengan perasaan tidak percaya. Tentu saja, bagaimana bisa anak dari seorang pengusaha batubara bisa berpikir kritis seperti Kiana. Bukankah seharusnya Kiana meminta banyak hal? Kendaraan, rumah dan lain-lain seperti apa yang dilakukan orang tuanya sebelum mereka menikah, memenuhi setiap keinginan dari putri mereka? Lalu kenapa Kiana menolak sekarang? Apa gadis cantik itu takut jika keluarga suaminya tidak mampu?


"Itu kan Jovian yang memberikan. Ini dari Papi dan Mami langsung, katakan saja tidak apa-apa." Jonathan tersenyum kepada menantunya.


"Mmmm, … kalian selalu berlebihan!" Kiana terkekeh.


"Tidak berlebihan. Tapi kami ingin memberikan sesuatu yang lebih pantas kepadamu. Kami memberikan banyak hal kepada Eva, masa tidak untukmu." Balas Leni.


Namun setelah itu keadaan ruang makan menjadi hening. Dua pria yang duduk saling berseberangan saling beradu pandang, sementara Kiana bungkam karena mendengar penuturan terakhir ibu mertuanya.


"Oh astaga. Mami tidak bermaksud membuat kamu tersinggung, Kia!"


Kiana mengulum senyum.


"Memangnya apa yang kalian berikan kepada Tante Eva?" Perempuan itu bertanya demikian. Toh sudah terlanjur juga mereka membahas tentang masa lalu, jadi sekalian saja, pikir Kiana.


"Lebih tepatnya bukan Mami dan Papi yang memberikan secara sukarela. Tapi permintaan dari keluarga mereka." Sergah Jovian.


Dia mulai merasa khawatir. Entah kenapa, namun dia merasa tidak nyaman jika saat ini harus ada yang membuka kisah lama yang sedang berusaha Jovian lupakan, tak terkecuali orang tuanya sendiri.


"Aku hanya ingin mendengar." Ujar Kiana seraya menatap Jovian.


"Satu unit rumah mewah di cluster elit, kendaraan, uang, perhiasan dan banyak lagi tuntutan lainnya. Jadi kami merasa malu jika sekelas anak pengusaha tambang batubara …"


"Aku tidak mau disama ratakan dengan siapapun. Entah itu Tante Eva atau orang lain. Kiana tetap Kiana, dan akan menjadi Kiana sampai kapanpun, … aku sudah memiliki apapun yang aku mau, jadi tidak usah susah payah meminta kepada orang lain. Bukan mau merendahkan kalian, Kia tahu Mami, Papi sama Om Jovian pasti mampu. Tapi kehidupan ini tidak semuanya tentang uang, … mobil sudah banyak, rumah dan apartemen ada. Lalu aku harus meminta sesuatu lagi? Aduh sekarang sekali aku ini!" Kiana menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Leni yang belum selesai berbicara pun segera terdiam.


"Tapi jika Mami dan Papi ingin memberikan sesuatu. Aku pasti terima apapun itu." Kiana tersenyum, membuat ketiga orang yang berada di sana dapat bernafas lega.


***


Lahan terbuka yang beberapa bulan lalu ditanami wortel dan sudah mencapai masa panen. Kini area itu ditumbuhi bibit-bibit sawi yang terlihat masih sangat kecil. Berjejer dengan sedemikian rupa, sehingga terlihat sangatlah tapi.


Setelah percakapan yang cukup serius, akhirnya Jovian memilih membawa Kiana berdiam diri di gazebo belakang rumah untuk menikmati pemandangan siang hari ini, dengan beberapa toples kue kering dan teh hangat yang Wiwin sediakan.


"Aku harap kamu tidak marah." Jovian memulai obrolan.


Tentu saja dia masih merasa khawatir. Obrolan tadi seolah menunjukan jika keluarganya masih belum bisa melupakan masa lalunya.


"Aku tidak marah, kan sudah aku jelaskan tadi!" Ucap Kiana, lalu menyeruput teh hangatnya.


"Ya, tapi kamu kelihatan kesal."


"Bukan. Aku hanya berpikir saja, apa kamu melakukan semuanya juga hanya karena Tante Eva? Apa yang kamu berikan kepada dia, dan kamu harus melakukan hal yang sama kepadaku? Kalau begitu aku tidak mau menerimanya. Uang, cincin, mobil nanti aku kembalikan. Aku tidak suka kamu melakukan itu hanya semata-mata karena aku harus lebih pantas dari orang lain."


Perempuan itu tampak sedikit kecewa. Bahkan wajah ceritanya seketika menghilang, pikirannya tak lagi jernih, saat bayang-bayang masa lalu suaminya terlintas di dalam pikiran.


"Arahnya tidak kesana, Baby! Aku hanya ingin sesuatu yang pantas untukmu. Tidak seperti yang kamu pikirkan, … aku hanya berpikir saja, jika dulu mampu membelikan sesuatu untuk Eva. Lalu kenapa tidak untukmu, itu saja!"


Kiana mengangguk. Lalu kemudian dia mengarahkan pandangan ke arah Jovian, hingga keduanya saling menatap satu sama lain.


Jovian diam untuk beberapa saat.


"Aku tidak mau menjawabnya, nanti kita bertengkar. Jika kamu keberatan tentang masalah ini, sudah tidak usah dibahas."


"Tapi terlanjur tahu! Kalian sudah membahasnya dari awal."


Jovian memilih diam. Dia meraih cangkir teh miliknya, lalu meminum dengan perlahan-lahan, menatap lurus kedepan dimana perkebunan luas milik ibunya berada disana.


"Seorang Jovian Alton. Mampu diperbudak seorang wanita? CK ck ck, … kasihan!"


"Anggap saja saat itu aku sedang bodoh." Sergah Jovian.


"Benarkah? memangnya sekarang sudah pintar, hum?" Kiana mencondongkan tubuhnya sambil memperlihatkan senyuman manisnya.


Jovian menatap wajah cantik itu dengan ekspresi wajah datar.


"Cinta pertama memang sedikit lebih berbeda, yah! Membuat seseorang yang merasakannya menjadi gila, melakukan banyak hal bodoh, tapi mereka tidak merasakan jika sedang melakukan kebodohan. Coba pikirkan! Seandainya saja kamu tidak melakukan semua yang keluarga Tante Eva minta, mungkin kamu tidak akan kelihatan se menyesal sekarang. Aku tahu nominalnya tidak sedikit, tapi ikhlaskan saja!"


Jovian menghela nafas, kemudian pria itu meletakan cangkirnya begitu saja, menyentuh pundak Kiana, dan menarik perempuan itu ke dalam dekapannya.

__ADS_1


"Aku sudah pintar. Makanya lebih memilih kamu daripada Eva. Tapi sepertinya kamu yang bodoh, … dari sekian banyak pria tampan kenapa haru saya? Pria yang tahun ini memasuki usia tiga puluh delapan tahun? Apa kamu tidak akan menyesal? Menemani pria ini menua?"


Kiana tertawa mendengar itu, lalu dia melepaskan diri dari Jovian, kemudian bergeser untuk sedikit menjauh.


"Lalu kamu mau aku memilih pria lain sekarang?" Kiana membalas kekonyolan yang sedang suaminya lakukan.


"Ohhhh, … tidak untuk saat ini! Kau sudah menjadi milikku ingat! Dan siapa yang sudah memasuki duniaku, dia tidak akan bisa keluar dengan mudah." Jovian merendahkan suaranya, bahkan ekspresi wajahnya terlihat semakin serius.


Jovian menjulurkan tangannya, meraih pinggang Kiana, lalu menarik perempuan itu sampai kembali mendekat, bahkan saking menempel dan tidak memiliki jarak meski hanya beberapa senti saja.


Cup!!


Jovian mencium kening istrinya.


"Kamu membiarkan Tante Eva pergi, bahkan hanya diam dan tidak melakukan apapun saat dia melayangkan surat gugatan cerai." Kiana tertawa.


"Hanya dia. Tidak denganmu! Aku tidak akan hanya diam jika kamu yang melakukan itu!" Tegas Jovian sambil mengeratkan pelukannya.


"Masa?" Pandangan Kiana mendongak, hingga dapat menatap wajah tampan suaminya dari jarak yang sangat dekat.


"Jika kamu akan melakukan hal yang lebih gila saat aku membuat kamu kecewa. Maka aku akan melakukan hal yang sama saat kamu berusaha meninggalkan aku."


"Bagaimana caranya?"


"Apapun. Bahkan aku akan mengeluarkan uang yang sangat banyak, untuk meminta hakim agar tidak mengabulkan gugatan ceraimu." Jovian terlihat gemas.


"Tidak boleh begitu. Suap-menyuap itu tidak diperbolehkan, … kamu tahu?"


Jovian menghela nafas.


"Sudah aku katakan, aku tidak peduli. Aku hanya ingin mempertahankan apa yang sekarang aku miliki!" Jovian memperjelas. "Lagipula kita baru menikah, kenapa obrolannya sudah tentang perceraian." Dia sedikit menggerutu.


Sementara Kiana hanya terus tertawa karena melihat ekspresi kesal suaminya yang tentu saja sangat menggemaskan, namun tampan di saat yang bersamaan.


"Ah kamu tampan sekali. Rasanya tidak percaya kalau kamu pria berusia tiga puluh delapan tahun." Katanya hampir berbisik, lalu menempelkan wajah di dada bidang suaminya.


Kiana memejamkan matanya, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah, juga dekapan hangat dari suaminya. Sementara Jovian tampak tersenyum, bahagia jelas dia rasakan saat ini dan itu dia rasakan hampir setiap hari.


"Itu semua karenamu." Batinnya berbicara.


Cup!!


"Ah aku sangat mencintaimu." Ujar Jovian setelah mencium keningnya.


......................

__ADS_1


Hay cuyung🥳 Jangan lupa like, Komen, vote sama hadiahnya yah 🤭🤭


Cuyung kalian♥️


__ADS_2